
Hanya perlu waktu sepersekian detik untuk Eliza lompat dan menusukkan gagang sikat gigi yang sudah ditajamkan ke punggung Hanna.
“Hanna!” Teriak Dicky melihat aksi nekat mantan ibu tirinya.
Dengan gesit Hanna mendorong Dicky agar menjauh sementara dirinya sendiri berkelit. Senjata tajam sederhana itu menyobek lengan bajunya dan sedikit melukai tangannya. Hal kecil bagi Hanna yang pernah merasakan babak belur dan patah beberapa tulang rusuk dalam perkelahian di lapas.
Eliza terhuyung dan berniat menyerang ketika pintu terbuka kasar. Beberapa penjaga langsung meringkusnya. Eliza yang berteriak-teriak digotong paksa kembali ke ruang tahanan.
Dua tangan Hanna terangkat ke atas. Posisi standar tahanan yang menyatakan tidak membawa senjata apa-apa dan siap bersikap kooperatif.
Seorang polisi mengambil tas Hanna yang jatuh lalu memberikannya.
“Ibu baik-baik saja?”
“Alhamdulillah, Pak.”
“Nanti ada petugas wanita yang akan mengambil P3K untuk mengobati luka Ibu.”
Hanna buru-buru menutup baju de bagian lengan yang sobek dengan kerudungnya. Dicky memeluk Hanna.
“Aku pikir bakal kehilangan kamu, Sayang.”
“Wah, kalau Bu Hanna mah nggak bisa dianggap enteng. Sepuluh tahun?” Tanya polisi itu santai.
Hanna mengangguk, nyalinya masih ciut berhadapan dengan aparat. Dicky lalu mengambil posisi melindungi Hanna.
“Jangan khawatir, kami lihat tadi kejadiannya dan tidak akan mencatat di file Bu Hanna. Btw, terima kasih sudah merawat anak sepupu saya di Rumah Sa’aadah. Permisi, saya masuk dulu,” ucap petugas itu sambil mengangguk sopan ke arah Dicky dan Hanna.
“Sayang, kok dia bisa tahu, ya?”
“Pasti waktu memasukkan nama, catatan kriminal Hanna muncul. Maaf …”
“Kenapa?”
“Kalau Mas malu …” Hanna menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Innaalillaahi. Mas itu bangga sama kamu, Sayang. Eh kok nangis? Sakit?”
“Ini? Ah, ini mah kayak kecakar Rafathar,” balas Hanna tenang lalu melangkah keluar karena tak mau berlama di sana.
“Belagu. Sini aku obatin, apa kita main dokter-dokteran sekalian?” Tanya Dicky jahil bertepatan dengan masuknya seorang petugas wanita membawa kotak P3K.
Hanna mendelik sementara Dicky terkekeh.
__ADS_1
“Silakan jadi dokter beneran dan obati istri Anda, Dokter Dicky,” ucap petugas wanita itu sambil menyerahkan kotak P3K. Dicky lagi-lagi nyengir sementara Hanna mendelik gemas akan tingkah suaminya.
***
“Mba Nessa, terima kasih buat bantuannya, ucap Dicky dan Hanna yang bertandang ke rumah Nessa.
“Sama-sama, semoga Eliza membusuk di penjara. Kamu nggak apa-apa, kan Hanna?”
“Nggak apa-apa, Mbak. Makasi buat perhatiannya.”
“Duuh Dicky ini pinter aja cari istri sholihah. Padahal dulu dia waktu masih kecil sering lari-larian telan …”
“Oya Mba Nessa, alhamdulillah hasil penjualan rumah Bapak udah dipakai buat menutup sisa investasi ke orang-orang yang ditipu Eliza,” sela Dicky buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.
“Syukurlah. Gue nggak nyangka ternyata banyak banget yang percaya sama Eliza,” balas Nessa.
“Kebanyakan dari kampungnya. Ada empat atau lima orang temen dari kecil yang jadi TKW. Lalu sistem kerjanya kan MLM jadi banyak saudara dan teman-teman mereka juga yang diajak, makanya bisa kumpul jadi 5M,” papar Dicky dengan miris.
“Toko Oom Mardi gimana?”
“Dibeli Oom Liong. Terus uangnya saya pakai buat bayarin gaji dan bonus buat semua pegawai yang setia banget sama Bapak. Sekarang Toko Berkah dilebur sama Toko Sumber Cahaya. Namanya berubah jadi Toko Sumber Berkah.”
Nessa tersenyum, hatinya kecut karena melalui Jeffri anak Babah Liong, Dicky dan Hanna bisa menemuinya. Jeffri adalah salah satu korban investasi bodong yang juga tahu bahwa Eliza sering main belakang dengan suami Nessa.
“Tadinya Eliza ngotot supaya Karenina tinggal sama saya, Mbak. Alhamdulillah Hanna minta tes DNA dulu. Ternyata dia bukan adik saya. Keluarga saya hancur karena kebohongan. Dan lebih parahnya Eliza nggak tau Karenina itu anak siapa.”
