Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Memaafkan itu …


__ADS_3

Stella sudah dinyatakan sembuh. Kini ia menjadi penghuni sel tahanan. Pengacara berjuang sekuat tenaga agar Stell menjalani hukuman di negaranya.


Bukti-bukti yang diajukan Karel sangat kuat dan tak terbantahkan. Stella bukanlah pembunuh profesional yang dengan jeli menghilangkan bukti-bukti.


Ia bersikeras mengatakan bahwa tindakannya itu dilakukan karena Devan telah mengirimnya ke kamp kerja paksa. Lagi-lagi Karel mengatakan semua yang dikatakan Stella adalah khayalan belaka.


Petinggi badan intelijen itu menunjukkan pindaian melalui satelit sewaktu dan mengatakan kamp yang dimaksud Stella tidak lain adalah ladang kapas biasa. Karena kebetulan negaranya adalah negara penghasil kapas.


Stella putus asa. Ia merasa sendiri. Devan dan Liam tidak pernah menengok walaupun sudah berkali-kali ia memohon melalui pengacara.


Sejak menjejakkan kaki di Australia ia pun tidak berani mendatangi orang tuanya. Sesekali datang untuk melepas rindu dari kejauhan. Kali ini ia memohon pengacara agar bisa bertemu ayah dan ibunya.


“Mommy, Daddy, it’s me Stella,” penuh haru ia menyapa ayah ibunya masuk ke ruang interogasi.


Kedua orang tuanya menatap bengong. Wanita yang memiliki wajah berbeda dengan anaknya tapi suaranya sama dengan suara putri mereka yang pergi entah kemana.


“Stell, darling? Is that really you? Di berita kami mengenalimu sebagai Jasmine Porter,” ucap Mindy, ibunya, dengan ragu. Matanya berkaca-kaca. Ayahnya merangkul pundak ibunya.


“Ini aku, Mommy. Sungguh ini aku,” balasnya lirih, ia tidak tega melihat ibunya menangis.


“Mommy ingat, waktu kecil, Mommy pernah membuatkan aku tutu dengan gliter bunga-bunga kecil? Kita berdansa tiap malam, Mom, aku masih ingat lagu-lagunya. Mulai dari Starlight, Can’t Stop Loving You, dan lagu favorit daddy, Forever Love.” Stella mengenang masa-masa indah dan bahagia.


Air mata tumpah tak terbendung dari netra pasangan setengah baya.


“It’s you, it’s really you, darling.”


Mereka bertiga berpelukan sebelum petugas mengingatkan untuk tidak bersentuhan dengan tahanan.


Ayah Stella, Jason, menatap sedih. Wanita di depannya berwajah tidak seperti anaknya, hanya tersisa sorot mata penuh ketakutan dan kelelahan. Memakai baju tahanan berwarna abu-abu. Rambutnya pendek sementara Stella sangat tidak suka rambut pendek.


“Stella what happened. Kami dengar di berita kamu menembak Jack lalu menyulik Liam dan istri baru Devan?”


Wajah Stella yang sendu berubah menjadi keras.


“Semua gara-gara wanita jelek itu. Ia telah memengaruhi Devan. Siapa sih dia? Devan Donavy tak pantas memiliki istri perempuan biasa.”


“Jadi benar semua yang mereka tuduhkan padamu? Kamu membunuh Jack? Oh my God, Stell … Kita kenal Jack, dia sering mampir minum teh jika sedang ke Wollongong. Terlepas bagaimana hubunganmu dengan Devan, ia tetap menganggap Daddy ini sebagai kawan.”


“Aku datang ke mansion untuk memberi pelajaran kepada Devan dan perempuan itu. Berani-beraninya ia bertindak sebagai ibu untuk Liam, anakku!” Sahut Stella berapi-api.


“Stell, Daddy tidak menyangka kamu bakal bertindak sejauh itu. Bahkan kamu juga terlibat pada penculikan anak Qiara di Indonesia.”


“Tidak bisa dibuktikan. Mom, Dad, ini semua kesalahpahaman. Bantu aku Dad. Ya, aku memang menembak Jack tapi aku tidak berencana membunuhnya. Aku melukai beberapa orang di Afrika karena berjuang kembali ke negara ini. Devan mengirimku ke kamp kerja paksa sebagai pemetik kapas! Aku harus kerja sepanjang hari yang panjang, tidur di ruang isolasi dengan kasur tipis.”


