Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Terbuka


__ADS_3

Di meja makan rumah orang tuanya, Devan hampir tidak menyentuh makan malamnya.


“Makan dong, Dev. Sini aku bantu potongin steak-nya.”


“I’m good, Stel.”


Stella lalu sekilas mencium pipi Devan.


“Phil, Dian, minggu depan Liam ada pertunjukan piano. Dia akan main piano tunggal, kalian datang ya.”


“Wah, pastinya,” sahut Phil antusias. Segala sesuatu tentang Liam akan menjadi prioritas baginya.


“Coba kalau kita sudah menikah, kita bisa tinggal bersama, kan?” Stella memancing orang tua Devan agar mendesak anaknya.


Dian memandang anaknya yang seperti sedang melamun.


“Kami orang tua ikut bagaimana keputusan Devan,” balasnya sambil tersenyum pada Devan yang menatapnya heran.


Stella terkejut mendengar jawaban Dian. Biasanya Phil dan Dian akan mendesak Devan.


“Aku hanya memikirkan Liam. Kasian saat aku harus di Melbourne bersamamu, dia di Wollonggong bersama kakek neneknya karena harus sekolah.”


“Liam bisa pindah ke Melbourne,” balas Devan.


Stella terbelalak. “That’s a great idea. Sepulang dari Brisbane, kita bisa tinggal bersama lagi di mansionmu.”


“Maksudku, Liam bisa pindah ke Melbourne dan tinggal bersamaku. Jika kamu ingin tinggal di kota yang sama, maka kamu bisa memakai apartemen.”


“What? No! Liam harus tinggal bersamaku. Jika aku tidak boleh tinggal di mansion, maka Liam juga.” Stella bicara dengan nada keras.


“You know, Stella, I think you should take it easy. Kalian tujuh tahun berpisah, pasti perlu waktu untuk menyatukan rasa. Devan sudah berubah, kamu pun juga begitu. Berikan waktu,” timpal Phil dengan bijak, membuat Devan semakin heran dengan sikap orang tuanya.


“Tapi Liam perlu kami berdua,” sahut Stella keukeuh.


“Benar, itulah kenapa apapun sebabnya, perceraian itu pasti memindahkan luka kepada anak,” balas Dian yang membuat Stella menatapnya heran.


Phil menyambung, “Stel, berilah waktu buat anak kami. Tentang Liam, Devan juga sedang mengajukan hak asuh bersama.”


“What? Devan kamu nggak usah ajukan itu. Kita menikah saja semua sudah beres. Devan, aku mencintaimu. Aku tahu kamu juga masih cinta, untuk apa …”


“Am I? Benarkah aku masih mencintaimu?”


“Dev, you’re joking, right? Okay, okay, aku nggak mau berdebat. Aku harus terbang ke Brisbane, kita bicara setelah pekerjaanku selesai, okay.”


Stella kemudian berpamitan. Di dalam mobil yang menjemputnya ia berteriak, membuat supir hampir terkena serangan jantung.


“Brengsek kamu, Devan!”


***


Devan menghirup kopi favorit yang dibuatkan Jack. Kedua orang tuanya duduk di sofa diam-diam memerhatikan anak mereka.


“Kamu bisa cerita apa saja padaku dan ayahmu. Kamu tahu itu, kan?” Dian berpindah dan duduk di samping Devan.


Tangannya memegang tangan putranya.


“We know what happened back then. Bukan kamu yang membuat Stella pergi. Maafkan kami telah berpikiran buruk dan menyalahkanmu selama ini.”


Devan menatap ibunya dengan pandangan tak percaya.


“Aku nggak mengerti kenapa kamu tidak cerita pada kami, Dev? After all this time …” Sambung Phil.


“Aku nggak sanggup, Dad. Harga diriku hancur rasanya, pria lumpuh yang tidak bisa menjaga cinta istri. Sementara setiap hari aku bahagia, Stella ternyata menganggap perkawinan kami adalah sebuah kesalahan.”


Mata Devan menerawang penuh kepedihan.


“Malam itu aku bertekad menghapus Stella dari kehidupanku. Kebodohanku adalah mengabaikan Liam. Aku masih memendam cinta pada Stella hingga saat ia menikahi Nick, aku benar-benar tidak mau tahu tentang Liam. Baru setelah hatiku tertata, aku membayar orang untuk mengawasi Liam juga Stella.”


