Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Ketetapan


__ADS_3

“Fatimah, tunggu.”


Fatimah mempercepat langkahnya. Masih memakai seragam pilot tak dapat dipungkiri banyak mata menatap kagum padanya. Tinggi, kulit bersih, dan wajahnya enak dipandang.


“Ayah mau bicara. Tolong Fatimah.”


Laki-laki paruh baya itu mengejar langkah anaknya.


“Fatimah, Ayah bilang berhenti!” Ibrahim meraih sikut anaknya lalu menyentak.


Beberapa security yang mengenali Fatimah sebagai salah satu pilot senior maskapai penerbangan terbesar langsung mendekati.


“Maaf, Pak. Saya hanya ingin bicara sama Kapten Fatimah. Dia anak saya.”


“Ayah sudah meninggal tak lama setelah Bunda melahirkan. Saya nggak kenal orang ini. Maaf saya lelah. Bapak-bapak sekuriti yang terhormat, silakan diamankan. Saya mau ke mobil jemputan.”


Sekuriti langsung mencekal Ibrahim. Fatimah melirik sinis ke arah ayahnya yang sedang digiring ke pos. Ia sendiri masuk ke mobil yang sudah disiapkan maskapai untuk mengantarkan ke apartemennya.


Malam sudah larut. Penerbangan dua landing cukup melelahkan karena jaraknya jauh. Fatimah sudah membayangkan berendam dengan garam beraroma peppermint untuk meredakan lelah di tubuhnya.


Fatimah membuka kunci apartemennya. Begitu lampu dinyalakan, sepasang mata balik memandangnya.


“Ayah …”


***


Bulan-bulan berlalu dengan cepat. Qiara danThoriq sibuk mempersiapkan rencana ta’aruf. Karena Kala dan Fatimah sudah setuju, Qiara ingin memberikan tanda pengikat untuk Fatimah.


Ia sibuk memilihkan perhiasan dari desainer ternama.


Thoriq bersikeras membelikan semua perhiasan untuk calon menantunya.


“Tanggung jawab, Mas sebagai ayahnya Kalandra.”


Qiara mengangguk setuju.


Desainer akan mengirimkan langsung perhiasan yang dipilih ke bank tempat penyimpanan.


Thoriq dan Qiara melanjutkan rencana membeli tas dan sepatu untuk Fatimah. Kali ini Qiara bersikeras untuk membelikan terlebih juga Kala sudah menitip model apa saja yang ia ingin belikan untuk Fatimah.


Agak malam ketika Thoriq mengantarkan Qiara kembali ke mansion.


“Assalamualaykum,” sapa Qiara begitu membuka pintu utama.


“Waalaykumussalam, Aya, Buna udah jam berapa ini? Jam segini baru pulang, sih?”


Kalandra menyindir sambil mencium takzim kedua orang tuanya.


Zee yang mengekor di belakang kakaknya terkekeh. Menyalami Buna lalu memberi mengatupkan tangan di depan dadanya untuk menyapa takzim Thoriq.


“Keasikan belanja dan ngobrol. Ini belanjaannya. Bantuin, Kal.” Thoriq menyerahkan aneka ukuran paper bag pada putranya.


“Alhamdulillaah semua udah dapat. Makasi Buna. Tapi lain kali nggak boleh sampai semalam ini loh. Kala serius.”


“Iya, makasi buat mengingatkan. Tadi Aya yang salah. Aya ajak Buna dinner dulu.”


Qiara tersipu, bagaikan dua remaja yamg ke-gap pacaran.


“Hmm, asiknya, sampai lupa kasih kabar yang di rumah. Padahal Kala udah masak buat Buna loh.”


“Iya, Buna, Mas Kala masak tahu telor. Uncle, makan lagi yuk.”


Thoriq penasaran, tapi daripada disemprot Kala karena kemalaman mengantarkan pulang ibunya lebih baik dia undur diri.


“Lain kali, ya Zee. Makasih tawarannya. Qia, mas pulang dulu …”


“Makasih udah anterin Qia pulang. Nanti kalau sudah sampai, telepon, ya.”


“Nggak ada… udah malem. Besok aja teleponnya,” Kala menyambar.


“Galak banget anak kita, Mas.”


