Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Takkan Pernah Pudar


__ADS_3

POV Qiara


Aku menatap sisi tempat tidur Devan yang telah kosong selama enam tahun ini. Kepergiannya menyisakan kehampaan dalam hidupku.


Kini hanya ada bantal dingin tempatnya dulu merebahkan kepalanya lalu menatapku dengan mesra. Hingga kami tertidur dengan saling memeluk.


Air mata menitik, seiring kerinduan tak bertepi. Kupeluk bantal dingin itu, mencoba mencari aroma Devan di sana. Tak lagi kucium wangi parfum sandalwood yang khas. Atau aroma sabun kesukaannya, bergamot.


“Sayang, semoga kamu baik di sana. Karena aku tidak baik-baik saja di sini tanpamu.”


Sarung bantal itu kini basah oleh air mataku.


Dulu aku juga sering menangis di sini, namun hanya air mata kebahagiaan yang mengalir. Entah kebaikan apa yang pernah kuperbuat hingga Allah menghadiahkan seorang Devan Donavy sebagai pendampingku.


Malam ini sulit rasanya memejamkan mata. Bayangan Devan selama masih hidup bagaikan film romantis yang bermain di kepalaku.


Kuputuskan untuk duduk di sofa dekat jendela.


Langit cerah, bintang menari-nari dengan cahayanya, bulan purnama bersinar dengan anggun, sinaran putihnya menembus kegelapan kamarku. Taman bunga yang dibuat Devan di samping kamar kami mulai menguncup, daun menguning berguguran, tanda musim panas sudah berlalu.


Kurapatkan selimut yang melingkar di pundakku. Jika Devan masih ada, ia akan ikut duduk bersamaku. Kami akan saling menatap, tangan bertautan, senyum menghiasi raut, hingga akhirnya bibir kami saling memberi kehangatan.


Kutatap dua cincin indah yang kini melingkar di jariku. Cincin sebelah kanan pemberian Devan, benda indah yang menjadi saksi cinta kami selama dua puluh tahun lebih.


Aku tidak mengingat banyak pertengkaran di antara kami. Jika pun ada maka akan berakhir dengan indah. Kami saling tahu kesukaan dan yang tidak. Memahami satu sama lain dengan sempurna. Kami berpikir dan bergerak selaras dalam cinta.


Anak-anak mengatakan kami adalah definisi sesungguhnya dari bucin. Hari-hariku diisi dengan kebahagiaan bersamanya dan serombongan anak yang kami hasilkan dari buah percintaan.


Cincin di sebelah kiri baru melingkar dua hari di jari manisku. Thoriq membuat makan malam romantis dan melamarku untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


Ya, tiga kali. Pertama saat sebelum perkawinan kami yang kandas puluhan tahun lalu, kedua di Edinburgh di hadapan anak-anak, ketiga di rooftop calon rumah kami yang sudah dilengkapi taman indah oleh mantan/calon suamiku.


Anak-anakku sangat gembira dengan rencana pernikahanku. Bagi mereka Uncle Thoriq sudah seperti ayah kedua.


Kami memang tidak pernah jauh. Hadirnya Kala membangun tali tak kasat mata yang tak bisa putus. Walau sesama menikah dengan Devan, Thoriq tidak pernah menghubungiku langsung.


Kala dengan spontanitas dan kepolosannya selalu mengajak serta kakak dan adik-adiknya saat video call. Jika Thoriq dan Aira berkunjung maka Kala juga mengangkut kakak dan adik-adiknya untuk menginap bersamanya.


Thoriq selalu bersikap terbuka terhadap anak-anakku dan Devan. Ia memperlakukan mereka layaknya anaknya sendiri.


Hanya dengan Abby dan Zee saja Thoriq membatasi karena bagaimana pun mereka bukan mahram. Tapi Abby bersahabat dengan Aira dan Zee bersahabat dengan Malika anak Hanna dan Dicky.


Kekisruhan yang pernah terjadi di masa lalu hilang karena silaturahim yang dibangun tidak sengaja oleh anak-anak kami.


Perasaanku kini campur aduk. Tidak ada yang bisa paham. Termasuk Mas Dhanu, Mba Marianne dan sahabat-sahabatku.


Para sahabatku terbagi menjadi dua kubu. Sebagian mendukung, sisanya menolak. Begitu pun dengan hatiku.


