
Abby mematut ibunya yang nampak cantik dan berseri-seri. Zee dan Aira berdiri di belakang Qiara, mengagumi kecantikan Buna mereka yang tak lekang oleh waktu.
Hari itu semua bahagia. Liam dan Aira datang bersama Hanna dan keluarganya. Hanna yang masih menyimpan rasa bersalah karena pernah menjadi perusak rumah tangga Qiara dan Thoriq akhirnya bisa bernapas lega.
Thoriq terlebih lagi sudah sangat menantikan hari ini. Memakai m jas berwarna abu-abu, ia nampak tak sabar menunggu wanita pujaannya.
Mereka hanya mengundang orang-orang terdekat saja. Kakak Qiara, Dhanu, datang bersama keluarga. Juga para sahabat Qiara, datang bersama pasangan. Tak ketinggalan Jeremy yang datang dengan menggendong cucu.
Para anak laki-laki telah berdiri gagah dengan jas senada dengan Thoriq. Rencananya, Mas Dhanu yang akan menikahkan Qiara, sedangkan Kalandra menggandeng ibunya masuk setelah ijab kabul.
“Buna, kita harus keluar sekarang.”
Qiara mengangguk.
“Buna boleh punya waktu sendiri?”
Putri dan menantunya memeluk Qiara dengan penuh rasa sayang sebelum keluar menuju ke ruang akad nikah yang diadakan di salah satu hotel milik keluarga Donavy.
Keluarga besar Devan juga sangat mendukung pernikahan Qiara. Mereka melihat betapa selama ini Qiara menanggung kesedihan setelah Devan berpulang.
Tak sedikit karyawan hotel yang menyempatkan untuk memberi doa baik kepada Qiara.
Wanita berbalut busana gamis berbahan chantily berlapis brokat itu melihat tampilan wajahnya.
Sorot berseri-seri itu hilang. Air mata terbit di sudut netranya.
Ia membuka hapenya. Foto-foto bahagia bersama Devan masih tersimpan di sana.
“Dev, kenapa aku merasa seperti mengkhianati cinta kita?”
Jari-jari lentik Qiara memainkan layar hape yang terus menampilkan foto-fotonya bersama Devan.
“I … I cannot do this.”
Qiara melepas cincin yang diberikan Thoriq, mangambil jaket lalu pergi meninggalkan hotel.
***
Kala mengetuk pintu kamar ibunya. Dhanu dan seorang petugas yang akan meminta tanda tangan Qiara berdiri di sampingnya.
“Buna, ini Kala. Boleh masuk?”
Karena tidak mendengar jawaban, Kala meraih keycard lalu menempelkan pada kotak hitam.
Kala, Dhanu, dan petugas pencatat tidK menemukan Qiara di ruangan penthouse.
“Buna …”
Kala meraih cincin pemberian ayahnya yang tergeletak di atas meja rias disertai notes bertuliskan:
I just still love him so much, Mas. I’m sorry.
Kala dan Dhanu bertukar pandangan.
***
Thoriq mendengar laporan dari putranya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tanpa menunggu lebih lama gegas ia keluar dari hotel dan menaiki taksi yang tersedia.
Dirinya tidak kecewa, apalagi marah. Justri ia mengkhawatirkan Qiara. Bayangan wanita yang sangat dicintainya sekali lagi meninggalkannya jauh lebih mengerikan.
Ia mengarahkan driver ke pemakaman. Tanpa memakai jaket, Thoriq menuju ke tempat Devan bersemayam.
Dan di sanalah Qiara, duduk di samping nisan Devan sambil menangis.
“Qia …”
Qiara mengangkat wajahnya, menatap wajah Thoriq yang luar biasa lega karena menemukannya.
“Maafin Qia, Mas. Qia nggak bisa …”
“Qiara, Mas benar-benar nggak mempermasalahkan itu. Kalau Qia memang nggak mau menikah, Mas akan mengerti. Selamanya Mas akan cinta sama Qia walaupun kamu bukan istrinya Mas.”
“Kenapa? Kenapa Mas ngotot banget mencintai Qia?”
__ADS_1
“I guess, I just can quit you. Mas nggak bisa berhenti mencintai kamu.”
“Walau Qia cintanya sama Devan?”
“Walau Qia masih cinta sama Devan,” sahut Thoriq tegas.
Thoriq duduk di samping Qiara.
“Aku marah padamu, Devan,” ungkapnya lirih setelah beberapa saat terdiam.
“Apa?” Qiara menatap wajah Thoriq dengan tatapan bertanya.
