Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Unboxing Aira


__ADS_3

Bocil adik-adik Kak Jill, minggir dulu yaaa…


***


Aira telah selesai dibantu melepas pakaian pengantin. Setelah mandi, asisten MUA juga membersihkan make up agar tidak ada yang bersisa. Kini wajahnya nampak alami dan segar.


“Selamat seru-seruan,” goda Mbak Mirna, asisten MUA sambil menutup pintu honeymoon suite.


Aira tersipu malu. Wanita cantik itu kini memakai lingerie berwarna biru tua yang kontras dengan warna kulitnya.


Liam sedang ada acara pelepasan dengan adik-adiknya. Tentu saja Liam dan Aira tidak bisa menolak karena acara ini diinisiasi oleh Kala.


Aira bingung harus apa. Apakah ia harus duduk dengan gaya sexy di tepi ranjang? Atau berdiri di depan pintu? Atau duduk selonjor di sofa? Ia pun belajar jalan dengan gaya menggoda seperti yang banyak ia lihat di film barat.


Semua sudah dicoba namun belum ada yang sreg.


Hapenya berbunyi, sebuah pesan gambar masuk. Liam dengan muka masam sedang dikerjai oleh adik-adiknya.


Caption dari Kala:


Udah nunggu puluhan tahun, gakpapa dong nunggu 30 menit lagi, Dek.


Aira tertawa geli melihat wajah suaminya yang mati kutu di tangan Kala, Azka, Barran, dan Hayyan.


Karena tiga puluh menit adalah waktu yang sangat lama bagi pengantin baru, akhirnya Aira mengambil air wudhu lalu menjalankan sholat sunnah. Sebelum acara resepsi mereka sekeluarga besar sudah menjalankan sholat wajib.


Entah sudah rakaat ke berapa ketika Aira mendengar pintu dibuka. Jantungnya berdegup kencang. Mengembalikan kehusyukan hanya pada Ilahi, Aira menyelesaikan sholatnya lalu mengucapkan salam.


Setelah selesai ia berdiri lalu membalik badan. Mendapati Liam memandangnya dengan bahagia dan mesra.


Liam masih memakai jas lengkap, hanya kini ia memakai mahkota dan slempang hasil karya Kala dan Triplets dengan tulisan: Siap Nyoblos.


Mereka sengaja mencari kata-kata prank berbahasa Indonesia. Awalnya mereka juga ingin memasang spanduk yang sama di pintu honeymoon suite dan tentu saja ditolak mentah-mentah oleh pihak hotel.


Melihat ekspresi Aira yang menahan geli, Liam baru sadar dengan atribut-atribut yang masih tersemat.


Dalam hati merutuki adik-adiknya karena awalnya ia bertekad membuat Aira terpana dengan gayanya yang cool. Gaya seorang Love Guru.


“Sorry, adik-adik aku terutama kakak kamu emang harus dijitakin satu-satu.”


Aira melepas mukena lalu melipatnya, membuat Liam semakin lupa untuk menjaga image-nya.


Matanya membola, mulutnya menganga, malah mungkin air liurnya menetes menatap Aira yang hanya memakai lingerie seksi.


Ketika Aira berbalik ekspresi Liam benar-benar sudah kacau balau. Walau malu tapi Aira berjalan pelan mendekati suaminya.


Tidak ada strategi, ia pasrahkan semuanya pada naluri untuk mempersembahkan dirinya kepada suami tercinta.


Liam berdiri mematung. Tak bergerak, mungkin bernapas pun ia lupa saat melihat rambut Aira yang tergerai panjang bergelombang, jatuh tepat di tempat bermulanya dua bukit kenikmatan.


Leher putih jenjang dengan tahi lalat menempel seksi di dekat telinga akan menjadi sasaran tanda kepemilikan dari Sang Suami.


Ia bisa melihat perut rata Aira yang menerawang di balik kain tipis nan melambai.


Aira tersenyum lalu mengecup bibir suaminya.


“Bangun, Sayang …”


“Udah …”


“Bukan itu kamu, sekarang kamu mandi dulu, aku udah tadi. Sini aku bantu buka jas dan kemejanya.”


“Harus mandi?”


“Harus, kamu bau parfumnya Mas Kala. Disemprotin ya tadi?”


Melihat suaminya tak berekspresi dan menatap nanar ke bukit kembarnya, Aira membuka jas. Sengaja ia berdiri dari arah depan agar bagian dadanya sedikit menyentuh tubuh Liam.


