
“Ooh jadi kamu anaknya Bu Hanna, dia kan pernah dipenjara. Kamu itu keturunan penjahat.” Segerombolan santriwati memojokkan Aira di belakang gudang.
“Sotoy, belagak jadi Tuhan ngomongin takdir orang, eh?” Aira tak gentar menghadapi mereka.
Seorang di antara mereka mengulurkan tangan untuk menarik kerudung Aira. Dengan gesit Aira mengelak sambil memberikan senyum meremehkan.
Semenjak diserang preman, Kala sudah mengajari Aira jurus-jurus dasar bela diri.
“Aku heran kok bisa-bisanya pesantren besar dan terkenal menerima mantan narapidana dan anaknya. Liat aja, kita semua akan demo. Pantes aja barang sering hilang.” Santriwati bernama Nanda berkata dengan nada menuduh.
“Heh! Jangan sembarangan menuduh ibuku! Lagi pula apa urusanmu sih? Kok belagak suci banget jadi orang. Ibuku memang mantan napi. Aku tidak bangga dengan perbuatannya dulu, tapi ibuku sudah tobat dan itu yang sangat kuhargai.”
Santri lain menyahut dengan sinis, “Sekali penjahat tetap penjahat. Sok pakai cadar lagi. Biar nggak malu tuh.”
“Ck, kalau menurut aku, ibuku lebih berhak di sini daripada kamu. Setidaknya aku tahu persis ibuku berusaha hidup baik dan tidak pernah merendahkan orang lain. Kamu itu masih ditaraf sok baik, tau nggak.”
“Banyak cakap ni anak. Pegang dia, Ren, Liek. Dengar, ya, ibumu itu ada di kasta paling rendah, udah mentok, nggak ada yang bisa direndahin lagi sama orang macam dia.”
Aira menepis tangan-tangan yang ingin membekuknya. Tak rugi ia bersusah payah berlatih bersama Kala karena dengan mudah ia menghindar dari gerombolan santriwati tak berakhlak.
“Kak Aira, hey kalian, ngapain …” Tiga orang santriwati yang baru keluar dari musala melihat Aira yang dikeroyok langsung lari menghampiri. Latifah lari mendului yang lainnya ke arah Aira.
“Kalian lagi, kalian lagi. Nanda, Reni, Liliek. Kalian ini mau jadi apa sih? Sok jagoan banget,” bentak seorang santri senior bernama Fauziah.
“Nggak usah ikut campur, Fauziah. Kita cuma mau Bu Hanna dan anaknya ini dikeluarin. Nggak tenang tinggal bareng penjahat. Siapa tau kumat.”
Aira bergerak maju untuk menyerang tapi ditahan oleh Latifah.
“Mereka nggak berharga buat ditanggapi.”
“Heh anak kecil, tau apa kamu?” Bentak Reni pada Latifah,
“Aku tau bahwa semua orang bisa berbuat kesalahan. Besar atau kecil. Bu Hanna sudah menerima hukuman setimpal selama dipenjara dan kini sudah bertobat. Allah saja menerima tobat setiap umatnya. Lha kalian siapa?” Sahut Latifah tak gentar.
Nanda, Reni, dan Liliek terdiam.
Mereka kembali menatap Aira dengan tatapan marah dan dibalas dengan mata yang sama berapi-api.
“Nilai pas-pasan aja sok nilai orang,” cetus Aira gemas.
“Brengsek kamu, Aira!” Bentak ketiga biang kerok.
“Stop! Berhenti! Apa-apan kalian ini. Memalukan. Semua ke ruang saya.” Ella yang tak sengaja melihat keributan dari jendela kantornya kemudian gegas mendekati siswi-siswinya.
Tujuh santriwati itu menunduk, tak berani menatap Ustadzah Ella, pimpinan sekaligus kepala pesantren. Bagai pesakitan mereka berjalan mengikuti Ella.
