Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Terbongkar


__ADS_3

Setelah selesai packing, Liam dan Kala masih belum bisa tidur. Mereka sangat bersemangat dengan perjalanan ke besok.


“Kala, bisa tolong ambilin gunting. Aku pernah liat Uncle Thoriq menyimpan di laci ruang kerjanya.”


“Ay, ay, captain.”


Kala bergegas ke ruang kerja yang terletak di lantai dua rumah Thoriq. Dari sela pintu, lampu kamar adiknya sudah dimatikan. Sementara kamar utama tempat ayahnya tidur ada di lantai paling bawah menghadap ke halaman belakang.


Dengan perlahan, Kala membuka pintu ruang kerja.


“Banyak bet lacinya sih. Yang mana coba?” Gumamnya. Kala lalu mulai membuka laci-laci.


Akhirnya di laci samping meja belajar ia menemukan gunting. Sekilas dalam laci ia melihat surat dengan tulisan ibunya. Kala mengambil surat yang disimpan rapi di dalam plastik lalu membacanya.


Air mata menggenang, surat itu adalah surat perpisahan Qiara dengan Thoriq. Ternyata benar dugaan Liam bahwa ibu Aira adalah penyebab Buna dan Aya berpisah.


“Kala, what are you doing?”


Thoriq terkejut menemukan Kala di ruang kerjanya. Ia sengaja naik ke ruang kerja karena lupa mengunci laci tempat menyimpan surat dari Qiara.


Kala terkejut, suratnya jatuh. Thoriq berlari untuk memungutnya seolah surat tadi adalah benda pecah belah yang harus dijaga.


Terkejut dengan reaksi ayahnya, Kala beringsut lalu berlari ke kamarnya.


“Dapet guntingnya?”


Liam tertegun melihat mata Kala yang basah. Adiknya hampir tidak pernah menangis.


“Kala, what’s wrong?”


“Aku mau pulang besok, Liam. Aku nggak mau di sini lagi. Aku nggak mau ketemu Aya dan Aira.”


Liam mengerutkan kening melihat perubahan sikap Kala.


Terdengar pintu kamar diketuk.


“Kala, Liam, boleh masuk?”


“Nggak! Aya jauh-jauh. Kala mau packing, besok mau pulang!”


“Kala tenang, dong. Hei, what’s the matter?” Liam memegang adiknya.


Tidak menjawab kakaknya, Kala mengambil baju-bajunya dan koper. Remaja tanggung itu terpukul dengan surat yang dibacanya.


Liam membuka pintu untuk Thoriq.


“Kala, boleh Aya jelasin?”


“It’s true! You cheated on my mom. I hate you!”


“Liam, boleh Uncle bicara berdua dengan Kala?”


Liam mengangguk lalu keluar kamar. Ia khawatir dengan adiknya, namun mengerti persoalan ini hanya bisa diselesaikan antara Kala dan Thoriq.


Di tangga ia bertemu Aira yang terbangun karena suara ribut-ribut.


“Mas Kala kenapa?”


“Lagi ngobrol sama Uncle. Aira ke bawah aja, yuk. Kita kasih mereka privasi.”


Aira mengangguk, ia mengkhawatirkan ayah dan kakaknya yang terdengar sedang tidak baik-baik.


Di kamar, Kala masih jalan mondar mandir, memasukkan baju-bajunya. Lalu mengambil koper satu lagi dan memasukkan semua barang Liam.


Thoriq menunggu hingga amarah Kala mereda. Inilah yang dikhawatirkan. Bukan hanya Kala akan memusuhinya tapi juga membenci Aira.


“Kala, istighfar. Marah itu perbuatan setan.”


“Waktu Aya, menikah lagi, Aya juga dikuasai setan, kan? Apa bedanya Aya dan Kala?”


“Kamu harus lebih baik dari Aya …” ucapnya lirih.


Kala menatap ayahnya dengan mata berapi-api.


“Kala, dengar dulu cerita Aya, setelah ini, kamu bisa menentukan sikap. Ijinkan Aya memanggil Aira, karena ini juga menyangkut adik kamu.”

__ADS_1


“Aku nggak peduli. Aku mau sama Buna.”


“Kalandra Akira Putra Thoriq,” panggil Thoriq dengan tegas.


“Aya minta kamu duduk dulu, memang ini bukan hal yang enak buat didengar tapi sepertinya ini saatnya kamu tau. Tunggu sebentar, Aya panggil Aira.”


Thoriq memanggil Aira yang datang bersama Liam. Keduanya memasang wajah khawatir dan bertanya-tanya.


“Aira, masuk. Liam, Uncle bicara dulu masalah keluarga. Kamu mau kan tunggu di luar?”


“Uncle, kalau nggak keberatan aku ikut masuk, karena nanti bisa cerita ke Buna dan Daddy.”


