Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Terkaget Nikah


__ADS_3

Abby dibantu Zee kalang kabut menyiapkan kamar pengantin untuk Kala dan Fatimah. Mereka mengusulkan untuk di hotel namun nampak sekali Kala dan Fatimah terlalu lelah. Mereka belum tidur selama lebih dari enam belas jam perjalanan.


Terlebih Fatimah yang baru saja landing dari penerbangan sebelumnya. Belum lagi ketegangan ketika dikejar Alex dan gerombolannya.


Abby memberi sentuhan bunga-bunga yang berhasil dikumpulkan dari vendor grup perusahaan Donavy. Abby juga sudah menyiapkan beberapa lembar baju yang dibelinya karena Fatimah tidak membawa selembar baju kecuali seragam yang masih melekat di badannya.


Setelah puas dua kakak beradik itu turun supaya Kala dan Fatimah bisa ke atas.


Di ruang keluarga hanya ada Qiara. Kala dan Fatimah sudah tertidur di sofa.


“Kasihan, Mas Kala sama Fatimah.” Abby menatap kakak dan istrinya yang tidur sambil bergandengan tangan.


Qiara menjawab sambil berbisik, “In syaa Allah mereka bahagia mulai sekarang. Aya juga lagi telepon Oom Dicky. Mereka harus tetap waspada.”


Thoriq mengajak Qiara, Abby, dan Zee ke dapur. Di sana sudah ada triplets. Liam dan Aira sudah kembali ke rumah Thoriq karena Aira perlu istirahat.


“In syaa Allah, Dicky dan keluarganya selalu dalam lindungan Allah. Mereka banyak membantu orang tak mampu. Berita bahwa ada bahaya mengintai keluarga Dicky dan Hanna tersebar melalui Mirza yang sekarang sudah menjadi polisi. Masyarakat sekitar langsung bersiaga.”


“Bismillaah semoga semual dilindungi,” ucap semuanya serentak.


“Buna mau nginep sini atau pulang ke rumah Aya?” Zee bertanya dengan alis terangkat.


“Ke rumah Aya, Zee udah siap?”


“Tinggal angkat tas.”


Semenjak menikah, Qiara tinggal di rumah Thoriq. Dirinya belum sanggup mengajak suaminya masuk ke kamar tidur yang pernah jadi saksi cinta dengan mendiang Devan.


“Abby, bangunin Mas Kala dan Fatimah biar pindah ke kamar ya.”


“Siap!”


***


Kala terbangun mendengar bunyi adzan dari hapenya. Begitu juga Fatimah. Saking lelahnya mereka tidak sempat berganti baju.


Mereka saling bersitatap.


“Selamat pagi, istri…”


Fatimah mengerjapkan mata. Ia belum terbiasa memiliki pasangan tidur. Hampir saja ia menghajar suaminya.


“Selamat pagi, Mas. Fatimah kaget karena bangun di samping Mas Kala. Aku nyalain aie hangat buat Mas wudhu ya, udara dingin banget.”


Kala mengangguk. Fatimah bangun lalu masuk ke kamar mandi dan menyalakan air hangat.


“Mas air hangatnya udah siap.” Fatimah berjalan keluar dari kamar mandi mendekati ranjang.


“Kamu wudhu dulu aja.”


“Mas duluan aja.” Fatimah menarik tangan Kala yang masih berbaring. Dengan sekali rengkuh, Fatimah jatuh di atas tubuh tegap Pak Dokter.


Tak menunggu lama, Kala mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Mengurai rambut yang masih terikat.


“Mmmh. Siapin diri kamu ya Fatimah, habis Subuh, Mas mau minta haknya Mas.”


Fatimah membenamkan wajahnya di dada Kala sebelum akhirnya bangkit.


“Iya, Mas.” Fatimah menjawab gugup, jantungnya berdegup.


Selama Kala di kamar mandi, ia mencari baju yang sudah disiapkan Abby. Matanya membola menatap lingerie seksi yang pasti tidak menutupi apapun.


“Ya Allah, Mbak Abby …”


Usai sholat Subuh berjamaah. Kala membantu Fatimah membuka mukena.


Ia menelan saliva menatap tubuh istrinya yang hanya tertutup kain menerawang.


“Thank you, Abby,” batin laki-laki yang hasratnya mulai naik. Ia tahu lingerie yang dipakainistrinya adalah pilihaan Abby.