Qia dan Thoriq tertawa berbarengan. Tak berapa lama Kala mengantarkan Thoriq ke mobilnya.


“Bagaimana rencana jika kamu sudah menikah?”


“Fatimah akan tinggal di London. Aku udah janji jagain Buna. Sebetulnya juga dia udah diterima di salah satu jasa penerbangan private jet di Inggris. Fatimah juga nggak masalah kalau nggak kerja buat nemenin Buna, in syaa Allah.”


Pintu utama mansion terbuka. Qiara dan Zee tergopoh-gopoh keluar.


“Mas, Hayyan terluka, sekarang dibawa ke Jerman buat operasi. Abby ternyata udah duluan ke sana. Mas, visa Uni Eropa masih berlaku, kan? Temenin Qia.”


“In syaa Allah masih. Jam berapa pesawatnya?”


“Kita ke private airport sekarang. Mas, Qia takut.”

__ADS_1


“Istighfar, Qia. Allah akan jaga Hayyan. Kata Abby kondisinya gimana?”


“Belum tau, masih dibawa pake pesawat Medic ke Hamburg.”


Kala langsung menghubungi beberapa rekan dokter semasa kuliah yang bertugas di rumah sakit militer. Memang ada pasien bernama Hayyan Khalil Donavy terkena luka tembak di paha dan dada kanan. Kondisi tak sadar walau masih stabil.


Qiara dan Zee berusaha untuk tidak menangis. Hayyan sudah meminta mereka semua berjanji, jika sesuatu terjadi padanya, jangan ada air mata.


“Celebrate my life. Kenang yang indah-indah jika kita harus berpisah,” pungkasnya sambil memamerkan seyum ramah.


Telepon Qiara berbunyi demikian juga Thoriq.


“Liam, udah denger tentang Hayyan … Apa?”


“Assalamualaykum Aira … Apa?” Di saat bersamaan Thoriq mengangkat hapenya.


“Buna, Uncle ada kabar apa?” Mata Zee berkaca-kaca.


“Mas, Azka tadi pingsan on the way ke kantor. Sekarang di ICU belum sadar.” Suara Qiara bergetar, wajahnya panik luar biasa.


“Qia, sabar, ya. Tadi Aira ditelepon


Dekannya Barran. Saat presentasi, Barran tersungkur. Sekarang di ICU.”


“Ya Allah, anak-anak Buna.” Lutut Qia terasa lemas dan langsung ditopang Kalandra.


“Qia, Qia, denger Mas. Satu-satu kita hadapi. Kala, kamu cari pesawat ke Amerika, sekalian tolong cari tiket buat Aya ke Madinah. Kebetulan Aya habis ada pekerjaan di Saudi jadi masih ada multiple entry visa. Qia dan Zee berangkat ke Jerman. Di sana sudah ada Abby, kan?”


“Mas …”Mata Qia menatap Thoriq.


“Dzikir terus, Qia. Mas antar ke airport. Lalu nanti Mas cari pesawat ke Madinah. Tadi Aira udah kirim nomor telepon Dekannya Barran. Bismillah, keep in touch.” Thoriq menenangkan wanita yang kehilangan dua pertiga nyawa.


Kala mencium takzim tangan ayah dan ibunya. Zee memeluk, tubuh gadis remaja itu bergetar.


“Zee takut, Mas.”


“Bismillaah, kita mohon untuk kasih kemudahan buat saudara-saudara kita. Zee jaga, Buna. Mas bergantung pada kamu.”


Zee mengangguk lalu naik ke mobil Thoriq setelah Bunanya masuk mengambil paspor mereka.


“Aya …” Kala menatap Thoriq dengan sorot kekhawatiran. Thoriq mengangguk dengan tatapan menenangkan.


“Bismillaah …”


***


Teman satu kesatuannya memberi tahu bahwa kendaraan mereka terkena tembakan senjata berat saat berpatroli. Hayyan yang menyupir kendaraan adalah yang paling parah di antara lainnya.


Walau terluka, ia sempat menyelamatkan beberapa teman yang terjepit badan mobil. Kepala kesatuan yang ikut mengantarkan segera mendekati Qiara.


