Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Bikin Anak


__ADS_3

“Udah siap? Sini aku pasangin cadarnya.”


Setiap hari setelah menikah, Dicky-lah yang memasangkan cadar sambil mengatakan bahwa kecantikan Hanna adalah miliknya seorang. Kalimat sederhana yang membuat hati Hanna berbunga-bunga.


Mereka sedang berada di Yogya selama tiga hari. Menginap di sebuah villa mungil dan sederhana di daerah Bantul. Villa bernuansa kayu-kayu dengan pemandangan belakang menghadap sawah menjadi saksi betapa Dicky dan Hanna tidak kenal lelah dalam bercinta.


Dicky yang lebih sering meminta jatah. Pria itu seperti punya tenaga lebih untuk melakukan olah raga kasur bersama Hanna. Beberapa ronde dalam semalam.


Terkadang mereka keluar untuk bermain sepeda dan wisata kuliner. Dicky memboncengkan Hanna yang sebetulnya juga ingin naik sepeda sendiri.


“Nggak boleh, kamu harus diboncengin sama aku.”


Hanna pasrah saja lalu duduk menyamping, tangannya memeluk pinggang Dicky. Sesekali mereka menyewa motor untuk wisata kuliner ke kota Yogya. Mulai dari lesehan hingga menyicipi gelato.


Bulan madu mereka sangat sederhana, namun keduanya sangat mensyukuri dan menikmati momen mereka saling mengenal.


Di atas ranjang, mereka belajar mengenali tubuh pasangan masing-masing. Menjelajahi titik-titik sensitif yang bisa seketika membuat tubuh mereka meremang.


Setelah melewatkan hari-hari di Yogya, sesuai janjinya, Dicky membawa Hanna untuk mengunjungi Kakek dan Nenek di Solo.


Mereka naik kereta dan turun di Stadiun Balapan. Hanna menghirup udara kota kelahirannya. Sejak menikah dengan Thoriq, ia tidak pernah menginjakkan kaki di kota itu. Bahkan ziarah ke makam kedua orang tuanya pun belum pernah.


Dicky mencari taksi online dan dalam 20 menit mereka sudah masuk ke kompleks perumahan tempat tinggal Kakek dan Nenek.


Hanna tidak banyak bicara. Rumah masa kecilnya berseberangan dengan kediaman Kakek dan Nenek. Masa kecilnya sangat bahagia bersama kedua orang tuanya. Memasuki masa remaja ia jatuh cinta pada Thoriq.


Tanpa sadar perasaannya menjadi obsesi dan awal dari kesalahannya. Satu-satunya yang ia syukuri adalah hadirnya Aira walau ia terlambat menyadari.


Ia menoleh ke belakang melihat rumah orang tuanya yang masih terlihat rapi.


“Apakah rumah itu sudah dijual?” Batin Hanna sambil menunggu seseorang membukakan pintu.


Ia melihat mobil Thoriq di pekarangan rumah Kakek. Tak lama, Kala muncul sambil membawa kunci dan membukakakan pintu gerbang.


“Assalamualaykum,” sapa Dicky ramah.


“Waalaykumussalam, Oom, Tante, silakan masuk,” balas Kala sambil mencium takzim punggung tangan Dicky dan mengatup tangan di dada untuk Hanna.


Mereka menemui Kakek, Nenek, dan Thoriq yang sedang ngobrol di teras belakang. Dicky menyalami satu persatu sementara Hanna malah nampak canggung dan kaku berada di rumah itu.


Berbeda dengan Hanna, suaminya justru terlihat santai. Bahkan terhadap Thoriq dan Kala. Mereka mengobrol layaknya teman yang sudah lama kenal.


Kakek bertanya mengapa Dicky memilih spesialis kulit dan kelamin.


“Sejujurnya, saya ingin masuk ke ongkologi. Ibu saya meninggal karena kanker. Spesialis yang sekarang ini karena alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa. Tapi setelah terjun ternyata saya bisa membantu banyak orang. Saya sedang menangani kasus luka bakar dan sudah menjalani transplantasi kulit. Pasien meneruskan perawatan dengan saya dan kini sudah delapan puluh persen sembuh.”


“Aku juga mau jadi dokter, Oom. Ayah tiriku juga dokter spesialis obgyn. Waktu aku lahir, Daddy yang tolong, padahal waktu itu masih lumpuh. Kata Daddy, Bunaku melahirkannya darurat sekali, di atas karpet dengan peralatan seadanya.” Kala berkata dengan polos tak menyadari ceritanya membuka lagi rasa sesal di hati Thoriq, Hanna, serta Kakek dan Nenek.


Hanna menunduk. Sementara Qiara melahirkan dengan kondisi darurat, waktu itu ia malah bertingkah bak sosialita saat melahirkan Aira. Menghabiskan uang untuk dekorask kamar yang tak perlu bahkan menyewa fotografer untuk agar kelahiran anaknya bisa dijadikan konten sosial medianya.