“Sayang, tahukah kamu di TV mereka menayangkan videomu sedang santai di sebuah rumah di Afrika, menikah dengan juragan tambang Brian Mc Fries. Kamu hidup enak di sana.”


“Hidup enak? Mom, Dad, aku jadi peliharaannya di sana. Aku jadi budak **** yang harus melayani keinginan-keinginan anehnya.” Stella teringat hari-hari ia harus mematuhi hasrat tak wajar dari Brian. Apalagi saat ia harus jadi pemuas napsu binatang yang dimiliki James. Tubuhnya bergidig.


Wanita itu menambahkan, “Periksa timeline kedatanganku di Afrika, pasti tidak cocok.”


Kedua orang tuanya menghela napas panjang.


“Sayang, sebelum kami bertemu denganmu, kami sudah bicara dengan pengacara dan Tuan Karel. Mereka sudah membeberkan semua bukti-bukti, dari kedatanganmu di Afrika, telepon maupun video call-mu dengan Liam, bahkan beberapa produser bersaksi mereka memang memperkerjakanmu untuk proyek iklan di sana.”


“What?” Stella menggeleng kuat. Ia sadar bahwa Devan dan Karel telah mempersiapkan jebakan untuknya sejak lama.


“Itu fitnah, Mom, Dad. Percayalah, kumohon. Tidak ada satu proyek pun yang kukerjakan di sana.”


“Tapi dalam video dengan Liam kamu kengatakan di sana untuk kerja.”


“Aku dipaksa, Dad. Untuk kabur, aku memanfaatkan James. Lalu … lalu begitu ada kesempatan, aku melumpuhkannya. Sumpah aku tidak ada niat membunuhnya.”


“Di berita kamu menusuknya berulang kali Stell,” ucap Mindy lirih.


“Stell, pengacaramu berjuang keras agar kamu menjalani hukuman di negeri ini. Kami tidak bisa membayangkan jika kamu di bawa ke Afrika dan menjalani hukuman di sana. Bersikaplah kooperatif.”


Stella menopang kepala dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Kenapa aku jadi pihak yang salah di sini? Aku hanya ingin membangun lagi keluarga dengan Devan dan Liam. Aku berhak mendapatkan kesempatan kedua. Gara-gara bedebah Qiara itu aku jadi tidak mendapatkannya. Apakah Devan tidak memikirkan Liam?” Isaknya meratapi nasib.


“Tapi kamu tidak bisa memaksa Devan untuk mencintaimu lagi. Dan Mommy tidak yakin apakah kamu benar mencintainya atau ada hal lain.”


“Bisa, Mom. Jika aku diberi kesempatan. Devan pernah mencintaiku mati-matian. Aku pasti bisa membuatnya jatuh cinta dan bertekuk lutut padaku.”


“Sayang, sekarang berpikirlah. Kenapa setelah tujuh tahun dan itu karena pertemuan tidak sengaja pula, kamu mengejar Devan? Jika kamu sungguh mencintainya, kamu punya kesempatan untuk kembali sebelum Devan mengenal Qiara. Kamu terobsesi karena tiba-tiba ada wanita lain.”


“Mengapa Mommy bicara seperti itu? Bukankah Mommy selalu mendorong Devan untuk kembali menikahiku? Dan lagi, aku tidak merasa tersaingi dengan Qiara. Aku jauh lebih cantik, dia adalah perempuan biasa. Bahkan asistenku lebih cantik.”


Mindy menggeleng lemah mendengar begitu keras pendapat Stella.


“Benar, karena Mommy mengira ia masih memiliki perasaan. Tapi ternyata tidak. Mommy lihat ia sempat berusaha membuka hatinya, kok. Hanya saja dia tidak bisa mengingkari kalau kamu bukan lagi wanita pujaannya seperti dulu. Kamu meninggalkan Devan di titik terendahnya. Tujuh tahun adalah waktu yang lama untuk membuat orang berubah.”


“Semua gara-gara wanita brengsek itu.”


