
“Oom Dicky …!” Latifah menghambur begitu melihat pamannya tak jauh dari area imigrasi Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Latifah memeluk erat, wajahnya berseri-seri. Gembira karena baru pertama kali naik pesawat terbang dan ke luar negeri.
“Aku tadi terbang nembus awan, Oom. Terus pesawatnya goyang,” celoteh Latifah bersemangat. Dicky tertawa geli melihat reaksi keponakan yang tidak berhenti bicara tentang pengalaman pertama naik pesawat.
“Ifa, bantu Bu Hanna cari koper, nanti cerita lagi.” Dicky menunjuk ke arah Hanna, Ella, dan Aira yang sedang menunggu di depan conveyer belt.
“Aya!” Kini giliran Aira yang berlari ke arah Thoriq yang sudah tiba lebih dulu dan sudah mengambil bagasi.
Thoriq memeluk Aira erat. Walau sudah pernah ke luar negeri, ini pertama kali Aira berangkat tanpa dirinya.
“Gimana penerbangannya?”
“Bumpy tapi Aira nggak muntah, koq.”
Thoriq mengusap pucuk kepala anaknya. Ia menyapa Ella lalu mengangguk sekilas ke arah Hanna.
Latifah yang bawel dan berani langsung mengatup tangan ke depan dada, memberi salam tanpa bersentuhan kepada Thoriq.
“Ayahnya Aira, ya? Saya Latifah, Oom. Saya ke sini sama Oom Dicky,” ucapnya seraya menunjuk ke arah pamannya.
Dicky datang menghampiri.
“Assalamualaykum, saya Dicky, pamannya Ifah.”
“Waalaykumussalam, Thoriq, ayahnya Aira.”
Sambil menunggu bagasi keluar, mereka berbincang dan meminta para wanita duduk di kursi tunggu.
Ella, Hanna, dan Aira senyum-senyum mendengar Latifah yang tidak habis berceloteh. Pengalaman pertamanya naik pesawat sungguh berkesan.
Setelah bagasi selesai, mereka menuju hotel. Dicky berjalan agak di belakang. Memperhatikan betapa canggung Hanna di hadapan Thoriq dan Aira.
Dicky mendengus, Thoriq yang mendengarnya langsung menoleh dengan tatapan bertanya.
“Oh, maaf, mau bersin,” ucap Dicky sambil menggosok hidungnya yang tidak gatal. Thoriq tersenyum lalu kembali berjalan di samping Aira.
Selama di Malaysia, Thoriq menyewa satu mobil besar yang bisa mengantar jemput mereka semua. Rencananya mereka akan di sana selama tiga hari.
Setibanya di hotel, Hanna mengurus check-in. Thoriq memilih menunggu setelah mantan istrinya selesai baru ia mengurus check-in untuk dirinya.
Ia banyak mengobrol dengan Dicky yang kurang lebih sama seperti Latifah. Bawel.
“Urus check-in dulu, yuk.”
“Mmm, saya nggak menginap di sini, Mas. Tapi kalau boleh saya nitip koper saya di receptionist nanti malam setelah lomba saya ambil.”
Latifah yang mendengar ucapan pamanya berjalan mendekat. Setengah berbisik ia bertanya, “Oom beneran nggak nginep di sini? Terus besok Ifah gimana?”
“Tenang aja, nanti malam kalau Ifah udah masuk ke kamar, baru Oom ke hotel. Besok pagi-pagi Oom sudah di sini lagi.”
Walau masih kecil, Latifah tahu betapa Oomnya berjuang untuk menafkahi mereka sekaligus membayar hutang-hutang ayahnya.
Dengan penuh rasa sayang Latifah memeluk pamannya lalu kembali berbisik, “Terima kasih, Oom. Latifah akan berjuang sebaik-baiknya di lomba supaya menang. In syaa Allah.”
Dicky mencium pucuk kepala keponakannya. “Harus usaha sebaik-baiknya. Ingat pesan Bunda? Eyes on the prize.”
“Siap!”
Dari tempat duduknya Hanna memperhatikan interaksi hangat antara Dicky dan keponakannya. Wanita itu menghela napas lalu melirik Aira yang duduk di sebelahnya dengan wajah datar.
