
POV Hanna
Thoriq Aditya.
Itulah nama yang selalu terukir di hatiku. Usianya terpaut jauh dariku namun tak mengurungkan hatiku untuk selalu mendambanya.
Aku mengenalnya dari kecil, namun panah cinta menusuk kalbuku ketika aku duduk di bangku SMP. Mas Thoriq sendiri sudah kuliah. Wajahnya luar biasa tampan, sorot matanya lembut, dagunya terbelah, senyumnya benar-benar membuat hatiku bergetar.
Mas Thoriq tidak pernah memerhatikanku, mungkin karena baginya aku masih anak-anak. Merantau ke Jakarta, aku menantikan saat-saat Mas Thoriq pulang kampung.
Aku sering mencuri pandang padanya. Di benakku, sering berkhayal bahwa Mas Thoriq juga diam-diam menaruh hati padaku.
Ibu mengetahui perasaanku. Beliau sering meledek bahkan sempat berucap bahwa jika aku dewasa dan Mas Thoriq belum menikah, maka mereka akan minta pada Kakek dan Nenek untuk menjodohkannya denganku.
Sejak saat itu, aku tidak lagi menganggap Mas Thoriq sebagai pujaan hati, melainkan sebagai calon suami.
Tahun demi tahun keinginanku semakin menguat, apalagi setelah Mas Thoriq lulus kuliah dan bekerja, ia makin kelihatan berwibawa.
Ayahku sudah lama meninggal, jadi aku selalu mengharapkan seseorang yang dapat melindungiku.
Hatiku hancur ketika Mas Thoriq pulang kampung dengan membawa calon istri. Mereka berdua nampak saling mencintai. Mas Thoriq selalu menatap wanita bernama Qiara dengan mesra. Begitu juga dengan wanita itu yang selalu menatap Mas Thoriq dengan tatapan memuja.
Qiara Anjani, wanita yang akan dipersunting Mas Thoriq. Menurutku, dia tidak lebih cantik dariku yang menjadi kembang di desa ini. Kurasa, wajah dan tubuhku lebih menarik darinya. Tapi kenapa Mas Thoriq malah memilihnya?
Hari pernikahan mereka adalah hari terberat buatku. Aku melihat calon suamiku berada dalam puncak kebahagiaan bersama wanitanya. Harusnya aku yang ada di pelaminan, bukan wanita bernama Qiara.
Mas Thoriq mengenalkan Qiara padaku. Sekilas, karena memang selama ini Mas Thoriq tidak terlalu mengenalku. Hanya sesekali saja bertegur sapa. Aku lah yang memiliki harapan setinggi langit.
Ketika Ibu sakit, beliau menitipkanku pada Kakek dan Nenek. Mereka memohon pada Mas Thoriq untuk menikahiku. Mungkin ini yang namanya jodoh. Aku tahu pria pujaanku sangat mencintai istrinya. Tapi aku mencintai dia.
Kakek dan Nenek terus memohon hingga Mas Thoriq setuju. Aku tahu Mas Thoriq tidak menginginkan pernikahan ini. Biarlah, yang penting, aku jadi istrinya dulu. Beberapa kali ia menyebut nama Qiara Anjani saat ijab kabul. Hingga akhirnya namakulah yang terucap dari bibirnya. Mas Thoriq, kini aku halal bagimu.
Rasa kehilangan karena ibuku meninggal tak lama setelah kami menikah terganti dengan keinginanku untuk menjadikan Mas Thoriq milikku seorang. Perlahan, aku akan menggantikan Qiara di hati Mas Thoriq.
Demikian yang kubaca di novel-novel romantis. Yang penting, aku harus membuatnya menyentuhku dan aku harus mengandung anaknya.
Aku memberikan ramuan jamu yang dicampur dengan perangsang karena jelas-jelas Mas Thoriq tidak ingin menyentuhku.
Hingga malam itu walau pria yang kucinta berulang kali memanggil nama Qiara, kuserahkan kehormatanku padanya.
Tangis bahagia kutahan karena kini kami sudah menyatu.
Pulang ke Jakarta, aku harus menelan pil pahit ketika Mas Thoriq meninggalkanku di ruang tamu. Aku tahu ia bercinta dengan Qiara. Hatiku tercabik-cabik. Tapi keinginanku makin kuat. Aku harus menyingkirkan Qiara.
Aku harus bersabar, walau Mas Thoriq hanya menyentuhku jika kuberi obat perangsang, walau setiap berdekatan denganku ia nampak menderita. Walau aku harus berbagi suami dengan Qiara. Aku tetap bersabar.
__ADS_1
Aku memperbaiki permainan ranjangku. Memang aku masih belia, tapi disinilah keunggulanku. Setiap Mas Thoriq di rumah Qiara kutonton video-video untuk tahu bagaimana cara-cara memuaskan laki-laki. Bagaimana menggodanya dan membuatnya merasakan surga dunia yang ternikmat.
