Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Hello Kitty


__ADS_3

“Mama cantik sekali,” ucap Aira menatap pantualan bayangan ibunya di cermin.


“Maa syaa Allah. Terima kasih, Sayang. Kamu lebih cantik, luar dalam.” Hanna menyium pipi putrinya.


Aira memeluk ibunya dari belakang. Hanna menatap pantulannya di cermin. Tak pernah mengira, ia akan merasakan kebahagiaan seperti hari ini.


Aira berada di sampingnya dan sebentar lagi ia akan dinikahi seseorang yang mencintai serta mau menerima masa lalunya. Pernikahan yang diharapkan tidak hanya oleh mempelai berdua, tapi juga oleh Aira, Latifah, dan Fatimah.


“Ma, Aira pasang cadarnya, ya. Kata Ifah, Oom Dicky udah sampai.”


Aira mengikat tali cadar, menutupi kecantikan Hanna.


“Mama, Aira doakan semoga bahagia selalu dengan Oom Dicky. Hmm, kalau udah nikah sama Mama panggil Oom Dicky apa, ya?”


“Aira nanti tanya langsung aja. Duh, Mama kok deg-degan, ya?” Hanna memegang tangan Aira.


“Ya Allah, dingin banget tangan Mama. Cieee yang gugup nikah …” Hanna mencubit pelan pinggang Aira. Lalu membenahi kerudung dan baju anaknya sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


Wajah Aira semakin hari semakin terlihat cantik dan berseri-seri. Perpaduan antara wajahnya dan Thoriq. Warna biru muda yang dipilih sebagai gamis berpadu cantik dengan kulit kuning langsat.


Hape Aira berbunyi.


“Assalamualaykum, Mas Kala.”


“Alaykumussalam, Dek, ada Buna mau ngomong sama Tante Hanna.”


Aira mengarahkan layar ke wajah mamanya sementara di layar ada wajah Qiara dan Abby.


“Hanna, maa syaa Allah, Mbak ikut senang. Semoga kamu dan Dicky bahagia selalu.”


“Aamiin, aamiin. Makasi doanya Mbak Qia. Hai, Abby.”


“Hai Tante dan Mba Aira. Kalian cantik-cantik sekali. Semoga bahagia, ya.”


“Terima kasih doanya, Abby. Wah Kala dan Abby mau punya adik lagi, ya? Udah berapa bulan Mbak?”


Qiara tersipu karena di usianya yang menjelang empat puluh masih hamil. “Mau masuk enam bulan, Hanna. Cewek nih, in syaa Allah, ada temen buat Abby.”


“Buat Aira juga dong, Tante Qia. Oya, Abby, aku bakal ada 2 adik dari Oom Dicky, namanya Latifah dan Fatimah. Nanti aku kenalin.”


Tiba-tiba wajah Abby menghilang dari layar disertai pekikkan kesal.


“Halo, Auntie Hanna, Aira …”


Wajah Aira merah padam melihat sosok yang diam-diam ia rindukan. Liam nampak lebih dewasa. Senyumnya melebar dan matanya membola saat melihat betapa cantiknya Aira hari itu.


“Liam udah nggak boleh lama-lama liat Mbak Aira. Go away, this is for girls only.”


Abby mendorong Liam sekuat tenaga namun kakaknya malah bergeming sambil terkekeh. Kala tertawa-tawa melihat polah saudara-saudaranya.


“Ya, gini deh Hanna, punya anak banyak. Nggak kecil, nggak gede sama aja.”


Liam nyengir lebar mendengar perkataan Bunanya. Matanya tidak bisa lepas dari Aira yang ia rindukan siang malam.


Hanna tersenyum melihat polah tingkah dua remaja itu. Qiara menyenggol Liam agar menurunkan pandangannya.


“Kami pamit. Semoga akadnya lancar dan pernikahan kamu diberkahi Allah. Say bye, Liam, Abby.”


“Bye-bye … Mbak Aira nanti aku wapri ya…”


“Okay, Abby … jaga Buna ya. Liam juga jagain adik-adik,” sahut Aira lembut.