“Andaikan Mama bisa memeluk kamu, Aira, itu akan menjadi saat terindah,” batinnya sendu.
Ella meraih tangan Hanna lalu mengenggamnya untuk memberi semangat.
“Sabar, Nak,” dengan lembut Ella berkata.
“In syaa Allah, Bu. Kita ke kamar aja yuk. Istirahat sebentar sebelum berangkat ke tempat lomba.”
Hanna kemudian mendekati Thoriq dan Dicky.
“Permisi, maaf Pak Thoriq dan Pak Dicky, kami akan istirahat sebentar, kemudian setelah sholat ashar rencananya akan langsung berangkat ke tempat lomba di World Trade Center. Di sana mereka akan mengumumkan waktu lomba untuk tiap peserta.”
Thoriq dan Dicky mengangguk. Latifah menatap pamannya lalu kembali berbisik, “Oom nunggu dimana? Nggak bisa di kamar Ifah karena ada Kak Aira.”
“Tenang, pokoknya Oom selepas Ashar ada di sini.”
“Bisa istirahat di kamar saya kalau mau,” Thoriq menawarkan.
“Terima kasih, Mas. Saya keliling sekitaran sini aja. Sampai ketemu nanti. Assalamualaykum.”
Dicky menitipkan koper ke bell boy kemudian keluar, sementara rombongan Ella ke kamar masing-masing. Thoriq masih di lobby, ia memerhatikan Dicky yang berjalan seperti tidak tahu arah.
Setelah selesai urusan check-in ia berjalan keluar. Dicky sedang berdiri di dekat perempatan sedang melihat hapenya.
“Mas, mau jalan kemana? Saya temani,” ujarnya sambil menepuk pundak Dicky.
“Oh mau jalan-jalan aja. Sekalian cari mesjid dekat sini.”
“Udah makan?”
“Ya sekalian cari tempat makan. Kalau kata gugel di dekat sini ada kedai nasi lemak yang enak. Saya mau coba.”
“Barengan aja.”
“Dari foto, kedainya kecil banget, Mas.” Dicky merasa tidak enak melihat Thoriq yang rapi dan necis pergi makan ke kedai kecil.
“Terus?”
“Ke sini.” Bingung ingin menanggapi apa, Dicky melangkah menuju arah yang ditunjukkan aplikasi peta.
Sepuluh menit berjalan dan dua kali salah belok, mereka tiba di kedai nasi lemak. Siang itu cukup ramai dan mereka harus menunggu sampai ada meja kosong.
Thoriq dan Dicky memesan satu porsi nasi lemak lengkap dengan sambal ikan bilis. Dicky makan dengan lahap. Tiba dari sejak subuh di bandara ia hanya jajan air mineral dan roti manis karena makanan di bandara terlalu mahal.
Ia meneguk teh tawar hangat dengan nikmat. Tidak ada yang perlu dikeluhkan jika saat lapar dan haus masih diberi kelonggaran untuk makan dan minum.
Thoriq makan perlahan. Menikmati suapan demi suapan. Dirinya ingat dulu Qiara pernah mencoba membuat sambal ikan bilis dan wal hasil malah terlalu gosong.
Waktu itu mereka tergelak bersama melihat hidangan yang berwarna kehitaman. Setelah puas tertawa mereka mengambil nasi putih dan makan dengan sambal bilis semi gosong. Sepiring berdua.
Tanpa sadar Thoriq tersenyum mengenang pengalaman manis dengan wanita yang masih menjadi nomor satu di hatinya. Malah satu-satunya wanita yang ada di hatinya.
“Senyum-senyum, Mas? Nanti keselek teri loh,” canda Dicky sambil menyendok sisa nasi di piringnya.
Thoriq tersenyum dan mengangkat alis.
__ADS_1
“Jadi tiap dua minggu bolak-balik Solo-Semarang nengok Aira, ya, Mas?” Tanya Dicky menyingkirkan piring yang sudah licin bersih.
“Betul. Tadinya sempat kepikiran pindah ke Semarang, tapi repot buat pindahin kantor. Mesti cari orang baru lagi.”
“Kata Latifah, Aira punya villa di Dieng.”