Aku bahagia dengan kesendirianku. Bersama anak-anakku yang sholih dan sholihah. Juga bekal hidup yang jauh lebih dari cukup. Sempat berpikir untuk sendiri saja hingga akhir hayat, toh bahagia tidak perlu harus menikah lagi.


Satu hal yang menakutkan di usiaku yang tidak lagi muda ini adalah kesepian di hari tua. Saat tubuh ini tak lagi kuat untuk sering berkunjung ke anak-anakku. Atau saat semua sudah sibuk dengan keluarganya.


Judith, yang kini menjadi sahabatku sering mengatakan bahwa hidup sendiri tidaklah terlalu buruk, namun memiliki pasangan untuk menghabiskan hari tua bersama pasti jauh lebih baik.


Wanita berusia tujuh puluhan itu kini sedang jatuh cinta dengan pria sebayanya. Mereka sedang berpikir untuk menikah.


Mungkin baginya, **** atau bercocok tanam bukan lagi menjadi yang utama. Memiliki teman untuk duduk minum teh bersama di senja hari sambil berbagi cerita, bangun di pagi hari mendapati ranjang yang kosong kini terisi kembali, menonton TV atau berdansa bersama, lebih memberi warna dari sekedar kepuasan hasrat.


Pandanganku melayang pada rak buku di ruang tidurku dan Devan. Di tengah buku-buku favorit kami berdua kukenali enam album yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

__ADS_1


“Devan, apakah ini kejutan darimu? Kenapa baru sekarang aku melihatnya?”


Kuraba guratan huruf dari tinta berembos emas.


Untuk Cinta Yang Tak Pernah Pudar.


Senyumku mengembang melihat foto-fotoku dari bayi hingga balita di album pertama. Lalu ada foto masa kecil Devan dengan rambut coklat berponi. Senyumnya tak pernah berubah hingga dewasa; tulus dan hangat.


Di album ke dua aku mengernyit karena ada foto pernikahanku dengan Mas Thoriq. Begitu juga foto saat kami berlibur ke pantai. Aku masih ingat betapa bahagianya kami hari itu.


Di album yang sama aku menemukan foto pernikahannya dengan Stella. Juga tak banyak foto di sana.


Album ketiga khusus dibuat untuk Liam dan Kala. Dua anak yang tidak bertalian darah namun terikat erat sebagai kakak, adik, dan sahabat. Aku tersenyum melihat foto mereka saat masih kecil saling merangkul.


Dari kecil Liam terlihat melankolis sementara Kala dengan sikap periangnya. Hingga kini keduanya masih bertukar kabar tiap hari melalui video call. Liam adalah anak yang tak pernah kulahirkan dan kakak bagi Kala.


Album ke empat berisi tentang Abby dan Zee. Kehadiran mereka menjadikan kakak beradik itu semakin berwarna. Para laki-laki berebut melindungi dua saudara perempuan mereka. Walau tak jarang kejahilan dan keisengan mereka menjadi penyulut pertengkaran dengan Abby dan Zee.


Album ke lima adalah tentang triplets. Teringat saat Hayyan sempat gagal napas. Aku melafaskan Al Fatihah di telinga mungilnya ketika tiba-tiba Hayyan menangis keras. Kini ketiganya tumbuh menjadi pria-pria yang gagah dan rupawan.


Album demi album kubuka dengan penuh senyum dan air mata kebahagiaan. Tibalah di album ke enam.


Halaman depan ada foto tangan Devan memasangkan cincin pernikahan di jariku. Halaman berikutnya adalah foto kami sedang bergandengan di depan Ka’bah. Hingga di halaman tengah, saat tangan Devan mulai mengurus akibat penyakitnya, tanganku mengenggam dengan erat.


Kuseka air mataku agar bisa membaca caption yang tertulis di sana.


Terima kasih untuk cinta utuh yang kau berikan padaku dan keluarga kita. Aku bersyukur untuk kebahagiaan dan sentuhan yang kamu berikan hingga saat terakhirku. I had the best live a man could ask for.


Masih ada halaman kosong, isilah dengan kebahagiaanmu, Sayang. Janji, jangan tangisi kepergianku lagi.

__ADS_1


Cinta kita nggak akan pernah pudar, Qiara Anjani.


***


__ADS_2