Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Nyonya Stella


__ADS_3

Liam menikmati kebersamaan bersama ibunya meski hanya sekejap. Ibu dan anak itu saling melepas kerinduan. Stella merangkul pundak anaknya yang kini semakin tinggi dari terakhir kali mereka bersama.


Stella memesankan turkey sandwich kesukaan Liam dan milk shake strawberry. Ia tidak berani memeluk Liam karena takut terekam di CCTV. Liam adalah cucu atasannya, tak mungkin ia bersikap lebih.


Tak bosan ia menatap Liam yang semakin tampan selerti Devan. Andai saja Devan tidak memilih Qiara, begitu pikirnya.


“Mom, aku harus naik, kalau aku main ke kantor Grandpa, kita ketemuan, ya.”


“Liam, kamu jaga diri, ya. Qiara baik padamu?”


“Baik banget, Mom. Aku menyayangi Buna dan Kala. Mereka juga sangat menyayangi aku. Jangan khawatir.”


“Liam hati-hati sama Qiara, Mommy kok nggak nyaman sama dia.”


“Sepertinya Mommy harus kenalan dulu sama Buna. Mommy sendiri yang ajarin aku untuk tidak menilai orang dari luarnya saja.”


Stella menatap anaknya, betapa dalam waktu setahun Liam sudah nampak lebih besar, tidak saja dari tubuh, tapi juga pemikiran.


“I love you so much, kiddo. You are the best thing that ever happened to me.”


“I love you, too. Don’t leave me again, promise?”


“Mommy akan selalu ada buat Liam.” Stella menggandeng anaknya kembali ke kamar perawatan.


Di depan lift mereka bertemu Devan yang hendak menyusul.


“Hi, Dad, apakah Buna sudah bangun?”


“Sudah, Buna menanyakan kamu dan meminta Daddy untuk menyusul. Jasmine, thank you. Kamu bisa nunggu di cafe. Lisa akan panggil kalau diperlukan.”


“Baik, Tuan.”


Stella merasa gugup berdekatan dengan Devan. Entah karena masih mencintai atau emosi karena laki-laki itu sudah menghukumnya sedemikian kejam demi Qiara.


“Bye Jasmine, see ya,” seru Liam sambil melambaikan tangan dan mengedipkan mata.


Stella melambai pada anaknya yang berjalan menuju kamar Qiara bersama Devan.


“Tumben kamu langsung akrab sama orang yang baru kenal.”


“She’s cool.”


Stella menatap Devan dan Liam dari pantulan pintu lift. Berharap Devan menoleh ke arahnya. Namun Devan sama sekali tidak menoleh dan malah tersenyum lebar begitu membuka pintu dan melihat Qiara.


Dengan kecewa, Stella menatap pantulan dirinya.


“Pantes Devan nggak melirik kamu Jasmine, wajahmu terlihat kampungan.”


***


Di dalam kamar, Qiara sudah menanti Liam. Begitu sadar dan hanya mendapati Devan serta Kala di sampingnya, Qiara resah. Ia minta Devan menyusul Liam. Kala tidak mau ikut karena bersikeras ingin menjaga Bunanya.


“Liam, hi …”


“Buna!” Anak itu langsung mendekati Qiara dan mencium pipinya.


“Aku lega Buna dan adik bayi baik-baik saja.”


“Besok Buna in syaa Allah boleh pulang. Liam tadi beli apa?”


“Beli sandwich, aku beli coklat buat Kala juga.”


Mata Kala langsung berbinar 100 watt mendengar kata coklat untuknya. Tak berapa lama keduanya asik makan coklat di sofa ditemani Phil dan Lisa.


Devan berbisik, “Kamu nggak boleh jauh-jauh lagi dari aku, Qiara Anjani. Aku hampir mati mendengar kamu jatuh.”


“Maaf, Devan. Lantainya memang licin padahal aku sudah berhati-hati.” Qiara melupakan betapa tanpa sadar ia berupaya menyamai langkah Stella yang sengaja dipercepat di lantai licin itu.