“Mas, malu …” Fatimah berusaha menutupi bentuk tubuh yang sempurna.


“Nggak usah, kamu udah punya Mas, sekarang.”


“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna,” ucap keduanya.

__ADS_1


Kala menarik Fatimah lalu ******* bibir merah kenyal yang menggelitik gairahnya. Fatimah mendesah nikmat. Tak lama baju lucknut itu sudah terlepas entah kemana.


Fatimah menikmati sentuhan demi sentuhan. Kala ternyata dominan di tempat tidur. Padahal di kesehariannya, ia terlihat santai dan konyol.


Di lain pihak, Fatimah yang biasa mengambil keputusan dan tegas, menikmati dan mematuhi semua keinginan Kala.


Pagi itu, untuk pertama kali, Kala merasakan nikmatnya menjadi seorang laki-laki. Perlahan tapi pasti ia bergerak di atas tubuh yang menggeliat nikmat.


Fatimah adalah semua yang Kala selalu dambakan dari seorang wanita. Sementara Fatimah, ia hampir tidak mau memejamkan mata karena khawatir ia akan terbangun dari mimpi.


Kala terus bergerak, mengganti posisi, menuntut namun memberi di saat yang bersamaan. Fatimah memeluk Kala dan tak mau melepaskan. Tangannya menelusuri lekuk tubuh sempurna yang sedang memberikan kehangatan.


“Fatimah, Sayang. Kamu enjoy kan?”


Dengan suara serak, Fatimah mengiyakan.


“Sekarang, ya. Mas udah nggak bisa nahan.”


Kala bergerak makin cepat hingga keduanya mencapai puncak di saat yang bersamaan.


“Alhamdulillah …”


Kala menggulingkan badan ke samping, merengkuh Fatimah untuk masuk ke dalam dekapannya.


“Sakit nggak, Sayang?” Kala memerhatikan bercak merah yang menodai sprei putihnya.


“Dikit aja pas pertama. Mas, enak nggak tadi? Fatimah belum pinter.”


“Enak banget. Istirahat bentar terus lagi, ya.”


Fatimah mengangguk. Ia membenamkan kepalanya ke dada hangat Kala.


“Mas, tau nggak ini semua nggak seperti yang aku bayangin.”


“Mas ngerti. Ini semua di luar dugaan. Kalau orang kan ta’aruf dulu. Memakai masa ta’aruf untuk saling mengenal. Kalau kita dibalik, nikah dulu baru kenalan..”


“Fatimah takut. Kalau …”


“Sssh, dalam keraguan itu ada setan yang sedang bermain di hati dan pikiran kita. Allah sangat menyukai pernikahan, setan mengusahakan perceraian. Allah sudah mengijinkan kita bersama, yakinlah pada ketetapan Allah. Janji ya, Sayang. Apapun perbedaannya, kita akan saling memahami.”


“Janji. Mas, Fatimah mau nangis.”


Fatimah menggeleng kuat-kuat. Air mata menitik.


“Hey, hey, maaf, Mas terlalu memaksa kamu?”


“Bukan … Fatimah bahagia banget. Bahagiaaa banget. Mas, bimbing aku supaya bisa jadi istri yang sholihah buat kamu. Supaya aku bisa bikin kamu bahagia. Supaya kita dipertemukan lagi di akhirat sebagai pasangan.”


“In syaa Allah, sayang. Mas janji akan setia pada pernikahan kita, jagain kamu, anak-anak, cucu-cucu kita. Mas minta satu sama kamu, boleh?”


“Jagain, Aya, Buna? In syaa Allah. Mereka adalah orang tua Fatimah juga.“


“Bismillah, lagi yuk?”


Fatimah tidak menjawab, tapi sentuhan lembut di dada Kala membuat pria itu tahu bahwa istrinya sudah siap untuk berbagi kenikmatan dengannya.


***


Tahun-tahun berlalu. Di malam Idul Fitri, semua berkumpul. Liam memasang suara takbir di speaker.


Thoriq duduk sambil merangkul Qiara. Menikmati kehangatan dengan hadirnya seluruh anak dan para cucu.


Liam dan Aira dengan dua putranya yang sangat aktif. Kala yang sedang menggendong si sulung sementara Fatimah sedang hamil anak ke dua. Qiara tersenyum melihat anak Kala yang sangat mirip dengan ayahnya waktu kecil.