Di ruangannya Ella memanggil Ruqqoyah dan Hanna dari administrasi beserta Ustadzah Dahlia yang menangani terkait ketertiban di pesantren.
“Bicara!” Titah Ella tegas.
Tidak ada yang berani bicara. Semuanya menunduk. Termasuk Nanda, Reni, dan Liliek yang kini menciut seperti tikus.
“Fauziah, kamu bicara.”
“Maaf Ustadzah, kami hanya ngobrol-ngobrol.”
“Oh ngobrol-ngobrol … kamu Nanda? Ngobrol juga pakai misuh-misuh?”
“Nyuwun ngapunten, Ustadzah, dalem namung mainan kalean Aira.” Mendadak suara Nanda yang tadinya gahar berubah lembut bagai Putri Mantili.
(Mohon maaf, Ustadzah, saya hanya main-main sama Aira.)
Tak mau kalah, Aira juga menjawab dengan sopan. Tak ada yang mengaku.
Ustadzah Ella tahu murid-muridnya berbohong, ia menjatuhkan hukuman untuk bangun pukul dua pagi dan membersihkan auditorium utama sebelum dipakai untuk sholat malam. Hukuman yang paling dibenci karena auditorium itu berukuran besar sekali.
Di luar ruangan, Nanda, Reni, dan Liliek kembali menunjukkan sikap bermusuhan sementara Aira yang berani malah menantang untuk menyelesaikan satu lawan satu.
Hanna menatap Aira dari jauh. Perasaannya mengatakan keributan tadi ada kaitan dengan dirinya. Ia akan bertanya pada Aira secepatnya ada kesempatan.
Dua minggu berlalu, Hanna dan Ruqqoyah diminta mengawasi pergerakan Nanda, Reni, dan Liliek terhadap Aira. Mereka sangat berhati-hati mengawasi peserta didik, namun tidak ada kejadian yang mengkhawatirkan.
Seperti peraturan yang berlaku untuk para santri, Hanna hanya bisa menemui Aira sebagai ibunya saat waktu kunjungan. Jadi ia belum bisa menanyai sebab masalah sampai seminggu lagi.
Hingga suatu hari saat Hanna pulang dari rumah sakit, ia memilih untuk berjalan kaki dari jalan utama menuju kompleks pesantren. Melewati semak-semak ia melihat kain biru muda tergeletak. Hanna mengenali itu adalah kerudung favorit Aira.
Siratan panik terpancar dari netranya.
__ADS_1
“Aira … Aira …”
Hanna menyibakkan semak yang agak tinggi. Terus memanggil nama anaknya.
“Aira … Aira.” Ia berteriak semakin keras.
“Maa …” Terdengar suara lemah dari balik semak.
“Aira!” Hanna panik melihat Aira tergeletak memegangi perutnya. Hidung berdarah. Dari sudut bibir keluar cairan merah.
Hanna memeluk anaknya yang lunglai. Aira meringis kesakitan. Panik, Hanna menghubungi Dicky yang sedang menarik taksi online milik temannya.
“Dicky, kamu dimana?”
Dicky yang tadinya hendak menggoda Hanna langsung serius. Hanna tidak pernah memanggil namanya secara langsung. Dengan intonasi serius pula.
“Aku di daerah simpang tiga. Kenapa, Hanna?”
“Tolongin Aira … aku share loc, kamu bisa ke sini? Aira harus dibawa ke rumah sakit. Aira, Aira bangun. Dicky tolong …” Suara Hanna terdengar panik.
“Aku kesana. Tunggu.”
Bertahun-tahun, Hanna menjadi korban bully di penjara. Ia bisa menahan sakit, sekejam apapun siksaan yang diberikan teman-teman satu selnya. Tapi saat melihat Aira babak belur, tulang-tulangnya seperti ditarik dari tubuhnya.
Ia lalu menelepon Thoriq.
“Assalamualaykum, ya, Hanna.”
“Mas, tolong, Aira terluka. Sekarang mau dibawa ke rumah sakit.”