Dicky tak menyadari perubahan sikap istrinya, ia lanjut bertanya, “Oh, maa syaa Allah. Pasti Daddy kamu punya dorongan yang kuat untuk menyelamatkan Buna.”


“Padahal mereka belum menikah, bahkan menurut cerita, Daddy dulu habis marah-marah sama Buna yang masih bekerja sebagai interior desainer.”


“Bunamu bekerja waktu hamil besar?” Dicky menyeplos ingin tahu.


“Yah namanya orang perantauan dan hidup sendiri, Oom. Berjuang demi susu anaknya setelah lahiran,” seloroh Kala tanpa maksud membuat hati Hanna dan Thoriq semakin ciut.


“Oom ingat beberapa waktu lalu ada ada dokter obgyn terkenal dari Inggris mampir di rumah sakit pinggiran Semarang. Oom mau menemui, tapi pas ke sana, beliau sudah pulang.”


“Itu Daddy aku!” Pekik Kala semangat.

__ADS_1


“Kamu anaknya Dokter Devan Donavy?”


“Anak tiri. Buna menikah sama Daddy setelah aku lahir. Aku anak Aya.”


“Wah, walau kami berbeda spesialis tapi Oom juga suka baca jurnal-jurnal yang ditulisnya. Jadi kamu mau ikut Daddy kamu jadi dokter. Lalu mau kuliah di sini?”


“Rencananya, aku sampai lulus SMA di Solo, lalu kuliah kedokteran di Jerman. Aku pengin jadi dokter anak karena suka anak kecil dan pandai mendongeng. Tapi aku juga mikir kalau aku ke Jerman, kasihan Aya sendirian. Moga-moga nanti Aira mau kuliah di Solo, jadi ada yang jagain Aya. Kecuali Aya nikah lagi sih …”


“Ck, Kala …” Thoriq melirik anaknya dengan gemas.


“Nah itulah! Nenek sudah bujukin Thoriq buat nikah, tapi tetep aja dia kekeuh pengin jadi duda lapuk.” Seperti dugaan Thoriq, bagai kompor minyak, Nenek langsung menyambar.


Thoriq tertawa miris sambil mendelik ke arah Kala yang terkekeh. Biasanya urusan bakal panjang. Kemudian Thoriq harus mau menemui calon-calon yang tidak pernah habis disiapkan Neneknya.


Hanna melirik Thoriq. Berada di sana, gelombang penyesalan menghantamnya bertubi-tubi. Dari polemik dirinya, Thoriq, dan Qiara, hanya mantan suaminya yang belum menemukan kebahagiaan.


Dicky menggenggam tangan Hanna, ia tahu istrinya sangat menyesal hadir di antara Thoriq dan Qiara.


Sementara Thoriq yang malas memperpanjang masalah perjodohannya, segera mengalihkan perhatian.


“Kek, tadi ada yang mau disampaikan ke Hanna?”


Kakek tersenyum mengerti taktik cucunya, lalu berkata, “Hanna, kami bermaksud menyerahkan kembali rumah orang tuamu. Selama ini Kakek dan Nenek merawatnya dengan baik. Kami tidak berani menyewakannya apalagi menjual.”


Hanna menaikkan alis. “Hanna pikir rumah sudah dijual …”


“Tidak mungkin, Hanna. Hanya kamu yang bisa menjual rumah itu karena ibumu sudah mengganti sertifikat atas namamu,” jelas Kakek lagi.


Hanna tercenung, Kakek lalu melanjutkan.


“Ada satu lagi. Alhamdulillah perusahaan ekspedisi Kakek dan ayahmu makin berkembang. Walau sempat terpuruk namun sekarang sudah maju pesat. Ayahmu masih punya saham di sana, sehingga tiap pembagian dividen kami setorkan ke rekeningnya.”


Hanna bergeming, otaknya masih mencerna.


“Tidak apa, Kek. Sungguh, Hanna sama sekali tidak berpikir ke sana.”


“Ini semua dokumen terkait rekening ayahmu dan surat-surat untuk mengurus penutupannya. Dan dalam map ini ada sertifikat tanah dan bangunan rumahmu. Serta ada aset berupa tanah di pinggiran Solo.”


Hanna menerimanya dengan ragu.


“Terima kasih, Kek. Entah kenapa Hanna seperti merasa tidak berhak atas ini semua.”


Nenek menjawab, “Kamu berhak, Hanna, semuanya adalah peninggalan orang tuamu. Gunakanlah untuk membangun hidup dan lembaran baru bersama suamimu.”


Hanna menoleh ke Dicky untuk minta pendapatnya.


“Pikirkan dulu bagaimana yang terbaik, Hanna. Yang jelas kamu harus berterima kasih karena Kakek dan Nenek telah menjaganya selama ini.”


Hanna bangkit lalu menyium takzim tangan Kakek dan Nenek.