“Buat disewa, Mas. Kapan-kapan nginep di sana sama Latifah dan adiknya, maaf siapa namanya?”
“Fatimah, Mas. Terima kasih tawarannya.”
“Pokoknya kapan mau nginap, kabarin aja, nanti saya nggak pasarkan. Ini undangan dari saya jadi free of charge.”
“Maa syaa Allah. Semoga usaha Mas selalu lancar dan berkah. Aamiin.”
“Mas dokter kan? Dinas di rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Enggal Dangan, di kabupaten sebelah pesantren. Saya dokter spesialis kulit dan kelamin. Bu Hanna juga kerja di sana tiap hari Minggu.”
Thoriq mengangguk tidak menanggapi komentar tentang Hanna.
“Maaf, ibunya Latifah dan Fatimah …?”
“Sudah meninggal, mendiang kakak saya termasuk korban kecelakaan bis bersama suami dan putrinya Ustadzah Ella.”
“Innaalillaahi wa innaailayhi rooji’un.”
“Mba Aisya dulu sempat nyantri di pesantren Ustadzah Ella, tapi nggak sampai selesai karena pindah ke Kudus. Kami dari Kudus sebelum pindah ke Semarang.”
Dicky menatap laki-laki di depannya. Hati-hati mengajukan pertanyaan yang sudah lama menggelitik di hatinya.
“Maaf apakah betul Hanna ibunya Aira? Saya kebetulan ada di ruangan yang sama dengan Mas ketika kejadian di perpustakaan waktu pertama masuk pesantren.”
Thoriq minum es teh manis sebelum menjawab. “Benar, Hanna ibunya Aira. Tapi dari Aira masih berumur dua tahun kami sudah berpisah.”
“Nggak nikah lagi?” Dicky bertanya, kini lebih santai.
Entah ada aura apa biasanya Thoriq langsung menutup diri begitu ada yang menanyakan masalah perkawinannya. Tapi sikap Dicky yang terbuka membuatnya ringan menjawab, “Belum ketemu lagi yang cocok.”
Tiba-tiba Dicky merasa sesak, seakan ada beban menghimpit dadanya.
“Oh, belum bisa move on rupanya …” ujarnya menggantung dengan tatapan aneh.
“Bukan sama Hanna, ya,” sahut Thoriq cepat.
Seketika mata Dicky kembali berbinar. Thoriq tersenyum menyadari laki-laki di depannya memiliki perasaan khusus terhadap mantan istrinya.
“Saya ini contoh buruk kehidupan poligami. Sebelum menikahi Hanna, saya sudah menikah dengan Qiara. Saya menikahi Hanna atas permintaan kakek dan nenek. Padahal saya sangat mencintai Qiara. Melihat kakek dan nenek bersimpuh dan memohon, saya tidak sanggup menolak. Lalu begitulah saya menyakiti hati dua wanita.”
Dicky mendengarkan tutur Thoriq dengan mulut ternganga. Selama ini ia mendengar cerita sejenis hanya dari gosipan pasiennya. Ia tidak menyangka pria di depannya adalah contoh nyata dari polemik berpoligami.
“Lalu istri Mas yang pertama? Eh maaf, jadi kepo.”
“Kalau ingat anak laki-laki yang mengamuk di perpustakaan, dia adalah anak saya dengan Qiara. Dulu Qiara meninggalkan saya ketika hamil Kala. Kini mantan istri saya itu sudah menikah dan hidup di London bersama suami dan anak-anaknya.” Dicky bisa menangkap kegetiran dalam nada suara Thoriq.
“Qadarullah … semua sudah tertulis sebagai takdir. Ikhlas ya, Mas.”
“Ya, saya ikhlas. Saya sudah sangat bahagia dan bersyukur bisa membesarkan Kala dan Aira. Terus, Mas sendiri sudah menikah?”
“Belum, nih. Belum berani.”
“Udah ketemu sama yang cocok atau belum?”
“Hanna masih fokus untuk memperbaiki hubungannya dengan Aira.”
“Mas, saya nggak bilang suka sama Hanna, loh,” ujar Dicky gelagapan.
