
Bulan-bulan berjalan, Dicky dan Hanna menikmati kebersamaan mereka. Saat libur, Aira terkadang menginap di rumah mereka bersama Latifah dan Fatimah. Dicky gugup karena khawatir Aira tidak biasa dengan kesederhanaan. Namun Aira tidak mempermasalahkan.
Ketika mereka semua berkumpul, menikmati makan malam sederhana, Hanna memejamkan mata sambil bersyukur berharap saat matanya terbuka, itu semua bukan mimpi.
Wanita itu tidak main-main dengan niatannya. Di tanah ayahnya mulai dibangun rumah untuk yatim piatu. Sederhana tapi nantinya akan apik dan nyaman.
Ella memfasilitasi pengelolaan serta pendanaan yatim piatu dan sekolah-sekolah sekitar sangat terbuka untuk menerima anak-anak yang akan tinggal di sana untuk sekolah dengan biaya minimal.
Rumah orang tua Hanna telah dijual dengan harga yang sangat bagus. Thoriq, Hanna, dan Dicky membuatkan rekening khusus untuk Aira yang hanya bisa dicairkan setelah gadis itu berumur 21 tahun.
Aira bersikeras mengambil sedikit dari uang tersebut untuk membangun taman bermain di rumah yatim piatu yang dibangun ibunya. Mereka semua sepakat untuk memberi nama Rumah Sa’adah artinya Rumah Kegembiraan.
Terhadap Latifah dan Fatimah, sedikit pun Hanna tidak pernah membedakan dari Aira. Dirinya bisa membayangkan begitu berat hidup mereka tanpa orang tua kandung yang mengasihi dan menyayangi.
Kecanggungan terjadi saat Latifah dan Fatimah memanggil Hanna dengan sebutan Mama, sementara untuk Dicky mereka tetap mau memanggil dengan sebutan Oom. Aira sendiri memilih untuk memanggil Dicky dengan sebutan Papa Dicky.
Untuk pergi bekerja, Hanna cukup membeli motor setelah mendapat ijin dari suaminya. Tadinya Dicky ingin tiap hari mengantarkan ke pesantren, namun karena jarak dari pesantren ke rumah sakit sangat jauh, akhirnya ia mengijinkan.
Sore itu, Hanna menghentikan motornya di depan rumah. Ia melihat seorang wanita berpakaian kurang bahan berdiri di teras rumahnya.
Setelah melepas helm, ia mendorong motornya masuk ke rumah kontrakan. Tidak ada salam dari wanita tadi, jadi Hanna pun berlagak tidak melihat.
Sengaja mendorong motornya ke tempat Eliza berdiri sehingga wanita itu terpaksa bergeser.
“Maaf, ini tempat parkir motor saya, permisi."
Tanpa menghiraukan, Hanna membuka pintu rumah dengan kuncinya kemudian melangkah masuk.
“Hey, kamu nggak liat apa ada tamu di sini?”
“Eh tamu tho, saya pikir emang iseng berdiri-berdiri aja di situ. Nggak negur, nggak salam. Siapa, ya?”
Hanna tahu persis dia adalah Eliza, ibu tiri suaminya.
“Mantu macam apa? Tidak kenal mertua.”
“Lagian kenapa Tante nggak datang waktu kami nikah? Kenalkan, saya Hanna Adinda, menantu Tante, istrinya Dicky.” Hanna sengaja menjelaskan panjang kali lebar pada mertua tirinya. Ia juga tidak memanggil Mbak seperti yang dilakukan suaminya.
Eliza melihat Hanna dengan sebelah mata. Baginya seseorang berpakaian panjang, tebal, tertutup, bercadar tidak sekelas dirinya yang trendi dan fashionable.
“Bisa-bisanya Dicky milih perempuan macam kamu. Jangan pikir saya nggak tau ya, kamu ini mantan narapidana, pernah jadi pelacur, penculik. Munafik kamu pakai baju kayak gini. Berlagak muslimah padahal bajingan.”
