
Setelah kembali ke Melbourne, Qiara jarang bicara maupun bertemu Devan. Semenjak tanpa sengaja bertemu Liam, sepertinya Devan sengaja menghindar.
Qiara duduk di ruang kerjanya. Kini ia menjadi salah satu pimpinan di MJ Design. Ia memandang layar komputernya. Pikirannya terus melayang ke Devan.
Akhirnya ia mengirim pesan.
Dev, aku ada karpet cocok untuk koridor di lantai atas. Aku antarkan siang ini, yah.
Qiara menunggu balasan. Ia tahu Devan telah membaca pesannya namun tidak kunjung membalas. Qiara kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Aku Stella. Kapan kita bisa bicara?
Qiara mengerutkan kening, tak menyangka Stella bisa mendapatkan nomornya.
Besok. Kafe Le Quartier pukul 11.00
Qiara menatap jauh ke luar jendela ruang kerjanya. Tiba-tiba hatinya terasa hampa.
***
Qiara duduk di Kafe Le Quartier. Sengaja datang lebih cepat untuk menenangkan diri. Para sahabatnya tidak setuju ia terlibat terlalu dalam di permasalahan antara Devan dan Stella. Terlebih belum ada hubungan apapun antara Qiara dan Devan.
Qiara menyesap affogato perlahan.
“Saya pikir kamu tidak datang. Saya mau bicara singkat saja. Apapun hubungan kamu sama Devan silakan mundur. Aku akan memperjuangkan hubungan kami demi Liam.”
Qiara menatap wanita cantik yang duduk di depannya, menatapnya dengan pandangan merendahkan. Qiara mau tak mau merasa minder. Stella, seorang model terkenal dengan bentuk wajah sempurna dan dandanan paripurna.
Kening Qiara berkerut. Ia tahu dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan Devan, namun ketika Stella menyuruhnya mundur, ada rasa takut kehilangan menyelip di hatinya.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Devan.”
“Jangan munafik. Masalah cinta bukan hal baru lagi buatmu. Devan berhenti mengawasiku dan Liam sejak anakmu lahir. Kembali pada Devan adalah hal mudah. Dia belum sepenuhnya move-on. Aku bisa lihat di matanya.”
“Kamu sudah menikah lagi bukan?”
“Nick? Hah, kami sudah berpisah setahun lalu. Lagi pula itu bukan urusanmu. Ini peringatan pertama dan terakhir, pergi dari kehidupan Devan!”
__ADS_1
Stella berdiri melihat pesanan affogato Qiara lalu tersenyum meremehkan. Ia berbisik di telinga Qiara, “Kamu jelas-jelas bukan seleranya. Jangan mimpi untuk berpasangan dengan Devan.”
Qiara menggigit bibir menatap model yang melangkah anggun bagai berjalan di atas catwalk.
“Tunggu!”
Stella menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Qiara dengan pandangan bertanya.
“Ada apa lagi?”
Qiara berdiri, dengan tenang berjalan ke arah Stella.
“Wah, dua tahun berarti Devan memendam rasa untukku, ya. Padahal aku tidak pernah mimpi berpasangan dengan dia. Awalnya aku mau bicara baik-baik sama kamu, tapi well, aku pikir lebih baik kita lihat, siapa yang dipilih Devan. Aku yang menemaninya untuk bangkit atau kamu yang sudah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk. And by the way, affogato di sini enak banget. Cobalah, supaya kamu tidak terlalu cungkring.”
Qiara meletakkan dua lembar uang kertas, cukup untuk membayar dua gelas affogato dirinya dan Stella. Kemudian berlalu memberikan senyum terbaik kepada wanita yang sedang terbakar amarah.
Di dalam taksi Qiara menggeleng-geleng.
“Ya Allah, gue bisa bitchy ternyata … ” Batinnya sambil terkekeh.
***
“Anehnya, makin hari gue makin nyaman sama dia, tapi gue masih ragu …”
Semenjak membantu kelahiran Kala, Devan sering hadir di kehidupan Qiara dan Kala. Mereka bercerita hari-hari mereka, bertukar pikiran, kadang berkeluh kesah. Qiara juga selalu menyemangati Devan untuk sembuh.
“Jangan ngomong kalau lu masih simpen sakit hati sama Thoriq! Udah Qi, nggak semua laki tu kayak dia, mencla-mencle.” Sambar Ella berapi-api.
Qiara menghela napas lalu menjawab, “Iye iye, kalau yang satu ini bakat jadi kulkas, dingin, jutek, galak.”
“Jadi suka atau kagak?” Tanya Marianne penasaran
“Mmmm … yang tadi aku bilang, ada rasa suka tapi ragu. Dulu waktu sama Mas Thoriq, he was a complete package. Paket lengkap, ganteng, pinter, taat sama agama, ngelindungin. Kalau sama Devan, aku itu banyak ragunya, Mbak. Emosinya suka nggak stabil, ” jawab Qiara berusaha menggali perasaannya.
“Gue rasa lu baru beneran di di tahap nyaman. Menurut gue, lu lawan ajalah Si Stella sotoy itu. Lu itu orangnya terlalu baik, Qi. Kayak dulu pas Thoriq nikah sama Hanna, mau-maunya dimadu. Harusnya lu ngamuk, ancam Thoriq, teror Hanna.” Marianne tiba-tiba emosi
“Hush, Mba Anne kenapa tiba-tiba ngegas?” Celetuk Cherish.
“Capslock nya kepencet!” Seloroh Alya disambung tawa keenam sahabat.
__ADS_1
Qiara terdiam.
“Qi, sorry ya, Mbak jadi ingetin sama kejadian dulu.”
“Jujur, aku udah nggak mikirin mengenai yang dulu. Tapi aku lagi mikir perasaan ke Devan… Aku juga nggak tau apa dia suka atau enggak.”
“Suka, Qi, elu aja dodol.” Jawab mereka berlima.
“Nah kalau gue cuma mau ngelawan Stella, jahat nggak sih PHP- in dia? Terus kalau sampai ujung ternyata gue belum naksir?”
Marianne menjawab, “Qi, menurut gue just take it easy. Yah sekarang ini lu explore perasaan elu dan perasaan dia. Kalau akhirnya kalian saling suka, kalian bakal punya satu sama lain, dan tolong tendang Stella buat kita-kita. Kalau pun lu nggak naksir, ya udin sik, masih ada Jeremy.”
“Jer? Ya amplop, dia lebih muda, deh. By two years!”
“Tapi dia naksir abis sama kamu. Qi, Mba seneng kehidupan kamu udah nyaman sekarang. Mungkin ini saatnya kamu membuka hati.”
Qiara menatap wajah Kala yang sedang tidur di sebelahnya. Mulut anak itu terbuka, satu tangan terselip di bawah bantal. Persis seperti ayahnya.
“Aku coba, ya. So wish me luck, ladies.”
***
Devan membaca berkali-kali pesan dari Qiara.
Dev, how are you?
Dev, aku ada karpet cocok untuk koridor di lantai atas. Aku antarkan siang ini, yah.
Aku harap kamu lebih baik. Call me if you need someone to talk to.
Setelah itu tidak ada lagi pesan masuk.
“Qiara, kenapa aku selalu terbayang kamu. Andai saja kamu sudah bisa melupakan mantan suamimu. Aku akan bisa menyayangimu sepenuh hati.”
Devan memejamkan matanya lalu menghela napas panjang. Jarinya mengetikkan sebuah pesan.
“Let’s meet Stella. I miss you, too.”
***
__ADS_1