Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Janji Rahasia


__ADS_3

Liam memandang gadis yang sudah ia sukai semenjak pertama melihatnya. Kamelia Aira Putri Thoriq. Waktu itu Aira baru berumur dua tahun dan Liam tujuh tahun. Aira takut karena belum pernah melihat anak bule.


Awalnya ia mendedikasikan dirinya untuk mengganggu Aira, menggodanya sampai menangis atau bersembunyi di balik punggung ayahnya.


Semakin besar, ia menantikan setiap Kala video call dengan ayahnya karena pasti ada Aira. Masih dengan mode menakut-nakuti tapi sudah ada rasa suka menyelip di hatinya.


Ketika Aira diserang, Devan sampai membekukan rekeningnya agar Liam tidak membeli tiket dan mendatangi orang-orang yang menyakiti Aira.


Kini dengan hapenya diam-diam Liam mengambil banyak foto Aira yang sedang asik bermain dengan Zee dan Malika. Dirinya tahu hal ini tidak diperkenankan, namun ia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu Aira. Ekspresi yang diajarkan Kala adalah sebagai tombo kangen. Walau Kala pasti akan menghajarnya jika tahu apa yang dilakukan Liam untuk mendapatkan tombo kangen,


Malam itu Devan dan Qiara mengadakan farewell karena besok mereka semua akan kembali ke Inggris termasuk Kala yang sudah menyelesaikan bangku SMA.


Aira dan Thoriq akan pindah dari Solo disebabkan Aira diterima di Jurusan Arsitek sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Bandung.


Hanna, Dicky, dan keponakan-keponakannya diundang. Tentu saja bersama Malika dan Rafathar.


Malika sering menangis menanyakan Lastri dan anak-anaknya. Terkadang duduk di depan jendela menunggu mereka. Tapi sejalan dengan bertambahnya usia ditambah kesabaran Dicky serta Hanna, Malika tidak pernah tantrum saat merindukan Lastri.


Hanna berusaha mencari Lastri karena masih menginginkan keluarga tangguh itu tinggal di Rumah Sa’aadah yang sudah resmi beroperasi. Hanna ingin Mikala kembali ke bangku sekolah.


Aira mendatangi Liam sambil membawa sop buah buatannya.


“Makasi, Ai,” jantung Love Guru itu berdegup.


Devan dan Thoriq memerhatikan keduanya dari jauh.


“Bakal terus nggak mereka?” Tanya Devan pada Thoriq.


“Kita doakan yang terbaik. Aku nggak masalah dan mendukung selama mereka berdua seperti ini. Tapi jalan mereka masih panjang.”


“Yup…”


Mata Devan beralih ke wanita dengan gamis berwarna peach dengan kerudung senada masuk ke ruang tengan membawa Nasi Kebuli.


“Aku ke nyonya dulu, ya.” Devan gegas menghampiri Qiara dan memeluk dari belakang dengan mesra. Qiara pura-pura marah padahal mencandui setiap sentuhan yang diberikan Devan.


“Sssh,” sungut Thoriq yang berusaha hanya menatap Qiara dari sudut matanya. Tak tahan melihat kemesraan mantan istrinya dengan Devan, akhirnya ia memilih duduk bersama Si Triplets yang sedang asik bertengkar.


Kala sedang bercakap dengan Abby yang kegirangan karena kakak favoritnya akan kembali ke London. Walaupun berat berpisah dengan anak laki-lakinya, tapi ia menghargai keinginan Kala untuk menjadi dokter.


Thoriq bersyukur dirinya diberi kesempatan memiliki anak dengan Qiara. Dengan demikian ia masih bisa terus berhubungan dengan wanita yang masih belum tergantikan.


“Mas,” sapa Hanna sambil menggendong Rafathar.


“Ya, Hanna,” balas Thoriq sambil menoel pipi gembil Rafathar.


“Ingetin Aira untuk selalu sholat ya. Di tempat kuliah mungkin sulit cari musala.”


