Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Pejuang Cinta


__ADS_3

Qiara tiduran diapit Abby dan Zee yang sangat suka bermanja-manja dengan Buna mereka. Qiara mengelus lembut rambut putri-putrinya.


“Buna, bagaimana kita bisa tau kalau seseorang itu adalah jodoh kita?” Tanya Abby sambil mengusek-ngusek hidung bangirnya ke pundak Qiara.


“Jodoh itu adalah rahasia Allah buat kita. Sebagai hambaNya, kita bisa memohon agar diberi petunjuk yang datang melalui perasaan cinta, nyaman, dan sayang pada pasangan kita.”


Abby mematut cincin indah di jari manisnya.


“Abby takut ini semua terlalu cepat.”


“Terus kenapa mau dilamar?” Tanya Zee polos.


“Dilamar itu sesuatu yang membuat wanita berbonga-bonga. Mbak berharap rasa cinta, nyaman, dan sayang akan tumbuh seiring waktu.”


“Kamu percaya Muha akan berjalan beriringan dengan kamu mengarungi perjalanan cinta?” Qiara menanggapi pernyataan Abby dengan pertanyaan yang membuat putrinya berpikir.


“Nah, itulah. Abby melihat bagaimana dulu Buna dengan Daddy. Kalian saling memandang dengan penuh cinta. Mengharapkan satu sama lain. Setiap Abby melihat ke netra Muha, Abby nggak menemukan kebahagiaan di sana, malah kesedihan.”


Pintu kamar mereka diketuk.


Zee membukakan, Kala langsung menyerbu masuk dan mengambil tempat di samping Buna. Tidak peduli dengan Zee yang berusaha menyusup untuk bisa memeluk Buna.


“Kala, udah gede.” Qiara terkekeh mengingatkan Kala yang suka lupa umur jika berdekatan dengan Bunanya.


“Belom.” Kala menjawab tidak peduli.


“Mas Kala, jahat. Ini tempatnya Zee!” Gadis cilik itu siap menggigit kakaknya.


“Ck, sini Dedek Zee kesayangan.”


“Wek,” ledek Zee yang langsung mengambil posisi semula. Kala kini duduk di sofa. Matanya tertuju ke Abby. Adiknya sedang menikmati momen bersama Bunanya.


Kala mengusap wajahnya dengan kasar.


“Mas Kala kenapa?” Zee yang memerhatikan kakaknya heran. Kala pembawaannya konyol dan periang. Beberapa hari ini Kala pendiam dan nampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Sini Zee, duduk sama Mas Kala.” Si bungsu lalu duduk di samping kakaknya sambil memeluk erat.


Dari semua kakak laki-laki, Zee paling mengidolakan Kalandra. Walau suka sebal karena kakaknya masih suka bermanja dengan Buna kesayangannya.


“Kala kamu baik-baik aja, Nak?”


“Kala bingung.”


Qiara bangun diikuti Abby.


“Mas kenapa?”


Abby duduk di samping kakaknya. Kala kemudian memeluk adiknya dan mencium keningnya lama.


“Mas nggak kena sakit parah, kan?” Abby berkaca-kaca. Ini sungguh di luar kebiasaan Kala. Kakak yang satu ini jauh dari sifat melankolis.


“Mas Kala sayang banget sama kamu Abby.”


“Kala, jangan aneh-aneh, ada apa?” Qiara panik dan memegang ke dua pundak anaknya.


***


Thoriq duduk di hadapan Muha yang terkejut dengan kedatangan calon ayah tiri tunangannya.


“Uncle …”


“Sibuk? Hapenya jangan dibanting-banting. Di sini susah cari service center.”


Muha tidak menanggapi hanya menatap nanar ke hape yang dari tadi jadi sasaran keresahannya.


“Kamu tau kan, wajah dan mata seseorang itu jendela hati?”


Kening Muha berkerut mendengar cetusan Thoriq yang tetap tenang menatap anak muda di depannya.


“Aku pernah berada di posisimu. Kehilangan wanita tercintaku. Ketidaktegasanku, kebodohanku dengan mengartikan ketaatan pada kakek dan nenekku membuahkan pwnderitaan. Well, aku memang memiliki seorang anak cantik dari buah pengkhianatanku, tapi aku kehilangan Qiara.”


“Uncle?”


“Yup. Mungkin Abby pernah bercerita mengenai Aira? Kakak iparnya yang menikah dengan Liam? Aira adalah anak dari istri keduaku. Qiara memilih menyingkir dari pernikahan kami dengan membawa Kala di perutnya. Pesanku padamu, anak muda, sebelum semua terlambat, menikah itu adalah kebahagiaan buat kita. Bukan orang lain. Jika cintamu bukan untuk Abby, jangan kau korbankan cinta sejatimu hanya karena permintaan orang lain.”