Hati Hanna tercubit, setelah sekian lama ia berhasil melangkah maju kini Eliza menjembreng lagi dosa-dosanya. Agaknya jejak digital akan selalu melekat.
“Yah, manusia banyak khilafnya, Tante. Sekarang lagi berjuang di jalan tobat. Tante udah tobat belum, eh …”
Eliza mendelik.
“Jangan kurang ajar! Dibanding kamu, saya lebih pantas menjadi istri Dicky.”
“Ya kalau nggak tau malu sih. Btw Tante ada apa ke sini?”
“Nih, undangan. Saya mau nikah. Bilang sama Dicky saya bisa dapet jauh lebih baik daripada dokter kere banyak hutang kayak dia.”
“Alhamdulillah… semoga lancar jaya. Saya terima undangannya, Tan, in syaa Allah saya datang sama Dicky dan anak-anak. Mari, saya masuk dulu. Assalamualaykum.”
Hanna sengaja tidak mengundang masuk karena takut ada akal bulus yang akan merepotkan. Tanpa menunggu respon Eliza, Hanna pun masuk dan mengunci pintu. Meninggalkan Eliza yang tergagap lalu menendang pintu sebelum pergi.
“Ckckck, apa dulu aku seperti dia ya? Nggak berakhlak, ah sudah lah.”
Dari dalam, Hanna waspada mengawasi gerak-gerik Eliza. Tapi perempuan itu berjalan pergi dan tidak kembali lagi.
Hanna meletakkan undangan di meja makan lalu gegas mengambil baju dan handuk untuk mandi. Setelah segar, ia memasak makan malam untuk Dicky. Menggoreng pecel lele dan sambal lalap. Sederhana namun nikmat.
Pukul tujuh usai Hanna sholat isya, Dicky pulang.
“Assalamualaykum, Sayang. Aku pulang.”
Hanna gegas merapikan penampilannya yang memakai piyama pendek karena udara sedang panas.
“Waalaykumussalam, Mas,” balasnya sambil mencium punggung tangan Dicky.
Pria itu tidak melepaskan tangannya malah menarik Hanna ke dalam pelukan.
“Kangen … seharian pengin peluk kamu.”
Hanna mengecup pipi suaminya.
“Mas duduk dulu, aku buatin teh hangat mau, ya? Hanna juga tadi beli bolu kukus kesukaan Mas di warung Bu Dar. Dapat bonus risol.”
Hanna menggandeng Dicky untuk duduk di meja makan sambil mengambil tas dari bahunya. Menuangkan teh dari termos lalu menyediakan penganan.
Ia hendak duduk di kursi sebelah Dicky ketika merasa badannya ditarik untuk duduk di pangkuan suaminya.
“Duduk sini aja, Cantik.”
Hanna terkekeh. Setelah Dicky minum teh, ia menyuapi suaminya.
Dicky merasa bahagia bukan kepalang, punya istri cantik, sholihah, dan melayaninya dengan tulus. Bukan hanya di ranjang, tapi semua kebutuhan Dicky sudah Hanna siapkan bahkan sebelum diminta.
“Sayang, aku punya kejutan buat kamu,” ucap Dicky sambil menciumi punggung Hanna.
Dari saku kemejanya ia mengeluarkan amplop.
“Baca, deh.”
Hanna membaca surat dengan seksama.
“Maa syaa Allah, Mas dapat beasiswa lagi? Bedah Ongkologi? Ini seperti cita-cita Mas, kan?”
Dicky mengangguk, matanya menatap wajah Hanna yang ayu. Sepertinya ia tak pernah bosan memandang wajah yang dirindukan siang malam. Terutama saat ia harus menjaga UGD di malam hari.
“Mas aku …”
Hanna terdiam. Matanya melotot.
