Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Pembalasan


__ADS_3

Devan menunggu saat yang tepat untuk menemui Stella. Model internasional itu baru menyelesaikan pemotretan di sebuah hotel. Devan tidak mau datang ke apartemen Stella. Ini pun ia sudah melanggar janjinya pada Qiara untuk tidak menemui Stella.


Sepak terjang mantan istrinya sudah tidak bisa dibiarkan. Ia memang ibu dari anaknya, tapi perempuan itu harus tahu bahwa bagi Devan, ia hanyalah masa lalu.


“Stella …”


“Oh, hi, babe …” Stella diam-diam memberi kode pada asistennya.


“We need to talk.” Devan berkata singkat.


“Oops, I’m in a trouble,” sahut Stella dengan nada menggoda.


“Cut it! Stella, aku tahu kamu yang kasih tahu Thoriq tentang anak Qiara. Aku bisa menduga tujuan kamu. Satu hal yang kamu harus tahu, kali ini aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta Qiara. Kamu dengar itu? Jadi lebih baik kamu stop apapun siasat kamu sebelum itu semua malah merugikanmu.”


Devan berbalik meninggalkan Stella. Pria itu berhenti lalu hanya menoleh sekilas.


“Dan hentikan wartawan gosip murahan suruhanmu itu mengambil foto kita. Dia akan memberitakan seolah-olah kita sedang berkencan. Jika itu terjadi, aku akan beberkan skandalmu dan Nick tujuh tahun lalu. Oh ya, kamu nggak usah memanfaatkan Liam yang akan menjadi korban. Dia akan baik-baik saja. Aku pastikan itu.”


Stella menatap punggung laki-laki yang dulu pernah ia campakkan.


“Kita lihat aja, Dev. Aku akan jadi Nyonya Devan Donavy sekali lagi.”


Stella mengambil hapenya lalu menuliskan pesan.


“Kerjakan perintahku!”


***


Devan membaca pesan dari Qiara.


Dev, besok, boleh nggak aku dan Kala akan ketemu dengan Kakek dan Nenek? Ada Mas Thoriq dan Aira. Tenang aja, Mas Dhanu nemenin aku kok, mumpung hari Minggu.


Matanya bolak balik membaca pesan Qiara. Andaikan ia bisa terbang dan menjaga kekasih hatinya.


Devan membalas:


Ok, Qia. Semoga Kala bahagia ketemu keluarganya. Sayang, jagain cinta buat aku, ya…


Tak lama balasan masuk dari Qiara:


Siap, Devan.


Devan:


Aku serius, Qiara.


Qiara:


Aku dua rius. Meaning: very very serious.


Devan meletakkan hapenya. Lalu memanggil asistennya.


“Doctor Grey, apakah ada skedul kosong minggu depan supaya saya bisa ambil cuti?”


“Maaf Doc, Anda full hingga seminggu sebelum tanggal perkawinan.”


Miris, Devan mengangguk dan mempersilakan asistennya keluar ruangan.


“Semoga kita baik-baik saja, Qia …”


***


Kala menarik tangan Qiara agar jalan lebih cepat. Ia tak sabar bertemu dengan Thoriq dan Aira. Lalu ada kakek dan nenek buyut. Dalam bayangannya kakek dan nenek buyut seperti Dumbledore di cerita Harry Potter.


Dhanu dan Qiara mengikuti dari belakang. Qiara merasa gugup. Dirinya tidak tahu bagaimana Kakek dan Nenek menanggapi dirinya yang menyembunyikan Kala.


Dari jauh, Thoriq melambaikan tangannya.


“Aya …” Seru Kala sambil lari zigzag mendekati ayahnya.


Nenek memegang tangan Kakek, seperti melihat Thoriq waktu masih kecil. Berlari zigzag sambil tertawa lebar. Mata wanita lanjut usia itu mereka berkaca-kaca.


Beberapa meter di depan Thoriq, anak kecil laki-laki itu sengaja berhenti. Thoriq tersenyum melihat keisengan anaknya.

__ADS_1


“Kala, how are you?”


“Aya aya, I’m fine,” jawab Kala berdendang seperti kebiasaanya. Sementara, Aira mengintip dari belakang tubuh ayahnya.