“Kamu pernah berjanji untuk tidak membuat Qia sedih. Lihat sekarang. Mata istrimu sembab, hidungnya merah.”
“Devan janji itu sama Mas?”
“Yup, karena dia minta aku berjanji sesuatu padanya.”
Qiara menatap Thoriq dengan alis terangkat. Thoriq menatap nama Devan yang terukir di nisan.
“Janji apa, Mas Thoriq, jangan bikin Qia penasaran.”
“Qia, Devan minta Mas berjanji untuk menjagamu jika takdir lebih dulu mengambilnya.”
“Dev …” Ucap Qiara yang tak menyangka suaminya dulu pernah berkata demikian pada Thoriq.
“Qia, dulu Mas pernah mengingkari cinta dan janji suci kita. Kali ini Mas tidak ingin mengingkari janji untuk menjagamu. Selama ini Mas menjagamu melalui Kala dan Liam. Namun Liam kini sudah punya prioritas dan Mas berharap Kala akan menyusul. Abby akan ikut suaminya jika ia menikah. Triplets tersebar di tiga benua. Zee masih terlalu kecil untuk menjagamu. Itulah alasan Mas ke Inggris supaya bisa lebih mudah menjaga Qia.”
“Mas, tapi Qia belum sanggup menikah …”
“Ijinkan Mas jadi sahabat dan selalu di dekatmu. Itu sudah cukup. Mas akan cari cara untuk selalu jagain Qia. Jangan pergi lagi, Qia. Mas mohon.” Suara Thoriq bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Buru-buru diusap kedua netranya.
Qiara mengangguk setuju.
“Mas, maafin Qia..” Pinta Qiara yang tak sanggup menatap netra Thoriq.
“Mungkin kita memang nggak berjodoh dalam pernikahan, tapi sebagai orang tua untuk Kala..”
Di belakangnya Liam berlari mendekat. Pria itu benar-benar khawatir.
“Kala, Liam … duduk sini …”
Thoriq mengajak anak dan menantunya untuk duduk di bangku dekat makam Devan. Kala membantu ibunya untuk berdiri.
“Aduh kalau begini, Buna berasa tua, deh.”
“You look young, Buna …” Kala tiba-tiba mendekap ibunya.
“Buna, maafin Kala karena mendesak Buna untuk menikah sama Aya. Kala memang nggak pingin Buna sedih berkepanjangan, tapi Kala nggak sadar kalau Buna masih teramat sangat cinta sama Daddy.”
Qiara mendongak menatap wajah Kalandra. Tangannya memegang kening anaknya.
“Tumben komennya waras. Are you okay?” Mata Qiara berkilat jenaka. Kala kembali mendekap wanita nomor satu dalam hidupnya. Ia mengecup sayang kening Bunanya.
“Buna juga jangan takut sendiri, Kala akan selalu jagain Buna. Kala seperti mau mati waktu nggak bisa menemukan Buna di penthouse dan di seluruh hotel.”
“Maafin Buna. Kala lepasin, Buna nggak bisa napas.” Qiara menepuk-nepuk punggung anaknya.
“Janji dulu nggak bakal kabur lagi.” Kala tetap mendekap ibunya.
“Janji!”
Kala lalu mengecup lagi kening ibunya.
“Buna tadi panik.”
Liam yang mendengarkan percakapan Kala dan Qiara ikut mengangguk tanda memahami perasaan ibu sambungnya.
“Cinta yang paling berat adalah cinta yang tidak bisa memiliki,” ucapnya dengan suara empuk nan menghanyutkan.
“Tapi itulah bukti ketulusan, saat tidak bisa memiliki, namun terus menjaga tanpa harus melalui batasan,” sambungnya terus menatap nisan ayahnya.
“Buna mencintai Daddy, namun tidak lagi bisa memiliki. Aya mencintai Buna namun di hati Buna masih ada Daddy. Cinta itu indah, tapi rumit.”
__ADS_1
“Terima kasih, ucapannya sangat membesarkan hati, ya …” Thoriq melirik seraya tersenyum kecut kepada Sang Love Guru.
Qiara nampak masih betah berada di makam mendiang suaminya. Kepalanya bersandar ke dada bidang Kalandra.
“Daddy pasti bahagia di sana, karena Buna sangat mencintai dan sangat merindukannya,” ucap Liam seperti merenung. Thoriq menyikut menantunya yang malah bergeser menjauh.
“Nggak, Daddy pasti nggak mau Buna sedih berkepanjangan …” Sanggah Qiara teringat pada catatan dan album yang ditinggalkan suaminya.