Setelah menimbang, akhirnya Thoriq mengijinkan Liam masuk. Remaja itu langsung berdiri di samping Kala yang tidak mau dekat-dekat ayah dan adiknya. Tangannya dilipat di dada.


“Mas Kala …”


Tak mau membentak, Kala hanya mendengus, membuat Aira ciut.


“Sebetulnya Aya tidak terlalu ingin menceritakan hal ini. Karena di samping masih menyakitkan buat Aya, akan ada dampaknya buat Kala dan Aira.”


Thoriq terlihat gugup.


“Aira, kamu suka liat Aya baca surat dalam plastik? Itu adalah surat perpisahan dari Tante Qia buat Aya. Tadi Mas Kala tidak sengaja membacanya.”


Aira tidak pernah sekali pun membaca surat yang selalu membuat ayahnya sedih. Mendengar Kala menemukan dan mengetahui isi surat membuatnya terkejut.


Thoriq memulai ceritanya, “Aya baru menikah beberapa bulan dengan Buna ketika Kakek dan Nenek meminta untuk menikahi mamanya Aira, namanya Hanna. Ibu dari mama Hanna sakit keras dan minta Aya menjaganya. Maafkan Aya, karena akhirnya Aya setuju karena Kakek dan Nenek sampai berlutut memohon.”


Cerita mengalir, Thoriq hati-hati memilih apa yang harus diceritakan karena khawatir akan menjadi contoh buruk bagi anak-anaknya.


“Maafkan keputusan Aya yang menyakiti hati Buna. Maafkan Aya yang tidak tahu ketika Buna mengandung kamu. Maafkan Aya yang tidak bisa mencintai mamamu, Aira.”


Kala dan Aira sama-sama terhenyak. Mereka sudah banyak melihat perceraian yang terjadi pada orang tua teman-teman. Tapi ternyata kisah orang tua mereka lebih rumit.


“Liam benar, Aya memang belum bisa move-on dari Buna dan ada trauma untuk membina hubungan karena Aya pernah menyakiti dua wanita sekaligus. Buat Aya yang terpenting sekarang adalah menjaga Kala dan Aira.”


Aira yang berhati lembut memeluk ayahnya. Kini anak itu tidak berani menatap Kala karena ibunyalah yang menghancurkan kebahagiaan ayahnya dan Qiara.


“Aya menyesal hanya sebentar bisa menjadi suami untuk Buna kamu. Tapi Aya tidak bisa menyesali pernikahan dengan Tante Hanna. Pernikahan Aya dan Tante Hanna menghasilkan Aira. Kamu tau Ai, nama kamu itu Buna yang buatin jauh sebelum Aya menikahi mama kamu.”


Thoriq menghela napas. “Marah, kecewa, dan mungkin pada akhirnya muak hingga memilih pergi. Maafkan Aya …”


Kala menghadap ke luar jendela, memandang jauh ke gelapnya malam yang gulita malam itu. Liam menatap adiknya, ia mengkhawatirkan reaksi Kala terhadap penuturan ayahnya.


Aira datang mendekati kakaknya.


“Mas Kala, maafin ibu Aira yang bikin Tante Qia berpisah dari Aya. Pasti Mas marah sama Aira kan? Aira rela, tapi tolong jangan marah sama Aya … Aya udah sangat menderita berpisah dari Tante Qia dan hidup berjauhan dari Mas.”


Kala menatap Aira dengan tatapan aneh lalu pandangannya beralih ke Thoriq.


“Hanna … Hanna … apakah ini orang yang pernah menyulik Kala?”


Aira terbelalak, dia tidak tahu sama sekali cerita ini.


Thoriq menghela napas, “Benar.”


“Astaghfirullahaladzim!” Aira menutup mulut dengan kedua tangannya. Anak itu tak sanggup lagi menatap kakaknya. Sambil terisak Aira lari ke kamarnya. Bergeming Kala hanya menatap adiknya keluar kamar dengan tatapan dingin.


Inilah yang ditakutkan Thoriq selama ini. Begitu banyak kesalahan Hanna pada Qiara dan Kala hingga Aira yang akan menerima akibatnya.


“Kala hanya ingin sama Liam, Aya.”


Dengan berat hati Thoriq berdiri, ia ingin memeluk Kala tapi langkahnya terhenti melihat anaknya membuang muka.


“Maafkan Aya dan mamanya Aira. Tapi Aya mohon, jangan timpakan ini ke Aira. Adikmu sama tidak mengertinya dengan kamu dan sama terkejutnya. Sekali lagi maaf. Ambillah sholat dua rakaat untuk menenangkan diri.”


Thoriq menatap punggung anaknya, ia tahu Kala sedang menangis. Liam memberi kode padanya untuk keluar. Dengan gontai, Thoriq melangkah meninggalkan putranya.


Di depan kamar Aira, Thoriq tercenung mendengar Aira terisak-isak.


“Ai, buka pintu, Aya mau masuk.”


“Aira pengin sendiri dulu. Aya istirahat aja.”