“Mam, I’m Major Hamilton. Your son is badly injured but to us, he is a hero. Dia menyelamatkan tiga di antara kami walau dirinya sendiri terluka. Kami semua berharap kesembuhannya. Saya dan teman-teman Hayyan di kesatuan akan ada di sini sampai operasinya selesai.”


Mereka mengangguk hormat kepada Qiara yang berusaha menahan tangis. Major Hamilton mengajak Qiara, Abby, dan Zee untuk ke ruang tunggu.


Kini teman-teman kesatuan Hayyan sudah berkumpul.


Qiara menunggu kabar dari Kala dan Thoriq. Ia mencoba menghubungi rumah sakit tempat Azka dirawat. Tak lama, sebuah nomor meneleponnya.


“Assalamualaykum, Madam Donavy, saya Abu Syakir, ayah Zaenab. Di sini ada istri saya Siti Khadijah. Kami ingin memberitahukan bahwa Azka masih belum stabil. Kami semua akan menunggu di sini.”


Qiara tak sanggup berkata. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bibirnya terus berdzikir memohon kekuatan.


Major Hamilton dan teman-teman Hayyan ikut mendengarkan.


Abby mengambil telepon. Bicara dengan pria keturunan Timur Tengah menanyakan kondisi adiknya. Orang tua Zaenab menyerahkan telepon ke dokter yang merawat Azka.


Dengan rinci Abby menyeritakan bahwa dua kembaran Azka dalam kondisi kritis.


Dokter menduga ini semua berkaitan karena Azka, Barran, dan Hayyan adalah kembar identik. Dan setelah ditelusuri mereka tumbang di waktu yang hampir bersamaan.


Abby juga menghubungi dokter yang merawat Barran di Madinah. Kondisi pria muda itu tak jauh berbeda dari saudaranya di Amerika.


Rangkaian tes sudah dijalankan atas Azka dan Barran namun tidak ada satu pun penyakit ditemukan.


Para dokter sepakat untuk menjaga kondisi Azka dan Barran yang masih naik turun. Mereka berharap jika operasi Hayyan berhasil maka Azka dan Barran juga akan pulih dengan sendirinya.


Qiara mendengarkan dengan seksama. Dalam ketakutannya, jika Hayyan tidak bisa diselamatkan maka Azka dan Barran juga akan pergi.


“Abby, Zee, lebih baik Buna mencari tempat untuk sholat.”


“Buna, kami ikut,” cetus Abby dan Zee serempak.


Hamilton bangkit lalu berkata, “Saya antarkan ke musala di rumah sakit ini. Hanya satu lantai di bawah. Anak buah saya akan berjaga jika ada kabar mengenai Hayyan.”


“Sir, kok tau lokasi musala?” Zee penasaran.

__ADS_1


“Saya muslim.”


“Oh, maa syaa Allah.” Zee menatap sosok tinggi besar berambut pirang yang raut mukanua jauh dari ramah. Abby menggamit adiknya yang terbengong untuk mengikuti arah yang ditunjukkan Hamilton.


Di sana Qiara, Abby, dan Zee menjalankan sholat sunnah, karena wajibnya telah mereka tunaikan di pesawat.


Qiara dan Abby kemudian membaca Qur’an dengan tartil dan merdu. Bergantian dengan Zee yang masih belajar.


Dari balik kain yang membatasi ruang sholat laki-laki dan perempuan, Hamilton terpekur mendengar suara merdu yang melantunkan ayat-ayat suci. Qiara dan Abby melantunkan dengan lirih namun telinga terlatih Hamilton dengan mudah menangkap bunyi sepelan apapun.


Ia sendiri adalah seorang mualaf yang baru belajar. Bacaannya masih setara dengan Zee. Walau telah menyelesaikan sholatnya, Hamilton masih ingin duduk berlama di sana sambil terus memonitor perkembangan anak buahnya.


Hampir tiga jam belum ada kabar. Zee tertidur di karpet musala. Qiara dan Abby masih tekun bermunajat atas keselamatan keluarga mereka.


Thoriq dan Kala masih dalam perjalanan. Kala akhirnya berangkat dengan jet pribadi karena mengejar waktu. Thoriq memakai pesawat komersil yang kebetulan berangkat di malam itu.