“Hanna, kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Hanna lari ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya. Dicky membantu memijit tengkuk. Hanna terus muntah hingga keluar cairan kuning. Matanya berair.
“Mas, lemes banget.”
“Sini aku gendong ke kamar. Sesudah itu aku balurin sama minyak angin.”
Baru Dicky mengangkatnya, Hanna melompat turun lalu memburu ke kamar mandi lalu kembali muntah, walau sebetulnya isi perutnya sudah sangat kosong.
Setelah tenang, Dicky memapah Hanna ke kamar.
“Mas, mandi gih, aku nggak kuat sama baunya.”
Dicky mengerutkan kening. Hanna tidak pernah sensitif terhadap bau-bauan.
__ADS_1
“Sayang, kapan terakhir kamu mens?”
“Lupa, catatannya di app. Tapi bulan ini aku memang belum haid.”
“Okay, aku mandi dulu, terus aku ke apotik beli test pack.”
“Masak hamil sih?”
“Sayang, aku menggempurmu tiap malam, wajar kalau kamu hamil.” Wajah Dicky sumringah penuh harap.
“Mas, tapi kalau ternyata nggak hamil?”
“Ya berarti kita akan makin giat bercinta.” Dicky terkekeh sambil mengacak pelan pucuk kepala Hanna.
Sifat easy going itulah yang disukai Hanna dari suaminya. Dicky selalu memandang semua dengan rasa syukur. Walau dalam hidupnya ia telah mengalami banyak kegetiran.
Pria itu melesat ke kamar mandi. Mungkin hanya mandi bebek karena tidak sampai lima menit sudah pamit untuk ke apotik yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka.
Lima belas menit kemudian dengan bersemangat, Dicky menuntun Hanna yang sudah merasa lebih baik ke kamar mandi.
Ia hendak membuka celana Hanna ketika dicegah.
“Mas aku bisa sendiri.”
“Nggak papa aku bantu, nggak usah malu, aku dah liat semua punya kamu. Lagi pula aku dokter di sini,” ujarnya tak jelas, yang penting Hanna menurut. Dicky memakai sarung tangan karet dan siap mengambil penadah air seni.
Hanna mengerjap mata. Ia sungguh malu untuk pipis di depan suaminya. Tapi saat itu Dicky memasang muka tambeng, tidak bisa dibantah.
Setelah menampung air seni istrinya, Dicky mengambilnya sedikit dengan pipet kemudian meneteskan ke test pack. Sambil menunggu ia hendak membantu membersihkan area inti istrinya.
“Mas nggak mau …” Hanna benar-benar menolak. Ia langsung menyambar gayung lalu menciprati suaminya agar menjauh.
Dicky terkekeh dan membiarkan istrinya menyelesaikan kegiatannya. Sementara itu jantungnya berdegup menunggu hasil test pack.
“Mas, gimana?”
Hanna menyentuh lengan Dicky yang mematung.
“Mas … mas, aku nggak hamil ya?”
Dicky berbalik, wajahnya berlinang air mata. Ia menyodorkan test pack. Kini gantian Hanna yang ternganga.
Dicky menarik tangan istrinya untuk keluar dari kamar mandi. Mendekap erat lalu menciumi wajah Hanna bertubi-tubi.
“Terima kasih sayangku, kamu hamil anak aku.”
Masih tak percaya bahwa Allah sekali lagi memberikan kebahagiaan padanya, Hanna menatap wajah Dicky yang masih basah akan air mata.
“I love you, Hello Kitty-ku …”
***
Belasan ribu kilometer di sebuah kota kecil di Switzerland. Qiara dan Devan berjalan menyusuri jalan pedesaan dalam suasana musim gugur.
Perut Qiara yang sudah besar tidak mengurangi pesonanya. Merasa tangan Qiara yang dingin di gengaman, Devan melepas jaket lalu memakaikan ke istrinya.
“Kamu nggak kedinginan nanti, Dev?”