“Apa? Oke, saya dan Kala ke sana. Share loc rumah sakit. Bagaimana kondisinya?”
Hanna mengubah panggilan menjadi video call. Baru sekilas menyorot wajah Aira, tiba-tiba dari arah samping muncul sekelompok orang dengan wajah ditutup.
Perlahan, ia meletakkan hapenya ke tangan Aira. Thoriq dan Kala yang ada di balik layar menatap nanar sambil berlari menuju mobil.
Hanna berdiri perlahan. Ia tersenyum menenangkan pada Aira yang ketakutan.
“Tenang, ada Mama. Kamu diam-diam rekam, ya,” bisik Hanna. Aira mengangguk.
“Nanda, Reni, Liliek, Ibu tau kalian yang berdiri bertiga di sana.” Suara Hanna terdengar tenang.
“Pesantren tidak menginginkan penjahat.” Bentak laki-laki yang berdiri di depan. Dari suaranya terdengar masih seperti remaja.
“Pesantren? Pesantren yang mana? Apa kamu juga dari pesantren putri?”
“Diam kamu penjahat!” Si remaja itu serta merta menyerang Hanna. Hidup di penjara selama sepuluh tahun tidak menjadikan Hanna lembek. Dengan gesit ia menghindar. Posisinya tetap melindungi Aira.
“Mama …”
“Ssh, Mama akan jagain kamu, Sayang.”
Sekarang laki-laki satunya menyerang Hanna. Kembali dengan cekatan Hannna berpindah sehingga remaja itu memukul angin.
“Hei, Aira merekam pakai hape. Ambil hapenya!” Perintah Nanda melihat benda kotak di tangan Aira.
Hanna menoleh ke Aira. Reni bergerak cepat hendak merebut hape. Hanna memutar tubuhnya untuk melindungi Aira ketika tiba-tiba merasakan pukulan keras di punggungnya.
“Mama! Ya Allah!”
Hanna jatuh tersungkur ke dekat Aira, matanya terpejam menahan sakit. Kakinya masih bisa digerakkan untuk menyengkat Reni hingga remaja itu jatuh terjerembab dan mengaduh kesakitan.
“Aira, lari …”
“Mama …”
“Lari!”
Aira berusaha menggerakkan tubuhnya. Bekas pukulan di perut dan tulang keringnya membuatnya susah berdiri.
“Heh, mau lari kemana?”
Hanna yang melihat Liliek dan Nanda mengejar Aira langsung berusaha sekuat tenaga menangkap kaki-kaki mereka. Dua remaja itu jatuh dengan wajah mengenai tanah.
“Hajar dia, Wan!” Salah seorang penyerang berseru.
Tanpa ampun, dua laki-laki itu menendangi perut dan punggung Hanna.
__ADS_1
Bibir wanita itu terus menggumamkan dzikir, sembari menahan sakit yang mendera. Ia berharap Aira berhasil lari mencari pertolongan atau menyelamatkan diri.
“Hey, hentikan!” Terdengar suara Dicky membentak dua kutu kupret yang terus menyiksa Hanna.
Dicky yang memiliki sosok tinggi besar menggentarkan dua remaja itu hingga mereka langsung kabur. Begitu juga dengan Nanda, Reni, dan Liliek yang sudah berhasil berdiri langsung mengambil langkah seribu. Hanna mengucapkan hamdalah, matanya mencari Aira.
“Tolong Aira, kumohon, cari Aira, selamatkan dia.”
“Aira sudah di mobilku, Hanna. Kamu bisa bangun?”
“Bisa, kamu jangan cari-cari kesempatan ya, Tuan Dokter.” Di sela rasa sakitnya, Hanna masih berusaha bercanda. Perlahan ia bangkit sambil matanya menatap dengan waspada ke arah Dicky.
“Bisa, kan?” Ujarnya penuh kemenangan sebelum ambruk tak sadarkan diri.
“Hanna!”
