Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
I Love You Forever …


__ADS_3

Pagi hari di Melbourne, Qiara menyiapkan sarapan untuk dirinya. Telur dadar dan segelas orange juice.


Kemarin ia bertemu bidan untuk memeriksakan kandungan. Kehamilannya masuk usia 10 minggu, di kantung kehamilan kini nampak sosok janin. Bunyi detak jantung bagai genderang perang membuat netra Qiara menghangat.


“Sehat-sehat kamu ya, Nak. Buna nggak sabar ketemu kamu.”


Bidan yang memeriksanya seorang wanita Australia paruh baya yang sangat ramah dan perhatian. Ia terkejut mendengar Qiara tinggal sendiri dan baru saja menetap di Melbourne.


Bidan Carol, adalah teman masa kecil Stephanie dan Mark. Bidan baik hati itu memberikan nomor telepon pribadinya jika Qiara memerlukan apapun terkait kehamilan. Suami Carol meninggal saat dirinya hamil empat bulan, jadi Carol paham betul beratnya hamil tanpa didampingi suami.


“Kamu harus kuat untuk bayimu. Telepon aku jika kamu perlu sesuatu. Bahkan jika kamu hanya perlu teman ngobrol.”


Qiara terharu dengan perkataan Bidan Carol. Begitulah Qiara, dimana pun berada, dirinya akan selalu mendapat kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.


Qiara melahap telur dadar. Siang ini ia akan bertemu klien untuk menyerahkan hasil rancangan untuk hotel yang sedang mereka bangun. Marianne sangat puas dengan hasil kerja Qiara. Ia yakin kliennya juga akan puas.


Sore hari Mario dan Julia mengajak bertemu di kafe Jeremy. Mario mengatakan akan menyerahkan surat penawaran Compensation and Benefit. Qiara berharap penghasilannya cukup untuk biaya hidup serta tabungan untuk keperluan bayinya.


Qiara mencuci peralatan masak dan piring-piring, lalu merapikan apartemennya. Ia paling tidak suka tempat tinggal yang berantakan.


Masih pukul tujuh pagi, bis baru datang pukul sembilan. Qiara membuka laptop dan tenggelam dalam keasyikan berkreasi untuk sebuah butik milik teman Stephanie. Mereka berkenalan di kafe milik Jeremy.


Sebuah pesan masuk dari Reza pengacaranya.


Selamat pagi, Ibu Qiara, minggu depan adalah sidang pertama untuk gugatan cerai. Sesuai peraturan, Ibu harus hadir, namun ibu mendapat keringanan. Cukup melalui video call saja.


Sambil mengerutkan kening, Qiara membalas:


Baik, Pak.


Qiara menghela napas, artinya jika Thoriq minggu depan hadir di persidangan, mereka akan bertatap muka untuk pertama kali setelah sekian lama. Meski hanya melalui video call, namun Qiara harus menguatkan hati.


Tak dapat dipungkiri betapa dirinya memendam rindu yang teramat sangat. Walau dirinya tak tahu bagaimana perasaan Thoriq terhadapnya setelah kehadiran janin di tubuh Hanna.


Qiara berdiri lalu berjalan ke arah cermin. Kehamilannya masuk ke usia sepuluh minggu. Ia sudah membeli baju-baju yang lebih longgar karena perutnya mulai membuncit.


“Minggu depan mungkin kita akan melihat Aya. Maafkan Buna yang menjauhkan kamu dari Aya, percayalah ini yang terbaik, walau sulit.”


Ia melirik jam, sudah hampir pukul setengah sembilan. Dibereskannya laptop, dipakainya sepatu kets, lalu ia keluar apartemen untuk mencari rejeki.


***


Thoriq telah menyewa pengacara yang merupakan teman Fauzan. Ia berencana menolak perceraian dan memohon Qiara kembali padanya.


Pria itu mulai merapikan penampilannya, berharap bisa bertemu Qiara di sidang perceraiannya.


Seperti membalik telapak tangan, semangat bertemu Qiara membuat semua pekerjaannya yang berantakan beres dalam sekejap. Atasannya kembali memujinya, berharap apapun masalah pribadi yang dihadapi Thoriq, tidak memengaruhi kinerjanya.


