Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Belum Halal


__ADS_3

Muha menatap box beludru dengan cincin bertahta berlian di dalamnya. Wajah Qismina terbayang di benaknya. Raut yang selalu tersenyum itu mampu menghangatkan hati di pagi hari yang dingin.


Ayahnya memberi ultimatum padanya sebelum berangkat ke kantor. Secepatnya melamar Abby dan menikah atau ia menyuruh seseorang membuat hidup gadis pujaan hatinya menderita.


Muha menyandarkan kepalanya ke kursi kerja di ruangannya yang menghadap ke Sungai Thames.


Mendung menggelayut, matahari tidak membagi sinarnya yang hangat, angin berhembus dingin.


Muha tidak ingin membohongi Abby, namun jika itu membuat hidup Qismina menderita, ia rela melakukan apapun.


Dengan berat ia mengetik rangkaian kata indah:


Hi Darling, aku kangen. Weekend ini bolehkah aku menyusulmu?


Agak lama sampai Abby membalas.


Hi juga. Sesuai rencana, hari ini mau ke Loch Ness. Besok masih di Edinburgh karena Mas Kala dan Zee juga mau nyusul buat kasih surprise ke Buna.


Muha tersenyum, walau dalam hati berkata dengan miris, “Sungguh memalukan, seorang Muhammad Fauzan menjadi gold digger.”


Jarinya mengetik ke hape.


Send me a pic cause I miss you so much.


Sebuah pesan gambar masuk. Abby sedang menatap jauh ke depan, kerudung berwarna abu-abu coklat tertiup angin. Pipinya kemerahan, bibirnya tersenyum memamerkan gigi yang tertata rapi.


“Apakah aku harus belajar mencintaimu sekaligus menyakitimu?” Batinnya menjerit. Walau Abby sangat berhati-hati dalam membuka diri, namun Muha merasakan gadis itu dengan tulus mulai menyukai dirinya.


Setelah membulatkan tekad ia menjawab pesan gambar dengan simbol cinta.


Tunggu, aku akan datang, Sayang.


***


Abby tidak bisa menyembunyikan hatinya yang berbunga-bunga.


“Hayo, ngelamun jorok!” Barran mengagetkan dari belakang. Abby siap menghajar adiknya ketika melihat Thoriq ikut senyum-senyum.


“Happy, ya?” Tanya Thoriq yang paham dengan perasaan anak Qiara.


“Lumayan …”


Barran menanggapi singkat. “Halah. Muka sumringan gitu kok lumayan.”


“Ck sssh.” Abby pasti sudah menjitak kepala adiknya jika tidak ada Thoriq di sana.


“Muhammad mau ke sini.”


“Ngelamar?” Barran tidak tahan untuk melewatkan momen untuk menjahili kakaknya.


“Tauk ah.”


“Aamiin gitu dong.” Barran menyanggah jawaban kakaknya.


Abby hanya mengendikkan pundak lalu menyambut ibunya yang baru turun dari kamarnya.


“Buna …” Panggil Abby memeluk ibunya.


“Anak Buna cantik banget.”


“Bunanya juga cantik, ya, kan Uncle?”


Thoriq menatap Qiara dengan pandangan mesra seperti biasa. Sementara Qiara yang salting langsung menggadeng Abby dan berjalan mendahului Thoriq.


“Bisa nggak sih kalian nggak ngebully Uncle Thoriq?” Kata Qiara, menggandeng tangan Abby menyusuri jalan menuju danau.


“Loh koq jadi Mas yang dibully.” Thoriq bertanya tidak terima. Walau di belakang Qiara bersama Barran, dia masih bisa mendengar.


“Ya masak Qia?” Jawab Qiara tak mau kalah, membuat anak-anaknya menunduk putus asa.


Ke empatnya mengobrol ringan menuju tepi danau dimana mereka akan berkumpul dengan wisatawan lain yang sedang menikmati pemandangan menakjubkan.


Thoriq berjalan di samping Qiara, memperlambat langkahnya agar memberi jarak dengan Abby dan Barran.


“Qia, tadi Abby cerita kalau Muha mau nyusul. Hanya saja kok yang kamu cerita ke Mas itu makin kentara ya. Abby kelihatan seneng, tapi juga bingung.”


“Baiknya kita gimana, ya?” Qiara memandang putrinya yang sedang bercanda dengan Barran. Kulit Abby yang putih memerah karena dingin.


“Qia udah minta Kala untuk selidikin Muha lewat Mario?” Tanya Thoriq lagi.


“Udah. Itu juga aneh, kok tumben Kala nggak langsung laporan.”


“Qia bisa langsung telepon Mario, nanti Mas bantu ngomong.”


“Nggak ah, Mario suka aneh.”

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Suka mancing-mancing terus ngerayu gitu. Qia jadi canggung.” Qiara menjebik.


Thoriq menghentikan langkahnya. Bagai petir menyambar di siang hari ia baru menyadari sesuatu, “Qiara, kamu suka sama Mario?”


Mungkin ini sebabnya Qiara bertahan menganggapnya sahabat.