“We knew you hired Lucas. Mom dan Dad mendengar semua darinya. Jawab Devan, apakah kamu mencintai Stella?”


“Aku pernah mencintainya begitu dalam. Saat ini, aku tidak merasakan apapun. Jika aku bersamanya, aku … aku sedang menebus kesalahanku pada Liam. Dia sangat ingin kami … dia sangat ingin kami bersama. Haruskan aku menikahi Stella padahal aku tidak lagi mencintainya, Mom?”


“Dev, apakah ada orang lain di hatimu?”


Mata Devan berkaca-kaca. Segera dihapusnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Devan tidak menjawab ibunya.


“Is she Qiara?” Tanya ibunya lagi.


“Mom, please don’t do anything to her. Dia sudah sangat menderita, aku tidak ingin masalahku berakibat padanya.”


“Dev, maafkan Daddy yang dibutakan kasih sayang kepada Liam sehingga minta Qiara dicopot dari proyek-proyek perusahaan kita. Daddy begitu ingin kamu kembali pada Stella. Memberikan Liam keluarga yang utuh.”


“Kami baru tahu bahwa Qiara juga dicopot dari proyek-proyek lain sehingga kehilangan pekerjaan. Tapi itu bukan kami yang melakukan, Dev. Mommy harap kamu percaya.”


“Aku tahu itu perbuatan Stella, Mom. Aku mendatangi pemilik properti. Aku bisa saja memaksa para pemilik properti untuk memperkerjakan Qiara, tapi apa yang akan dilakukan Stella? Satu-satunya jalan adalah aku menikahinya, padahal aku tidak mencintainya lagi. What have I done, Mom? Qiara bahkan tidak pernah mengatakan apapun. Ia tidak membalas telepon maupun pesanku, bahkan saat berjumpa ia selalu menghindar. ”


Dian menghela napas.


“Mommy yang memintanya. Qiara adalah wanita baik, rumah tangganya kandas karena kehadiran wanita lain. Mommy yakin ia tidak mau mengganggu hubunganmu dengan Stella. Ia tidak mau Liam mengalami hal seperti anaknya. Mommy yakin … mommy yakin dia mencintaimu.”

__ADS_1


Devan mendengus. “How do you know?”


“Kehebatan yang hanya dimiliki wanita. Kami melihat dengan mata dan hati. Dev, Mommy dan Daddy tidak melarang jika kamu ingin bersama Qiara. Mommy hanya berpesan, berpikirlah bijak karena apapun yang orang tua putuskan, pasti berimbas pada anak.”


Phil memegang pundak anaknya. “Kamu berhak bahagia, Dev. Jika Qiara adalah wanita pilihanmu, kami akan dukung.”


Air mata jatuh dari sudut mata Devan.


“Terima kasih, Mom, Dad …”


“Drama banget, pake nangis. Udah tua masih cengeng,” ucap Dian sambil mengacak rambut anaknya. Matanya menghangat melihat sorot mata Devan yang mulai berbinar.


***


“Jer, aku mau diajak kemana?”


“Best spot in Melbourne. Awas jangan ngintip.”


“Kamu bukan psiko yang tiba-tiba nyulik aku, kan?”


“Ih ogah, makannya banyak.”


Qiara membuka matanya, mulutnya siap meneriaki Jeremy. Namun seketika ia tertegun.


“Ini tempatnya, Jer? Maa syaa Allah, pemandangannya indah banget.”


Jeremy tersenyum memandang pemandangan yang lebih indah di hadapannya. Wanita cantik dengan senyum ceria, sedikit lengsung pipit di pipi kiri yang kadang-kadang muncul. Seperti saat ini. Membuatnya menahan gemas.


“Duduk sini, Qiara.”


Jeremy mengarahkan Qiara ke sebuah bangku. Ia ingin menggandeng namun Qiara adalah muslimah taat yang sangat menjaga dirinya.


Malam itu cuaca sangat bagus. Bintang bertaburan, bulan sabit menghiasi langit. Angin berhembus silir-silir. Jeremy melihat rambut Qiara keluar dari kerudungnya.


“Qiara, maaf rambutmu keluar,” ucapnya sambil tersenyum menunjuk sisi wajah Qiara.


Qiara buru-buru memasukkan rambut dengan telunjuk ke kerudungnya. Penerangan di samping bangku cukup untuk memperlihatkan rona merah di wajah Qiara.


“Cute,” gumam Jeremy.