Hari-hari kini dilalui Thoriq dengan ringan. Jika normalnya pasangan enggan menunggu hari sidang perceraian, lain halnya dengan Thoriq, ia menghitung hari, menanti tibanya sidang perceraian. Hari dimana ia bisa melihat Qiara lagi.


Thoriq tidak memberitahukan persidangannya kepada Hanna. Ia yakin Hanna akan berbuat ulah agar suaminya tidak hadir di persidangan.


***


Hari-hari berlalu, hingga tiba hari persidangan. Thoriq dan Qiara di tempat yang terpisah ribuan kilometer sama-sama merasa gugup.


Qiara melakukan sambungan video call di rumah Melanie. Sedemikian ia berharap keberadaannya tetap bisa disembunyikan.


Pukul sembilan pagi Thoriq sudah berada di depan ruang sidang. Tak sabar menunggu kedatangan Qiara. Ia tak sanggup lagi menahan rindu.


Hingga pintu ruang sidang dibuka, ia tidak menemukan sosok istrinya. Kursi di samping pengacara Qiara pun kosong. Thoriq menahan kecewa.


Majelis membuka sidang, meminta pengacara menghadirkan pemohon.


Pak Reza, seorang pengacara senior menyambung laptopnya ke layar yang langsung tersambung dengan Qiara.


Mata Thoriq menatap tanpa kedip sosok yang dirindukan siang malam.

__ADS_1


“Qia!” Laki-laki itu berseru lalu hampir menghambur ke layar jika tidak ditahan oleh pengacaranya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Qiara setelah sekian lama berpisah.


Qiara berusaha keras menahan air mata agar tidak tumpah. Dirinya pun merindukan Thoriq, rindu teramat sangat.


“Assalamualaykum, selamat pagi yang mulia Majelis Hakim, Mas Thoriq, dan para pengacara. Saya mohon maaf karena sesuatu dan lain hal tidak dapat hadir langsung di persidangan. Namun saya berharap melalui video call ini, tidak mengurangi kesungguhan saya untuk … untuk berpisah dari suami saya Thoriq Aditya.”


Thoriq terus menatap Qiara, matanya menghangat. Qiara nampak segar, pipinya kemerahan, terlihat lebih chubby dari saat terakhir mereka bersama. Pembawaannya tetap tenang dengan suaranya yang lembut.


“Pengacara termohon, apakah ada yang ingin disampaikan?” Tanya hakim pada Lingga, pengacara dari pihak Thoriq.


“Hakim yang mulia, ijinkan saya menyapa istri saya,” mohon Thoriq sebelum Lingga sempat menjawab pertanyaan hakim.


Hakim ketua mengangguk.


“Qia, apakabar? Kamu baik-baik saja, kan?” Suara Thoriq bergetar menahan cinta dan rindu membuncah.


“Alhamdulillah Qia baik, Mas. Maaf Qia pergi tanpa pamit,” jawab Qiara sambil menahan air mata agar tidak tumpah. Ia merindukan suara Thoriq, suara yang selalu menyapanya dengan kasih sayang.


“Mas mengerti, Mas minta maaf Qia. Mas mohon kamu mau pulang.”


“Maaf, saya akan melanjutkan permohonan mewakili Ibu Qiara,” sela Reza mendengar permohonan Thoriq yang terakhir.


Hakim mengangguk dan minta sidang dilanjutkan.


Pengacara Qiara mengajukan permohonan perceraian sementara pengacara Thoriq meminta mediasi.


Reza menjawab dengan lugas,” Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dari pihak pemohon. Di sidang berikutnya kami akan memberikan bukti-bukti atas penyebab permohonan gugatan cerai.”


Tubuh Thoriq hampir ambruk mendengar perkataan pengacara tersebut.


“Qia, kasih kesempatan Mas buat perbaiki semuanya,” jawabnya langsung kepada Qiara.


Hakim menyuruh Thoriq untuk menjaga tata tertib sidang.


