
Devan sedang giat berlatih bersama fisioterapis. Jika biasanya, keringat dingin yang bercucuran dari kening fisioterapis, kali ini peluh Devan membasahi sekujur tubuhnya.
Fisioterapis yang bernama Marlon bertanya pada Jack, badai apa yang membuat Devan berubah.
“Badai dahsyat bernama Qiara,” jawabnya singkat lalu melaporkan perkembangan Devan kepada Phil dan Dian, ibu Devan.
“Jack, kamu perlu latian juga?” Tanya Devan sinis melihat Jack dan Marlon sedang berbincang.
“Tidak, Tuan.”
“Ngajak ngobrol terus. Biarkan Marlon bekerja!”
“Siapa juga yang … ehm, maksud saya, baik, Tuan. Maaf,” sahutnya sambil menatap Marlon dengan pandangan jengkel.
“Marlon, saya ingin melatih kaki.”
Marlon dan Jack menatap Devan dengan ngeri karena setiap pria itu gagal, maka ia akan mengamuk dan mengurung diri hingga berhari-hari.
“Dev …”
“Please Marlon aku ingin mencoba.”
“Baik, aku akan bantu.” Walau Marlon khawatir, tapi sebagai fisioterapis handal dengan bayaran ribuan dollar perjam ia harus memberikan energi positif untuk pasiennya.
Devan mengarahkan kursi rodanya ke area latihan kaki. Marlon membantunya.
“Dev, jangan dipaksakan. Kita liat seberapa kamu bisa memakai kakimu untuk bangkit dari kursi.”
“Siap!” Devan menjawab mantap.
Marlon berancang-ancang mengangkat tubuh Devran. Sementara Devan sekuat tenaga mencoba membuat kakinya bergerak.
“Dev, Dev, stop. Masih seperti kemarin. Kakimu hanya bergerak sedikit sekali. Jangan putus asa, sekarang kita rangsang otot kaki. Nanti setelah ini aku akan memberi terapi untuk merangsang syaraf.”
“Bisakah kau buatkan program untukku. Aku ingin berusaha sekuatku. Setidaknya jika harus seumur hidup di kursi roda, aku pernah berusaha keras untuk bangkit.“
“Nah itu baru namanya semangat! Sure aku akan bantu kamu. Bahkan aku akan berikan latihan untuk kamu kerjakan saat duduk nonton TV, baca, dan lain-lain.”
“That’s great. Aku akan berlatih terus.”
“Thanks, Mate. Saya benar-benar bangga dengan perubahanmu. Sekarang kita mulai menguatkan otot kaki. Kita latihan yang ringan dulu …”
Jack diam-diam membuat rekaman video dan mengirimkan ke orang tua Devan. Sebuah aksi yang sebetulnya tidak luput dari perhatian Devan.
***
“Ted, seperti biasa, berhenti di ujung situ. Nanti aja kita ke mansion lima menit sebelum appointment dengan beruang grizzly itu.”
“Baik, Nona.” Ted tersenyum lebar mendengar julukan yang diberikan Qiara pada Devan lalu memarkir kendaraan di ujung jalan menuju mansion.
Qiara kemudian turun, sambil mengamati jendela kamar Devan yang nampak dari tempatnya berdiri. Biasanya Devan akan mengintip dari sana.
Tidak pagi itu.
“Ih, kemana dia? Apa jangan-jangan dia sakit?” Gumam Qiara sambil melongok-longok ke arah jendela Devan.
Seseorang tersenyum bahagia mendengar Qiara.
“Dia baik-baik saja. Orang itu memutuskan untuk menemani seorang interior designer keras kepala yang hanya mau datang lima menit sebelum waktu pertemuan.”
Qiara tersenyum, Devan membalas senyumannya hingga membuat Jack dan Ted bengong. Semenjak kecelakaan terlebih setelah Stella pergi, hari-hari Devan diisi dengan kegetiran dan kemarahan.
“Morning, Doc.”
