
Setelah Devan berangkat ke rumah sakit untuk sidang, Qiara menyiapkan anak-anak dan baby sitter untuk berangkat ke rumah mertuanya.
Phil berulang kali memastikan apakah ada masalah dengan Devan. Qiara menjawab mereka perlu waktu berdua untuk bicara tanpa gangguan anak-anak.
Ruangan terasa sunyi tanpa celoteh Abby dan tiga adiknya. Qiara memutuskan untuk berjalan ke taman belakang mencari udara segar dan duduk di gazebo.
Jika tidak mengingat kajian online tentang pernikahan, Qiara pasti sudah mendamprat suaminya.
“Suamimu adalah surga atau neraka bagimu. Ketaatan istri yang berbuah pada ridho dari suaminya adalah kunci untuk memasuki surga dari pintu manapun. Kedurhakaan istri sebaliknya merupakan jalan tol menuju panasnya api neraka.”
Mata Qiara memandang jauh ke padang rumput dan bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin.
Devan yang sudah tiba di rumah segera mencari Qiara. Ayah dari enam anak itu tertegun memasuki rumah. Hening. Tak ada satu pun mainan bergeletakan. Dia memanggil-manggil Qiara, mencarinya di setiap ruangan.
“Qia, Qia, di mana kamu Sayang?” Suara Devan bergetar. Di kamar tidur ia bergegas membuka lemari baju istrinya. Ia bernapas lega melihat semua masih di tempatnya. Sesaat ia berpikir Qiara meninggalkannya.
“Sayang, Qia …” Devan masuk ke kamar Kala yang menghadap ke padang rumput. Sosok yang dicari tengah duduk di pagar gazebo.
Devan melesat lari untuk menemui istrinya. Ia terus berlari hingga tiba di hadapan istrinya.
“I am sorry. Please don’t leave me. Aku mati tanpa kamu, Qia …” Devan maju untuk memeluk istrinya. Qiara menatapnya dengan penuh cinta namun dengan bibir merajuk.
“Oh, Sayang …” Devan merengkuh tubuh Qiara, mendekapnya erat.
Qiara menghirup aroma aqua-citrus yang menyegarkan dari tubuh suaminya. Tangannya melingkar erat di pinggang Devan. Dirinya juga takut kehilangan cinta untuk kedua kali.
Devan mengecupi kening dan pucuk kepala istrinya.
“Ada yang ingin kuceritakan, maaf jika aku merahasiakan darimu.” Devan menuntun istrinya duduk di bangku panjang yang tersedia di gazebo.
Penuh rasa malu, Devan bercerita. Ia tak berani menatap mata Qiara.
“Aku nggak tau apa yang membuat Nadine berubah pikiran. Yang jelas pagi ini sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.”
“Terus kamu naksir karena dia berubah, gitu?” Tanya Qiara dingin dan sinis.
Devan terbelalak tak menyangka reaksi Qiara yang mematikan.
“Enggak, enggak, Sayang.”
Devan bersimpuh di hadapan Qiara, ia membenamkan wajahnya di perut Qiara. Tangannya melingkar ke pinggang ramping istrinya.
“Devan, janjilah padaku bahwa kita akan saling berterus terang. Tak ada rahasia di antara.”
“Aku sungguh malu menceritakannya padamu, Sayang. Selama beberapa waktu aku menjadi pariah di rumah sakit karena kasus pelecehan. Bahkan petugas keamanan pun memandang rendah padaku.”
“Dan kamu menanggungnya sendiri. Devan, kamu sadar nggak aku ini amat sangat mencintaimu. Bagian dari mencintaimu adalah mendampingimu di saat sulit. Aku bahkan menyangka kau berselingkuh dengan sikapmu yang acuh.”
“Aku bukannya mengacuhkanmu, aku tak sanggup menatap matamu, Qia.”
Qiara membelai rambut Devan yang masih bersandar di pahanya. Mencurahkan rasa sayang di setiap belaian.
Devan mengangkat wajahnya. Netranya bertemu dengan netra Qiara. Istrinya membelai wajah tampan yang selalu membuat hatinya meleleh.
“Aku hanya heran, apa yang membuat Nadine berubah pikiran.”
“Oh itu …” Qiara mendorong Devan agar menjauh. Suaminya heran dengan perlakuan istrinya. Seperti ada yang disembunyikan.
Qiara berdiri, “Aku lapar, masuk yuk, aku bikin kue buah dan memanaskan air untuk teh.”
“Qiara …” Devan berdiri dan menatap Qiara yang berjalan melewatinya.
“Qia …”
Yang dipanggil hanya tertawa lalu lari ke dalam rumah.
__ADS_1
“Ya Allah, ya Tuhan kami …” Devan gemas melihat tingkah laku Qiara dan mengejarnya.
Tubuhnya yang besar, kakinya yang panjang dengan mudah menangkap Qiara. Dengan sekali gerakan ia memanggul istrinya layaknya memanggul karung beras.