“Enggak, Sayang. Kita ngeteh di kafe itu yuk. Biar kamu juga bisa istirahat. Capek kan?”
“Alhamdulillah kehamilan aku nggak pernah ada yang merepotkan. Juga nggak gampang cape. Makasi ya mau nemenin istrinya yang lagi perlu healing.”
“Anything for you, My Love.”
“Fix, kita ke kafe, bibir kamu dingin banget.”
“Angetin dulu…”
Paham kode istrinya, Devan lalu merengkuh istrinya memberi ciuman yang lama dan menghangatkan.
Baru mereka duduk di kafe serombongan anak remaja muncul dari sudut jalan.
“Daddy, Buna!”
Tiga anak laki yang memiliki wajah serupa langsung berlomba mendatangi orang tua mereka. Seorang remaja putri baru gede enggan mengikuti kelakuan adik-adiknya memilih untuk berjalan santai sambil tetap mengawasi Si Triplets.
“Healing time is over,” Devan tersenyum menyambut tiga remaja laki yang langsung duduk di bangku-bangku samping mejanya dan berebut memesan minuman. Mereka memang seperti topan badai.
Abby duduk di samping ibunya dan langsung menggelendot sambil memegang perut mancung ibunya.
“Buna …”
“Jalan-jalan kemana tadi?” Tanya Qiara lembut sambil merapikan kerudung Abigail.
“Nemenin Triplets beli es krim. Hayya pengin es krim pistaccio. Bawaan orok.”
“Hush!” Qiarw menyubit hidung mancung putrinya.
“Sekarang kalau travelling anggota kita berkurang, ya. Biasa ada Liam sama Mas Kala.” Kata Abby dengan nada merajuk.
“Tadi Liam, video call, kasih tunjuk kampusnya. Sepertinya dia lebih memilih kuliah psikologi di Oxford ketimbang di London,” ujar Devan sambil menunjukkan foto-foto yang dikirimkan Liam.
Abby mengambil hape ayahnya lalu mengamati foto-foto yang dikirim Liam.
“Daddy, mmm kalau aku pengin jadi chef, Boleh nggak? Tadi aku lewatin ada sekolah masak sederhana gitu sih di depan.“
Sebagai satu-satunya anak perempuan sebelum adiknya lahir, Abby memang sering menghabiskan waktu di dapur bersama Qiara. Terlebih sekarang Qiara memegang manajemen beberapa hotel dan restoran milik grup Donavy, Abby sering membantu di dapur.
“Daddy dan Buna dukung kamu seratus persen. Semua cita-cita baik harus diwujudkan.”
“Abby mau sekolah dimana?”
“Kalau boleh, di Swiss. Abby juga mau ambil sekolah perhotelan. Biar bisa bantu Bunda urus hotelnya Grandpa.”
Tiga serangkai mendekat sambil membawa minuman pesanannya. Mereka mendengar pembicaraan kakaknya dengan Buna dan Daddy.
“Azka mau jadi pilot!”
“Barran mau jadi arsitek dan interior desainer kayak Buna.”
“Hayyan nggak tau mau jadi apa.”
Hayyan duduk bersandar ke ayahnya. Di antara tiga badai, Hayyan adalah yang paling manja. Mungkin karena waktu lahir sempat mengalami gagal napas, Qiara dan Devan jadi lebih protektif terhadapnya.
“Kamu jadi tentara aja,” ledek Barran sambil terkekeh karena Hayyan sebagai yang paling manja tidak modelnya menjadi tentara.
“Barran …” Devan menegur.
Hayyan menjebik ke kakaknya. Dengan nada sok jagoan ia berkata, “Aku bakalan jadi tentara hebat! Nanti aku minta Mas Kala ajaein aku berantem.”
Qiara memandang Hayyan dengan khawatir. Apakah anaknya memang betul ingin jadi tentara atau hanya tidak mau kalah saja.