“Malam ini aku tidur di sini. Biar Liam dan Kala menginap di penthouse bersama Phil. Lisa sepertinya akan pulang bersama Jasmine.”


“Aku bisa sendirian …”


Devan langsung membungkam Qiara dengan bibirnya.


“Aku, tidur di sini, sama kamu. Titik.”


Wajah Qiara memerah karena Devan terang-terangan menyiumnya di depan mertua, Lisa, dan anak-anak. Sementara Kala terbengong, Liam senyum-senyum oenuh arti, sementara Phil dan Lisa, mereka berdua segera memutuskan untuk pergi.


“Kala, Liam, ikut Grandpa ke penthouse yuk.”


Dua anak itu langsung bersiap, menenteng tas masing-masing berpamitan ada Qiara dan Devan.


Begitu hanya mereka berdua, Devan langsung menempel pada istrinya.


“Dev, sempit.”


“Biarin, enak nempel. Sayang aku nggak boleh make-love dulu sama kamu.”


Qiara terkikik, malam ini dia libur.


“Dev, kalau dipikir-pikir, emang sudah nasibku kali ya, ada aja kejadian pas hamil.”


Suami Qiara menopang kepala dengan tangannya. Lalu menciumi wajah Qiara.


“Mulai sekarang, aku akan lebih jagain kamu, Sayang.”

__ADS_1


“Makasi. Dev, aku pengin …”


“Ih, emang kita cowok apaan.” Devan tergelak. Ia tahu hasrat istrinya meningkat karena kehamilan, namun dengan kondisi yang baru terjadi, ia tidak berani melakukannya.


Qiara menjebik.


“Gak mau. Kamu suka gigitin bibir aku. Dev, ngomong-ngomong tentang Liam, ada apa ya kok dia kelihatan bahagia gitu?”


“Ah anak itu paling lagi naksir temen sekelasnya.”


Qiara terkekeh, Liam sudah pernah membagikan nasihat percintaan pada dirinya. Kiat-kiat agar suami nempel. Waktu itu Qiara harus menahan tawa mendengar nasihat tidak karuan namun disampaikan dengan serius.


“Besok aku tanya-tanya, ah. Btw dia bisa langsung akrab sama Jasmine.”


“Aku pun heran, Qia. Walau baru sebentar aku bersma Liam, tapi dia nggak biasanya seperti ini. Btw, aku kok merasa ada vibe negatif ya kalau liat Jasmine.”


“Aku nggak rasa apa-apa. Sepertinya dia hanya gugup.”


“Lebih baik diselidiki latar belakangnya.”


“Suruh orang, awas kamu selidikin Jasmine sendiri.”


“Cemburu, ya. Jangan khawatir, hatiku, tubuhku, anuku, semua hanya untuk kamu.”


Qiara terbahak mendengar jawaban suaminya.


Malam itu ia tidur pulas dipelukan Devan walau harus berdesakan di ranjang rumah sakit.


***


Sambil mendengus kesal, Qiara membaca berita tentang dirinya sebagai wanita mata duitan. Meninggalkan Jeremy demi Devan yang kaya raya.


“Kenapa kehidupan cintaku ini pabaliyeut bin ruwet,” pikirnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Lagi baca apa, Qia?” Sapa Devan yang baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, titik-titik air masih membasahi bulu-bulu halus di dadanya. Handuk melingkar menutupi area privat.


Untuk sesaat Qiara oleng menatap pemandangan indah di depannya. Ia merutuki perintah dokter yang melarangnya bercinta untuk setidaknya seminggu ke depan.


“Pengin, ya? Tunggu seminggu, setelah itu kita tempur lagi,” Devan mendekati Qiara lalu mengecup hidung mungilnya. Wangi sabun menguar dan membuat Qiara harus menekan hasrat dengan menggigit bibir bawahnya.


Devan sempat melirik layar tablet.


“Qia, jangan peduli dengan laman-laman gosip murahan. Bagian PR perusahaan telah meredam sebagian besar dengan ancaman tuntutan hukum. Yang satu ini berani mati rupanya.”


“Sebenernya yang mereka beritakan tidak sepenuhnya salah.”