“Penginnya jagain kamu juga, sih,” gumam Liam pelan tidak ingin terdengar siapa pun.


Qiara menoleh, kesibukannya dengan triplets dan kehamilannya membuat belum menyadari bahwa Liam memiliki rasa untuk Aira.


“Kok Buna liatin aku?” Liam terkekeh.


“Nggak, tadi ngomong apa?”


“Nothing, nothing. Bye Tante Hanna and Aira.”


Setelah telepon selesai, Hanna menghela napas. Saat itu baginya seperti mimpi.


Ia merasakan kehangatan dan ketulusan dari Qiara dan anak-anaknya.


“Ai, ai, kamu kok kayak kesambit. Hmmm ini Mama ngerti, kesambit pesona Liam, ya?”


“Mama apa sih, yuk ke musala. Kata Imah, semua sudah siap.” Aira buru-buru mengalihkan.


Tak berapa lama, mereka berdua berjalan menyusuri koridor menuju musala pesantren.


Hanna duduk di kursi luar musala ditemani Aira. Tangan mereka saling menggenggam karena sebentar lagi Dicky akan mengucap ijab kabul.


Di dalam ruang, Dicky sudah duduk berseberangan dengan paman Hanna. Wajahnya tenang penuh kemantapan. Ia menunggu saat dipersilakan mengucap janji suci untuk mempersunting Hanna.

__ADS_1


Paman Hanna menjabat tangannya.


“Saya nikahkan dan kawinkan ananda Hanna Adinda dengan mas kawin uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai!”


Dicky menjawab tegas, “Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanna Adinda dengan mas kawin uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai!”


“Sah?”


“Sah!”


“Alhamdulillah …” Terdengar suara penuh kelegaan dari tamu yang hadir termasuk Thoriq, Kala, Kakek, dan Nenek.


Setelah meja ijab qabul disingkirkan, Dicky berdiri di pelaminan sederhana yang telah dipersiapkan siswi-siswi pesantren teman Aira, Latifah, dan Fatimah.


Kini saatnya Hanna masuk untuk menemui suaminya. Latifah dan Fatimah juga akan berjalan mengiringi Hanna dan Aira.


Dicky menatap satu-satunya wanita yang berhasil mencuri hatinya. Wanita yang selalu membuatnya salah tingkah. Wanita yang kehadirannya bisa menghadirkan rasa hangat di hatinya yang penuh dengan kegetiran.


Benaknya memutar percakapan dengan dua keponakannya sesaat sebelum melamar Hanna.


“Oom, Bu Hanna itu cantik sekali. Aku dan Imah kemarin melihat beliau tanpa cadar. Buruan dihalalin sebelum direbut orang.”


Kini Hanna berdiri tak jauh darinya. Tak sadar air mata menitik.


Hanna tertegun dari jauh ketika melihat Dicky mengusap matanya.


“Mama, jangan kaget, Oom Dicky itu body security tapi hati Hello Kitty,” bisik Imah.


Hanna dan Aira hampir tidak bisa menahan tawa mendengar komentar Fatimah. Mereka pura-pura berdehem. Lalu berjalan perlahan menuju pelaminan.


Ella berdiri untuk mempertemukan Dicky dengan Hanna. Setelah berdiri berhadapan, Hanna mencium punggung tangan suaminya, disusul Dicky mencium kening istrinya. Dicky menempelkan keningnya ke kening Hanna.


“Aku cinta kamu, Hanna. Semoga pernikahan kita langgeng dan selamanya.”


“Aamiin, aamiin. Hanna juga cinta sama Mas Dicky. Bimbing Hanna supaya jadi istri yang sholihah untuk Mas, ya.”


Dicky mencium kening istrinya lagi. Kali ini lebih lama dari yang pertama.


“Udah-udah nanti dilanjut di kamar,” celetuk para tetangga Dicky yang usil. Mereka sudah menganggap Dicky dan dua keponakannya sebagai keluarga sendiri.