“Devan, Devan, turunin. Devan, please …” Qiara memukul-mukul punggung Devan sambil tertawa geli.
“Iiih kuat banget, lepas, Devan Donavy! Aku bilang lepas.”
“Never, menunduk, Sayang, kalau nggak mau kejedot kusen.”
Qiara pasrah menuruti perintah Devan yang membawanya ke ruang keluarga.
Devan membaringkan istrinya dengan lembut lalu mengungkungnya. Qiara masih tertawa dan berusaha kabur. Usaha yang sia-sia karena kekuatannya tidak sebanding dengan Devan.
“Aku mau menikmati istriku dulu, baru setelah itu kamu harus cerita. Aku lepas hijabnya, ya Sayang. Javier, anak-anak dan pengasuh sudah kamu ungsikan ke rumah Daddy, tho?”
Perlahan tapi pasti, Devan menarik pelan kerudung yang dipakai Qiara. Bibirnya mulai menyesap bibir istrinya yang menggemaskan. Tangannya membuka satu persatu kancing baju, memperlihatkan bra berenda seksi berwarna hitam.
Devan sengaja berhenti, memberi waktu buat Qiara menikmati tubuh kekar suaminya. Meraba pundak, dada, punggung dengan sentuhan lembut. Sesekali mereka saling menatap sebelum kembali menautkan bibir dalam ciuman panjang yang melenakan.
Mereka saling bermain dengan tubuh. Berpindah dari sofa yang satu ke sofa yang lain. Hingga saatnya penyatuan terjadi dengan lembut dan keduanya bergerak serempak.
Hanya ******* yang terdengar di seluruh penjuru rumah. Mereka sengaja berlama-lama bahkan tak segan memulai lagi dari awal. Meski sekian lama menikah, mereka masih saling memuja, mendamba. Ketika puncak nikmat berhasil dicapai, keduanya saling meneriakkan nama dan berpelukan hingga hasrat mereda.
Devan dan Qiara berbaring berhadapan di karpet dengan tubuh polos bertutup beberapa lembar selimut bayi. Tangan-tangan mereka masih saling membelai. Devan menyematkan rambut panjang Qiara ke belakang telinganya.
“Inget nggak waktu kita dulu ketemu pertama. Aku sebenernya udah naksir, cuma jengkel aja kok kamu jadi orang mbuantaaah terus. Njuawaaab terus,” cetus Devan sambil menyubit dagu Qiara.
“Ya nggak tau deh, abis aku gemes ada orang kok galaknya setengah modyar.” Qiara terkekeh. Ia tidak pernah memberi tahu Devan julukannya di masa itu adalah beruang grizzly.
“Sampai kamu save nama aku jadi beruang grizzly kan?”
Qiara ternganga, “Kamu tau?”
“Waktu itu aku cuma lumpuh Qiara, nggak buta tuli. Kamu kan suka ngedumel bilang ‘dasar beruang grizzly’. Sekali waktu aku pernah sok salah telepon, pengin liat nama apa yang kamu simpan untuk nomorku. Bener kan. Dasar anak nakal. Sini aku hukum dulu.”
Keduanya terkapar kelelahan. Masih terengah, Devan bertanya, “Udah? Sekarang udah mau cerita?”
Qiara meraih hapenya. Devan terkejut melihat video dirinya dan Nadine.
“Kamu punya bukti ini dari awal?”
“Ini contoh konkrit kita harus saling terbuka satu sama lain. Aku tidak tau ada tuduhan pelecehan sampai aku bertanya ke Mario.”
“Mario? Bedebah itu kasih tau ke kamu?” Devan memasang muka sebal karena menyadari Mario lebih takut pada Qiara.
“Dari A sampai Z, darling.”
“Lalu kenapa kamu nggak langsung kasih ke Michael?”
“Well aku punya perasaan Nadine tidak akan berhenti sampai di situ jika bukti ini diajukan lewat jalur normal. Aku menguntitnya beberapa hari untuk tahu jadwal kutil itu. Aku memilih sebuah kafe sepi di area Notting Hill tempatnya suka nongkrong. Ya lalu kita ngobrol deh.”
“Qia, apa yang kamu obrolin?”
“You know, stuff. Di antaranya mauku agar ia membatalkan tuduhan, kalau tidak ya bakal ada yang viral.”
“Di antaranya? Berarti ada hal lain?”
“Kenapa sih pengin tau banget, jangan-jangan naksir Nadine, ya?”
“Nggak akan, Qia. In syaa Allah. Kamu kan bilang kerja itu untuk cari keberkahan. Kamu, anak-anak adalah berkah buatku. Tiap hari aku bangun liat kamu dan anak-anak, hidupku udah lengkap. Di setiap doa setelah sholat aku bersyukur, Qia buat kebahagiaan ini. Aku nggak mau main-main dan menghancurkan semua kebahagiaan kita. I love us that much …”
***
“Buna, kenapa nggak diangkat sih teleponnya?” Kala merajuk karena sedari tadi menelepon Qiara tanpa hasil. Tangannya dilipat di dada, alisnya bertautan, bibir menjebik.