“Kayaknya kita bisa panggil nama aja, ya, mulai sekarang. Aku panggil kamu Qiara, dan kamu cukup panggil aku Devan.”
Qiara menggelengkan kepala. Usia mereka terpaut hampir delapan tahun. Devan kurag lebih sama usianya dengan Dhanu. Walau mereka hidup di Australia, namun Qiara tetap merasa rikuh.
“Saya panggil Doctor D?” Katanya mencari jalan tengah. Devan, Jack, dan Ted tertegun.
“Oh ya ya, that’s kinda cool. Doctor D … Kamu udah sarapan belum, Qiara. Tadi Jack menyiapkan sarapan buat kamu di gazebo dekat sini.”
Jack mendengus, dari pagi Devan merongrongnya untuk menyiapkan sarapan aneka rupa. Dari kentang panggang, bubur ayam yang ia baru tahu cara masaknya dari youtube, hingga roti bakar plus omellete. Hanya karena Devan tidak tahu apa selera Qiara. Belum lagi jus dan buah potong yang harus disiapkan karena Devan khawatir Qia masih morning sick.
“Aku lagi agak mual, kalau ada jus, aku minum jus aja.”
Dengan penuh kemenangan, Devan melirik Jack yang tadi enggan menyiapkan buah dan jus. Jack membalas tatapan Devan dengan jengkel karena sudah menyiapkan aneka rupa makanan yang mungkin tidak akan dijamah oleh Qiara.
“Kamu masih sering morning sick?”
“Aku nggak pernah morning sick, alhamdulillah kehamilanku mudah. Kalau di Indonesia aku disebut hamilnya badak. Cuma hari ini aja kok tiba-tiba mual.”
Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di sebuah gazebo tidak jauh dari tempat mobil diparkir. Ada jalan khusus menuju gazebo sehingga kursi roda Devan bisa melintas.
Qiara menatap pemandangan sekelilingnya. Padang rumput yang membentang. Di kejauhan nampak taman dimana banyak anak kecil bermain. Para ibu menggelar tikar lalu berpiknik sambil menunggui anak-anak.
Tanpa sadar Qiara mengusap perutnya.
__ADS_1
Devan diam-diam memperhatikan Qiara.
“Anakku berumur sembilan bulan waktu kejadian nahas itu terjadi. Empat tahun lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku yang tidak sanggup menemuinya. Dengan kursi roda ini. Ayah cacat yang tidak berguna. Bulan depan Liam akan merayakan ulang tahun kelima,” ungkap Devan yang ikut memandang jauh ke arah taman.
Qiara menghela napas. Kelak, anaknya belum tentu bisa bertemu ayahnya. Dirinya tidak tahu bagaimana Thoriq akan bersikap karena tidak memberitahukan kehamilannya. Dan yang lebih ditakutkan adalah jika Thoriq kemudian meminta hak asuh.
Sambil terus memandang ke arah anak-anak yang berlari kian kemari, Qiara bertanya, “Kamu tahu dimana anakmu berada?”
Devan terdiam. Ia telah membayar orang untuk mengawasi istri dan anaknya yang kini tinggal di Wollonggong. Sebuah kota kecil agak jauh dari Melbourne, tempat orang tua Stella tinggal.
“Temuilah sesekali. Anakmu tidak akan peduli bagaimana kondisimu. Dia … dia hanya ingin kamu berada di sisinya… Ibuku meninggal saat aku umur dua tahun. Sampai sekarang, aku hanya berharap, sekali saja, hanya sekali saja merasakan ibu datang, memelukku dan mengatakan semua akan baik-baik saja,” lanjut Qiara lagi.
Setetes air mata turun membasahi pipi Qiara yang buru-buru diusap dengan jari-jarinya. Wanita itu memang sangat merindukan ibunya.
“Qiara, maaf aku membuatmu sedih. Akan kupikirkan perkataanmu. Tapi saat ini aku perlu berdamai dengan diriku.”