Muha terdiam, meresapi kalimat demi kalimat yang disampaikan Thoriq.


“Abby memang bukan anakku. Tapi aku sangat mencintai ibunya dan sudah berjanji pada ayahnya untuk menjaga Qiara. Itu berlaku juga untuk anak-anaknya.”


Thoriq mendekatkan tubuhnya ke Muha.


“Pikirkanlah apa yang baru kusampaikan. Aku, Kala, dan semua saudara Abigail tidak akan tinggal diam jika kau memiliki niat yang salah untuk menikahinya.”


“Uncle …”


“Kamu laki-laki. Pundakmu yang lebar adalah untuk memikul tanggung jawab. Hidup bukan tentang harta. Tanpa cinta, harta hanyalah asesoris. Bayangkan, kau bangun tiap hari di samping wanita yang tidak kaucintai …”


“Orang tuaku?”


Thoriq menepuk bahu Muhammad.


“Nak, aku seorang ayah. Tugasku adalah melindungi Kalandra dan Aira, bukan membebani mereka dengan ambisiku.”

__ADS_1


Muha menghela napas panjang. Seumur hidup, ia hidup untuk memenuhi ambisi kedua orang tuanya. Menjadi terbaik di kelas, lulus dari universitas pilihan ayahnya, bekerja di bidang yang diinginkan orang tuanya.


Ia pernah membangkang. Ayahnya tak segan memukulinya di hadapan karyawan kebun sawit. Semuanya diam tak berani membantah atau membelanya.


“Bagaimana caramu berbakti kepada kedua orang tua, itu adalah urusanmu. Urusanku adalah Abigail. Bisakah kau melupakan Qismina dan secara utuh mencintai Abigail?“


“Uncle tau?”


“Kau pikir mudah untuk melenggang masuk ke keluarga Donavy? Kamu tau apa yang menyebabkan mereka menyelidikimu? Abigail. Ia merasa kamu tidak sungguh mencintainya.”


Muha menunduk malu. Kedoknya terbuka sudah. Kini ia akan dikenal sebagai gold digger.


“Memberikan cinta yang tak utuh itu berat, Nak. Jangan kau tempuh jalan itu.”


Thoriq lalu berdiri dan meninggalkan Muha yang termangu.


Sementara di kamar Qiara, Abby mendengarkan seksama penjelasan Kala. Betapa shock saat mengetahui niatan keluarga Muha untuk mempersunting dirinya adalah harta. Dirinya dianggap sebagai pundi-pundi uang yang bisa memberi mereka kenyamanan.


“Kenapa Mas nggak ngomong sebelumnya?”


“Buna baru menyuruh Kalandra untuk memerintahkan Mario dan timnya menyelidiki Muha. Uncle yang memberi ide karena khawatir padamu.” Qiara menenangkan Abby yang mulai emosi.


“Itu pun setelah kamu bolak-balik menyatakan keraguanmu pada Muha,” imbuhnya lagi.


“Anak buah Mario bertanya langsung pada keluarga Muha di Malaysia dan juga berusaha mencari Qismina. Ayah Muha ternyata sangat licik, maka dari itu Mario harus berhati-hati.” Kala menjelaskan.


“Dasar musang berbulu kambing!” Abby berkata dengan geram.


Kala melirik ibunya karena merasa ada yang salah dari kalimat adiknya. Qiara menggeleng agar Kala tidak meneruskan atau akan membuat Abby semakin murka.


“Aku mau cari Muha.” Dengan wajah merah, Abby bangkit dan menuju pintu.


“Abigail, sholat dulu,” perintah Qiara, tahu betul anaknya yang satu ini menuruni sifatnya yang berangasan jika sudah emosi.


Kala menggandeng adiknya, menuntunnya ke kamar mandi.


“Wudhu, sholat dua rakaat kalau wajibnya kamu udah.”


Abby menuruti ibu dan kakaknya. Zee masih berusaha mencerna bagaimana Muha tega memiliki niat jahat pada kakaknya. Ibu dan kakaknya menjelaskan dengan lembut karena tidak ingin Zee tumbuh menjadi sosok pemarah dan pendendam.


Usai sholat, Abby lebih tenang. Masih di atas sajadah gadis muda itu menangis. Ia menutupi wajah dengan kedua belah tangan. Qiara duduk di sampingnya dan Abby langsung memeluk mencari perlindungan.


“Buna, Abby pengin kayak Liam dan Mbak Aira. Semuanya mulus. Abby malu.”


“Ssssh, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Kita punya beban berbeda yang harus ditanggung. Tugas kita adalah memastikan apapun langkah yang akan diambil sesuai dengan syariat. Lalu kenapa malu? Abby salah apa?”


Qiara mengelus kepala anaknya. Abby masih terisak di pelukan.