“In syaa Allah. Kamu dan Dicky bisa mengunjungi. Saya ada dua rumah di sana walau tidak berdekatan. Kalau kalian datang, bisa menginap di sana. Anak-anakmu pasti suka karena ada kolam untuk anak kecil dan ayunan.”


“Makasi, Mas.” Hanna menghela napas melihat Thoriq masih sesekali mencuri pandang ke arah Qiara. Rasa bersalah kembali mencubit hatinya. Dari hubungan mereka bertiga, hanya Thoriq yang belum menemukan pasangan.


“Masih?” Tanya Hanna sambil berjalan menjauh ke arah suaminya.


“Selamanya …” jawab Thoriq lirih kembali mengalihkan perhatiannya ke pertengkaran tidak penting yang sedang terjadi antara Azka, Barran, dan Hayyan.


Malam itu semua pertikaian dan kesedihan yang pernah terjadi terkikis sudah. Qiara dan Hanna asik membicarakan anak-anak mereka. Tak jarang Hanna menggendong Baby Zee disusul Malika yang cemburu dan minta digendong juga.


Thoriq, Devan, dan Dicky asik mengobrol seru. Dicky bagaikan ketiban durian runtuh bertemu dengan dokter hebat seperti Devan. Pria itu tanpa tedeng aling-aling langsung minta berfoto beberapa kali untuk dipamerkan ke rekan-rekan sejawatnya.


Jika ada yang berwajah sendu malam itu adalah Liam. Sebentar lagi Aira-nya akan masuk ke dunia kuliah. Kampus adalah tempat yang sangat berbeda dengan pesantren. Aira bisa saja bertemu dengan seseorang yang memikat hatinya.


Saat dirinya masuk kuliah, Aira masih berumur awal belasan tahun. Jadi gadis itu masih belum menyadari seperti apa dunia kuliah itu.


Wajah Liam yang tampan, hampir mirip Harry Styles minus rambut acak-acakan membuatnya jadi incaran gadis-gadis. Tak satu pun ditanggapi. Di samping Bunanya berpesan agar menghormati wanita, ada hati Aira yang ingin ia jaga.


“Ai, aku mau kasih kamu sesuatu dan sudah minta ijin sama Uncle Thoriq dan Kala. Walau kakakmu itu sukses membuatku bangkrut.”


Aira tertawa, wajahnya bersemu merah.


“Aku belikan kalung dengan liontin hati. Pakailah hingga kita menikah, aku akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tapi jika ternyata hatimu memilih yang lain, lepaskanlah, beri tahu, jadi aku tidak lagi menunggumu.”


Aira menerima kalung indah bertahtakan berlian. Matanya berbinar.


“Aku juga punya sesuatu untuk kamu.” Aira memberikan topi berwarna abu-abu hijau dengan kaligrafi huruf A di depannya.


“Jadikan ini pengingat bahwa ada seorang gadis yang naksir kamu dari kecil dan tak sabar untuk bersanding denganmu. Semoga Allah ridho.”


“Aamiin,” ucap Liam. Laki-laki itu memakai topi dan mematut dirinya menghadap Aira. Gadis itu menyesal karena ketampanan Liam langsung naik seratus poin.


“Balikin!” Titah Aira


“Nggak.”


“Liam, balikin.”


“Nope.”


“Liam Patrick Donavy …”


“Kamelia Aira Putri Thoriq, aku akan menunggumu. Jangan lepaskan kalung itu untuk siapa pun, please …”


“In syaa Allah. Makasi Liam.”

__ADS_1


Tak berapa lama mereka mendengar suara Devan yang mengajak semua berkumpul.


“Malam ini kita merayakan kebahagiaan. Takdir telah membawa kita bertemu dengan berbagai cerita, tapi itu adalah masa lalu. Ke depan, semoga kita selalu bisa menjadi keluarga besar yang saling menjaga.”