“Sorry, bilang apa aku nggak dengar.”


“Shoot, itu tadi ada bintang jatuh.”


“Mana? Mana? Yah udah lewat ya, Jer, aku belum pernah liat bintang jatuh.”


Jeremy menghela napas menahan dirinya untuk tidak menarik wanita di sebelahnya ke dalam dekapan.


Jeremy menyukai Qiara yang tidak mudah mengeluh. Dalam keadaan hamil ia harus jalan berkilo-kilo untuk bekerja. Kadang mampir ke kafe dengan telapak kaki yang membengkak untuk membeli makanan. Kelelahan sepulang kerja hingga tak sanggup lagi memasak.


Wanita itu tidak pernah mengeluh. Jeremy kadang melihat Qiara yang tiba-tiba menerawang dengan pandangan sendu. Seperti terkenang sesuatu. Hati Jeremy sedih karena ia tahu Qiara merindukan mantan suaminya. Tapi sekali pun, Qiara tidak pernah bercerita apapun padanya.


Kepahitan hidup Qiara didengar dari ibu dan bibinya. Itu pun karena Marianne yang bercerita.


Menjadi ibu tunggal di negeri orang tidak membuat Qiara patah arang. Ia membesarkan Kala seorang diri. Saat bekerja Qiara menitipkan Kala ke day care hingga Steph dan Mel mengamuk. Mereka memaksa untuk mengasuh Kala selama Qiara bekerja.


Jeremy melirik Qiara yang sedang asyik menikmati pemandangan kota Melbourne dari atas perbukitan. Kala sedang menginap di rumah Mel.


“Ini tempat favorit aku, Qi. Dari kecil kalau aku perlu time-out pasti ke sini.”


“Kamu sekarang perlu time-out?”


“Sepertinya… cewek yang kutaksir nggak peka.”


“Kamu cuma kode-kode kali, Jer. Cewek butuh kejelasan, kepastian. Kalau cuman asa-asa, pasti dilewatin,” jelas Qiara sambil terkekeh.


“Emang bebal aja kali ya, tu cewek. Apa dia nggak suka aku?”


“Nah! Alasan itu juga perlu dipertimbangkan. Bisa jadi kamu nggak ada di radar dia.”


“Ouch! Jadi itu jawabannya, aku nggak ada di radar kamu?”


“Enggak, lah. Kamu kan kuanggap adikku.” Qiara berpikir Jeremy sedang bercanda.


“Nggak mau! Aku nggak mau jadi adik. Aku maunya jadi pacar.” Tanpa sadar Jeremy mengungkapkan isi hatinya. Pria itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menahan napas dan malu. Entah mau ditaruh dimana mukanya itu.


Qiara tertegun.


“Jer, wow. Kamu beneran mau jadi pacar aku?” Akhirnya Qiara berkata perlahan.


“Can I?”


Qiara menatap lekat-lekat wajah pria bule di sampingnya. Mata biru jernihnya bagai telaga yang menghanyutkan. Sorot matanya penuh harap.


“Jer, aku adalah ibu dengan satu anak. Aku membawa luka yang sampai sekarang masih kurasakan. Kamu … kamu masih muda …”


“Jangan sok tua, Qi. Aku cuma dua tahun lebih muda.”


“Ouch. That is a strong reminder.” Qiara tergelak. Tawanya menular ketika Jeremy sadar kalimat terakhirnya sensitif bagi wanita.

__ADS_1


“Jer, I’m honored that you have feelings for me. Thank you. Aku … aku …” Qiara terbata-bata.


“Kamu nggak menyukaiku, ya, Qi?”


Qiara tidak sanggup menjawab, ia tak sampai hati namun tidak mau memberi harapan kosong. Baginya Jeremy adalah sahabat, adik, dan Qiara belum memiliki perasaan lebih kepadanya.


“Aku besok masih boleh kerja di kafe?”


“Nggak boleh! Kamu kupecat!”


Qiara menatap Jeremy, lalu keduanya kembali tertawa terbahak-bahak.


“Kamu kenapa ketawa Jer, bukan harusnya kamu sedih, ya? Beneran suka nggak sih?”


“Suka beneran Qiara Anjani. Dari detik pertama aku lihat kamu. Aku pengin melindungi kamu, jagain kamu, sayangin kamu.”


“Sorry, Jer,” lirih Qiara menjawab.


“No, don’t be. Kamu tahu nggak lagunya Phil Collins yang You Can’t Hurry Love?”


