
Fatimah menggigit bibirnya menahan marah. Bisa-bisanya laki-laki yang memiliki titel ayah baginya malah berusaha menyodorkan putri bungsu agar bebas dari hutang.
Ibrahim tanpa malu terus menceritakan kehebatan Fatimah sebagai pilot handal di usia muda. Laki-laki berusia tiga puluh delapan tahun di depannya tak henti menatap Fatimah hingga membuat gadis itu risih.
Dosa apa yang dilakukan hingga ia berencana membatalkan ta’aruf dengan Kala. Mana mungkin ia menyeret Kala dalam keribetan yang diciptakan ayahnya.
Ya, Kalandra. Pria yang diam-diam disukai sejak masih sekolah. Fatimah tak berani menunjukkan rasa suka, karena malu adalah perhiasan tertinggi bagi wanita muslimah.
Momen Aira mengatakan bahwa Kalandra Akira Putra Thoriq menaruh hati padanya adalah saat terindah dalam hidupnya. Dengan ijin Dicky sebagai paman, Kala diperkenankan untuk kontak hanya melalui video call dengan Fatimah.
Ketika pertama melakukan sambungan video call mereka menahan tawa lalu bersama terbahak-bahak. Saat itu juga Fatimah merasakan ‘klik’ bahwa Kala adalah calon imam yang selama ini dicarinya.
Sekarang ia harus dihadapkan pada keinginan Ibrahim. Menikahi pria dengan codet di sisi kanan wajahnya. Laki-laki itu tampan lagi berkelas, namun wajahnya keras dan kejam.
Ancaman ayahnya untuk menyakiti Malika dan Rafathar jika ia menolak lebih menakutkan.
Fatimah memandang jijik ke arah ayahnya.
“Bisa-bisanya Bunda menikah sama bajingan macam ini,” umpatnya dengan penuh kebencian dalam hati.
“Putri saya ini masih perawan. Bisa dicek kalau mau,” ucap Ibrahim terkekeh.
“Naudzubillah. Amit-amit. Pak, maaf, saya sudah muak mendengar ocehan laki-laki yang sayangnya adalah bapak saya. Berapa hutang dia?”
“Anak kecil, memang kamu punya uang?” Untuk pertama kalinya pria bercodet itu membuka mulut.
“Berapa?”
“Sekitar sepuluh milyar.”
“Mana buktinya?”
“Fatimah, diam!” Ibrahim membentak dan hendak menampar pipi putrinya. Dengan sigap Fatimah menangkis dan mendorong ayahnya untuk duduk.
Pria di depannya menyembunyikan senyum yang terbit dari sudut bibirnya.
“Tuan Alexander, abaikan kekurangajaran anak saya.”
“Saya nggak kurang ajar, ada nggak buktinya?” Fatimah keras kepala dan menatap lurus ke arah pria bernama Alexander.
“Anak kecil, bapakmu memang punya hutang sepuluh milyar, tapi nilaimu tidak setinggi itu …” Balasnya dengan merendahkan.
“Bagus! Saya memang tidak pernah mau dinilai dengan uang! Tidak satu sen, tidak satu trilyun.”
Alex menarik napas.
“Ampun, Tuan. Jangan pukuli saya lagi. Saya janji akan melunasi seluruh hutang!” Ibrahim bersimpuh.
Alex tidak memedulikan Ibrahim, matanya terus melihat ke netra Fatimah yang tidak berkedip menatapnya.
“Aku punya semua bukti lengkap. Sebetulnya aku juga tidak ingin menikah denganmu …”
“Bagus, Tuan! Saya setuju … Anda tagih saja ke Bapak yang sedang bersujud di hadapanmu. Sebagai anak, dibiayai saja tidak pernah, sekarang Ayah Ibrahim yang terhormat minta saya menikah dengan pria nggak jelas untuk memenuhi hutangnya.”
Semua laki-laki berjas hitam di ruangan itu tersentak.
“Aku? Laki-laki tak jelas? Anak kecil, kamu akan bersujud di samping Bapakmu kalau tau siapa Alexander Mahendra.”
“Tidak boleh seorang manusia bersujud di hadapan manusia lain, Tuan.”
Alexander adalah pria yang dingin, ia bukannya tidak pernah mencicipi nikmatnya seorang wanita, tapi tidak satu pun yang mampu menggetarkan hatinya. Sampai ia bertemu Fatimah di sebuah penerbangan.
Gadis itu menyelesaikan konflik antarpenumpang yang memanas. Anggun tapi pemberani, luwes dan juga tegas.
Alex seperti mendapat durian runtuh ketika Ibrahim, pengusaha kacangan yang meminjam uang untuk membangun perumahan dan akhirnya mangkrak adalah ayah dari Kapten Fatimah Ibrahim.
Mata yang biasanya kejam dan tajam, melembut saat menatap Fatimah.
“Saya tidak mau menikah dengan Anda. Dan juga tidak ingin melunasi hutang ayah.”
“Baik.” Alex memberi kode kepada anak buahnya.
Dengan sigap mereka menghajar Ibrahim. Pria tua itu menjerit dan memohon ampun. Fatimah duduk bergeming. Bibirnya mengerucut. Alex menatapnya dengan kekaguman.