“Jangan terlalu lama, ada seorang anak berumur lima tahun yang belum mengerti kenapa ia tidak seperti anak lain. Kenapa ia tidak setiap saat bisa bertemu ayahnya. Seorang anak yang merindukanmu di setiap napasnya. Dan menangis tiap malam memohon untuk bertemu denganmu. Anakmu masih punya kesempatan untuk bertemu denganmu, Doctor D. Jangan kau renggut kesempatan itu dengan masalahmu.”
Qiara tersenyum lembut ke arah Devan membuat jantung pria itu berdegup lebih keras. Ada rasa hangat yang mengalir ke seluruh tubuh. Rasa hangat yang dulu ia rasakan setiap Stella tersenyum padanya.
Jack berdehem, “Nona Qiara, ini saya sudah tuangkan jus markisa dan jeruk manis. Sedikit madu untuk menghilangkan mual. Dulu waktu istri saya hamil dan mual-mual selalu saya buatkan jus ini.”
“Terima kasih, Jack.”
Qiara meneguk perlahan. Matanya menerawang jauh. Rasa manis dan asam berhasil menetralisir rasa mual yang dirasakan sejak tadi pagi.
“Pasti sulit untukmu, hamil tanpa kehadiran suami.” Devan mendekatkan kursi rodanya ke tempat Qiara berdiri.
“Aku bisa mengatasinya. Siapa yang bercerita? Julia?”
“Bukan, aku punya cara untuk mendapatkan informasi.”
Qiara melirik sekilas pada pria yang dia beri nama Beruang Grizzly di hapenya.
Aneh melihat pria galak yang biasanya hanya membuka mulut untuk menentang Qiara kini nampak hangat sekaligus rapuh di saat bersamaan.
Dalam hati, Qiara merasakan sesuatu yang tak lumrah. Baru kali ini ia berbicara tentang hal di luar pekerjaan seorang pria. Selama ini hanya Thoriq yang pernah dekat dengannya. Hanya kepada Thoriq, Qiara bercerita tentang perasaannya dan semua uneg-unegnya.
Melirik jam di tangan, Qiara bertanya, “Sudah 9.30, kamu tidak akan memakiku, kan karena terlambat sampai di mansion?”
“Kamu …” Devan mendelik sementara Qiara berjalan kembali ke mobil sambil terkekeh.
***
Hari itu setelah Qiara pulang, Devan mendatangi ruangan-ruangan yang telah selesai ditata ulang oleh Qiara.
Ruang baca di samping ruang makan, tempatnya dulu bersantai setelah santap malam bersama Stella. Mereka mengobrol santai sembari istrinya menyusui Liam. Banyak cerita bahagia terjadi di ruang ini, sekaligus kenangan pahit karena di ruangan inilah Devan mengamuk hingga Stella memutuskan untuk pergi membawa Liam.
Di depan setiap jendela diletakkan meja konsol dan vas-vas besar.
“Tuan Jack, tolong letakkan bunga-bunga di vas-vas tersebut. Nyalakan aromatherapi di setiap pagi,” pesan Qiara sambil menunjukkan bagaimana menata bunga-bunga di vas.
Desainer keras kepala itu mengganti kursi-kursi kulit besar dengan love seat tiga dudukan bermotif biru garis-garis. Sebuah karpet diletakkan menghadap ke jendela dengan pemandangan terbaik. Dulunya, Devan meletakkan patung kuda hadiah dari rekan ayahnya. Kini Qiara menjadikan spot tersebut tempat Devan bersantai di atas kursi rodanya sambil membaca buku.
Awalnya Devan tidak setuju, namun setelah Qiara memaksa dan menempatkan kursi roda di spot itu, pria pemarah langsung berubah pikiran. Kini setiap selesai makan siang, Devan duduk di sana membaca buku-buku hingga waktu minum teh.