“Stop Qiara! Daddy tidak mau dengar lagi kamu menyalahkan siapapun. Hal buruk bisa terjadi pada setiap orang. Tidak semua yang kamu inginkan bisa didapat. Sadarlah! Akui kesalahanmu dan memohonlah untuk bisa menjalani hukumanmu di sini.”


“Aku ingin para hakim dan juri melihat sebab semua ini terjadi.”


“Lalu apa Stella? Kamu mau Qiara yang dipersalahkan? Lalu dia dipenjara dan pergi dari kehidupan Devan. Apakah kamu pikir Devan mau melenggang dan menikahimu lagi? Dunia tidak indah seperti khayalanmu. Itu sebabnya kita diberi akal dan nurani untuk memisahkan hal baik yang bisa dilakukan dan hal buruk yang harus dijauhi untuk mencapai keinginan kita.”


“Sayang, setidaknya jika kamu dihukum di sini, kamu masih punya peluang lebih besar untuk bertemu Liam.”


Stella menatap tembok dingin yang membatasinya dengan dunia luar.


“Liam akan mengerti dan membelaku. Mommy tahu? Ia sudah mengenali walau wajah dan suaraku berubah. Ia sering datang ke kantor. Liam akan jadi kunci kebebasanku.”


“Nak, tolong jangan libatkan Liam dalam hal ini. Ia cucu kami satu-satunya dan apapun alasannya kamu sudah membuatnya melihat berbagai hal buruk. Hingga saat ini nama aslimu belum dikeluarkan. Mommy yakin ada campur tangan Devan agar Liam tidak tertekan.”


“Satu-satunya cucu? Hah! Liat saja Mom, aku akan punya banyak anak dari Devan.” Stella tetap keras kepala.


Jason dan Mindy saling menatap dan menghela napas.


“Kalau begitu kami tidak dapat membantumu, Stell. Kami pikir bisa mengubah pendirianmu, tapi kamu sekeras batu.”


“Mommy dan Daddy juga mengajarkan kamu untuk tidak menyakiti orang, Stella. Agaknya kamu lupa akan hal itu. Ayo Mindy, sudah selesai tugas kita.”


Mindy dengan mata berlinang-linang menatap wajah di depannya. Hatinya hancur berkeping mengetahui semua perbuatan anak yang sangat dicintai.


“Sayang, kami akan selalu mencintaimu. Pikirkanlah masak-masak langkah yang akan kamu ambil. Maafkan Mommy dan Daddy yang tidak bisa membantu kamu lebih jauh. Kami akan selalu mendoakanmu, Nak.”


“Hell! Just go, you useless old people.”


Mindy menggigit bibirnya.


“Ayo Mindy. Wanita ini bukan anak kita.”


“Selamat tinggal, Stella,” ucap Mindy berusaha memegang kedua tangan anaknya namun ditepis oleh Stella.


“Pergi!” Desis Stella dengan mata nyalang.


Dengan berat, Jason dan Mindy meninggalkan buah hati mereka satu-satunya.


Setelah keluar dari ruangan interogasi, mereka dibawa ke sebuah ruangan lain.


“Dev, kami sudah membuat Stella mengaku. Tepati janjimu.” Jason langsung menagih janji pada mantan menantunya.


“Ini tiket pesawat sekali jalan ke Hawaii, aku sudah membeli rumah yang cukup untuk kalian berdua. Tinggalah di sana, sesekali datang untuk mengunjungi Liam.”


Dengan lesu Jason menjawab, “Wanita itu bukan Stella. Mungkin Stella pernah hidup di tubuh itu, tapi kini ia bukanlah anakku. Lakukan apa yang harus dilakukan sesuai hukum.”


“Semoga kamu bisa memaafkan Stella. Kami ikut berduka atas kematian Jack dan ibumu. Kami pamit.”


Devan menyalami mantan mertuanya yang memutuskan untuk menjauh dari kegilaan yang dilakukan anaknya. Mereka terlalu kecewa dan tak sanggup menahan malu atas perbuatan anaknya.


Seandainya Stella mau mengakui kesalahannya, mereka pasti mendampinginya. Namun hal itu tidak terjadi.