“Adek …” Panggil Kala yang dibalas dengan senyum malu-malu. Sementara Aira masih belum berani berkenalan, Nenek tak sabar mendekati Kala.


“Kala, I’m your great grandmother and this is your great grandfather.” Alis Kala berkerut. Ia kembali lari ke Bunanya langsung minta digendong.


“Buna, Kakek nggak kayak Dumbledore,” bisiknya di telinga Qiara.


“Ganteng mana?” Balas Qiara sambil mencium gemas pipi anaknya.


Kala mengintip Kakek buyutnya lalu kembali bersembunyi di bahu Qiara.


Nenek memerhatikan Qiara lalu membatin, “Maa syaa Allah, Qiara, kamu makin cantik.” Ia lalu menyenggol Thoriq yang tidak berkedip menatap Qiara.


“Assalamualaykum Qiara,” sapa Kakek dan Nenek berbarengan.


“Waalaykumussalam Kakek, Nenek, Mas,” balas Qiara lalu mencium takzim tangan Kakek dan Nenek sementara Kala mengintip malu-malu.


“Kala ayo salam sama semua,” ucap Qiara lembut. Kala lalu turun dari gendongannya dan menyalami satu persatu. Thoriq langsung menciumi anaknya sambil mengenalkan Aira.


“Aira, ini Kala, lalu ini Buna.”


Aira malu-malu mendekati Kala. Tanpa malu-malu Kala langsung menggandeng adik tirinya.


“Main ke sana mau nggak?” Ajak Kala menunjuk arena bermain tak jauh dari tempat duduk mereka. Aira tersenyum lalu mengangguk.


Jika Kala adalah fotocopy Thoriq, maka Aira bagai pinang dibelah dua dengan Hanna.


Sebelum ke arena bermain, Aira menyalami Qiara. Wanita itu berusaha menekan perasaan saat anak mantan madunya memanggilnya lirih, “Buna…”


Qiara melirik Thoriq. “Mas ...?”


“Aku memang mengenalkan Qia sebagai Buna, semoga kamu nggak keberatan.”


Qiara mengangguk lalu membalas salam Aira.


“Ayo, Aira, main …” ajak Kala tak sabar menarik adiknya. Aira lalu tertawa dan lari mendului Kala ke arena bermain. Mereka berlomba sambil tertawa-tawa.


“Biar Mas jaga mereka, Qia. Kamu di sini aja sama Kakek, Nenek, dan Mas Dhanu.”


Thoriq menarik kursi untuk Qiara namun langsung diambil alih Dhanu.


“Kamu jaga anak-anak aja. Nitip Kala, dia suka kelilingan sendiri.”


“Siap, Mas Dhanu. Kek, Nek, Qia, ditinggal dulu, ya.”


Thoriq berjalan menjauh, ia lega harus menjaga anak-anak karena degup jantungnya tidak karuan. Qiara nampak jauh lebih cantik dari saat mereka bersama.


Sambil menjaga Kala dan Aira, laki-laki dua anak itu memerhatikan Qiara. Tak sengaja, mereka bersitatap. Hatinya menghangat ketika Qiara tersenyum padanya.


Sementara Qiara juga tidak sanggup menyembunyikan kenyataan bahwa Thoriq masih menarik seperti saat ia jatuh cinta pertama kali.


Mantan suaminya itu sepertinya sengaja memakai celana khaki dengan atasan polo shirt putih. Dari dulu Qiara sangat suka melihat Thoriq memakai setelan itu.


“Qiara,” desis Dhanu yang tidak suka melihat cara Qiara mencuri pandang ke Thoriq.


Qiara terkesiap. Ada hati yang harus dijaga, ada kesetiaan yang harus dipertahankan, ada janji yang harus ditepati.


Sambil menyantap makanan ringan, Qiara bercakap dengan Kakek dan Nenek. Mereka banyak bertanya tentang Kala. Qiara lalu memberikan pisang goreng yang dibungkus tisue ke Nenek.


“Nek, kalau mau main sama Kala, bisa sambil ditawarin pisang goreng. Dia suka banget. Ini Qia ambilkan juga buat Aira.”


Nenek terenyuh, sikap Qiara yang juga memikirkan Aira, anak dari wanita yang memporakporandakan perkawinannya.