Di balik kamera, Qiara dilanda kebimbangan. Rasa cinta pada suaminya masih begitu besar namun ia tidak sanggup kembali berbagi kebahagiaan dengan Hanna.


“Dari kami pemohon sudah cukup, Yang Mulia Majelis Hakim.”


Hakim kemudian menutup sidang dan meminta semua pihak mempersiapkan sidang berikutnya.


“Qia, Mas menyesali semuanya. Kembalilah pada Mas. Atau ijinkan Mas menemui kamu.”


Hakim kembali memberi peringatan pada Thoriq.


“Qia pamit ya, Mas. Jaga diri Mas. Assalamualaykum.”


Reza segera memutus sambungan video call. Gegas Thoriq mendekati pengacara istrinya untuk minta informasi tentang Qiara.


“Maaf Pak, saya hanya menjalankan amanah dari Bu Qiara, tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan. Sampai jumpa di sidang berikutnya.”


Thoriq berusaha menahan Reza hingga terjadi kericuhan. Lingga segera menarik Thoriq untuk menjauh.


“Anda bisa dilaporkan ke polisi, Pak. Anda mau itu?”


Thoriq membebaskan diri dari Lingga untuk mengejar Reza yang sudah dilindungi oleh barisan bodyguard.


“Saya berhak berbicara dengan istri saya! Saya akan tuntut Anda karena menyembunyikan Qiara!”


***


Hari-hari berlalu, hingga mereka tiba di persidangan berikutnya.


“Mas hari ini kemana? Temenin Hanna yuk, lagi bosan.”


“Mas sibuk hari ini, weekend aja ya.” Thoriq sudah berpakaian rapi hendak berangkat ke persidangan.


“Bosennya sekarang, diajak perginya weekend,” rajuk Hanna sambil bergelendot ke pundak Thoriq yang sedang membuat kopi.

__ADS_1


“Mas nggak bisa, maaf Hanna.”


“Mas jahat, ih,” sambil terus pura-pura merajuk. Dengan lihai tangan Hanna mengarah ke pusaka suaminya.


“Hanna, stop! Mas nggak boleh telat.” Thoriq menangkap tangan Hanna yang mulai nakal. Tiba-tiba ia merasa mual. Dengan segera Thoriq membebaskan diri dari Hanna dan lari ke kamar mandi membuang isi perut.


Dengan jijik Hanna melirik kamar mandi, Thoriq berulang kali memuntahkan isi perut. Hanna duduk di depan TV lalu menonton acara favoritnya.


Setelah selesai, Thoriq ke luar. Tubuhnya agak gemetar. Sudah beberapa kali ini Thoriq mengalami hal serupa. Bahkan saat makan siang di kantor sering ia berlari ke toilet untuk membuang isi perut.


“Jadi gimana, Mas? Nanti kita makan siang bareng, yuk,” Hanna berkata melihat Thoriq keluar dari kamar mandi menuju kamarnya untuk berganti kemeja.


Dengan gesit Hanna ikut masuk lalu mengunci kamar Thoriq, membuang kuncinya asal.


“Hanna apa-apaan? Mas mau ganti baju. Lalu ke kantor.”


“Nggak bisa, Hanna lagi pengin. Udah berhari-hari Mas cuekin Hanna.”


Hanna membuka seluruh pakaiannya lalu dengan tubuh polos mendekati suaminya.


Thoriq melirik jam di dinding, dalam waktu dua jam persidangan akan dimulai.


“Hanna, please, Mas ada meeting penting. Nanti malam Mas janji.”


“Sekarang,” bisik Hanna sambil membuka kemeja Thoriq.


Akhirnya Thoriq mengalah. Perlahan dibaringkannya Hanna ke ranjang lalu ia memberikan percintaan singkat kepada istrinya.


Hanna mendesah untuk semua sentuhan yang diberikan Thoriq, hingga dirinya mencapai puncak kenikmatan. Setelah selesai, Thoriq berlari menyambar pakaiannya, mencari kunci kamarnya, lalu membersihkan diri ke kamar mandi. Hanna masih berbaring di kamar ketika Thoriq berangkat menuju persidangan.