Devan mendelik namun sorot matanya jenaka. Ia berkata, “Jadi kamu menikahiku karena hartaku? Bad woman. Kuhukum kamu malam ini.”


“Hukuman macam apa. Orang lagi dipalang merah. Anyway, aku memang lebih memilihmu daripada Jeremy. Aku selalu menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih.”


“Harus puasa, harus puasa,” gumamnya. Devan yang masih bisa mendengar istrinya tersenyum geli. Dirinya pun hampir gila karena tidak boleh merengkuh surga dunia. Semua demi buah hati di perut Qiara.


Setelah rapi, Devan duduk di samping istrinya.


“Kuharap kamu tidak terlalu mengambil pusing hal ini. Mom and Dad juga tidak khawatir. Jadi siapapun dalang di balik ini, dia bisa manyun sendirian.”


Qiara menghela napas. Beberapa ibu di sekolah Kala kini sering memandangnya sinis. Walau tidak berusaha memikirkan namun sedikit banyak dirinya terpengaruh.


“Qia, tadi Thoriq telepon aku … Dia dan Aira akan datang memberi kejutan pada Kala di hari ulang tahunnya.”


Qiara tersenyum, Kala pasti bahagia jika Ayanya dan Aira hadir di perayaan ulang tahunnya.


Devan tersenyum manis sekali, membuat Qiara menatapnya curiga. “Kenapa senyumnya begitu?”


“Happy ya Thoriq mau datang? Hmmm?” Alisnya terangkat satu. Matanya menyelidik.


Qiara tertawa.


“Malah ketawa. Qiara, kamu biasa aja kan? Kamu itu punya aku. Bilang aku punya Devan selamanya.”


“Aku punya Devan selamanya …” Ucapnya lembut, netranya membalas tatapan Devan.


Tangan Devan menyelip ke belakang leher Qiara. Tak sampai sedetik mereka sudah memulai olah raga ranjang, mengabaikan perintah dokter untuk puasa bercinta.


***


“Selamat ulang tahun, Kala, sayang.” Devan dan Qiara berbarengan menyium pipi gembil boxah laki-laki yang sedang tertawa lebar.


Anak yang kini berumur empat tahun itu sangat gembira. Teman-teman dari sekolahnya berkumpul. Belum lagi kado figurin Thor edisi terbaru dari kakek dan neneknya.


“Happy birthday, Kala.” Anak itu diam seribu bahasa melihat pemeran Thor tiba-tiba muncul. Dia mengucek-ucek matanya.


“Mr. Hemsworth is that really you?”


“Yes kiddo. Happy birthday …” Ucap pria tinggi besar itu sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi. Kala memanggil Liam lalu mereka berdua mengambil banyak foto bersama. Kala berulang kali mengucek mata atau menyubit dirinya.


Setelah beberapa saat, Chris berpamitan pada Devan dan Qiara.


Kejutan kedua tak kalah membuat Kala terpekik melihat dua orang yang baru datang.


“Aya … Aira ? Buna, itu Aya dan Aira?”


Qiara mengangguk. Kala langsung berlari ke arah Thoriq yang sangat dirindukan.


“Aya …” Kala menangis di pelukan Thoriq. Tangis bahagia yang membuat para orang tua terharu.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun, Kala. Semoga Allah selalu menyayangi dan menjaga kamu.”


Thoriq memeluk erat putranya. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata betapa bahagianya bisa memeluk Kala.


“Dor!” Liam muncul dari belakang Aira dan mengagetkannya.


Aira yang pemalu langsung memeluk ayahnya.


“Liam …” Tegur Devan melihat wajah iseng anaknya.


“Welcome, Thoriq and Aira,” sambut Devan menyalami Thoriq yang masih menggendong Kala dengan Aira bersembunyi di balik punggungnya.


“I’m ffff..ine,” tenggorokan Thoriq tercekat melihat sosok cantik yang muncul dari belakang Devan.


“I’m fine, sorry still not use with Melbourne weather,” ucap Thoriq beralasan.


“Qia, asalamualaykum, apakabar kamu?”


Devan melingkarkan tangannya ke pundak Qiara.