“Abby berhak marah tapi jangan sampai kemarahan menguasai dirimu. Menangislah jika bersedih, tapi kemudian tegakkan kepalamu karena Allah sedang membersihkan dosamu dengan setiap kesedihan yang Abby rasakan.”


“Zee bisa kok, suruh orangnya Oom Mario buat pukulin Abang Muha,” ucapan polos khas anak remaja yang sedang emosi.


“Aaw that’s briliant!” Abby tertawa di sela tangisnya lalu merangkul Zee.


“Nomor Mario ada di speed dial nih. Go or no go?” Kala cengar-cengir mendapati Zee yang paling lemah lembut di antara mereka ternyata punya jiwa warrior juga.


“Jangan malah didukung, Kalandra.” Qiara melirik ke putranya.


“Buna kan dulu pernah ngelawan Tante Hanna sendirian, sampe ketembak. Pokoknya awas aja kalau Zee ketemu bapaknya Abang Muha, bakal Zee tendang, Zee tonjok, Zee ….”


“Sssh, anak Buna cantik sholihah, sini yuk duduk sama Buna.”


“Abis Zee kesel, udah tua kok masih mata duitan.”


“Berarti orang tuanya Abang Muha dari muda memang udah gila harta, Zee. Ini Mas Kala bukan ghibah, tapi mau mengingatkan ke adik-adik bahwa jangan menomorsatukan harta. Ada satu lagi yang Abby mesti tau …”


“Ada lagi?”


“Muha itu dari kecil sering dipukuli ayahnya bahkan sampai sekarang. Jujur menurut Mas, dia itu anak baik, hanya dia belum bisa mengambil sikap kepada ayah ibu. Menurut ustadz, kita boleh tidak mengikuti perintah orang tua jika mengandung unsur syirik atau kejahatan di dalamnya.“


Kala menambahkan lagi, “Mas Kala pernah mendengar cerita Aya ketika Kakek dan Nenek sampai berlutut dan hendak mencium kaki Aya agar mau menikahi Tante Hanna. Melihat dua orang tua yang sudah membesarkannya sampai seperti itu, Aya tidak sampai hati hingga akhirnya mengalah. Kalau kasus Muha, dia dipukuli jika tidak ikut kata ayahnya.”


Qiara tercenung, tiba-tiba rasa sakit yang ia rasakan dulu kembali menusuk hatinya.


Anak-anaknya luput memerhatikan ekspresi wajah ibu mereka yang mendadak sendu.


Kala malah menambahkan, “Makanya kelak jika jadi orang tua, kita nggak boleh merasa paling tau, paling ngerti apa yang terbaik. Ya, kan, Buna?”


Qiara menghela napas, mengibas rasa sakit dan mengusir waswas yang menyelip ke relung hati.


“Betul, Kala. Orang tua itu harusnya jadi tempat teraman dan ternyaman buat anak-anak mereka.”


“Muha dipukuli bapaknya? Sudah mata duitan tukang pukul pula.” Sifat penyayang Abby membuatnya mudah merasa iba.


“Abby, Abby. Sekarang Abby tentukan dulu kamu mau apa? Jika kamu memang mau melanjutkan hubungan dengan Muha, maka petakan risiko di hadapanmu. Jika tidak, akhiri dengan baik,” ujar Qiara yang tak ingin anaknya terbebani.


“Abby bicara dengan Muha dulu kalau begitu. Abby sholat sunnah lagi deh, tadi emosi sempat naik lagi.”


***


Muha dan Abby berjalan menyusuri jalan-jalan di kota Ediburgh yang berbatu. Keceriaan sore tidak bisa menggantikan kelabunya hati dua orang yang masih enggan bertukar kata.


“Abby, mau duduk di bangku taman aja? Atau di kafe?”

__ADS_1


“Bangku taman.”


Abby minta ijin untuk menemui Muha seorang diri, tanpa ditemani Kala atau Barran. Maka ia memilih tempat yang ramai sehingga tidak mendatangkan fitnah.


Walau matahari masih enggan meredup, namun udara cukup dingin. Muha memberikan jaketnya untuk dipakai oleh Abby.


“Pakailah, paling tidak ini adalah kebaikan tulus yang kuberikan padamu. Maafkan, aku, Abby.”


“Semua yang pernah Abang perbuat adalah pura-pura?”


“Tidak semua. Dalam hubungan kita, aku memang menyayangimu, tapi sebagai adik.”


Abby mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya untuk mengusir rasa sakit.


Pahit karena awalnya dia belum menyukai Muha. Bahkan sampai berbulan-bulan Muha mengejarnya baik langsung atau melalui Kala.


Saat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, ternyata kegigihan Muha hanya bentuk kepatuhan pada orang tuanya.