Thoriq tersenyum melihat mantan istri yang dulu dinikahi secara terpaksa akhirnya menemukan laki-laki yang bisa memberikan cinta utuh kepada Hanna.


Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan.


Hanna berdiri di samping Dicky, menerima ucapan selamat dari para tamu. Kemudian mereka berpindah ke taman kecil di samping musala dimana telah disiapkan makanan sebagai jamuan sebagai bentuk rasa syukur Dicky dan Hanna.


Kini ia tak lagi sendiri, ada cinta yang berbalas dan hati tempat berbagi. Dari sudut mata ia melihat kakek dan nenek menatapnya sambil tersenyum. Ia menggamit Dicky lalu mengajaknya menemui kakek dan nenek.


Dicky dan Hanna mencium takzim keduanya. Mereka duduk bersimpuh di hadapan kursi roda kakek dan nenek.


“Hanna, semoga kamu bahagia. Nak Dicky, jaga Hanna ya … Jika kalian ada waktu, mampirlah ke Solo.”


“Hanna mohon maaf atas kesalahan yang dulu-dulu. Semoga Hanna bisa menjadi istri dan ibu yang baik ke depannya.”


“In syaa Allah kami akan mampir ke Solo. Kebetulan saya akan ajak Hanna bulan madu ke Yogya jadi nanti pulangnya bisa mampir.”


Hanna menoleh ke arah Dicky sambil tersipu. Sebuah kejutan karena ia paham kondisi keuangan Dicky yang masih harus menyicil hutang kakak iparnya.


Kakek dan Nenek tersenyum melihat dua sejoli di hadapannya. Setelah bercakap sebentar, Kakek dan Nenek mohon pamit bersama Thoriq dan Kala.


“Sekali lagi selamat, Hanna dan Dicky.”


Thoriq menyalami Dicky lalu mengatup tangannya ke dada sambil mengangguk ke arah Hanna.


“Makasi, Mas. Doakan, ya. Aku seneng hari ini aku nambah punya kakak laki-laki,” balas Dicky.


Hanna menatap suaminya dengan heran lalu bertanya, “Siapa?”


Dicky menyahut cepat, seolah heran kenapa Hanna malah bertanya. “Ya Mas Thoriq, siapa lagi.”


Hanna tertegun begitu juga dengan Thoriq. Namun melihat mata Dicky yang tulus dan penuh kesungguhan, Thoriq tidak tega membahas bahwa sebagai mantan suami, tidak serta merta ia menjadi kakak setelah Dicky menikahi Hanna.


“Welcome to the family,” balas Thoriq tersenyum ramah sambil menepuk pundak Dicky.


***


Usai resepsi sederhana, Dicky dan Hanna kembali ke rumah Ella. Aira dan adik-adik barunya kembali ke asrama mereka.


Ella dan Hanna sudah menyiapkan kamar pengantin namun Dicky berharap Hanna bersedia pulang ke rumahnya.


“Kalau di sini berisiknya kedengeran,” bisik Dicky di telinga Hanna.


Hanna mencubit gemas suaminya. Sejujurnya ia khawatir. Trauma pernah dipekerjakan menjadi budak **** masih sering menghantui. Hanna berharap jika Dicky meminta hak atasnya, ia bisa memberikan sebaik-baiknya.


“Dicky, Hanna, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian. Ibu mengerti Dicky perlu privasi dengan Hanna, jadi Ibu ikhlas jika Dicky akan memboyong Hanna.”

__ADS_1


Sementara Hanna kelimpungan menahan malu, Dicky tersenyum sumringah.


“Siap, Bu! Kalau begitu saya dan Hanna pamit, ya.”


“Mmm nggak kasih Hanna ganti baju dulu?”


“Saya udah siapin baju-baju buat Hanna di rumah kok. Yuk, istri, kita berangkat. Assalamualaykum, Bu.”


Tak mau memberi peluang Hanna untuk menolak, Dicky menggandeng tangan Hanna menuju mobil yang ia pinjam dari temannya.


Di dalam mobil, ia berulang kali mencium tangan Hanna membuat tubuh istrinya meremang dan jantungnya berdegup lebih cepat.