“Aku baik Mas. Alhamdulillah.”


“Udah berapa bulan Qia?”


“Mau masuk 32 minggu, Qia udah segede rumah.”


“Rumah yang cantik, Qia,” batin Thoriq. Ia hanya bisa membayangkan bagaimana sosok Qiara sewaktu mengandung Kala.


“Aira, salam sama Tante Qia,” pinta Thoriq yang dibalas dengsn gelengan kuat dari putrinya. Aira tahu Liam masih berdiri di sampingnya.


“Liam Donavy, sini, udah jangan iseng,”


titah Devan. Liam hanya terkekeh sambil matanya tetap mengarah ke Aira.


Kala tetap menggelendot di gendongan Thoriq.


“Sini Kala, digendong Buna.”


“Jangan Qia, biar Mas aja yang gendong, Kala udah berat sekarang.”


Devan diam-diam mendengus sebal. Setelah sekian lama, dirinya masih insecure terhadap Thoriq. Apalagi mendengar laki-laki itu menunjukkan perhatian pada istrinya.


“Masuk, Mas, yuk Aira sini digandeng sama Tante. Nggak usah takut sama Liam.” Qiara mendelik melihat Liam sengaja memasang topeng seram untuk mengganggu Aira.


“Boo!”


“Aya!” Aira kembali menjerit karena dikagetkan Liam dengan topeng seramnya.


Qiara lalu menggandeng Aira sambil membuka topeng Liam. Ia menoel pipi Liam dengan gemas.


Tanpa sadar, seseorang terus mengamati tingkah polah Qiara saat bertemu mantannya.


Tak berapa lama Jeremy datang bersama Mel, Stephanie, dan Mark. Mereka semua semangat bertemu Kala namun langsung canggung saat berkenalan dengan Thoriq. Mereka tahu sejarah menyakitkan yang dialami Qiara akibat perbuatan Thoriq.


Karena Kala masih tidak mau turun dari gendongan Thoriq, mereka basa-basi sekenanya. Kala girang mendapat banyak hadiah. Tak berapa lama Jeremy dan rombongan pulang untuk menghindari pemberitaan ngawur.


“Liam …”


“Mom …” Bisik Liam. Ia sedang mengambil minum ketika Jasmine mendekatinya. Sambil pura-pura mengambil minum, Jasmine menyapa anaknya.


“Aku kangen, Mom. Padahal bari dua hari lalu kita ketemu di kantor Grandpa.”


“Mommy juga. Mommy bahagia hari ini bisa ketemu kamu lagi.”


“Liam semang Mommy bisa datang. Mom, tolong ambilin sendok, aku mau mengaduk lemonade.”


Dengan pasti Stella membuka laci sendok. Jack yang sedari tadi duduk di patio mengamati Liam dan wanita yang dikenalnya bernama Jasmine.


Jack memutuskan untuk mencari tahu.


Ia membuka pintu membuat Stella terperanjat.


“Hi Jack. Aku tiba-tiba pengin lemonade,” sapa Liam yang juga kaget dengan kedatangan Jack di dapur.


Jack mengangguk lalu mengalihkan pandangan ke Stella.


“Jasmine, you need anything here?”


“Oh, Lisa minta diambilkan gelas. Ah ya, gelas.” Stella meraih lemari di atasnya, bergerak selayaknya ia mengenal tempat penyimpanan di dapur.


Jack mengernyit.


“Kok kamu tahu kalau gelas disimpan di situ? Kamu kan belum pernah ke sini.”


Stella memejamkan mata, sadar jika salah langkah, penyamarannya semakin terbongkar. Ia masih punya rencana panjang untuk mengganggu Qiara dan Devan.


“Nebak. Sesusah apa sih dapur itu. Kan dimana-mana sama aja.”


“Liam, sini berdiri di sampingku,” perintah Jack. Suaranya berubah dingin.


“Jack, please,” pinta Liam, ia pun ikutan panik.


Melihat sorot mata Liam yang memohon, Jack paham siapa wanita di depannya.


“Apakabar, Nyonya Stella …”

__ADS_1


***


__ADS_2