“Qiara, maafkan Nenek.”


Tenggorokan Qiara tercekat.


“Semua sudah berlalu, sekarang kita lihat ke masa depan saja,” sahut Qiara sambil menaburkan gula aren di atas pisang goreng.


“Aira juga suka pisang goreng gula aren. Kok kamu tahu?”

__ADS_1


Qiara tersenyum, “Kesukaan Mas Thoriq.”


Dhanu berdehem, “Qia, ambilin Mas Dhanu juga pake gula aren. Bukan cuma Thoriq kok yang suka.”


Sambil mendelik, Qiara mengambilkan sepiring untuk kakaknya.


Aira berlari mendekat.


“Buna, Aira pengin pipis.”


Nenek mendengar permintaan Aira lalu mendekat.


“Nggak apa, Nek, sama Qiara aja..”


Aira lalu berjalan di samping Qiara sambil menggandeng tangannya. Thoriq mengamati dari kejauhan. Jika orang melihat, mereka tidak akan menyadari kalau Aira dan Qiara tidak ada hubungan apa-apa.


Dari toilet, Qiara mengantarkan Aira kembali bermain. Nenek sudah kembali ke tempat duduknya.


“Makasih, Qia.” Qiara mengangguk ke arah Thoriq lalu hendak kembali ke tempat duduknya.


“Qia, di sini aja ngobrol sama Mas. Mau, kan?”


Ragu-ragu, namun akhirnya Qiara mengangguk. Kala dan Aira sedang asik main perosotan balita.


“Mas, kenapa cerai sama Hanna?”


Thoriq tersenyum. “Karena tidak pernah ada Hanna di hati Mas.”


Mata Qiara menerawang jauh.


“Kita dulu pernah bermimpi punya anak, ya Mas. Sekarang kesampaian, eh malah kitanya yang udah nggak ada hubungan apa-apa.”


“Maafin, Mas, ya Qia. Mas udah sakitin kamu. Walau Mas menyesali perkawinan Mas dengan Hanna, tapi Mas nggak bisa menyesal memiliki Aira.”


“Aira mirip Hanna ya, Mas.”


“Casingnya aja. Sifatnya mirip Mas,” sahut Thoriq tegas. Ia ingat perlakuan Hanna padanya saat dirinya lumpuh. Pria itu merasa jijik dan malu.


“Mas, beberapa minggu lagi, Qia menikah.”


Thoriq memejamkan mata, menahan sakit yang teramat sangat.


“Kalau kamu undang, Mas akan hadir. Jika tidak, maka Mas akan mendoakan kebahagiaan Qia.”


“Qia juga berdoa untuk kebahagiaan, Mas.”


Thoriq tertawa miris.


“Mimpi dan kebahagiaan Mas udah hancur. Sekarang niat Mas adalah melihat anak-anak tumbuh sehat, sholih, dan sholihah …” Thoriq tertegun.


“Kala … Kala dimana?”


Qiara melemparkan pandangan ke seluruh penjuru arena bermain. Hanya ada Aira yang juga sedang mencari-cari seseorang.


“Kala,” teriak Qiara.


Dhanu, Kakek, dan Nenek mendekat.


“Mas Dhanu, Kala nggak ada, kita harus kasih tahu security.”


Dhanu berlari mencari security sementara yang lain mencari Kala. Thoriq langsung menggendong Aira.


“Kakak Kala pergi sama orang di sana.”


Wajah Qiara pucat pasi.


“Maksud Aira?” Tanya Thoriq dengan lembut.


“Kakak ambil bola, terus digendong orang, Aya. Kakak tidur.”


Mendengar penjelasan Aira, lutut Qiara terasa lemas.


“Astagfirullahaladzim …” Air mata membasahi pipinya. Ia bersandar pada Dhanu yang juga terlihat panik. Suasana sangat kisruh. Petugas security berseliweran sambil melakukan koordinasi untuk memantau pintu-pintu keluar.

__ADS_1


Di sebuah minivan, Kala tertidur pulas. Seorang perempuan mengirimkan gambar-gambar ke sebuah nomor telepon. Wajahnya menyeringai kejam.


***


__ADS_2