Lalu lintas ibu kota tidak bersahabat pagi itu. Thoriq terlambat hampir tiga puluh menit. Puluhan kali Lingga menghubunginya.


Dengan terburu-buru Thoriq memasuki ruang sidang. Hakim menegurnya. Qiara sudah tersambung di video call menatapnya dengan pandangan terluka. Sebagai wanita dewasa, pasti Qiara bisa menduga apa yang membuat Thoriq terlambat.


Thoriq merutuki Hanna yang selalu berada di antara dirinya dan Qiara. Walau Thoriq tidak menginginkan percintaan tadi pagi, namun itulah satu-satunya solusi agar Hanna tidak menganggunya.


Hakim mempersilakan pengacara Qiara menampilkan bukti-bukti. Reza memutar rekaman video CCTV. Kemudian Reza menunjukkan foto visum dari rumah sakit. Qiara yang pingsan dengan wajah lebam dan bengkak. Kemudian ilustrasi area perut yang lebab karena terkena ujung meja.


Thoriq menangis, tidak pernah menyangka sebegitu parah hasil perbuatannya.


“Maafkan Mas, Qiara,” ucapnya berkali-kali.


Pengacara Thoriq tidak berkata apa-apa selain menerima bukti-bukti yang memang valid. Demikian pula kliennya. Kini Thoriq tidak berani menatap wajah Qiara di layar.


Sebelum hakim menutup sidang, Qiara mohon kesempatan untuk bicara.


“Yang Mulia Majelis Hakim, Pengacara, Mas Thoriq. Ijinkan saya menyampaikan sesuatu di sini …”


Qiara mengambil napas dalam.


“Perkawinan adalah sebuah ibadah panjang bagi suami dan istri. Ibadah yang dirancang untuk membawa kebahagiaan. Perkawinan saya dan Mas Thoriq sudah tidak lagi memberi kebahagiaan bagi saya, terlebih Hanna sudah hamil dan pastinya perlu banyak perhatian. Mas Thoriq menikahi Hanna karena kewajiban, namun saya yakin dari sana akhirnya tumbuh cinta yang menyakitkan bagi saya.”


Qiara mengambil jeda, matanya menatap lembut ke laki-laki yang masih menjadi pemilik hatinya.


“Mas, lepaskan Qiara, karena Qia berhak juga merasakan kembali kebahagiaan. Berbahagialah, jadilah suami dan ayah terbaik seperti yang selalu Mas cita-citakan. Sebelum ikatan kita putus, ini terakhir kali Qia mendoakan Mas. Semoga Mas selalu dalam keberkahan, selalu sehat, dan dalam lindungan Allah SWT. Maafkan kesalahan Qia ya Mas,” pungkas Qiara sambil mengangguk sebagai tanda terima kasih ke majelis hakim.


Walau tidak sesuai dengan urutan sidang, namun ketua majelis hakim mempersilakan Thoriq untuk berbicara pada calon mantan istrinya.


“Qiara Anjani, mengenal kamu, menikahi kamu adalah hal terbaik bagi Mas. Kamulah cinta sejati, Mas, selamanya.”


Suara Thoriq tersendat. Air mata mengalir di pipinya, demikian juga di pipi Qiara.


“Maafkan karena Mas bukanlah suami yang baik untuk kamu. Mas berharap kita masih bisa bersama, tapi Mas yakin kebersamaan kita hanya akan menyakiti kamu. Mas ingin sekali memeluk kamu, Qia, sebentar saja untuk terakhir kali. Mas ingin bersujud di hadapan kamu karena telah menyakiti kamu. Mas minta maaf. Mas sungguh-sungguh minta maaf. I love you forever Qiara Anjani. Melepasmu adalah hal terberat yang harus Mas ikhlaskan. Jaga diri baik-baik, ya Sayang, Mas akan selalu mendoakan kebahagiaan Qia.”


Sambil berlinang air mata Thoriq dan Qiara saling menatap, mengikhlaskan satu sama lain, untuk mencari kebahagiaan masing-masing.


***

__ADS_1


__ADS_2