“Doctor D, kamu lihat kursi satu dudukan dengan puff? Kursi itu luar biasa nyaman. Aku minta Hardy and Brothers Furniture membuat khusus untukmu. Kursi itu bisa ditempatkan di spot favoritmu saat kamu bisa tidak perlu kursi roda. Jadikan itu motivasi, ya. Aku sungguh mendoakan kamu supaya bisa jalan lagi.”
Devan memalingkan wajah untuk menyembunyikan matanya yang tiba-tiba menghangat. Antara bersemangat namun juga takut kecewa.
“Usaha dulu sekuat tenaga. Kalau memang hasilnya tidak seperti yang kauharapkan, belajarlah ikhlas.” Lagi-lagi Qiara tersenyum dan membuat rasa hangat mengalir ke seluruh tubuh Devan.
***
Devan sedang menikmati kue-kue dan teh yang disiapkan Jack. Ia duduk di meja samping pantry menghadap ke taman bunga.
Besok seharusnya Qiara datang, namun ia ijin karena harus memeriksakan kandungan ke obgyn sesuai jadwal dan program yang dibuatkan oleh bidan.
Devan memegang hapenya berkali-kali. Akhirnya ia menekan nomor seseorang yang selalu ada di benaknya akhir-akhir ini.
“Hai Qiara, are you busy?”
“Pretty much, lumayan. Masih di proyek. Ada apa Doctor D?”
“Mmm, apakah … apakah kamu free malam ini? Aku ingin mengajakmu pergi makan malam.”
Qiara berpikir. Sebagai seorang muslim, karena ia bercerai saat hamil, maka masa iddahnya panjang hingga ia melahirkan.
Akan menyalahi aturan masa iddah jika ia setuju pergi dengan Devan.
“Aaah, aku free malam ini, tapi aku lelah sekali. Kakiku mulai bengkak karena dari tadi berdiri mengawasi proyek.”
“Oh, I see. Baiklah, maaf mengganggumu. Besok kamu jadi ke dokter kandungan?”
“In syaa Allah, Doctor D, sudah masuk trimester ke tiga.”
“Okey, jangan terlalu lelah. Qiara, aku pun seorang dokter kandungan, jika kamu perlu apa-apa, kamu bisa hubungi aku, kapan saja.”
__ADS_1
“Wah, baik. Terima kasih. Doctor D juga jangan lupa latihan ya. Tetap semangat!” Balas Qiara dengan suara ceria.
Devan tersenyum, “Karena besok partner debatku akan ke dokter kandungan, aku akan menambah porsi latihanku. Qiara, kumohon kamu jangan terlalu lelah, ya.”
Qiara tergelak lalu membalas, “Klienku di sini tidak galak dan suka mendebat seperti klienku yang lain. Jadi aku betah berlama-lama.”
“Qiara!” Seru Devan yang merasa tersindir.
Qiara kembali tertawa dengan renyah, Devan diam menikmatinya.
“Sudah puas menyindirku?” Sambung Devan.
“Sebetulnya belum, tapi aku harus kembali kerja. Kita jumpa minggu depan, Doctor D. Terima kasih buat undangannya. Bye!”
Devan menutup telepon.
“Jack!”
Pria yang dipanggil tergopoh-gopoh datang.
“Cari tahu dimana Qiara, aku khawatir dia kelelahan. Aku … aku ingin menawarkan … tumpangan pulang.”
Jack tersenyum. Wajah Devan tidak lagi selalu terlihat pucat dan kini terlihat bersemangat.
***
Petang hari, Qiara baru menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia pulang bersamaan dengan para pekerja. Kakinya letih sekali. Berjalan perlahan menuju halte bis.
Perutnya lapar. Ia melihat sekeliling dan restauran maupun kedai sudah tutup. Di Australia memang kedai dan restauran mayoritas tutup pukul lima. Kecuali hanya satu hari dalam seminggu.
Qiara merogoh tas, mencari coklat atau kurma yang biasa di bawanya. Ia duduk sejenak di sebuah bangku di trotoar. Mengigit pelan-pelan kurma yang ia temukan.