“Tahan-tahan,” bisiknya pelan.


“Aarrrgh aku nggak kuat,” Liam bergerak untuk menerkam, namun Aira lebih gesit.


“Eits, mandi dulu.”


“Berdua.” Suara Liam terdengar serak.


“Nanti,” jawab Aira sambil terus menghindari Liam yang makin gemas dan berusaha menangkap istrinya. Dua orang itu lari-larian di kamar pengantin mereka.


Aira membuka pintu kamar mandi.


“Silakan, Sayangku. Mandi yang bersih setelah itu sholat sunnah. Then I’m all yours.”


Liam sekali lagi berusaha menangkap Aira yang ternyata punya kegesitan bagai kijang. Akhirnya ia memilih patuh dan masuk kamar mandi.


Pria yang sudah tak sabar itu melakukan mandi tercepat lalu mengambil air wudhu. Kemudian memakai baju yang sudah disiapkan Aira.


“Sekarang sholat?”


Aira yang sedang memasukkan jas ke lemari mengangguk. Liam menahan napas ketika Aira berjinjit dan mengangkat kedua lengan untuk menggantung jas ke dalam lemari. Sepasang paha mulus dan betis ramping memotivasi Liam untuk tidak lagi membuang waktu.


Selesai sholat Liam melepas baju sholat dan berjalan ke arah Aira yang sedang memegang segelas susu hangat.


Liam tahu apa yang harus dilakukan. Diminumnya seteguk, lalu diberikan kepada Aira yang juga minum seteguk di tempat yang sama.


Aira mengembalikan gelas ke pantry lalu kembali. Ia berjalan beberapa langkah menuju Liam lalu berhenti. Wanita itu mengigit bibirnya, antara malu tapi juga menggoda.


Liam mendekat. Ditatapnya lekat Aira. Ia kemudian menyelipkan tangan ke belakang leher Aira lalu mendaratkan bibirnya ke bibir yang nampak manis dan kenyal.


Keduanya larut dalam ciuman. Mulanya pelan kemudian memanas. Aira melepas kaos Liam, menampakkan dada berotot dan perut bak roti sobek.


Napasnya tersentak. Liam tersenyum. Tidak rugi ia selalu melatih tubuhnya di gym untuk mendapatkan tatapan kagum dari Aira.


Liam kemudian melepas jubah tipis yang menggantung di pundak istrinya. Lalu menyium pipi dan turun hingga ke leher.


Aira memejamkan mata, tangannya memeluk leher Liam yang kokoh. Melihat istrinya mulai terlena, naluri lelaki Liam semakin liar.


Dengan sekali angkat ia membopong Aira ke ranjang dan merebahkannya.


“Unboxing time,” bisiknya lembut. Wajah Aira bersemu merah. Perlahan tapi pasti, Liam menurunkan tali lingerie dan melepas kain tipis yang menutupi tubuh indah istrinya.


Liam berhenti untuk menikmati kulit mulus Aira, tubuh yang sangat proporsional. Matanya berkabut melihat keseluruhan tubuh polos Aira untuk pertama kali.

__ADS_1


“Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana. Aamiin. Aku mulai, ya, Ai.”


Aira mengangguk sambil tersenyum. Cantik sekali di mata Liam.


Sepasang manusia yang menahan hasrat sejak lama dalam kepatuhan kini menikmati buah cinta yang begitu indah dan nikmat.


Liam siap membahagiakan Aira sementara istrinya ikhlas melayani suaminya.


Tidak ada setitik pun dari tubuh Aira yang luput dari sentuhan Liam. Membuat Aira melepas suara kenikmatan berulang kali.


Pun dengan Liam yang berhasil menahan hasrat dari kaum hawa, setiap sentuhan yang diberikan Aira semakin membangkitkan hasrat sedikit demi sedikit.


Liam melakukan dengan lembut saat menerobos pertahanan Aira hingga istrinya hanya merintih sekejap dan kembali tenggelam dalam kenikmatan demi kenikmatan.


Mereka saling bergerak selaras membiarkan tubuh mereka bersatu. Saat Liam tidak dapat menahan, keduanya mendesah bersamaan dan saling bertatapan dengan mesra.


“Terima kasih kamu sudah menjaga dirimu untuk aku, Aira. Seperti aku juga hanya menghadiahkan saat pertamaku untukmu.”


Liam menyingkirkan rambut Aira yang menempel di wajahnya.