Saat bulan madu, kuterapkan ilmu otodidakku dan berhasil! Mas Thoriq mulai membuka dirinya. Kenikmatan yang kuberikan akhirnya membuat pria itu bertekuk lutut dan tanpa lelah meminta terus menerus. Dengan ikhlas aku memberikan semua yang ia inginkan. Hari-hari itu kubuat Mas Thoriq lupa akan wanita bernama Qiara.
Kebahagiaan bertambah ketika akhirnya aku hamil. Mas Thoriq tak disangka-sangka sangat bahagia. Aku diperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Harapanku mempunyai keluarga utuh dengan Mas Thoriq sedikit lagi tercapai. Tinggal satu halangan: Qiara.
Kususun rencana sedemikian. Tak kupedulikan lagi bahwa kami adalah sesama wanita yang seharusnya tidak saling menyakiti. Bodo amat! Aku akan bahagia dengan Mas Thoriq dan anak kami.
Malam itu kubuat Mas Thoriq membenci Qiara. Tak kuduga ia memukul istri pertamanya berkali-kali. Walau terbersit rasa tidak tega melihat Qiara yang merintih kesakitan, tapi aku tak tahu apakah ia hanya berpura-pura seperti aku. Kuluruskan niatku untuk merebut Mas Thoriq sepenuhnya.
Beberapa hari Mas Thoriq merawatku dengan kasih sayang. Ia sungguh memanjakanku. Berulang kali menciumi perut tempat janin kami bertumbuh.
Tatapan lembutnya kini milikku. Tubuh tegapnya kini selalu menghangatkanku setiap malam tanpa aku harus memohon. Beberapa hari tak kulihat ia memedulikan Qiara. Aku dan bayiku adalah yang terpenting baginya.
Aku belum pernah sebahagia itu. Merasakan cinta dari pria yang kupuja sejak remaja.
Ketika Mas Thoriq menemui Qiara aku berharap wanita itu tidak menerima kehamilanku hingga Mas Thoriq menceraikannya. Ternyata hal lebih baik terjadi; wanita itu meninggalkan Mas Thoriq. Sayangnya dengan meninggalkan bukti jika malam itu aku hanya bersandiwara.
Ternyata perjuanganku masih panjang. Mas Thoriq hidup seperti zombie. Setiap hari aku tahu dia ke sana kemari mencari Qiara. Aku mendengar nama Qiara disebut dalam doa-doanya setelah sholat. Perceraian mereka adalah hal terbaik setelah kehamilanku.
Aku memakai janin dalam kandunganku untuk membuat Mas Thoriq tetap di sisiku. Meminta hakku sebagai wanita yang tengah mengandung buah hatinya. Mas Thoriq selalu memberikan kewajibannya walau aku tahu ia terpaksa. Biarlah nanti lama-lama aku yakin ia luluh juga. Terlebih sudah tidak ada lagi Qiara di antara kami.
Uang warisan dari kedua orang tua kupakai untuk membeli rumah dan mobil mewah. Aku ingin memanjakan Mas Thoriq. Setiap malam, kuminta jatah nafkah batin sebagai istri. Kuberikan kenikmatan demi kenikmatan padanya. Kumanjakan syahwatnya.
Aku ingin ia melupakan Qiara dan menjadikanku wanitanya. Hampir putus asa ketika Mas Thoriq memilih kamar yang berbeda di rumah baru kami. Biarlah, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Hatiku sedikit terhibur karena memiliki teman-teman baru di kompleks. Aku mulai mengikuti gaya mereka hingga masuk ke sirkel pergaulan sosialita. Dengan wajah dan uang yang kumiliki, tak sulit untuk menjadi bagian dari mereka.
Aku mulai aktif di media sosial. Memilih menikah di usia muda, hamil, memiliki suami tampan, harta melimpah, membuatku si mantan kembang desa, menjadi selebgram.
Kini aku memiliki sahabat, Diana dan Bella. Kami disebut tiga serangkai. Konten-konten kami selalu trending.
Mas Thoriq tidak suka jika kehidupan kami dipajang di media sosial. Tapi aku sedang berada di puncak ketenaran, sulit untuk tiba-tiba berhenti.
Perlahan tapi pasti aku melepas kerudungku. Aku mengikuti fashion terkini yang lebih menampilkan tubuh. Lagi-lagi usia mudaku membawa keberuntungan. Kehamilanku tidak membuat tubuhku melar. Banyak yang iri dengan penampilanku.
Mas Thoriq lagi-lagi mengingatkan. Aku anggap dia cemburu, tapi aku tidak ingin kehilangan teman dan ketenaran. Hingga akhirnya Mas Thoriq hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkahku.
Aira lahir. Ya Aira, jika bisa, aku ingin mengganti namanya karena terlalu dekat dengan nama Qiara. Kenapa setelah perjuanganku, wanita itu masih memiliki cinta Mas Thoriq?
Aku lah yang mengandung anaknya. Aku lah yang mempertaruhkan nyawa. Aku tetap bertahan terhadap sikap dinginnya.