Cuaca malam itu lumayan berangin. Qiara merapatkan jaketnya. Setelah menghabiskan kurma, ia berjalan ke arah halte yang masih kurang lebih satu kilo dari tempatnya.
Orang-orang lalu lalang menuju pulang. Qiara kembali merapatkan jaketnya yang tidak bisa menutup perutnya yang membuncit.
“Aku harus beli jaket lebih besar.”
Tiba di halte, sudah banyak orang menunggu bis. Qiara berdiri di belakang antrian terakhir. Bis yang akan ditumpanginya datang dan Qiara terpaksa harus menunggu kedatangan bis berikutnya karena kapasitas sudah full.
“Miss, you take this bus, I can take another one,” seorang wanita muda menawarkan tempatnya begitu melihat Qiara yang dalam keadaan hamil mengantri.
(Miss, kamu naik bis ini aja, saya bisa naik bis berikutnya.)
“Are you sure?”
(Kamu yakin?)
“Yea yea, it’s gonna be very windy tonight. Please.”
(Ya, ya, malam ini cuaca akan sangat berangin. Silakan naik.)
“Thank you, Miss, much appreciated.”
(Terima kasih, Miss. Saya sangat berterima kasih.)
Qiara masuk ke dalam bis bertukar dengan nona baik hati. Tanpa disadari Qiara, dari dalam mobil yang diparkir di seberang halte, Devan duduk mengamatinya.
Hati Devan miris melihat Qiara dengan perut besar harus berjalan jauh.
“Kenapa aku ingin sekali melindungi wanita itu?” Gumamnya lirih.
Jack melirik dari spion.
“Tuan, kita ikuti bisnya?”
“Tak perlu, kita sudah tau dimana Qiara tinggal. Dia akan baik-baik saja. Kita pulang, Jack.”
Di dalam bis, Qiara asyik melihat laman berita. Tiba-tiba matanya berubah sendu. Sosok pria yang masih bertahta di hatinya bersama wanita hamil hadir di sebuah peluncuran produk jam tangan mewah.
Hanna terlihat sangat cantik dan bahagia. Tersenyum menatap Thoriq, sementara suaminya menggandeng erat tangan Hanna menghadap kamera. Keduanya nampak bahagia.
Qiara menyentuh layar hapenya persis di wajah Thoriq.
“Aneh, setelah sekian lama, Qia masih deg-degan liat kamu, Mas. Hati ini masih ngilu melihat kamu sama Hanna.” Netranya membasah lalu cepat-cepat diusap dengan punggung jari telunjuknya.
“Kala, ini Aya, papa kamu. Ini Tante Hanna. Tante Hanna juga sedang mengandung anak Aya. Jadi nanti kamu akan punya saudara. Kamu baik-baik di dalam sana, ya, Sayang. Buna akan selalu jagain kamu.”
Qiara lalu menutup laman tersebut. Tak sanggup berlama-lama melihat kebahagiaan Thoriq dan Hanna.
***
Tentang Iddah (dari berbagai sumber):
Iddah merupakan waktu yang digunakan untuk seorang perempuan menunggu sejenak sebelum memutuskan menikah lagi dengan pria lain. Perempuan yang ditinggal mati oleh suami memiliki masa iddah selama 4 bulan 10 hari. Sementara, perempuan yang ditalak cerai suami memiliki masa iddah selama 3 bulan.
Ulama fikih telah bersepakat bahwa iddahnya seorang wanita yang hamil adalah sampai ia melahirkan.
__ADS_1
Menurut Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah, adapun persoalan wanita yang bekerja dan itu merupakan sumber penghidupan keluarga, maka ia diperbolehkan bekerja di siang hari atau di sebagian malam, namun tetap kembali ke rumahnya. https://bincangsyariah.com/hukum\-islam/nisa/di\-masa\-iddah\-apakah\-wanita\-karir\-boleh\-bekerja/
***