“Nggak usah bilang saya juga udah tahu. Jangan khawatir, saya dan Hanna sudah selesai dari sejak sebelum kami berpisah. Dia jauh berubah sekarang, saya harap Hanna kelak bisa menemukan laki-laki yang cocok dan hidup bahagia.”
“Tumben ada mantan suami berdoa seperti itu. Biasanya berdoa supaya mantannya menderita dan jadi janda sampai mati.”
“Nggak lah, doa baik akan kembali ke kita. Seperti yang saya bilang, antara saya dan Hanna sudah tidak ada apa-apa, jadi tidak masalah buat saya mendoakan seperti itu. Saya hanya berharap Aira mau memaafkan ibunya.”
“Mas udah bantu apa?”
“Saya nggak bisa memaksa Aira untuk menerima Hanna, tapi saya terus mengingatkannya untuk tetap hormat dan tidak berlaku kasar. Aira memiliki sifat seperti Hanna sebetulnya. Keras kepala.”
“Ember. Eh maksud saya, iya betul Hanna memang keras kepala,” ujarnya gemas mengingat Hanna yang tidak memercayainya dan terus menganggapnya sebagai laki-laki cabul.
Terdengar suara adzan dari mesjid di seberang kedai. Keduanya membayar lalu melangkah menuju mesjid untuk menunaikan kewajiban sholat.
***
“The winner for Qur’an Recitation Competition for group of age 10-12 years old is: Latifah binti El-Ibrahim.” Terdengar suara MC menggema di seluruh hall World Trade Center.
Latifah menangkupkan tangan ke wajahnya. Air mata bahagia berlinang. Kemudian ia menyalami Ella dan Hanna, berpelukan dengan Aira, lalu mencari sosok pamannya.
Dicky yang duduk di tribun atas sibuk melambai pada keponakannya. Begitu melihat Dicky, Latifah langsung lari dan memeluk pamannya.
“Alhamdulillah, Oom. Aku menang. Ya Allah.“
“Selamat, Ifa, maa syaa Allah. Oom bangga sama kamu. Makasih ya, Sayang.”
Kamera menyorot ke arah Dicky dan Latifah. Tanpa mereka sadari wajah mereka terpampang di layar besar. Banyak penonton ikut terharu melihat tangis kebahagiaan mereka.
“Miss Latifah please come to the stage with your father.”
Latifah menggandeng Dicky menuju panggung. Di sana ia dipersilakan naik ke podium juara satu. Dicky memandang keponakannya dengan penuh rasa syukur dan haru.
“Mbak, anakmu membanggakan,” bisiknya dalam hati, teringat pada mendiang kakaknya.
MC mendekati Latifah, lalu bercakap dengannya.
“Selamat atas kemenangan Latifah. Saya lihat Adik berjuang keras di lomba ini. Apa yang menjadi motivasi?”
“Pertama, Ibu saya yang sudah meninggal. Paman bilang, salah satu amalan yang tidak terputus bagi orang yang sudah meninggal adalah doa anak sholih dan sholihah. Saya hanya ingin jadi anak sholihah supaya doa-doa saya sampai kepada Bunda.”
Ruangan mendadak hening. Semua terharu mendengar jawaban jujur dari seorang anak yang berjuang untuk bundanya agar terus mendapatkan amalan.
Setelah menguasai emosinya, MC melanjutkan, “Maa syaa Allah. Salam takziah, saya ikut mendoakan Bundamu diberi nikmat kubur sebanyak-banyaknya. Aamiin. Lalu apa motivasimu yang kedua?”
“Ayah. Saya berharap Ayah melihat dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Ifah, rindu, Yah …” Raut muka Latifah berubah sendu. Begitu pula wajah MC yang terkejut mendengar penuturan Latifah.
Latifah melanjutkan sambil menatap Dicky, “Motivasi ketiga adalah Paman yang berjuang buat saya dan adik. Latifah nggak tau akan kemana jika Oom Dicky tidak bersedia menampung kami setelah Bunda meninggal. Terima kasih ya, Oom.”
Dicky menghampiri Latifah lalu memeluknya erat. Dirinya mengerti di balik senyum kebahagiaan keponakannya tersimpan rindu teramat sangat untuk kedua orang tuanya.