“Alhamdulillah … Makasi Kak Liam,” balas Aira sambil terengah-engah. Ia heran bagaimana Liam bisa sangat kuat menjaga staminanya.


“Sakit ya, Ai?” Liam melihat darah yang mengalir di kedua paha istrinya lalu mengambil tisu dan membersihkannya.


“Sakit enak, Kak,” jawab Aira malu-malu.


“Gemesin banget, sih istri Kakak nih. Sebentar aku ambilin minum.”


Liam dengan tubuh polos yang terbentuk sempurna melangkah ke pantri untuk mengambil segelas air.


Aira harus meneguk saliva beberapa kali melihat atraksi yang memang sengaja dan sudah direncanakan oleh Liam.


Satu tangan menutupi wajah Aira. Sesekali menggeleng sambil tersenyum nakal.


“Kenapa, nggak kuat ya liat badan sexy aku?” Liam sudah berdiri di samping ranjang menyerahkan gelas. Aira menyambar dan langsung meminumnya. Ia harus meredakan hasrat yang tiba-tiba muncul.


Liam tersenyum lalu mengacak pucuk kepala Aira.


“Pelan-pelan aja, ini semua milik kamu, kok. Milik kamu seorang.”


“Awas aja kalau juga milik orang lain, pisang tandukmu itu bakal lepas dari pohonnya,” ucap Aira dengan tenang hingga membuat Liam bergidig.


“We don’t want that, right?” Liam mengambil gelas lalu meletakkannya di nakas.


Dalam sekejap keduanya sudah berpelukan di dalam selimut, saling berhadapan.


Tangan Liam mengelus-elus pinggul Aira yang sedang memuaskan netranya memandang wajah tampan sepuas hati.


“Dari kamu umur dua tahun, Ai, aku udah sayang banget sama kamu.” Liam mengecup hidung bangir istrinya.


“Kamu percaya nggak, boneka-boneka grizzly dari kamu masih kusimpan. Bahkan jadi teman tidurku.”


“Sekarang udah nggak perlu, ada aku jadi teman tidurmu setiap malam. Kalau kita tidur.”


Aira tersenyum malu tapi mau.


“Kalau make love itu seenak tadi, jadi nyesel ya Ai nggak dari kemaren-kemaren kita nikah.” Kini tangan Liam beralih memainkan puncak bukit kembar Aira membuat tubuh istrinya meremang.


Aira berusaha bertahan. “Banyak yang terjadi, semua dari Allah pasti yang terbaik.”


“Aaah, that’s it, berani berbuat, berani bertanggung jawab,” seru Aira, tahu-tahu sudah duduk di atas Liam dan mulai menciumi tubuh menakjubkan di bawahnya.


Permainan cinta mereka pun kembali menggelora. Kini mereka sudah semakin mengenal. Jika saat pertama masih ada rasa malu-malu, yang kedua adalah mau-mau.


Liam senang karena Aira tidak hanya pasrah namun menuntut sekaligus memberi di saat yang tepat. Ia pun lebih berani mencobai gaya-gaya lain untuk mengeksplorasi kenikmatan.


Pria itu semakin tertantang saat Aira memanggil bahkan beberapa kali meneriakkan namanya.


Untuk kedua kalinya mereka berlayar hingga ke tepian. Keduanya terengah-engah.


“I love you so much, Aira.” Liam merengkuh tubuh istrinya hingga menempel ke tubuhnya yang basah oleh keringat.


Gelenyar kenikmatan masih tersisa. Mereka berpelukan dan memberi kehangatan.


“I love you, too, Kak.”


Aira membenamkan wajahnya ke dada Liam. Sudah lama ia ingin melakukan hal ini dan ternyata sensasinya sungguh luar biasa.


Liam mengelus kepala istrinya hingga tak sadar keduanya tertidur kelelahan.


***


Bagi sepasang pengantin, makan pagi bersama keluarga adalah saat yang menegangkan. Puluhan mata akan menatap mereka penuh arti.


Pasti ada komentar tentang cara jalan pengantin wanita yang menahan perih di area inti.


Apalagi jika mereka terlambat hampir satu jam. Seperti yang terjadi pada Liam dan Aira karena keduanya sama-sama menginginkan lagi dan lagi.


Ditambah adik-adik seperti Kala, Azka, Barran, dan Hayyan, yang pagi itu bersorak tidak karuan begitu Liam dan Aira akhirnya masuk ke ruang makan privat.