Hamiltom sibuk mengejar putra kembarnya sementara Abby menyusui si bungsu yang masih bayi. Triplets dengan masing-masing pasangan dan putra-putri mereka.


Tinggal Zee, auntie favorit, yang masih berpredikat mahasiswa.


Thoriq berdehem.


“Semuanya, Aya dan Buna mau mengumumkan sesuatu.”


“Ya Allah, Buna hamil? Kita mau punya adik lagi gaes.”


“Kalandra Akira Putra Thoriq,” Qiara menyubit pinggang putranya yang isengnya tidak pernah sembuh.

__ADS_1


Semua tertawa gembira. Kala mengecup kening ibunya dengan penuh rasa sayang.


“Becanda, Buna Sayang.”


Thoriq cengengesan, “Kala, kamu benar. Buna memang sedang hamil.”


Semua langsung terdiam. Menatap Qiara antara percaya tidak percaya.


“Gotcha!” Thoriq dan Qiara serempak berseru.


“Ya Allah, kaget aku!” Zee mengusap dadanya.


“Bisa-bisa nanti kalau aku punya anak, satu sekolah sama adikku.”


“Nggak, lah, Baby Zee, kamu akan selalu jadi adik baby gumush kakak-kakakmu ini.” Azka menyubit pipi adiknya. Walau sudah kuliah tapi para kakak selalu menganggapnya terbayik.


“Jadi tadi pengumumannya apa?” Tanya Hamilton yang masih sabar menyimak.


“Kulkas,” bisik Zee. Abby melotot ke arah adiknya.


“Oya, terima kasih mengingatkan. Jadi kami mendapat tawaran untuk membuka restoran Kisah Bahagia di New York. Rencananya mulai bulan depan Aya dan Buna akan lebih sering travel ke sana. Restoran kami yang kedua ini akan dinamai Kisah Baru.”


“Kenapa nggak tinggal di sana?” Tanya Azka yang bermukim di Amerika bersama keluarganya.


“Pertama, perijinannya lama, kedua, mmm
Buna masih ingin dekat dengan makam Daddy kalian.” Mata Qiara tidak berani menatap Thoriq.


Suasana mendadak hening.


Thoriq mencubit dagu Qiara menghadapkan ke wajahnya.


“Qia, Mas ikhlas dengan perasaanmu pada Devan. Mas ngerti rasanya mencintai seseorang begitu dalam dan tak bisa melupakannya.”


“Mas nggak marah?”


“Gimana coba Mas marah kalau kamu masih ngegemesin kayak dulu.” Thoriq mengecup bibir dan hidung Qiara.


“Omaigat. This is too much,” protes Zee sambil menutup mata dengan kedua tangan.


“Ada banyak orang aja kayak gitu, gimana kalau berdua,” celetuk Barran.


“Kalian mah kalah, ya kan Qia …” jawab Thoriq memeluk erat istrinya.


“Allahu Akbar, Mas …” Qiara pura-pura memukul lengan suaminya tapi tidak menolak ketika Thoriq mendaratkan ciuman di bibirnya.


Suitan langsung menggema di rumah yang dipenuhi kehangatan.


“Jangan lupa, besok setelah sholat Id di Kedutaan, kita ke makam Daddy,” ucap Liam mengingatkan adik-adiknya.


“In syaa Allah.”


Malam dimana bunyi takbir bergema, keluarga besar Donavy-Aditya menikmati kebahagiaan dan kebersamaan. Berceloteh dan bercanda.


Thoriq dan Qiara bersitatap mesra.


“I love you,” ucap keduanya di saat bersamaan.


Cinta yang Tak Utuh memang pernah mengobrak-abrik Kisah Indah yang harusnya tertulis sempurna. Namun darinya muncul Kisah Baru dengan sejuta kebahagiaan.


\~ TAMAT \~


***


Alhamdulillah wa syukurillah, novel Cinta yang Tak Utuh berhasil diselesaikan.


Terima kasih pada teman-teman yang rajin kasih like, komen, dan jejak-jejak lain.


Mampir juga di novelku yang sebelumnya Istri Untuk Suamiku (alurnya agak lambat, maklum waktu itu masih newbie).


In syaa Allah, thor akan muncul lagi dengan cerita baru, nggak lama lagi.


Sehat semua,


Bahagia selamanya,


Selalu bersyukur.

__ADS_1


See you soon, para readers kesayangan.


***


__ADS_2