Devan memegang tangan Qiara menenangkan, matanya menatap lembut ke istrinya yang akhirnya mengangguk pelan.
__ADS_1
Abby menangkap kemesraan kedua orang tuanya dan berharap kelak ia dan pasangannya bisa seperti mereka. Sementara Azka yang juga melihat momen itu malah pura-pura mau muntah.
“Aduh!” Qiara memegang perutnya.
“Kenapa sayang?”
“Biasa, debay suka nendang. Aduh!” Qiara mengerang. Ia menatap khawatir.
“Dev, kok rasanya kayak dulu mau lahiran Kalandra. Padahal masih empat minggu lagi harusnya.”
“Trimester ke tiga bisa mulai ada false contraction atau ya memang beneran prematur.”
Abby mendelik mendengar ucapan ayahnya. “Daddy nih, nggak menenangkan sekali.”
Triplets berdiri di samping ibu mereka dengan wajah cemas.
Devan menyuruh Qiara untuk meluruskan kakinya lalu ia memeriksa posisi bayi dengan memegang perut.
Tak berapa lama, Qiara kembali mengaduh. Devan menyuruh Azka untuk memanggil ambulance.
“Udah mau lahir ya, Dev?”
“Hmm iya dugaanku.”
“Yah paling nggak aku masuk rumah sakit pake baju keren deh.”
Barran dan Hayyan kini berdiri di samping ibunya sambil memijiti pundak.
“Tarik napas Buna, ayo Barran hitung.” Baran memberikan instruksi karena pernah mengantarkan Qiara senam hamil.
Abby langsung menelepon kakak-kakaknya. Mereka semua khawatir. Liam langsung memesan tiket ke Switzerland. Kala minta diberikan update terus menerus.
Intensitas kontraksi Qiara makin meningkat. Kini wanita pemilik kafe juga membantu dengan membawakan handuk hangat untuk mengelap kening Qiara yang mulai berkeringat.
“Nanti anak-anakmu aku antarkan pakai mobil,” ucap wanita itu dengan baik hati menawarkan.
“Joseph, get the car!” Titahnya kepada seorang laki-laki yang berdiri di belakang mesin kasir. Tak berapa lama ambulance datang. Devan langsung masuk bersama Qiara. Azka membayar makanan dan minuman lalu masuk ke mobil bersama wanita pemilik warung.
Air ketuban Qiara pecah begitu sampai di rumah sakit dan tanpa disadari ia telah sampai ke bukaan sembilan. Sementara perawat sedang mempersiapkan Qiara, Devan memakai baju khusus agar bisa masuk menemani istrinya.
“Well, well, siapa sangka seorang Dokter Devan berada di rumah sakit dusun seperti ini.”
Devan langsung berbalik menatap Dokter Nadine Grayson berdiri di belakangnya.
“Tenang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Terlebih dengan tiga anakmu yang sedang jumpalitan di ruang tunggu.”
Devan bergeming, ia melihat Nadine telah memakai baju khusus.
“Dokter yang akan membantu istriku?” Tanyanya waspada.
“Yep! Ironis, ya. Harus membantu orang yang membuatku terbuang sampai ke pinggiran seperti ini.”
Devan menatap tajam, kemarahan menggelegak.
“Saya nggak perlu bantuan kamu.” Devan berkata dengan geram.
“Well, negara ini punya peraturan aneh yang melarang dokter membantu anggota keluarganya. So, yeah, you guys stuck with me.”
“Nadine …”
Seorang dokter berpakaian khusus mendekati Nadine.
“Stop it! Kamu hampir membuat Dokter Devan meledak. Maafkan istri saya, dia memang sudah merencanakan ini begitu melihat kalian masuk UGD. Hanya saya tak menyangka dia benar-benar melaksanakannya. Saya Dokter Calvin yang akan menjadi dokter anastesi.”