Dicky menangkap tubuh Hanna dan langsung membopongnya. Gegas dibawanya wanita itu menuju mobilnya tak jauh dari situ.
“Mama!” Aira berteriak sambil menangis. Tertatih-tatih keluar dari mobil hendak membantu Dicky.
“Ma, Mama harus kuat! Mama janji nggak akan tinggalin Aira.” Berurai air mata Aira meratapi ibunya.
Hanna membuka matanya.
“Ai, pake ini.” Dengan sisa tenaga memberikan jilbab biru muda. Kemudian matanya kembali terpejam.
***
“Aira, Aira!” Terdengar suara Thoriq memanggil nama anaknya di UGD.
“Aya, Mas Kala!” Aira menghambur ayah dan kakaknya. Thoriq dan Kala memeluk erat Aira.
“Mama belum sadar, Aya. Tadi Mama nahan orang-orang itu supaya Aira bisa kabur.” Aira berkata sambil terisak-isak.
“Kamu sendiri gimana?”
“Aira tadi sempat dipukul perutnya, tapi udah diperiksa dan nggak apa-apa.”
Dicky menemui Thoriq dan Kala mempersilakan masuk ke sebuah ruangan sementara Aira diminta kembali ke bilik tempat Hanna dirawat. Walaupun Dicky adalah spesialis kulit dan kelamin, namun kekurangan tenaga dokter membuatnya harus bertugas di UGD.
Setelah Thoriq dan Kala duduk, Dicky menjelaskan, “Aira tadi diserang. Sesampainya di rumah sakit, kami melakukan visum untuk tindakan kekerasan fisik dan seksual. Alhamdulillah tidak ditemukan kekerasan seksual. Untuk fisik ada beberapa memar di perut, kaki, dan tangan. Sepertinya tadi Aira melawan mati-matian.”
“Hanna?” Pertanyaa Thoriq membuat Dicky sedikit ragu untuk menjawab.
“Kami memang tidak lagi punya ikatan tapi dia adalah ibu dari anak saya, jika tidak menyalahi aturan rumah sakit, saya ingin tahu kondisinya.”
Dicky mengangguk. “Hanna mengalami shock. Ia mendapat pukulan di perut dan punggung. Agaknya ada syaraf punggung yang terkena sehingga ia tak sadarkan diri. Kami sudah memanggil spesialis syaraf untuk memeriksa. Di rumah sakit ini tidak ada MRI. Jika diperlukan, maka Hanna terpaksa dipindahkan ke rumah sakit umum di kota.”
Terdengar pintu diketuk. Seorang perawat masuk.
“Pasien Hanna sudah sadar.”
Tanpa menunggu tanggapan Thoriq dan Kala, Dicky melesat menemui Hanna. Ia cukup senang melihat di biliknya, Hanna dan Aira saling berpelukan.
Walau terlihat masih lemas, namun wajah Hanna terlihat sangat lega karena Aira baik-baik saja.
“Dokter Dicky, terima kasih sudah menyelamatkan Aira. Terima kasih,” ucap Hanna penuh rasa syukur.
Dicky mengangguk lalu segera memeriksa Hanna.
Hanna berkata dengan lirih, “Dokter, kaki saya tidak bisa digerakkan.”
***
Dua chapter ini akan author tulis untuk anak dari teman author yang terkena kekerasan fisik di sekolahnya.
Ia memiliki kelainan katup jantung dari kecil namun justru pembully memukuli area tersebut hingga menimbulkan kebocoran. Anak teman saya itu harus dioperasi.
Hati author sangat miris. Apa yang membuat pembully itu merasa punya hak lebih sehingga menyakiti orang lain?
Dengan perasaan hancur, teman saya menyaksikan anaknya terkulai lemah. Anak yang masih remaja. Terlebih belum ada tanggung jawab dari sekolah maupun orang tua pembully.
Semoga nggak ada satu pun dari kita, keluarga, anak, adik, keponakan, yang menjadi korban bullying maupun jadi pembully …
Salam bahagia!
***
__ADS_1