“Mas kok malah bikin masalah? Nggak Mas, Qia nggak suka Mario. Qia suka sama Mas, hanya Qia perlu memantapkan hati dulu.”


“Ya Allah.” Mendengar jawaban jujur yang tak disangka, Thoriq menghentikan langkahnya lalu memegang memegang dada hingga membuat Qiara panik dan memanggil Barran.


Barran dan Abby lari mendekat.


“Uncle, uncle. Duduk. Mbak Abby, kipasin Uncle. Takutnya serangan jantung.” Setelah menyuruh Thoriq duduk di bangku terdekat, Barran menyobek kemeja Thoriq saking paniknya. Entah untuk apa.


Qiara termangu menatap sebuah kalung dengan liontin berupa cincin kawin mereka dulu di balik kemeja Thoriq.


“Mas …” Qiara terpana, mengenali cincin kawinnya dulu.


“Barran, kok kemeja Uncle disobek?” Thoriq baru menyadari apa yang dilakukan anak Qiara padanya. Pria yang habis mengalami shock hebat memandang berkeliling.


Suasana kacau karena para pejalan kaki ikut mengerumuni. Seseorang memerintahkan untuk memanggil ambulans. Petugas keamanan berlari-lari mendekat.


“Sir, are you okay? Can you breath normally? Bisakah Anda mengambil napas dengan normal?”


“Sure, I’m fine. In syaa Allah. Saya baru dengar sesuatu.”


Qiara menelan salivanya.


“What?” Abby bertanya tak sabar, wajahnya cemas dan bingung.


“Bunamu menyukaiku,” jawab Thoriq polos membuat Qiara ingin lari lalu terjun saja ke danau saking malunya.


Pengunjung tertegun namun akhirnya ikut lega dan bertepuk tangan riuh rendah. Qiara memandang berkeliling mencari jalan untuk kabur.


Abby dan Barran tertawa lebar. Kakak beradik itu kini bisa bernapas lega.


“So what exactly did my Mom say? Kata per kata Uncle,” titah Barran tegas walau matanya berkilat iseng.


“Ibumu bilang dia menyukaiku dan perlu memantapkan hatinya.”


Abby terkikik melihat ibunya yang salah tingkah.


“Mas, ayo jalan lagi. Malu tau masih diliatin orang banyak..”


“Mas cinta sama Qia,” bisiknya lembut hingga membuat Qiara terpana. Netra Qiara kembali mengarah ke cincin pernikahan mereka dulu.


“Itu … Mas selalu pakai?”


“Selalu. Qia selalu ada di hati Mas.”


Karena tanpa sadar mereka bicara dalam Bahasa Inggris, orang-orang di sekitar mereka ikut terharu mendengar perkataan Thoriq. Mereka tidak tahu kisah antara dua manusia di hadapan mereka, namun yang jelas mereka merasakan keindahan cinta.


“Tapi Mas dulu sakitin Qia …” Akhirnya setelah puluhan tahun, pertahanan Qiara jebol juga.


“Maafkan, Mas, Sayang. Maaf.”


“Sakit banget, tau, Mas.” Qiara kini bukan lagi marah tapi merajuk manja.


“Maaf, Sayang. Maukah Qia kasih kesempatan buat Mas, di sisa umur ini untuk jagain kamu?”


Thoriq menatap paras yang masih merajuk manja. Betapa ingin ia memeluk Qiara.


“Say, yes Buna. Daddy will be so happy up there,” bisik Abby merangkul Bunanya.


Qiara tersenyum lalu mengangguk malu-malu.


“Alhamdulillaah. Ya Allah, alhamdulillah.” Air mata menetes dari sudut mata Thoriq.


Orang-orang di sekeliling mereka ikut bertepuk tangan.


“Halalkan, Uncle.”


“What? Like now?”


“Halal kan secepatnya atau Barran akan minta menjauh dari Buna sampai halal. Ini bahaya karena Buna dan Uncle ternyata saling punya syahwat …”


“Barran Karim Donavy! Hiiiish anak-anak Buna ini kenapa mulutnya blong semua?” Qiara menyubit keras Barran yang tertawa geli.


Bukannya menghindar, Barran memeluk erat ibunya. “Buna, Baran seneng karena nggak lama lagi Buna ada yang jagain.”


Abby juga memeluk ibu dan adiknya, “You got our blessings Buna.”


Orang asing yang masih ada di sana ikut terharu sebelum akhirnya membubarkan diri.

__ADS_1


Thoriq membenahi kemejanya yang robek. Bulu dada halus menggoda membuat Qiara harus memalingkan wajah.


“Kalian ni udah tua-tua, masih aja harus diingetin. Uncle, ganti baju. Buna terus tundukkan pandangan, belum halal!” Tegur Barran dengan ketus sambil melotot ke Bunanya.


***


“Will you marry me?”


“Yes, in syaa Allah, yes …”


Abby berseri-seri bahagia menatap wajah melayu Muha yang tampan. Muha berhati-hari menyematkan cincin neneknya ke jari manis nan lentik.