“I’m sorry Dokter Devan. I just can’t help it. Aku berusaha menyamai kelakuan istrimu yang mirip kepala gangster hingga membuatku berubah pikiran.”
Calvin mencium pucuk kepala istrinya. Kini Devan bisa melihat bahwa ternyata Nadine juga hamil.
“Jadi kamu menyesal dibuang ke sini, Darling?” Calvin bertanya dengan sorot mata penuh cinta.
“Never …” Nadine tersipu. Devan tersenyum kecut, dadanya masih panas sisa emosi menghadapi keisengan Nadine.
“Aku akan ada di ruang operasi menemani istriku,” jawabnya datar. Ia masih belum terlalu percaya dengan Nadine dan Calvin. Mengingat betapa liciknya Nadine dulu.
“It would be an honour, Sir..” jawab Calvin penuh hormat pada dokter senior yang termashur itu.
“I’m really sorry Doctor Devan. Saya akan bekerja sebaiknya untuk Nyonya Qiara dan bayi,” ucap Nadine yang kini merasa tidak enak.
Devan hanya mengangguk dan tersenyum sekilas lalu mendului ke ruang operasi. Ia berencana untuk mengabari Qiara tentang Nadine supaya istrinya tidak shock.
Di ruang operasi Qiara sudah dipersiapkan untuk operasi caesar. Devan mengelus kepala wanita yang merupakan pelabuhan cintanya.
“Sayang, sebelum mulai jangan kaget, kamu akan ditangani oleh Nadine Grayson dan suaminya Calvin Kohl. Mereka sudah bicara padaku.
“What? Ya Allah, kenapa sih kelahiranku selalu begini? Kala, lahir di atas karpet ditolong dokter lumpuh. Abby lahir setelah bertempur. Hayyan sempat gagal napas. Sekarang, ditolong sama ….” Qiara terus ngecaprak sampai melihat Nadine dan suaminya masuk.
“Nyonya Qiara, apakabar? Masih ingat saya?” Nadine bertanya dengan nada dingin.
“Nadine, sudahlah,” Calvin menyentuh lembut pundak istrinya.
“Maafkan istri saya. Dia memang bersalah pada kalian berdua, tapi Nadine begitu terinspirasi dengan Anda, Nyonya Qiara.”
“Nyonya Qiara, Doctor Devan, saya minta maaf pernah menyulitkan kalian berdua. Tapi Anda betul-betul menginspirasi saya. Pintar, gagah berani, lugas.“
Qiara dan Devan melihat begitu besar perubahan yang terjadi pada Nadine. Jika dulunya sombong dan dingin, kini ia menjadi seseorang yang humble dan hangat.
Qiara mengulurkan tangan ke Nadine. “Damai?”
Nadine menjabat dengan mata berkilat jenaka, “Damai.”
Devan heran kenapa Qiara bertingkah seperti itu.Menyadari tatapan heran suaminya, Qiara berbisik, “Sekalian gila aja.”
Devan menahan tawa. Qiara memang tidak pernah berhenti memberikan kejutan, hingga ia jatuh cinta berulang kali pada ibu yang akan melahirkan anak darinya.
“Bisa kita mulai?” Tanya Devan kelada Nadine dan Calvin.
“Siap!” Calvin langsung bergerak untuk memberikan epidural.
Kurang lebih tiga puluh menit, tangis bayi memenuhi ruangan operasi.
“Alhamdulillah,” ucap Qiara dan Devan bersamaan.
“Baby girl, welcome …” ucap dokter anak yang menerima bayi merah yang terus menangis kencang.
Setelah dibungkus selimut, bayi perempuan itu diberikan pada Qiara. Berkali-kali melahirkan tetap saja membuat Qiara menitikkan air mata.
“Wajahnya kayak kamu, cantik,” ujar Devan lirih penuh haru.
“What’s her name?” Tanya Calvin.
“Zahratul Jannah Donavy.”
***
__ADS_1