
Dua hari sudah Kala menghilang. Hati Qiara tercabik-cabik memikirkan anak yang tak pernah lepas darinya kini entah di mana.
CCTV pertokoan tidak bisa menunjukkan pergerakan Kala setelah ia pergi mengambil bola. Thoriq menghubungi temannya di kepolisian yang langsung turun membantu.
“Karena tidak ada permintaan tebusan, kemungkinan besar ini adalah kerjaan sindikat penculikan anak yang sedang kami selidiki. Mereka bekerja profesional. In syaa Allah kami akan bantu temukan Kala,” ucap Ipda Anwar.
Ia melirik Qiara, terbayang wajah istri dan anaknya. Anwar berlutut di depan Qiara.
“Ibu, in syaa Allah kami akan berusaha untuk segera menemukan Kala. Tolong jangan sembunyikan apapun dan ambil tindakan sendiri.”
Qiara mengangguk lemah. Marianne merangkul adik iparnya memberinya kekuatan. Thoriq menatap wajah Qiara yang terlihat pucat.
“Assalamualaykum, Qiara,” sapa Devan yang bari tiba dari Australia.
“Waalaykumussalam, Dev, Kala belum ketemu,” ucap Qiara lemah.
“We will find him, Qia. You just have to be strong.” Devan duduk di samping Qiara menatap wajah calon istrinya.
Thoriq menunduk, tak kuat melihat ada laki-laki lain yang memberi perhatian pada wanita yang masih sangat ia cintai.
Ipda Anwar bertanya pada Devan, “Anda calon suami Bu Qiara? Bolehkah kami bertanya-tanya? Kami perlu mengumpulkan informasi dari orang-orang yang dekat dengan Ibu Qiara dan Kala.”
“Please, anything to help …”
“Apakah ada orang yang mungkin punya masalah dengan Anda atau perusahaan Anda?”
“Company? No. Walau ini terdengar jahat tapi aku takut Stella, bekas istriku ada kaitan dengan hal ini. Sebelumnya, saya Devan Donavy, ini Jack Mc Navy, asistenku, dan pria di belakangnya adalah Mario Hobbart, kepala keamanan perusahaanku yang juga merupakan detektif swasta. Kami sempat melakukan penyelidikan dari Australia dan Mario akan memaparkannya.”
Mario menyalami Ipda Anwar lalu menjelaskan temuannya. “Saat mendengar Tuan Muda Kala hilang, Tuan Devan menyuruh saya dan anak buah menyelidiki Nyonya Stella. Kami memang sudah lama memantau pergerakannya. Dalam waktu dua minggu terakhir, Nyonya Stella dua kali datang ke Indonesia bahkan menemui Tuan Thoriq.”
Mario menunjukkan foto-foto yang diambil anak buah yang mengikuti Stella.
“Nyonya Stella memiliki orang kepercayaan bernama Thomas Edelson, seorang mantan inteligen senior yang memilih kerja di sektor swasta. Sepertinya pergerakan anak buah saya terbongkar sehingga Nyonya Stella dan Tom menghilang dari pantauan kami.”
Mario menyerahkan foto Stella dan Tom ke Ipda Anwar.
“Beberapa minggu lalu, kami melihat anak buah Tom mengintai seseorang bernama Bastian. Ia adalah seorang mucikari. Itu adalah laporan terakhir anak buah kami. Sepertinya Tom mengetahui pergerakan sehingga berhasil membungkam langkah anak buah kami yang sampai sekarang hilang.”
“Bastian Risyad? Kami pernah mencurigainya dalam kasus prostitusi, namun bebas karena tidak ada bukti.”
Qiara mendengarkan penjelasan Mario dengan seksama.
“Qiara, aku akan membantumu untuk menemukan Kala. Jika memang Stella benar ada di belakang ini semua, aku sungguh-sungguh minta maaf telah membawa kesulitan padamu.”
Dengan lemah Qiara mengangguk.
“Aku ingin ke paviliun dulu untuk beristirahat.”
Devan menatap Qiara dengan pandangan kecewa. Ia ingin terus berada dekat tunangannya.
“Qia, Mas akan di sini, kamu istirahat dan terus berdoa, ya,” ucap Thoriq yang dibalas dengan senyum tipis dari mantan istrinya.
Devan melirik Thoriq, terlalu fokus pada Qiara ia tidak memerhatikan ada sosok laki-laki yang pernah menjadi mantan suami tunangannya.
__ADS_1
Setelah Qiara berada di paviliunnya, ia segera membuka hape. Naluri ibu merasa ada yang aneh dari kasus penculikan Kala. Tidak ada pesan masuk.
Qiara segera mengambil wudhu lalu menjalankan sholat sunnah hajat. Dalam doanya meminta pertolongan Yang Maha Kuasa.
Air mata membasahi pelupuk matanya. Teringat tingkah polah Kala setiap selesai sholat bocah kecil itu akan duduk di pangkuannya, sambil memanjatkan doa khas anak kecil. Minta mainan.