Hati ini makin kecewa ketika Mas Thoriq malah lebih melimpahi Aira dengan perhatian dan hanya sesekali memeriksa kondisiku. Tak kusangka, bayi yang kuharapkan bisa membuat Mas Thoriq mencintaiku malah menjadi pesaing.
Mas Thoriq lebih sering bermain dengan Aira. Sepulang kantor, di hari libur. Bahkan sering Aira tidur di kamarnya. Aira juga nampak nyaman bersama ayahnya. Pernah seharian ia menangis dan baru berhenti setelah ayahnya pulang dan menggendongnya.
__ADS_1
Aku menghindar dari memberikan ASI pada Aira. Banyak temanku yang menyesal menyusui anak mereka karena membuat payudara menjadi turun. Aku mengikuti nasihat mereka.
Mas Thoriq sangat kecewa dengan keputusanku. Tapi ini tubuhku, keputusanku. Lagi pula aku memilihkan susu formula terbaik untuk Aira.
Beberapa bulan melahirkan aku sibuk membuat konten. Tubuhku tidak banyak berubah plus Aira yang lucu dan menggemaskan sering trending di media sosial.
Sengaja kutunjukkan ke Mas Thoriq banyaknya like yang kuperoleh. Aku ingin ia merasa bangga dan bersyukur memiliki istri dan anak yang cantik.
Tak jarang aku mendapat DM dari pria-pria yang ingin berkenalan dengan mamah muda seperti aku. Lagi-lagi kutunjukkan pada Mas Thoriq supaya ia cemburu.
Mas Thoriq hanya melirik lalu mengingatkanku supaya hati-hati. Lalu ia sibuk bermain dengan Aira. Heran, walau masih bayi, tapi Aira bisa terkekeh-kekeh jika becanda dengan Mas Thoriq. Begitu pula sikap Mas Thoriq yang langsung hangat jika sedang bersama Aira.
Anehnya duo bapak-anak itu langsung kaku begitu aku berada di antara mereka.
Aira kini menjadi penghalang bagiku. Mas Thoriq sering menjadikannya alasan setiap aku mengajaknya bercinta. Seperti inikah kehidupan rumah tangga? Seorang istri yang selalu mengemis cinta dan perhatian suaminya?
Untuk melepas penat, aku pergi ke Bandung bersama Diana dan Bella. Kutitipkan Aira pada Bu Darsih pengasuh senior yang kupekerjakan.
Tak disangka, Mas Thoriq mendapati Bu Darsih memberikan obat tenang pada Aira. Aku takut, takut Mas Thoriq semakin memusuhiku.
Selama Mas Thoriq mengurus Aira di rumah sakit, aku pastikan Bu Darsih dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku yang mengurus semuanya, hingga perempuan paruh baya itu harus meringkuk di balik jeruji besi sejak malam itu.
Mas Thoriq menungguku tiba di rumah. Kami berdebat. Kukeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini kupendam. Aku ingin suamiku tahu bahwa akulah yang begitu mencintainya. Aku!
Suamiku terdiam. Rasanya puas. Harapanku ia sadar dan bukan cuma minta maaf karena belum bisa mencintaiku. Aku mau dia mencintaiku!
Hanya hitungan detik, pria gagah itu tiba-tiba roboh.
Kini di sinilah aku, menatap pria tampan dan gagah yang kupuja, pria yang cintanya kudamba.
Di usia ke 31, Mas Thoriq terkena stroke. Tubuh sebelah kirinya lumpuh. Ia sulit makan dan bicara.
Aku sering menangis melihat perubahan fisik Mas Thoriq. Tubuh gagahnya kini menjadi renta, wajah tampannya kini nampak tua. Ia harus makan dengan menggunakan selang. Aku harus mempekerjakan seorang care giver laki-laki untuk merawat Mas Thoriq.
Mas Thoriq tidak bisa merespon panggilanku, hanya sesekali ketika melihat Aira, aku melihat air mata di sudut matanya.
Perusahaan tempat Mas Thoriq bekerja terpaksa mem-PHK. Sepertinya kesialan belum berhenti. Investasi yang kutanam di perumahan temanku ternyata bodong. Dia kabur membawa uang lima belas milyar lebih yang kutanam.
Aku harus memberhentikan ART dan supir supaya bisa mempertahankan care giver dan baby sitter untuk Aira karena uang pesangon dan warisan orang tuaku makin menipis. Ditambah obat-obatan dan terapi Mas Thoriq cukup menyedot biaya.
Diana dan Bella menyuruhku untuk menerima endorse untuk pemasukan. Aku mulai terlempar keluar dari sirkel sosialita. Kakek dan Nenek mengusulkanku untuk pindah ke kampung, namun aku menolak.
Dua tahun sudah Mas Thoriq hanya bisa berbaring atau duduk di kursi roda. Aku merasakan kelelahan mental yang amat sangat. Ditambah lagi Aira yang mengidap asma akut. Rasanya hampir pecah kepala ini.
***
__ADS_1