Abby melepas cincin dari jari manisnya.


“Ada jari yang lebih berhak mengenakan cincin ini. Perjuangkan dia.”


“Abby …”


“Abang, aku ingin marah karena kecewa. Tapi aku tau jika Abang bisa memilih, maka Abang tidak akan menyakiti wanita mana pun.”


“Abby kamu sungguh wanita yang berhati baik. Abang minta maaf sudah berniat tidak tulus terhadapmu.”


“Aku udah mulai suka tau, Bang.” Abby kembali menggigiti bibir bawahnya tanda ia sedang merasa tidak nyaman. Matanya menerawang ke depan.


“Tapi lebih baik kita selesaikan sekarang karena tidak perlu ada yang dipertahankan. Abang yang baik-baik. Abby dengar ayahnya Abang galak,” ucap Abby seraya menatap wajah Muha.


“Abang nggak pulang ke London lagi. Sepertinya Abang memilih kawin lari aja sama Qismina. Eh maaf, Abby.”


“I’m good. Sekarang semua keraguan Abby terjawab sudah. Baiklah, Abang, I wish you all the best.”


“Abang pengin pamit sama Auntie dan Uncle juga saudara-saudara kamu.”


Abby melihat hapenya. Lalu mendengus menahan tawa.


“Mereka di kafe seberang. Tuh lagi liatin kita.”


Begitu Muha mengikuti arah yang ditunjuk, ia langsung menemukan lima orang yang memalingkan wajah dan pura-pura sibuk dengan minuman di hadapan mereka.


“Abang iri sama kamu. Punya keluarga yang kompak banget. Kelak kalau Allah kasih kepercayaan buat punya keluarga sendiri, Abang ingin seperti keluargamu. Hangat dan kompak.”


“Menyebalkan juga kadang-kadang.” Dari jauh Abby menatap Kala yang sedang menirukan orang menangis. Begitulah Kala, mengajarkan pada Aira, Abby, dan Zee untuk menjadi perempuan yang tidak gampang mewek.


“Abby sekali lagi Abang minta maaf karena sudah PHP sama kamu. Semoga kamu mendapatkan pria yang sunguh mencintaimu.”


“Abang juga semoga berhasil dengan Qismina.”


“In syaa Allah, kita berteman?”


Abby menggeleng, “Sekarang belum bisa, masih kecewa dan marah.”


“Abang mengerti, sekali lagi mohon maafkan.”


Sambil menghela napas, Abby berjalan menuju kafe tempat keluarganya berada. Tak lama Muha berpamitan pada semuanya dan meninggalkan Edinburgh untuk mengejar cintanya.


Abby mengaduk hot chocolate yang dipesankan Barran. Minuman yang biasa diminum saat galau.


“Sepertinya menyandang nama Donavy terlalu berat. Orang akan melihatku sebagai bank berjalan. Mungkin aku akan mengganti namaku menjadi Abigail Dian Donahue.”


Qiara tersedak.


“Abigail! Jangan macam-macam itu nama keluarga Daddy. Kamu kayak Kalandra aja sih aneh-aneh.”


“Tuh, kan. Kalandra lagi, Kalandra lagi. Barran, Zee, kamu liat kan Mas Kala diem-diem aja dari tadi?” Sanggah Kala tidak terima namanya dibawa-bawa.


“Kan kamu yang biasanya punya ide aneh,” Qiara tak mau kalah.


“Abby, mending kamu sekarang mikir gimana biar Buna cepat menikah sama Aya. Biar ada yang ngontrol gitu,” sungut Kala yang masih tidak terima. Walau pada kenyataannya Kala suka punya pemikiran yang berbeda.


“Buna, Uncle. Ayolah cepat menikah, paling nggak ada hal baik yang terjadi pada Abby hari ini.”


“Hari ini?” Qiara mengangkat alis keheranan sementara Thoriq senyum-senyum.


“Qia, kalau boleh, Mas mau kasih kamu cincin.” Thoriq mengeluarkan cincin yang dibeli di toko perhiasan di kota kecil itu.


Kala menatap miris cincin berlian yang ukurannya hampir tidak kelihatan dengan desain seadanya.


Qiara menahan tawa namun tak bisa dipungkiri hatinya melambung dengan kegigihan Thoriq.


“Bismillaahirrahmanirrahim. Qiara Anjani, will you marry me, again?”


Qiara menatap dalam mata teduh di hadapannya.


“In syaa Allah, Qia mau, Mas.”


Thoriq menyerahkan cincin ke Abby untuk dipasangkan ke jari manis ibunya.


Semua anak-anak Qiara memandang wajah ibunya yang berseri-seri kembali.

__ADS_1


Kala berucap, “Lamaran orang yang udah masuk usia senja emang kurang seru, ya.”


***


__ADS_2