Ruangan kembali hening, semua terharu melihat paman dan keponakan yang sedang berpelukan. Entah siapa yang memulai, seisi auditorium kemudian berdiri dan memberikan applause untuk Latifah.
__ADS_1
Aira ikut bertepuk tangan dengan keras. Hatinya tercubit mendengar penuturan Latifah tentang kedua orang tuanya.
Ia melirik ke Hanna yang sibuk mengabadikan momen Latifah di podium sambil sesekali mengusap air mata karena terharu.
Kemudian Aira menoleh ke arah ayahnya yang berada di tribun atas sedang bertepuk tangan memberikan semangat untuk Latifah dan Dicky.
“Setidaknya kedua orang tuaku masih hidup …” Gumamnya sambil kembali melihat ke arah Hanna.
***
Aira duduk di tepi kolam renang. Di malam hari, sinar lampu memantul dari air biru yang tenang. Malam itu cerah sekali, bintang-bintang bertaburan.
“Kak Aira kok ngelamun?” Sapa Latifah yang rupanya melihat Aira duduk di tepi kolam dan memutuskan untuk menyusul.
“Nggak ngelamun, lagi cari tenang, besok aku lomba.. Doakan, ya. Aku pengin juara kayak kamu.”
“In syaa Allah …”
“Ifah, aku kepikiran ucapan kamu tadi tentang ibumu. Pasti kamu kangen, ya.”
“Maaf, Ifah bikin Kak Aira kangen mamanya juga ya? Tadi tuh Ifah mendadak kangen banget sama Bunda. Kangen dipeluk sama Bunda. Kalau bisa sekali aja Ifah ketemu lagi sama Bunda …” Latifah pernah mendengar cerita bahwa Aira pun sudah ditinggal ibunya untuk selamanya.
“Dulu Ifah pernah marah nggak sama Bunda?”
“Pernah banget, bahkan waktu Bunda pergi sama rombongan, Ifah lagi marah karena nggak mau Bunda pergi. Nyesel banget. Bahkan Ifah nolak waktu Bunda mau cium. Sekarang udah nggak bisa lagi. Ya, Kak Aira tau kan rasanya … Nyesek.”
Aira mengangguk, walau Thoriq adalah ayah yang luar biasa, namun terkadang ia membayangkan rasanya punya ibu yang selalu ada untuknya.
Tangan Aira memainkan air kolam. Dengan lirih ia berkata, “Mamaku belum meninggal. Aku bohong. Mamaku pergi waktu aku masih kecil. Sejujurnya aku nggak ingat kapan aku mulai marah sama Mama. Tapi yang jelas, saat aku ketemu, semua kekecewaan kayak meluap gitu, Fah.”
Latifah terbelalak.
“Jadi … jadi ibunya Kak Aira masih hidup? Terus Kakak nggak mau ketemu gitu? Kak, ayahku minggat waktu adikku lahir. Aku marah sama Ayah, tapi kalau aku punya satu aja kesempatan untuk ketemu, aku akan peluk dia, aku akan maafin dan memohon agar Ayah nggak pergi.”
Air mata menetes ke pipi Latifah.
“Entahlah, aku nggak sepemaaf itu, Fah.”
“Jangan sampai nyesel kayak aku, Kak.”
Aira menoleh ke gadis kecil di sampingnya lalu merangkul pundaknya.
“Kakak usahakan. Sekarang tidur, yuk.”
Mereka pun berjalan menuju kamar dalam diam. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
***
Dua hari Aira bekerja keras dan sebentar lagi juri akan mengumumkan siapa yang mendapatkan nilai tertinggi. Lawannya bagus-bagus. Mereka melafadzkan ayat-ayat suci dengan merdu dan sempurna.
Tangan Aira meremas tangan yang lain. Kebiasaannya saat gugup.
“Tenang, Ai, semoga kamu menang,” bisik Hanna yang duduk di sebelahnya.
Aira mengangguk namun tidak berkata apa-apa. Hanna menatap anak gadisnya dengan penuh kebanggaan. Berkali-kali ia mengucap syukur karena Allah masih memberinya seorang anak yang shalihah.