__ADS_1
Di belakangnya ada Abby yang mengikuti gayanya.
“Maafin, Buna. Tadi lagi …”
“Ngobrol sama Daddy,” sahut Devan cepat karena tidak mungkin berterus terang mengenai kegiatan mereka sepanjang siang.
Phil menggelengkan kepala. Lima jam bersama cucu-cucu, masih untung ia tidak kena serangan jantung koroner.
Dia memukul Devan.
“What did you do this time?”
“Nothing, nothing …” Devan tersenyum geli lalu menggendong Abby yang masih bergaya sebal.
“Princess Daddy kenapa cembetut?”
“Tuuh,” jawabnya menunjuk Kala yang artinya Abby sedang mengikuti kakaknya.
Qiara lalu menggandeng Kala karena anaknya ini memang masih posesif. Ada saat ia harus diberi perhatian penuh, setelah kebutuhannya terpenuhi maka Kala akan lepas merajuk.
Setelah ditinggal beberapa jam, Kala perlu waktu berdua dengan Bunanya. Ia duduk dipangkuan Qiara, satu tangan menyelip ke balik kerudung dan memainkan anak rambut ibunya.
Dalam hitungan detik, mata Kala terpejam. Qiara menunggu anaknya pulas lalu minta Devan untuk menidurkan di kamar bawah.
Abby yang mengidolakan Kala ikut ke kamar dan minta ditepuk-tepuk bokongnya oleh Devan. Tak berapa lama anak kecil itu pun tidur.
Qiara memeriksa Liam yang masih belajar di ruang kerja kakeknya. Lalu menuju kamar atas untuk melihat si triplets. Bayi-bayi berumur enam bulan langsung tertawa lebar melihat ibunya datang.
Mereka berebut minta disusui. Hayyan Si Bungsu menangis paling keras. Sama seperti Kala, dia juga posesif setiap melihat Bunanya. Begitu bibirnya menyesap ujung dada Qiara, Hayyan langsung tenang.
Azka dan Barran mendadak kelincahan. Berguling ke sana ke mari, lalu minta didudukkan. Devan menyusul ke atas bersama Liam. Masing-masing menggendong satu bayi sementara Hayyan masih asik menyusu.
“Buna, Azka udah bisa panggil Liam.”
“Yam yam …” Celoteh Azka yang disambut bangga oleh kakaknya.
“Un..na …” Dari gendongan Devan, bayi nomor dua memanggil Qiara. Kemudian mulai menangis karena tak sabar minta jatah susu.
Hayyan yang menoleh sekilas ke kakaknya lalu terus menyusu, kinj matanya merek melek. Devan berusaha menenangkan dan memberi stok ASI yang sudah disimpan di botol.
Barran menolak dan terus memanggil Bunanya. Hayyan tidak mau peduli, walau mata terpejam dia masih lahap menyedot susu.
Kalau dulu ketika baru lahir, Qiara kadang menyusui dua bayi sekaligus. Namun karena kini mereka sudah tumbuh, tidak memungkinkan. Devan mengajak Barran keluar agar tidak mengganggu Hayyan.
Barran terus menangis di luar. Pengasuh pun tidak bisa menenangkan hingga Devan mengambilnya lagi. Akhirnya dengan terpaksa, Qiara menyudahi hikiran Hayyan.
Begitu menempel di ibunya Barran langsung tertawa dan menyesap dari ujung dada satunya. Tubuh Barran lebih besar dari adiknya, menyusunya pun lebih kuat.
Hayyan protes dan mulai menangis. Devan membawanya keluar untuk melihat bintang, Liam yang masih menggendong Azka ikut keluar ke balkon.
“Tolong bawa dua selimut, Sayang. Takut adek-adek kedinginan terus pilek.”
Liam sigap mengambil selimut dari tas bayi, membentangkan ke tubuh adiknya dan memberikan selimut satunya ke Devan.
Devan dan Liam asyik menceritakan rasi-rasi bintang. Suara mereka berhasil menenangkan Hayyan. Azka Si Sulung yang paling tenang seperti menyimak setiap perkataan ayah dan kakaknya. Sesekali mengeluarkan bunyi seolah menanggapi cerita.
Qiara asyik menatap wajah Barran ketika dari pintu muncul dua anak kecil, Kala dan Abby.
“Buna kenapa ninggalin aku?” Kala kembali merajuk, bibirnya menjebik. Sementara Abby lebih dulu lari ke Bunanya.
Tidak mau tahu, keduanya duduk di sisi kiri kanan Qiara, menyender ke tubuh ibunya lalu kembali lelap.
Devan menoleh, hatinya dipenuhi kebahagiaan melihat istri dan anak-anaknya.
Liam melirik ayahnya, dengan senyum smirk menghiasi wajahnya, bocah delapan tahun itu berkata, “Ini semua karena Daddy ikutin nasihat aku.”
__ADS_1
***