“Terima kasih, Kakek dan Nenek. Hanna terharu padahal banyak sekali kesalahan yang Hanna buat untuk keluarga ini.”


“Semua sudah berlalu. Sekarang, jadilah istri sholihah untuk suamimu. Melangkahlah dengan niatan yang baik.”


“In syaa Allah, Kek.”


***


Hanna dan Dicky telah kembali ke rumah kontrakan mereka. Hanna sedang menggoreng tape kesukaan suaminya. Secangkir kopi juga sudah disiapkan. Ini adalah hari terakhir mereka mendapatkan cuti.


Sambil menikmati angin sore yang semilir, mereka menggelar tikar di teras lalu menikmati kudapan tape dan minuman hangat.

__ADS_1


“Mas, mengenai peninggalan Ayah dan Ibu. Hanna mau minta pendapat Mas.”


Dicky mengangguk sambil mengipas tape yang masih panas.


“Aku pikir, rumah lebih baik dijual. Selama ini pasti Kakek dan Nenek mengeluarkan biaya cukup besar. Lalu penjualannya ditabung atas nama Aira.”


“Setuju, itu ide bagus. Bekal buat Aira, ya.”


Hanna mengangguk, ia melanjutkan, “Aku yakin Mas Thoriq sudah menyiapkan, tapi kalau kamu setuju, aku ingin juga membekali Aira.”


“Sayang, Mas nggak ada hak untuk setuju atau tidak setuju. Semua yang kamu peroleh adalah rejeki dari orang tuamu. Mas nggak akan ikutan utak-utik.”


“Tapi Hanna pengin pakai tabungan yang di rekening untuk membayar hutangnya Mas. Sisanya masih ada tabungan buat kita juga, kok.”


“Wah makasi. Tapi nggak usah. Itu adalah hutang kakak iparku. In syaa Allah Mas masih bisa lunasin walau menyicil.” Dicky kini menyantap tape buatan Hanna dengan lahap.


“Mas … please, mau, ya?”


“Nggak mau, Hanna. Semua asset itu semua milik kamu. Sedangkan hutang Ibrahim adalah tanggung jawab Mas. Udah jangan dibahas lagi. Sini buka mulutnya, Mas mau suapin.”


Hanna patuh, ia menyibakkan cadar lalu membuka mulut, dan menerima suapan dari suaminya.


“Enak kan? Kamu gorengnya pas. Aku suka yang kayak gini. Aaak lagi,” ucap Dicky sambil memberikan suapan lagi ke istrinya.


Sambil merasakan legitnya tape, Hanna berkata, “Mas, mmm kalau misalnya uang itu Hanna pakai buat bikin panti asuhan gimana? Kita bisa bangun di tanah ayah. Untuk pengelolaan, Hanna bisa kasih proposal ke yayasan pesantren.”


“Maa syaa Allah, itu ide bagus, Sayang. Aku setuju, nanti pas liburan sekolah, kita ajak anak-anak nginep di panti asuhan.”


“Wah bener, itu, Mas. Biar melatih empati mereka, ya.”


“Sayang, dengan uang yang kamu punya, apakah masih mau hidup seperti ini? Karena baru seperti ini yang aku bisa kasih ke kamu.” Dicky berkata lirih sambil menatap Hanna.


“Mas, Hanna nggak keberatan. Dulu, Hanna pernah punya rumah mewah, tapi nggak ada ketenangan di dalamnya. Cita-cita Hanna adalah membangun keluarga sakinah, mawadah, warahmah sama Mas Dicky.”


Dicky tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Hanna.


“Mas akan terus berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kamu dan anak-anak kita. In syaa Allah.”


“In syaa Allah, Mas.”


Mata Dicky mulai berkabut melihat Hanna yang asik mencuil-cuil tape. Ia menggigit bibir menahan gemas.


“Sayangku, masih banyak waktu sebelum maghrib, bikin anak, yuk.” Dicky tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alis.


“Mas Dicky, ngomongnya deh …” Hanna memukul lengan suaminya dengan manja.


“Aah sama aja, mau bilang make love juga akhirnya bikin anak, kan? Yuk, besok-besok kalau udah kerja kan cuma bisa dari malem sampe pagi doang.“


Hanna berbenah sambil tersipu. Dicky membantu sambil sesekali memberikan kecupan ke kening istrinya.


Sambil membawa masuk piring dan cangkir, Hanna bertanya, “Mas jadi setuju sama rencana Hanna, ya.”


Dicky melepas cadar Hanna. “Setuju dong, eh nggak ding. Aku baru setuju kalau kamu kasih yang itu dua kali.”


“Kasih apa?”


“Yang ***-*** itu, yang aku suka.”


Wajah Hanna berubah merah padam. “Iyaa nanti Hanna kasih. Bismillah besok Hanna mulai bergerak buat jalanin rencana, ya …”


Dicky tersenyum lalu menggandeng istrinya ke kamar. Ia sudah membayangkan kenikmatan yang akan didapatkan dari istrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2