“Aamiin,” jawab semua serempak. Malika dan Zee bertepuk tangan, sementara Rafathar nyaman di gendongan Hanna sambil ngenen.


“Karena saya melihat Kala sudah hampir pingsan menahan lapar, silakan serbu hidangan yang sudah kami siapkan.”


“Yes!” Jawab Kala diiringin Triplets yang lebih dulu sampai di meja makan.


Thoriq memilih untuk makan belakangan. Ia masih mencuri pandang ke arah Qiara yang sedang mengambilkan makanan untuk Zee.


“Kalau bukan kamu, sudah kuhantam orang yang mencuri pandang ke istriku,” bisik Devan tiba-tiba di telinga Thoriq dengan gaya sok mafia.


“Sial!” Umpat Thoriq dalam hati lalu membalik badan menatap ke halaman.


“Thoriq, aku mau minta sesuatu sama kamu.”


“Ask away,” sahut Thoriq.


“Kalau takdir lebih dulu memisahkan aku dari Qiara, hanya kamu yang aku percaya untuk menjaganya.”


“Ngomong apa, sih, udah jangan mikir yang sedih-sedih. Dasar perusak pesta,” seloroh Thoriq sambil memukul pelan pundak Devan.


“Aku serius. Jaga Qia kalau aku udah nggak ada, janji?”


“Apa sih?”


“Please Thoriq …”


“Ya ya … aku akan jaga Qiara. Tapi aku berharap itu tidak terjadi dan kamu tidak membuat Qiara sedih. Awas kamu, Devan.”


Mereka berdua tergelak sambil menikmati suasana indah malam itu. Bagai dua orang sahabat.


***


Hanna duduk di bangku penumpang di antara car seat untuk Rafathar dan Malika. Mereka baru saja mengantar Thoriq dan Aira naik pesawat ke Bandung dari Bandara di Solo.


Ada yang hilang di hati Hanna. Rasanya singkat sekali waktu bersama Aira kini gadisnya sudah pergi kuliah ke kota lain. Ia bersyukur mantan suaminya mau ikut menemani. Thoriq membuka bisnis perhotelan di sana. Bisnis Thoriq-lah yang menginspirasi Aira untuk mempelajari ilmu arsitektur.


“Ai telpon Mama kalau sudah landing. Dijaga sholat-nya.”


“In syaa Allah, Ma.”


“Mba Ayla, Kika anen,” ucap Malika sambil mengangkat kedua tangannya minta digendong. Aira menggendong dan menciumi adiknya bertubi-tubi. Malika tergelak-gelak.


“Ai, Ai udah, nanti Malika suka nangis sambil tidur kalau ketawa kebanyakan.” Tegur Hanna sambil tersenyum melihat dua buah hatinya saling menyayangi.


Aira nyengir lalu berkata ke Dicky, “Papa Dicky, salam buat Latifah dan Fatimah, ya. Semangat!”


Sambil berbisik Aira membalas, “ Moga-moga Aya dapat mojang Bandung.”


“Ck Aira …” Sahut Thoriq yang ternyata berjalan mendekat dan mendengar komentar putrinya.


Aira tertawa sambil berdendang lagu yang sedang viral, “Begitu syulit lupakan hmm hmm.”


Thoriq memandang gemas anaknya sementara Dicky dan Hanna tak bisa menahan tawa melihat interaksi bapak anak itu.


Akhirnya mereka berpamitan. Hanna melihat punggung Aira dengan sendu. Dicky merangkulnya.


“Rasanya belum puas aku sama Aira, Mas, tiba-tiba udah harus jauhan lagi.”


Dicky mengecup pucuk kepala Hanna yang masih menunggu sampai Aira dan Thoriq tidak terlihat.


Di dalam mobil, kenangan-kenangan bersama Aira berkelebat. Lamunan Hanna buyar ketika Malika menunjuk ke luar jendela sambil berkata, “Mas iizza.”