“Tapi Buna nggak bisa bahagia tanpa Daddy. Itu namanya catch 22. Nggak akan ada ayam kalau nggak ada telur, tapi telur juga dari mana datangnya jika tidak ada ayam.”
Kala dan Thoriq mendelik ke arah Liam yang dinilai semakin ngawur.
“Buna, dalam surat Ali Imran ayat 139 ada larangan untuk bersedih. “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Qiara terkesiap mendengar ucapan Liam yang sekonyong menyadarkannya.
“Aku tidak minta Buna untuk menikahi Aya. Hanya aku berharap Buna berhenti bersedih. Buna sudah terbiasa bersedih. Enam tahun adalah waktu yang lama untuk membuat seseorang membentuk kebiasaan baru. Buna, alihkan perhatian pada hal yang positif.”
“Buna sudah berusaha, Liam …”
“Apakah Buna sudah berhasil? Seberapa banyak dalam sehari Buna larut dalam kesedihan?”
Qiara menelan saliva.
“Buna, manusia bisa kuat karena terpaksa. Terkadang suatu kebaikan itu harus dipaksakan. Buna ingat saat mengajariku untuk sholat lima waktu. Buna paksa aku bangun pagi buta lalu wudhu dan sholat kan?”
“Maksud Liam, Buna harus memaksakan diri untuk bahagia?”
“Ya. Karena Buna sudah sangat terbiasa untuk bersedih. Dari enam tahun ini, kapan terakhir Buna merasa bahagia?”
Air mata menitik dari sudut mata Qiara. Tak mampu menjawab pertanyaan Liam, wanita itu mengigiti bibir bawahnya. Kebiasaan yang menurun pada Abby.
“Kapan, Buna?” Liam merangkul Bunanya.
“Saat pergi ke Scotland. Saat Buna bersama Mas Thoriq. Tapi …”
“Wait, kita belum sampai sana. Kenapa Buna bahagia saat itu?”
“Karena Buna mendapat perhatian, Buna merasa dilindungi dan tidak sendiri. Tapi …”
“Sebentar, Buna, kita belum sampai ke tapi … Jawab cepat, Buna. Apalagi?”
“Buna punya teman bicara yang sepadan karena ada hal-hal yang Buna sulit bicarakan dengan anak-anak.”
“Buna sayang nggak sama Aya?”
“Sayang … “ Qiara menutup bibir dengan kedua tangannya. Menyadari jawaban yang sebetulnya keluar dari lubuk hati terdalam.
Liam tersenyum penuh arti sambil menatap netra legam Buna yang disayanginya. Anak sambung Qiara menghapus air mata dari sudut mata bunanya.
“Daddy nggak akan pernah rela kalau Buna bersedih terus. Daddy hidup untuk kebahagiaan Buna. Berbahagialah demi Daddy. Jika Buna sayang Aya, nyaman bersamanya, halalkan, karena tak baik dua manusia yang bukan mahram untuk berkhalwat. Mungkin Aya dan Buna bisa menahan diri dari zinah, tapi bagaimana dengan fitnah?”
“Buna ingin ketemu dengan Daddy di surga kelak …”
“Buna Sayang, aku dan Aira pernah ikut pesantren pasutri. Ada banyak pendapat tentang kondisi yang dialami oleh Buna. Salah satu hadits mengatakan seorang istri yang menikah beberapa kali karena suami meninggal atau cerai maka di surga ia akan bertemu dengan suami yang akhlaknya paling baik selama mereka tidak bercerai di dunia. Ada hadits lain yang mengatakan di surga akan bertemu dengan suami terakhir.”
Liam melanjutkan, “Tapi bukankah istri yang taat bisa masuk lewat pintu surga manapun? Bukankah surga itu tempat terindah dan kita bisa meminta apapun? Di sana hanya ada kebahagiaan yang sesungguhnya, Buna. Seorang istri bisa masuk surga dari pintu surga manapun asalkan mendirikan sholat, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga ***********, serta taat pada suami.”
Semua menyimak kata demi kata yang bagai mengalun keluar dari mulut Liam.
“Allah sudah menyiapkan pasangan bagi semua penghuni surga. Di dunia ini kita harus banyak mengumpulkan amalan sebagai bekal masuk surga. Menikah adalah ibadah terlama. Buna menikah dengan Daddy selama lebih dari dua dekade. Tidak ada yang meragukan kebucinan kalian. Kini, Buna punya kesempatan untuk kembali membuka pintu surga manapun yang Buna kehendaki.”
***
“Apakah Qia yakin dengan keputusan kamu?”
“In syaa Allah, Mas.”
“Sahabat selamanya?”
Qia mengangguk mantap sambil tersenyum.
***
__ADS_1