Para orang tua hanya senyum-senyum melihat tingkah Liam dan Aira yang hanya bisa pasrah di bawah kendali saudara-saudara mereka.


Abby dan Zee menarik Aira untuk menyelamatkan dari kebuasan Kala dan Triplets. Liam hanya bisa pasrah ketika digiring ke meja terpisah untuk diinterogasi.


“Aku nggak mau cerita malam pertamaku. Tapi yang jelas, pertama dan terpenting, halal itu pasti lebih nikmat, jadi kalian kaum laki-laki, awas kalau icip-icip sebelum waktunya. Rugi!”


“Siap, aman kalau itu, in syaa Allah,” jawab keempatnya serempak.


“Kedua, jangan egois. Jangan cuma mau enak tapi nggak mau kasih enak. Istri akan memberi seperti apa yang kita kasih.”


Kala dan triplets mengangguk-angguk, menyimak dengan seksama perkataan Liam yang belum sampai dua puluh empat jam jadi suami sudah bisa memberi petuah.


Thoriq dan Dicky yang mencuri dengar ikut tersenyum-senyum. Bagi Dicky mungkin ia bisa belajar dari yang masih gres. Sementara Thoriq, awas saja kalau Liam sampai macam-macam dengan Aira, begitu pikirnya.


“Ketiga, ini yang terakhir, abis ini aku mau sarapan. Be grateful. Bersyukur untuk setiap momen dengan pasangan. Jangan biarkan apapun merusak, dengan alasan apapun. Clear? Mana makanannya aku lapar.”


“Sudah habis,” jawab Hayyan singkat.


“What?” Liam menatap miris ke meja saji yang tinggal menyisakan dua botol air mineral.


Tak berapa lama Aira datang membawakan sepiring berisi beberapa buah potong dan satu buah croissants.

__ADS_1


“Sarapannya tinggal sisa ini, Kakak makan punya aku aja.”


“Kamu aja, Ai, Kakak nggak terlalu lapar, masih bisa pesan, kan?”


“Dapur tutup sampai makan siang, nggak ada layan antar,” jawab Azka santai.


“Ooh, ya udah, Aira makan aja. Aku tahan kok sampai makan siang.”


“Iih kakak aja yang makan, tadi di lift perutnya udah bunyi-bunyi.” Aira menyodorkan piring pada Liam.


“Aku suapin ya,” Liam memotong croissant menjadi bagian kecil lalu menyuapkan ke Aira.


Kala memasang muka jijik mau pingsan sementara triplets menikmati tayangan drama gratis menunggu siapa yang akhirnya menghabiskan croissant dan buah.


“Ck, Kalandra Akira Putra Thoriq!” Seru Qiara dengan muka gemas.


“Alright, alright. Pelayan tolong keluarkan makanan untuk kakak dan adikku yang kelaparan ini.”


Para pelayan sedari tadi senyum-senyum karena tingkah empat orang dewasa mengerjai pengantin baru gegas mengeluarkan aneka rupa hidangan sarapan.


Mata Liam langsung berbinar karena tenaganya memang habis untuk bertarung lima ronde dengan Aira.


“Awas kalau saatnya kamu nikah, Kalandra,” ancam Liam yang yakin ini semua adalah ide dari Kala.


“Why it’s always me being the culprit. Aku selalu dikambingputihkan.”


“Kambing hitam, Kala. Enam tahun kamu di Indonesia masak lupa,” sela Thoriq bagai bicara pada anak umur dua belas tahun.


“Hitam, putih, aku selalu lupa dengan idiom Bahasa Indonesia. Why me?”


“Karena emang selalu kamu yang paling jahil,” jawab Qiara yang sudah berdiri di samping anaknya lalu menjewer telinga dokter anak itu.


Liam terkekeh puas, sementara Aira kasihan melihat kakaknya kena jewer Bunanya.


Yang dijewer malah tertawa lebar membuat wajah konyol ke arah Liam.


“I still can believe that you are a doctor.”


Kala memeletkan lidahnya. Semua tertawa menikmati interaksi hangat kakak beradik itu.


“Rafathar, sini,” ajak Hayyan melihat adik Aira terlihat ingin bergabung di meja laki-laki. Sekejap remaja itu berjalan ke arah meja laki-laki.


“Manners, Rafathar masih di bawah umur,” Liam mengingatkan adik-adiknya.


“Of course, kita kan kakak panutan,” sahut Barran santai.


Rafathar yang ragu-ragu memilih menempel pada Aira.