“Aku bener-bener pengin peluk dan cium kamu, Abby.”


“Nanti kalau sudah halal,” jawab Abby tegas namun matanya menatap lembut ke Muha.


Hape Muha berbunyi.


“Dari Bunde, beliau minta foto kita. Dari tadi sudah bertanya tak sabar dapat calon mantu. Kita foto berdua ya.”


Mereka berdua mengambil swafoto. Abby menunjukkan cincin mewah yang kini melingkar cantik di jarinya.


Dalam hitungan menit, setelah diterima oleh Siti Nur Azizah, foto itu meluncur ke nomor seorang gadis yang hatinya hancur berkeping-keping.


“Qismina harap Abang bahagia sama Kak Abby,” ucapnya lirih sambil menghapus air mata yang mengalir.


***


Berita mengenai Abby dan Muha sampai ke telinga saudara-saudara Abby. Seiringan dengan berita Thoriq dan Qiara yang kini naik level dari strata persahabatan menuju jenjang menuju pelaminan.


Aira kegirangan karena akhirnya ia bisa melihat Thoriq benar-benar berbahagia.


“Jadi nanti siapa duluan yang bakal menikah ya, Kak?”


“Aya aja dulu, udah lama banget antri.” Liam juga bahagia melihat Bunanya kembali berseri-seri.


Hanya Kalandra yang lebih pendiam semenjak tiba di Edinburgh. Thoriq bolak-balik bertanya, apakah ada masalah namun Kala menggeleng.


“Kamu nggak kayak biasanya, Kala. Apakah kamu nggak setuju Aya dan Buna berencana untuk menikah lagi?”


“Aya, selain Daddy, hanya Aya yang lolos seleksi jadi pendamping Buna.”


“Oh ada Mario?”


“Loh kok Aya tahu? Bukan cuma dia sih. Di high level society di London, banyak duda yang mau sama Buna. Jangankan itu, berondong juga banyak. Nah kalau Mario karena kebetulan in charge di keamanan keluarga Donavy, jadi punya akses langsung.” Kala terkekeh.


Setahun setelah Devan meninggal bujang super lapuk bernama Mario itu memang menunjukkan gelagat untuk mendekati ibu mereka. Liam, Kala, dan Triplets susah payah membuat Mario mengerti bahwa ibunya tidak ingin menjalin hubungan dengannya.


“Naudzubillah, Mario itu punya sikap hidup yang nggak cocok sama Buna. Mungkin Mario memang menyukai karena Buna itu tough, a lady warrior di balik sikap lemah lembutnya. Mario sendiri kan walaupun sudah tua terlihat gagah, masih bagus badannya,” ucap Kala melirik ayahnya. Jiwa iseng yang melekat sejati sebagai karakter tiba-tiba muncul.


“Thanks loh, buat semangatnya …” Thoriq tersenyum kecut. Tubuhnya tetap terjaga atletis berkat latihan renang rutin dan lari, namun mendengar anaknya memuji orang lain panas juga hati Thoriq. Terlebih melibatkan wanita pujaan hatinya.


Kala terkekeh geli. Seumur-umur baru kali ini melihat ayahnya cemburu buta.


“Aya, Buna itu cuma cinta sama Daddy.”


“Ck , Kalandra …”


“Terus kalau sama Aya … ya mungkin mulai naksir lagi.”


“That’s it. Temenin Aya cari cincin.”


“Ya Allah, ini Ediburgh, Ay, jauh dari peradaban fashion. Sabar dulu, lah. Di London baru kita beli yang terindah buat Buna.”


“Nanti di London beli lagi. Ayo jangan ribet. Ikut Aya,” tegas Thoriq sambil menarik anaknya yang mempersulit keadaan dengan memberatkan tubuhnya lalu pura-pura mengantuk.


“Kalandra Akira Putra Thoriq!”


Kalandra tak bisa menahan geli karena ayahnya yang sedang dilanda cinta itu sudah gelap mata ingin buru-buru melamar Qiara.


“Ya deh, jangan salahin Kala kalau dapetnya bukan berlian tapi batu akik.”


“Mana ada batu akik di sini.” Thoriq menyesal menanggapi komentar tak bermutu dari anaknya.


Dua bapak anak itu berjalan ke alun-alun Edinburg, pusat pertokoan terletak di sana.


Dalam perjalanan, tak sengaja Thoriq melihat Muha yang sedang berdiri termenung. Dari kejauhan laki-laki muda itu nampak resah melihat layar hapenya.


Thoriq tertegun melihat ekspresi wajah Muha. Sejuta keresahan, keputusasaan, khawatir, rasa bersalah, dan takut kehilangan cinta tergambar jelas di raut wajah rupawan itu. Tidak mungkin semua itu ditujukan untuk Abigail.


Kembali ingatannya melayang ketika ia kehilangan Qiara.


Kala ternyata juga melihat Muha, ekspresinya berubah muram.


“Ay, Kala tau sesuatu tentang Muha …”

__ADS_1


***


__ADS_2