Hanna langsung melongok ke arah yang ditunjuk Malika. Ia melihat Maira dan Mirza sedang berlarian di selasar ruko untuk mengamen.


“Ya Allah, Mas, benar itu mereka. Stop, Mas.”


Dicky langsung memarkir mobilnya. Ia menyeberang jalan lalu mendekati Maira dan Mirza.


Dua anak itu terbelalak dan siap kabur.


“Jangan, jangan kabur. Oom ingin bicara sama kalian.”


“Kata Ibu nggak boleh. Nanti kalau Malika liat aku sama Mirza, nggak mau lagi sama Mama,” sahut Maira sambil menggeleng, ia lalu menggandeng adiknya dan berjalan menjauhi Dicky.


“Maira, Mirza, kalian sudah makan belum?”


Keduanya berhenti sebentar. Maira menarik Mirza agar mengikutinya.


“Mbak, aku laper, dari kemaren belum makan.”


“Ya Allah,” batin Dicky terenyuh.


Ia melihat kedai Nasi Liwet.


“Makan dulu, yuk. Oom sama Mama juga laper. Sini masuk.”


Dicky mencari tempat lalu menyuruh dua bocil itu duduk sementara dirinya menjemput Hanna, Malika, dan Rafathar.


Malika, Maira, dan Mirza saling berpelukan karena mereka sudah lama tak bertemu. Malika melonjak-lonjak kegirangan. Maira dan Mirza khawatir, takut nanti Malika tidak mau pisah dari mereka.

__ADS_1


Melihat Hanna, putra dan putri Lastri langsung memberi salam takzim. Hanna dan Dicky mempersilakan mereka duduk dan memesan.


Begitu makanan datang, keduanya makan dengan lahap. Mirza bahkan hampir menjilat piring yang sudah licin kalau tidak dicegah kakaknya.


“Kalian sekarang tinggal dimana?”


Maira dan Mirza bersitatap, ragu untuk menjawab.


“Di belakang pasar, Oom.”


“Ibu dan Mikala apakabar?”


Keduanya menunduk, pandangannya sedih.


“Mas Mika ketabrak motor waktu dagang di perempatan. Walau dapat gratis dari pemerintah untuk perawatan, tapi jadi nggak bisa kerja lagi untuk sementara karena kakinya patah.”


“Astaghfirullah.” Dicky dan Hanna tidak bisa menyembunyikan perasaan miris dan kasihan terhadap keluarga yang telah merawat Malika.


“Di rumah sakit mana?”


“Baru dipindahkan ke RSU. Ibu lagi nggak kerja jadi bisa jagain Mas Mika.”


“Mas …”


Dicky mengambil hape lalu menghubungi rekannya di RSU Solo. Dokter itu berbicara di luar kedai.


“Kondisi Mika agak parah, dah harus dipasang pen. Karena Lastri dan keluarga tidak melapor ketika pindah, mereka tidak tercatat hingga perlu ada yang diurus sebelum Mika bisa dioperasi,” jelas Dicky setelah mengajak istrinya keluar kedai.


Malika sedang asik bermain sementara Rafathar pulas digendongan Hanna.


“Mas, aku pengin kita bantu. Apakah setuju?”


“Setuju, Sayang. Namun tidak elok jika aku yang berada di rumah sakit bersama Bu Lastri. Apakah kamu sanggup mengurus di sana? Aku bisa jaga Malika dan Rafathar.“


“In syaa Allah niat baik akan dimudahkan. Bismillaah.”


Tak berapa lama, Hanna tiba di rumah sakit. Lastri mengerjap dan refleks mencari Malika. Ia juga merindukan anak yang diasuhnya selama setahun.


“Assalamualaykum Bu Hanna, maaf saya pergi tanpa pamit.”


“Waalaykumussalam, sssh, sudah, sudah saya ke sini bukan karena itu. Saya akan bantu supaya Mikala cepat dioperasi,” ucap Hanna sambil mengelus pundak Lastri.


“Syarat saya hanya satu,” tambah Hanna lagi.