Hanna terbayang wajah Karenina yang ayu namun sikapnya sedari kecil sudah menjadi fotocopy ibunya.
Dengan berani ia menggandeng atau duduk menempel pada Dicky yang waktu itu masih baru dikenal saat pelaksanaan tes DNA.
Aira, Latifah, dan Fatimah diikuti Malika langsung maju sebagai tameng Dicky dan membuat Karenina menjauh.
“Syukurlah, kalau semua beres. Gue ikut sedih rumah Bapak jadinya dijual.”
“Rumah itu sudah atas nama Eliza. Banyak kenangan manis dan pahit di sana. Biarlah kini diisi cerita penghuni barunya, Mbak. Udah sore, kami pamit.” Dicky menggamit Hanna.
“Ya, eh Dicky, sorry ya pas Aisya meninggal gue sama sekali nggak tau. Dia sahabat gue dari kecil sampai dia masuk pesantren. Waktu Tante Mariam sakit dan Oom Mardi selingkuh, dia nangis berhari-hari di kamar gue sebelum memutuskan pulang. Salam buat anak-anaknya.”
“In syaa Allah.”
Dicky dan Hanna berpamitan lalu mengendarai mobil menuju rumah Sa’aadah, tempat anak-anak dan para keponakan dititipkan.
Memecah keheningan, Hanna bertanya, “Mas, kenapa sih kamu waktu kecil seneng banget telanjang-telanjang? Ya nggak Bu Ruqoyyah yang di pesantren, Tante Wen Wen, Mbak Nessa, yang diomongin ituuu aja tentang kamu kecil.”
__ADS_1
Dicky tertawa terbahak-bahak.
“Sejujurnya aku bener-bener lupa kalau aku suka lari-lari telanjang. Yang jelas sekarang, tiap malem aku maunya telanjang sama kamu.”
“Nanti malem nggak bisa, aku haid.”
“Oh yang nggak bisa kan itu kamu aja, masih halal kok buat aku untuk bersenang-senang dengan bagian tubuhmu yang lain. Apalagi kalau kamu …”
“Mas iiiih …”
“Apa … Mau bilang suaminya cabul?” Dicky menyubit pinggang ramping istrinya.
Hanna pura-pura merajuk namun tak bisa lama-lama karena Dicky terus menoel pipinya menganggapnya pipi Rafathar.
“Makasi, ya Sayang udah nemenin aku beresin urusan Bapak.”
Hanna mengangguk. “Mas, kapan-kapan kita ziarah ke makam Bapak dan Ibu kamu, yuk. Ajak anak-anak semua …”
“In syaa Allah,” Dicky meraih tangan Hanna lalu menyiumnya. Netra mereka menatap ke jalan yang membentang lurus.
Sisa uang yang disisihkan Mardi untuk Latifah dan Fatimah dipakai untuk dana pendidikan keduanya.
Sisanya, Dicky mendirikan Yayasan Kanker untuk membantu mereka yang tidak berkecukupan agar bisa mendapat pengobatan.
Rumah Sa’adah menjadi rumah yatim piatu yang semakin besar dan menampung banyak anak. Hanna tidak saja menyekolahkan namun juga memberi keterampilan khusus. Bahkan bersama pesantren yang dikelola Ella menyalurkan mereka yang sudah cukup umur untuk bekerja.
Aira masih melanjutkan studi di Bandung. Karyanya sering memenangi lomba.
Thoriq menjadi duda paling diminati di Bandung. Namun pria itu masih setia menyimpan cinta hanya untuk Qiara.
Malika dan Rafathar tumbuh menjadi anak-anak yang taat dan sehat. Mikala, Maira, Mirza menjadi sahabat yang saling menjaga. Mereka bertiga melanjutkan bangku sekolah dan menjadi murid-murid yang berprestasi.
Hanna tidak henti bersyukur atas kesempatan yang diberikan Allah kepadanya. Setiap hela napas ia niatkan untuk berbuat kebaikan berharap satu kebaikan dapat menghapus dosa masa lalunya.
Dicky menjadi suami bucin berhati Hello Kitty bagi Hanna. Banyak godaan yang datang padanya namun lindungan Allah dan kesetiaan pada keluarga membuatnya tidak goyah.
Pria itu tidak hanya menempatkan diri sebagai suami, namun imam bagi istri dan anak-anaknya. Ia memimpin Hanna, mengajarinya untuk semakin taat, terkadang menegur jika istrinya khilaf.
Menjadi keluarga di dunia adalah ikhtiar agar kelak bisa menjadi keluarga di surga tertinggi. Itulah yang menjadi tujuan hidup Dicky dalam membina keluarga.
Ia berdoa agar ia mencintai keluarganya karena Allah … Selamanya …
***
__ADS_1