__ADS_1


Sebuah mobil mengantar Jason dan Mindy ke bandara lalu terbang meninggalkan putri mereka yang meringkuk di lantai dingin penjara.


Dari sebuah ruangan Karel tersenyum puas mendengar rekaman pembicaraan Stella dan kedua orang tuanya.


“Kematianmu akan segera terbalaskan, James. Aku sudah menyiapkan penderitaan tanpa ujung untuk wanita yang telah membunuhmu.”


***


“Hey, kiddo …”


“Hey, Bunna.” Liam bangun dari tempat tidurnya.


“Stay there, Buna juga ingin menikmati galaksi di langit-langitmu.”


Liam kembali merebahkan tubuhnya. Perlahan Qiara ikut merebahkan diri.


“Kala mana?”


“Lagi belajar nulis sama Daddy.” Qiara menatap susunan galaksi di hadapannya. Dulu ia sendiri yang menempelkan satu persatu susunan planet dan rasi-rasinya. Ia tahu Liam sangat menyukai science luar angkasa.


Qiara mempelajari susunan rasi bintang dan planet-planetnya. Padahal saat itu Liam belum bertemu Devan.


Teringat pertengkaran hebat dengan Devan yang tidak ingin kamar ini tetap menjadi kamar Liam. Di kamar ini juga Qiara melahirkan Kala dibantu Devan.


“Buna perutnya masih sakit?”


“Sedikit, tapi normal kok. Namanya juga abis operasi.”


“Abby … Abby kapan pulang?”


“Liam mau bantu doa supaya Abby cepat kumpul sama kita?”


Liam mengangguk. “Kala masih sering bete. Dia pengin adik laki-laki,” ucapnya sambil nyengir mengingat Kala yang selalu menjebik setiap mereka membicarakan Abby.


Qiara hanya tersenyum.


“Buna, aku minta maaf. Gara-gara Mommy, adik Abby lahir prematur. Buna kesakitan, Jack dan Grandma meninggal.”


Qiara menoleh ke arah Liam. Mata anak itu berkaca-kaca, namun sedapat mungkin ditahan.


“Liam, kamu adalah anak baik. Mommy kamu … Mommy kamu sedang hilang arah hingga melakukan hal-hal buruk. Manusia selalu dihadapkan dalam situasi baik yang kita suka maupun tidak. Ingatlah bahwa kita akan selalu punya pilihan untuk melakukan sesuatu. Pilihlah tindakan yang tidak melukai atau menyakiti siapa pun.”


Bulir air mata akhirnya menetes. Liam buru-buru menghapusnya.


“Aku takut nggak bisa ketemu Mommy lagi. Buna, aku tahu Jasmine adalah Mommy sejak pertama jumpa. Aku mengenali kebiasan-kebiasaan Mommy. Waktu ketemu di Perth aku mohon ke Mommy supaya tidak macam-macam, supaya bisa ketemuan terus.”


Qiara sangat mengerti betapa merana hidup tanpa seorang ibu. Saat umur dua tahun ibunya meninggal dunia. Hingga saat ini ia merindukan kehadiran seorang ibu.


“Sekarang aku benci Mommy, Buna. Mommy jahat dan kejam.”


“Liam, Mommy kamu mengambil pilihan yang salah. Tapi bukan berarti kamu harus membencinya. Tak apa jika saat ini kamu kecewa dan marah, tapi berusahalah untuk memaafkan.”


“Buna sudah memaafkan Mommy?” Ais Liam terangkat. Pertanyaan sulit karena Qiara belum sanggup melakukannya.


“Maafkan Buna karena belum bisa memaafkan Mommy kamu.”


“Apa itu artinya Buna juga marah sama aku?”


Kini air mata berderai membanjiri anak berumur delapan tahun yang sedang bingung dan kacau.


“No! Buna nggak terpikir untuk marah sama Liam. Apa yang dilakukan Mommy kamu adalah tanggung jawabnya. Buna nggak akan menyalahkan Liam.”


“Buna … Buna jangan benci Liam. Kala juga jsngan benci Liam.”


“In syaa Allah, sayang.”


“Buna, apakah aku bisa bertemu Mommy?”

__ADS_1


***


__ADS_2