Tatapan Lastri berubah kecut, berbagai alternatif buruk berseliweran di kepalanya.


“Setelah Mika boleh keluar dari rumah sakit, kalian semua harus tinggal di panti asuhan saya. Ibu akan saya jadikan pengawas di sana. Mika harus sekolah lagi, begitu juga Maira dan Mirza. Sanggup?”


Lastri menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Air mata haru mengalir. Ia hendak bersujud untuk mencium kaki Hanna.


“Eee, apa ini. Bu, di mata Allah kita sama. Bahkan ibu malah lebih mulia karena Allah selalu menguji dengan kesabaran. Gimana, Mikala, Maira, Mirza, mau sekolah lagi?”


“Mau!” Teriak Mirza polos. Sementara Mikala dan Maira yang lebih besar masih belum percaya dengan pendengaran mereka.


Perawat dan dokter masuk.


“Bu Hanna, tadi saya ditelepon Dokter Dicky, in syaa Allah operasi bisa dilakukan malam ini. Saya dengan Dokter Ali yang akan merawat Mikala.”


“Alhamdulillah. Semoga semua lancar. Untuk obat-obat penghilang rasa sakit apakah bisa diberikan?”


“Bisa, Bu. Sebentar kami siapkan.”


“Saya akan kembali lagi nanti malam saat operasi ya, Bu. Sekarang saya pulang dulu. Mirza dan Maira mau ikut?”


Keduanya menggeleng, mereka lebih memilih bersama ibu dan kakaknya. Hanna berpamitan lalu keluar dari ruangan.


Tak berapa lama ojek online mengirimkan makan siang untuk Lastri yang menurut Maira sudah beberapa hari tidak makan karena uangnya dipakai untuk transpor dari rumah ke rumah sakit.


***


Lastri dan anak-anaknya kini tinggal di panti asuhan. Sebuah paviliun disiapkan untuk mereka. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Lastri bekerja sebaik-baiknya bukan saja mengawasi tapi mengasuh anak-anak yang dititipkan di panti asuhan. Seperti saat dulu ia mengasuh Malika. Para penghuni panti sangat menyanyangi Lastri yang bagai ibu untuk mereka.


Jika ada yang panas, Lastri lah yang mengompres dan menemani. Jika ada yang bermasalah, Lastri menasihati layaknya orang tua kepada anaknya.


Sementara itu anak kecil bernama Malika sering main ke panti asuhan, namun ia sekarang sudah bisa mengenali Hanna sebagai ibu kandungnya.


Agaknya benar kata Liam, tali yang tak akan lekang oleh jarak dan waktu adalah ikatan ibu dan anak. Sembilan bulan seorang bayi berada di perut ibunya menciptakan untaian kuat cinta kasih yang tidak bisa digoyahkan.


Malika menyayangi Lastri namun Hanna adalah ibunya yang jauh mencintai dengan tulus. Seorang anak bisa merasakan itu.


Akhir pekan dilewatkan oleh Hanna dan keluarganya untuk mengunjungi panti asuhan. Dicky mengajarkan keterampilan pada anak-anak laki-laki yang tinggal di sana.


Hanna mengajari ketrampilan masak dan menjahit seperti yang dulu diajarkan di lapas kepada anak-anak perempuan.


Rumah Sa’aadah menjadi rumah yang sesuai dengan namanya. Rumah penuh kegembiraan. Walaupun semua yang tinggal di sana datang dengan paket kesukaran dan kesedihan sebagai bagian hidup.


Sebuah mobil mewah parkir di depan panti. Seorang laki-laki turun disertai wanita dengan wajah melecehkan begitu melihat panti yang dibangun Hanna.


Dicky mendecak kesal.


“Hama wereng ini ngapain ke sini?” Melihat Eliza dan Daru suaminya masuk ke pekarangan.


“Oo jadi bener sekarang kamu pelihara gembel?”

__ADS_1


***


__ADS_2