Sungguh penantian panjang bagi Qiara.


Tak lama berselang, monitor Hamilton berbunyi. Qiara dan Abby langsung tegang.


Abby menyembulkan kepalanya ke area sholat laki-laki.


“Any news?”


“Yes, the doctor wants to see Hayyan’s family.”


Tubuh Qiara terasa lunglai, tulang-tulangnya meluruh.


“Ya Allah, aku berserah kepada ketetapanmu.”


Abby membopong Zee yang tidak bisa dibangunkan karena terlalu lelah dan tegang.


“Aku bisa bantu gendong adikmu,” ucap Hamilton dengan niat baik membantu tapi malah terdengar seperti perintah atasan pada bawahan.


“No need. Jaga ibuku jangan sampai dia jatuh,” balas Abby yang tak mau kalah bossy. Hamilton tidak menjawab dan hanya melirik wanita ramping semampai di sampingnya yang sebetulnya kesulitan menggendong Zee.


“Zee, bangun yuk. Mbak berat bawa kamu.” Sengaja Abby berbisik dalam bahasa Indonesia.


“Sudah kubilang, aku bisa bantu.” Hamilton menyahut juga dalam Bahasa Indonesia yang fasih.


“Mbak, mending aku mati daripada digendong sama manusia kulkas.” Zee yang setengah sadar segera turun dan berjalan. Masih dengan mata terpejam.


“Ssst, Zee, ah … Kulkasnya bisa Bahasa Indonesia,” bisik Abby.


Hamilton yang berjalan di depan Abby diam-diam tersenyum. Jika anak buahnya melihat mungkin mereka akan mengadakan syukuran tujuh hari tujuh malam karena Hamilton adalah mayor terkiller di seluruh angkatan.


Dokter sudah menunggu Qiara.


“How’s my son, Doctor?”


“Operasi masih berlangsung, Mam. Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru di pahanya. Sekarang kami sedang bersiap mengeluarkan peluru yang masih bersarang di paru-parunya.”


“Berapa lama lagi?”


“Melalui X-Ray kami sudah mengetahui letak peluru. Kami berusaha untuk tidak merusak jaringan di sekitarnya. Beristirahatlah karena perkiraan kami ini akan berlangsung tiga sampai empat jam.”


Setelah dokter memberi penjelasan, ia kembali ke ruang operasi.


Hamilton bertanya pada Qiara, “Mam, Miss, kami akan berjaga di sini. Apakah Anda ingin diantar ke hotel atau penginapan?”


“Saya ingin kembali ke musala,” jawab Qiara tegas. Tidak ingin jauh dari Hayyan.


“Buna, nanti terlalu lelah dan malah sakit. Kalau Hayyan sudah selesai dioperasi pasti pengin ketemu Buna. Yuk kita cari hotel dekat sini. Tadi Abby liat ada hotel tak jauh dari rumah sakit.”


Hamilton memberikan perintah pada anak buahnya.


“Tapi Buna ingin menunggui Hayyan …”


“Anda bisa istirahat dan meneruskan sholat di kamar hotel yang pastinya lebih nyaman. Kasian putri Anda juga sudah kelelahan.”


“Oh saya baik-baik saja,” timpal Abby.


“Maksud saya, adik Anda.” Hamilton menunjuk Zee yang sudah terkapar di sofa. Salah seorang teman Hayyan meletakkan selimut di atasnya.


“Astaghfirullah, bocah.”


“Sudah ada mobil yang akan mengantarkan Anda semua ke hotel. Kami akan berjaga di sini. Silakan tinggalkan salah satu nomor telepon.”


“Nomor Buna aja. Catat ya, Major.” Abby menyebutkan nomor telepon Bunanya sambil membangunkan Zee.


Qiara menggandeng Zee lalu mengucapkan terima kasih pada Hamilton. Sebelum melangkah ke arah lobby, netra Qiara menatap pintu kamar operasi yang memisahkan dirinya dengan Hayyan.


Hamilton mengamati rombongan ibu dan anak yang berjalan menuju mobil. Hatinya menghangat saat menyadari Abby melihat ke arahnya melalui pantulan pintu kaca.


***

__ADS_1


__ADS_2