“Mbak …”


“Hai, Dek, duduk samping Mas Hayyan sana.” Rafathar mengangguk.


Kehadiran Rafathar disambut baik oleh seluruh adik-adik Liam. Malika sudah bersahabat dengan Zee, Abby sudah memiliki WAG dengan Latifah dan Fatimah.


Fatimah kini menjadi pilot di penerbangan swasta, sementara Latifah mengikuti jejak ibunya sebagai dokter gigi. Tahun depan, Latifah akan menikah dengan pria pilihannya yang juga dokter fifi.


Qiara dan keluarganya berjanji akan datang di pernikahan Latifah.


Siang hari, kedua mempelai siap bulan madu keliling Eropa. Sekali lagi Kala menyiapkan kejutan berupa limosine hias dengan tulisan ‘Just Married’ di setiap sisi. Belum lagi kaleng-kaleng yang disusun sedemikian rupa hingga kelontangan saat mobil bergerak.


Liam tersenyum licik, ia sudah bertekad bulat membalas Kala jika suatu saat adik tengilnya itu menikah.


Semua saling berpamitan, Qiara, Abby, Zee, dan Triplets akan lanjut liburan ke Labuan Bajo dan Raja Ampat. Sementara Kala kembali ke Inggris karena tidak bisa terlalu lama meninggalkan pasien-pasien ciliknya.


Dicky, Hanna, Malika, Rafathar, serta Latifah sudah kembali ke Semarang. Fatimah yang base penerbangannya di Jakarta sudah berangkat ke bandara untuk terbang bersama maskapainya.


Thoriq berencana pergi umroh dua hari lagi. Ia akan kembali ke rumahnya untuk menyiapkan segala sesuatu.


“Mas, Qia dan anak-anak pergi dulu, ya…”


“Okay, have fun di sana ya, Qia. Fii amanillaah.”


“Assalamualaykum, Besan …”


“Waalaykumussalam, Qia …” Thoriq tersenyum lebar mendengar sebutan Qiara. Dirinya pernah jadi suami, mantan suami, dan kini ayah bagi anak mereka, sahabat, sekaligus besan.


Apapun Thoriq tetap syukuri karena masih bisa berhubungan dengan Qiara.


Thoriq memandang hingga minibus yang mengantar keluarga besar itu keluar dari pekarangan hotelnya.


Ia memberi beberapa perintah pada pegawainya sebelum berjalan menuju mobil yang diparkir di samping Lobby.


Thoriq tertegun melihat limo yang membawa Liam dan Aira masuk kembali ke halaman hotel.


Dengan kening berkerut ia menunggu apakah ada sesuatu yang tertinggal dan harus diambil. Tepat setelah limo berhenti, Aira turun dan menghambur ke pelukan Thoriq.


“Aya, Aira nggak mau ninggalin Aya sendiri. Kata Liam kami bisa berangkat di hari Aya juga pergi umroh.”


“Sayang, jangan gitu, dong. Aya nggak apa-apa kok.”


“Aya, kami nggak apa kok nemenin Aya,” ujar Liam. Sebagai suami ia sangat menghargai kedekatan Aira dengan ayahnya.


“No! You guys go. Lagi pula kalian mau nyicil honeymoon di rumah gitu? Terus Aya jadi nyamuk?”


Thoriq menyesal setengah mati dulu menunda bulan madu dengan Qiara karena setelah itu tidak pernah bahkan tidak akan pernah terlaksana.


Bulan madu dengan Hanna malah menjadikan sifat posesif istri keduanya saat itu menjadi-jadi. Ia memang dikaruniai Aira, namun Thoriq kehilangan Qiara, cinta sejatinya, dan Kala.


Ia tidak ingin Liam dan Aira melewatkan kesempatan untuk menikmati bulan madu.


“Pergilah, Liam dan Aira. Aya akan mendoakan kebahagiaan kalian. Pakai saat bulan madu untuk lebih saling mengenal”


Aira memeluk ayahnya sekali lagi. Ini adalah pertama kalinya ia pergi dalam jangka waktu yang lama meninggalkan Thoriq.


“Liam, titip anak Aya.”


“In syaa Allah, Aya.”


“Aku akan telepon di pesawat,” seru Aira lagi.


“Siap, happy honeymoon …”

__ADS_1


Diiringi suara kaleng yang berkelontang, limo itu kembali membawa Aira dan Liam ke lapangan udara pribadi tempat pesawat pribadi keluarga Donavy sudah menanti.


***


__ADS_2