“It’s an old song. Papaku almarhum suka dengerin di mobil. You can’t hurry love, no you’ll just have to wait. Lanjutnya apa?”


“Just trust in the good time, no matter how long it takes.”


“Jangan tunggu aku, Jer.”


“Siapa juga yang mau nunggu.” Jeremy mencebik ke arah Qiara. Lalu berpaling menatap kota Melbourne di bawah sana.


“Qi, hatiku sakit banget nih …” Jeremy menarik napas dalam.


“Aku benar-benar minta maaf, Jer.”


“Kita di sini dulu nggak apa ya. Ijinkan aku mengingat momen ini sebagai kenangan terindah bersama kamu.”


Qiara mengangguk. Keduanya kembali menatap kerlap-kerlip lampu kota Melbourne dalam sunyi. Sibuk dengan pikiran dan harapan masing-masing.


“So, it’s Devan, sialaaan aku kalah sama orang tua itu.”


“Devan? Not a chance. Dia lebih baik bersatu lagi dengan Stella demi Liam.”


Jeremy menyadari sorot mata Qiara yang berubah sendu. Keduanya kembali terdiam.


“Please be happy, Qi. Aku tahu dibalik keceriaan kamu, masih ada rasa sedih yang teramat sangat. Mungkin untuk mantanmu, mungkin untuk Devan.”


Qiara menghela napas panjang.


“Mungkin aku nggak beruntung dalam percintaan ya, Jer.”


“Sssh, nggak ada kayak gitu. Kamu, aku, kelak akan bahagia bersama pasangan kita. Percaya itu. Kita hanya harus bersabar.”


Qiara menatap Jeremy, menggali hati, mencari rasa yang berbeda. Jeremy selalu berhasil membuatnya tertawa, sikapnya santai dan sedikit asal selalu bisa mengurai persoalan rumit menjadi mudah.


Pandangan Jeremy jauh menerawang. Memecah kesunyian ia berkata, “Liatin aku terus, siapa tahu lama-lama naksir.”


Qiara terkekeh lalu mengalihkan pandangan ke bintang-bintang.


“Jer, sepertinya aku akan pulang ke Indonesia.”


“What?” Jeremy terperanjat.


“Berat hidup di Australia tanpa pekerjaan tetap. Proyek-proyek rumah kadang ada, kadang tidak. Dan nilainya juga tidak besar.”


“Aku bisa mengangkatmu jadi kepala kafe, Qi.”


“Makasi, Jer. Aku tahu kondisi kafe memang bagus tapi akan tidak adil buat karyawanmu yang lain. Aku punya tabungan, cukup untuk memulai hidup. Di Jakarta aku bisa kembali kerja di perusahaan Marianne.”


“Are you sure?”


“Aku nggak mungkin merepotkan Steph terus. Aku tau ia selalu menyewakan apartemen kakakmu sedangkan padaku selalu tanpa sewa.”


“No worries. Kakakku tidak akan pulang anyway. Istrinya sedang hamil sekarang. Dia juga sudah kaya raya.”


“Alasan utamanya … Kala. Aku rasa ia perlu bertemu ayahnya. Selama ini aku yang belum siap. Kamu lihat sendiri waktu itu ia menangis saat Liam mengundang ayahnya Kala.”


Jeremy membuang napas. Malam yang berat.


“Aku nggak salah milih tempat ini untuk berdua sama kamu. Benar-benar perlu time-out, Qi. Pertama ditolak, lalu mau ditinggal. Nasib.”


“Apa’an sih, Jer …”


Mereka berdua kembali terdiam.


“Qi, aku jarang berdoa, tapi mulai sekarang aku akan berdoa untuk kebahagiaan kita. Aku berharap yang terbaik untukmu dan Kala.”


“Aku juga berharap terbaik untukmu, Jer. Oya, btw, kamu tahu kan aku pernah bikin proyek pertokoan? Ada space bagus, kamu kontak Shalina, dia agen penjualannya. Kamu kan bilang mau buka kafe di tengah kota. Mumpung harganya bagus.”


“Really … oh dimana posisinya? …”


Dua orang yang tidak dipersatukan dalam ikatan cinta terlibat dalam obrolan hangat. Di bawah taburan bintang dan kerlap kerlip kota Melbourne yang sebentar lagi akan menjadi kenangan bagi Qiara.

__ADS_1


***


__ADS_2