“Aira …”

__ADS_1


“Please, Aya. Aira cuma perlu nangis aja buat lega.”


“Kalau mau ngobrol datang ke ruang kerja. Malam ini kayaknya Aya nggak bisa tidur.”


Tidak ada jawaban dari anaknya, Thoriq memutuskan untuk ke ruang kerjanya. Menyedu kopi dari coffee machine yang ditempatkan di sana, ia duduk lalu berpikir. Tak berapa lama ia menekan nomor telepon.


“Dev, hai, are you busy? Can we talk?


***


Di kamar, Kala masih berdiri mematung di depan jendela. Setiap air mata mengalir, ia buru-buru mengusap dengan tangannya.


Liam memasukkan baju-baju ke dalam koper. Juga mengambil semua toiletries.


“Done, so what is our plan now?”


“Cari tiket, besok aku mau pulang.”


“Okay, aku bisa pakai credit card Daddy. Semoga dapat nih tiket. Last minute. Duduklah ini bakal agak lama.”


Kala mengikuti perintah kakaknya. Ia duduk namun matanya masih menerawang ke luar.


“Wajar nggak sih aku marah?”


“Wajarlah … natural kok seorang anak marah kalau ibunya disakitin. Dapet dua tiket, aku masukin data-data kita. Paspor kamu di tas?”


Kala mengangguk. Liam membuka tas lalu mengambil paspor Kala dan mencari paspornya sendiri.


“Kamu sholat dulu gih, muka kamu nyeremin.”


Sambil menghela napas, Kala mengambil air wudhu lalu sholat dua rakaat. Liam mengetik di hapenya.


Di atas sajadah Kala yang bingung harus bersikap bagaimana menengadahkan kedua tangannya. Doanya singkat dan polos, “Ya Allah, Kala nggak ngerti harus bagaimana. Marah tapi juga sayang sama Aya dan Aira. Bantu Kala, ya Allah.”


Setelah melipat sajadah dan melepas baju koko dan sarung, ia duduk di samping tempat tidur kakaknya.


“Dapet tiketnya? Bisa dibatalin?”


“Aku belum pesan.”


“Loh tadi?”


“Pura-pura aja. Kala, aku mau ngomong sesuatu. Aya dan mamanya Aira memang punya salah, tapi Aya bener-bener sayang sama kamu. Aku bisa liat dari sikap Uncle. Aira juga. Dia tu dari kecil memuja kamu banget. Kita nggak ada andil dalam kehidupan masa lalu mereka, tapi buat masa depan kita bisa tentukan. Contoh yang baik, buang yang jelek.”


“Aku kecewa sama Aya.”


Liam menepuk pundak adiknya. “Aku lihat, Uncle juga kecewa sama dirinya. Tapi tidak ditunjukkan karena menjaga perasaan Aira. Nikmati kebersamaan dengan Aya. Kamu tau kan ibuku sudah meninggal. Walau Buna adalah ibu yang luar biasa, tapi aku selalu kangen Mommy. Ingin rasanya bisa sekali aja peluk dan dipeluk Mommy. Kamu banyak punya kesempatan, jangan disia-siakan. Apa yang sudah lewat ya sudah. Kayak minum obat pahit kan harus ditelen juga. Abis itu cari limun manis.”


Kala diam merenungi perkataan Liam.


“You’re good, you know …”


“Pengalaman bertahun-tahun,” sahut Liam santai. Duo kakak adik itu saling tos.


“Aku ngantuk, kamu temui Aya dan Aira pasti mereka resah. Bilang sama ayahmu aku masih dua minggu di sini kalau mau cerita, anytime. Biar plong. Kalau udah pulang ke London, aku bakal sibuk.”


“Okidoki … aku cari Aya dulu. Good night and thanks, bro.”


“No worries, Bro.” Liam menaikkan selimut lalu mematikan lampu nakas dan dalam sekejap memejamkan mata dengan senyum tersungging.


Kala melihat lampu ruang kerja masih menyala. Perlahan ia mengetuk pintu.


Thoriq baru saja selesai sholat sunnah langsung berdiri menyangka Aira yang datang.


Tak menyangka Kala yang berdiri sambil menatapnya takut-takut, Thoriq langsung memeluk. Kala membalas pelukannya.


“I’m sorry, Aya. I wasn’t supposed to read the letter,” katanya sambil terisak. Thoriq menciumi pucuk kepala anaknya tak mampu berkata-kata.


Pintu kamar Aira terbuka. Gadis cilik itu takut-takut menatap kakaknya.


“Sini Dek, family hug.”


Aira langsung menghambur memeluk ayah dan kakaknya. Ketiganya berlinang air mata. Hati mereka penuh rasa syukur karena masih diberi kesempatan menjadi keluarga.


Dari tangga, Liam mengintip, “My job is almost done. Next, Uncle Thoriq.”

__ADS_1


***


__ADS_2