“Aku nggak sabar liat wajah kamu …”


“Kalau ternyata aku ompong gimana?” Jawab Hanna menggoda Dicky.


“Aku lebih percaya laporan keponakanku daripada ucapan kamu. Kata mereka kamu cantik banget.”


Di balik cadarnya, wajah Hanna merona merah.


“In syaa Allah …”


Setelah satu jam perjalanan, mereka riba di rumah sederhana Dicky. Hanna belum pernah ke sana, ia menatap rumah mungil yang akan menjadi istananya.


“Maaf …”


“Maaf untuk apa, Mas?”


“Rumah ini masih ngontrak dan sederhana banget.”


“Ini istana kita yang pertama, Mas. Pernikahan di samping ibadah terpanjang juga membuka pintu rejeki. In syaa Allah rejeki yang dititipkan ke kita halal dan thoyyib, Mas.”


Dicky mengecup pipi Hanna yang masih tertutup cadar.


“Masuk yuk, daripada aku kalap di sini.”


Dicky gegas keluar mobil lalu lari memutar dan membuka pintu untuk Hanna. Pria itu mengulurkan tangan agar istrinya mudah untuk keluar dari mobil.


Tak disangka, para tetangga memberi kejutan dengan menghias pagar dengan pita dan bunga-bunga. Begitu juga pintu rumah mereka dihias dengan rangkaian bunga berbentuk bulat berwarna putih dan kuning.


“Cieee yang penganten baru,” seloroh tetangga-tetangga yang mendadak keluar untuk menggoda pasangan baru itu.


“Mas …” Hanna menunduk, tersipu. Walau ia sudah pernah dua kali menikah, namun dirinya belum pernah merasa berbunga-bunga seperti ini.


Dicky nyengir lalu membuka pintu rumahnya. Dengan gesit membopong Hanna ala bridal style lalu menutup pintu dengan kakinya.


Tak dihiraukan suit-suitan menggoda di luar. Ia membawa Hanna ke kamar mereka.


Hanna melingkarkan lengannya ke leher Dicky yang kokoh. Matanya menatap lembut suaminya sambil menahan tangis haru. Berulang kali ia harus menyubit dirinya memastikan ini semua bukan sekadar mimpi.


Dengan perlahan, Dicky membaringkan Hanna di ranjang. Lalu ia duduk di sampingnya, matanya lekat menatap Hanna.


“Sayang, kamu mau apa sekarang? Langsungan atau mau bersih-bersih dulu?”


Hanna terbelalak. Satu hal yang disukai dari Dicky adalah pria itu selalu berkata apa adanya dan bukan ada apanya. Walau komentarnya sering mengejutkan. Kejutan bahagia.


“Aku boleh bersih-bersih dulu?”


“Boleh, dong, Sayang. Sini aku bantu bangun.”


Hanna tersenyum, dalam hati berdoa agar sikap manis suaminya akan bertahan seterusnya.


Dicky berdiri di hadapan Hanna.


“Aku buka, ya…”


Hanna mengangguk. Dicky membuka simpul ikatan yang cadar yang dipasangkan oleh Aira. Hatinya merutuk karena Aira mengikat dengan simpul mati.


Keduanya tersenyum menyadari keisengan anak mereka.


“Untung tanganku terlatih membuka dan menutup simpul.”


Hanna mendelik.


“Simpul operasian, Sayang.” Dicky sangat bisa memahami jalan pikiran Hanna.


Ketika akhirnya simpul bisa dibuka, Dicky menelan ludah sebelum menurunkan cadar dari wajah Hanna.


“Bismillaah …”


Hanna memejamkan mata. Pasrah apabila ternyata Dicky tidak menyukai wajahnya. Beberapa detik matanya terpejam, tidak ada komentar atau respon apapun dari suaminya.


Perlahan ia membuka sebelah mata hendak mengintip reaksi Dicky.


“Ya Allah, Mas Dicky, kamu kenapa?”

__ADS_1


***


__ADS_2