Qiara menutup wajah dengan kedua tangan, “Kala, Sayang, kamu harus berani, Allah akan jagain kamu, Buna yakin.”
***
Kala duduk di sudut ruangan. Menatap marah pada orang-orang besar yang sedang asik makan.
“Dek, makan, Oom nggak mau kamu sakit.”
Kala menjebik.
“I want my Buna,” katanya sambil menghentakkan kaki.
“Tenang, kamu akan ketemu Bunamu. Makan dulu, ya…”
Kala menatap sepiring nasi dan chicken nugget yang ada di depannya. Ia tidak ingin makan, hanya ingin berada di pelukan Bunanya.
Air mata mulai membasahi pelupuk yang buru-buru dihapus. Kala tidak mau kelihatan takut. Ia mengingat pesan Bunanya untuk berdoa saat takut.
“Ya Allah, Kala mau ketemu Buna.”
***
Qiara menenangkan hatinya dengan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an ketika sebuah pesan masuk.
Tangannya gemetar. Ia mengambil napas dalam sebelum membalas.
Saya mau bukti Kala bersamamu.
Sebuah foto masuk. Kala berdiri dengan wajah cemberut dengan tangan terlipat di dada. Khasnya jika sedang marah.
Qiara sujud syukur melihat anaknya masih dalam keadaan baik.
“Buna akan temukan kamu, Sayang.”
***
Mario menunjukkan hapenya ke Devan.
“Tanggal 30? Kita harus temukan Kala sebelum tanggal itu,” titah Devan.
***
Thoriq duduk di kantor Ipda Anwar. Ia jengah berada satu tempat dengan calon suami Qiara. Terlebih lagi bekas istrinya yang bernama Stella itu kemungkinan terlibat dalam kasus penculikan Kala.
Anak buah Ipda Anwar masuk, “Lapor, Komandan, nama Sebastian Risyad masuk di dalam daftar orang hilang. Istrinya sudah melaporkan beberapa hari lalu.”
“Selidiki apakah ada hubungan Bastian dengan kasus ini.”
__ADS_1
“Tunggu, Bastian? Sebastian? Apakah ada fotonya?”
Anwar menunjukkan foto Bastian dan Thoriq langsung terkesiap.
“Ini … ini suaminya Hanna, bekas istriku. Bagaimana Hanna bisa berhubungan dengan mucikari seperti Bastian.”
“Apakah ada foto Hanna?”
Thoriq mencari di hapenya. Dia tidak menyimpan fotonya dengan Hanna satu pun. Ia membuka sosial media Hanna.
“Ini Hanna.”
Anak buah Ipda Anwar membuka file laporan dari tabletnya.
“Pelapor bernama Alyssa Darmawan. Alamat di Jl Kenangan III no 16.”
“Tidak mungkin, itu adalah rumah Hanna. Rumah kami dulu sebelum bercerai.”
“Masukkan Hanna Adinda dan Stella Annabelle ke daftar pencarian orang. Juga Thomas Edelson. Kerja sama dengan unit internasional,” perintah Ipda Anwar.
“Laksanakan!”
Thoriq mengepalkan tangannya.
“Hanna, awas jika kamu ada di balik hilangnya putraku,” batinnya geram.
“Thoriq, mantan istri lu apes banget kalau sampe ternyata benar Stella dan Hanna dalang dari penculikan ini.”
“Tadinya gue susah payah menahan marah ke Devan mendengar kemungkinan mantan istrinya terlibat. Tapi sekarang Hanna satunya malah bisa terseret.”
“Semoga ini bisa jadi pelajaran buat lu. Next time lu nikah lagi, jangan sekali-sekali coba membagi cinta. Walaupun untuk memenuhi amanah.”
“Jujur aja, gue nggak pernah mencintai Hanna. Saat itu gue menjebak diri dalam pernikahan kedua. Gue nggak pengin nikah lagi, War. Gue cuman cinta satu wanita yaitu Qiara. Cuma keajaiban kalau gue sampai bisa nikah lagi sama Qia. Biarin aja gue simpan cinta ini sampai mati.”
“Dasar mellow. Udah sana balik. Jagain Aira. Dia pasti bingung. Serahin aja sama kepolisian, in syaa Allah ketemu.”
“In syaa Allah. Thanks ya, War. Gue hutang budi sama lu.”
“Kagak, ini udah tugas gue, Bro.”
Thoriq berpamitan lalu segera pulang ke rumahnya. Tak berapa lama, Anwar mendapat telepon dari Tom.
“Mr Anwar, there’s a development. Sending you a message through encrypted file.”
“Sure, Tom. And call me Anwar.”
Anwar membuka laptop, menyalakan program enkripsi lalu mempelajari file yang dikirim Tom.
“Tom, kita bertemu lima belas menit di kantorku. Alamat sudah kukirim ke nomormu.”
***
Kala berusaha memejamkan mata. Tangannya mengusap pipi yang panas karena tamparan. Ia mencoba kabur ketika hendak ke toilet.
__ADS_1
“Buna, Kala takut. Jemput Kala, Buna.”
***