Bacaan Aira sangat merdu dan penuh penghayatan. Walau Hanna tidak memahami artinya, tapi saat mendengar Hanna membacakan ayat-ayat Qur’an, hatinya bergetar.
MC mengumumkan pemenang kedua dan ketiga. Hati Aira ciut karena mereka adalah yang paling bagus menurutnya. Sementara dirinya membuat beberapa kesalahan.
“And the winner for The Qur’an recitation is … Kamelia Aira Putri Thoriq!”
Aira bergeming di kursinya. Thoriq bersorak dan memanggil Aira. Ustadzah Ella dan Latifah menepuk pundak Aira. Hanna diam-diam menangis terharu, tak berani menyentuh anaknya.
Tersadar, Aira bangkit lalu mendatangi ayahnya.
“Aya, aku beneran menang? Aku nggak salah denger?”
“Bener, Sayang. Aya bangga, Ai.” Thoriq memeluk erat putri satu-satunya.
Seperti Latifah, MC mengundang Aira dan Thoriq ke panggung. Aira naik ke podium. Dari sana, ia bisa melihat jelas ibunya mengambil gambar dan berulang kali memeluk Ella untuk melupakan rasa gembira dan lega.
Ia tidak bisa melihat wajah ibunya, tapi bisa merasakan kebahagiaan Hanna. Saat itu hatinya bergetar.
MC bertanya apakah yang ingin disampaikan untuk orang-orang tersayang.
“Bismillaahirrahmanirrahiim. Buat Aya yang sudah menjadi dunia buat Aira. Terima kasih karena sudah mengijinkan Aira masuk ke pesantren. Kemenangan ini Aira persembahkan untuk Aya.”
Thoriq tersenyum, kebahagiaan membuncah diiringi rasa syukur yang mendalam.
“Buat siapa lagi?” Sambung MC.
Hanna tercekat.
“Buat Aya aja,” jawab Aira menatap datar ke MC.
Hanna menunduk sedih.
“Untuk Mama, Aira minta maaf. Aira … Aira ingin Mama ada di panggung menemani Aira.” Suara Aira bergetar. Auditorium mendadak hening.
Hanna mendongak. Matanya membulat, mulutnya ternganga. Ella langsung menepuk dan menyuruhnya segera ke panggung.
Masih belum bergeming tiba-tiba Aira sudah berada di depan Hanna. Kamera memyorot ke keduanya.
“Ma, maafin Aira. Jangan pergi lagi, Aira kangen …”
Hanna memeluk Aira dengan erat. Air mata mengalir tak terbendung. Ibu dan anak yang sudah berpisah lama itu saling berpelukan.
“Mama yang minta maaf, Sayang. Terima kasih, terima kasih untuk momen terindah dalam hidup Mama.”
Hanna terus memeluk Aira, begitu pun anaknya. Dibalik kemarahan dan kekecewaan Aira, tersimpan rasa rindu pada sosok mama yang selama ini menghilang.
Dari atas panggung Thoriq tersenyum, “Alhamdulillah …”
MC mengundang Aira untuk berfoto dengan kedua orang tuanya. Karena sudah berpisah, Thoriq dan Hanna bergantian menempati posisi di samping Aira.
Hanna masih tidak bisa memercayai ketika Aira menggandengnya saat berfoto. Air mata terus mengalir. Ia menggengam erat jemari putrinya.
Dari atas tribun, Dicky ikut bersyukur Aira akhirnya bisa menerima Hanna. Tak sadar, Latifah menghampirinya.
“Oom, ternyata Kak Aira anaknya Bu Hanna. Seneng banget masih bisa pelukan sama mamanya.” Walau mengucapkan dengan tersenyum, Dicky tahu keponakannya sedang merindukan ibunya.
“Sini duduk sebelah Oom. Ifah kangen Bunda? In syaa Allah sekarang malaikat lagi membisikkan kebaikan di telinga Bunda karena kamu dan Fatimah adalah anak-anak yang sholihah.”
Dicky merangkul Latifah. Keponakannya kembali melayangkan pandangan ke arah Hanna dan Aira.
Tiba-tiba hati Dicky berdenyut ketika melihat Hanna dan Thoriq bercakap walau hanya sebentar.
__ADS_1
***