“Aslik, ni cewek nggak ada nangisnya,” batinnya sambil terus menatap wajah dingin Fatimah.
“Jahat kamu Fatimah, anak durhaka!” Jerit Ibrahim sebelum mulutnya memuntahkan cairan merah.
Fatimah tetap bergeming di tempat duduknya.
“Cukup?” Alexander bertanya santai.
“Dia hutang padamu, bukan padaku,” balas Fatimah tak peduli.
“Tuan, ampun! Fatimah bantu ayah. Sakit, ampun!”
“Tuan, saya bosan. Toh apa yang terjadi padanya tidak akan mengubah pendirianku.”
“Maka kamu akan berhadapan denganku, anak kecil.”
“Look, mungkin Anda pikir bisa mengancam saya. Takut? Ya sebagai wanita pasti takut berhadapan dengan begundal macam Anda dan anak buah yang kenapa juga pakai jas hitam siang bolong begini?”
Fatimah menggeleng sambil berdecak.
“Tapi urusan Anda adalah dengan dia. Jadi jangan seret saya ke dalam kekisruhan yang dibuatnya. Ngurus anak aja nggak becus, sok-sok bikin perumahan.”
Ibrahim yang terkapar menatap marah pada putri bungsunya.
“Ngurus anak bukannya lebih susah ya? Apalagi anaknya macam kamu,” ucap Alex santai.
Fatimah tertegun tapi memutuskan untuk tidak menanggapi.
__ADS_1
“Saya boleh pergi?”
“Nggak!”
“Saya pilot senior, di jam saya ini ada timbol emergency yang jika ditekan akan terhubung ke kantor pusat.”
Alex yakin bahwa dirinya jatuh cinta pada wanita nekat di depannya.
“Anak kecil, kamu pikir saya bodoh? Nggak ada lah hal macam itu. Maskapai kamu aja sering telat, ini lagi mau pake tombol emergency untuk pilot. Tapi saya hargai keberanian kamu, kok. Pulanglah. Kamu benar, masalah saya dengan dia, bukan dengan kamu.”
Fatimah bangkit, tak sedikit pun melirik ke ayahnya.
“Anak kecil, kamu akan tetap menikah denganku. Lunas atau tidak hutang ayahmu tidak usah kaupikirkan. Tapi kamu akan akan segera jadi Nyonya Alexander Mahendra.”
“Naudzubillahimindzalik.” Fatimah bergidig sambil terus melangkah menuju mobilnya.
Fatimah dengan tenang menuju apartemen. Ada jadwal penerbangan ke luar negeri malam itu.
Begitu masuk ke dalam apartemen, ia langsung menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Lalu menangis sesunggukan di lantai kamar mandi.
Dari kantornya, Alexander melihat layar monitor. Jarinya mengusap gambar Fatimah yang terus menangis.
“Jangan menangis lagi, anak kecil.”
“Lex, really?“ Alvin asisten sekaligus sahabatnya menggeleng kepala.
“Gue belum pernah kayak gini. Lu tau kan. Habis sepah manis dibuang? Itulah gue sama cewek-cewek. Tapi sama dia … beda, man.”
Alvin memicingkan mata. Merasa ada yang salah dari kalimat bos garis miring sahabatnya.
“Habis manis sepah dibuang, Nyet. Tapi laki-laki kayak kita emang pantesnya gitu bukan. Main gila sama perempuan. Lu kebayang gitu bakal nikah lalu punya anak? Terus anak lu mainannya apa dari kecil? Glock?”
Perkataan Alvin bagai keluar dari mulut dan masuk ke kupingnya sendiri, karena Alex masih terus memandangi Fatimah yang kini masuk kamar untuk berganti pakaian.
Alex buru-buru mematikan monitor.
“Omaigat! Lu seriusan naksir dia? Sampe nggak mau liat dia telenji?”
“Urus aja bedebah tua itu di luar!”
“Si calon mertua?”
“Kita udah khatam sama bapak durjana kayak dia. Lu pekerjakan dia nggak pake ampun buat lunasin hutang.”
“Gue suruh jadi tukang batu di Pulau Sol?”
“Terserah! Keluar gih. Suruh Marissa masuk. Gue perlu diservice.”
“Dasar gila!”
“Marissa!”
***
“Mas, maafin Fatimah. Tapi hidup Fatimah terlalu ruwet untuk menikah dengan Mas Kala …” batinnya menahan sakit hati.
Setelah mengambil napas, Fatimah mengangkat telepon lalu mengutarakan keinginannya untuk tidak melanjutkan rencana ta’aruf.
Matanya memerah, tapi ia tidak mau menangis saat video call. Ia mengeraskan rahang, mengatakan hal-hal buruk kepada Kala yang bertentangan dengan hatinya.
Setelah menyudahi telepon, Fatimah mengambil sholat untuk menenangkan diri. Saat bermunajat ia menitikkan air mata.
Di tengah kenikmatan yang diberikan oleh Marissa pada pusakanya, Alex menatap nanar pada gadis yang hari ini dua kali telah menangis karenanya.
Tak lama sebelum tatapan lembut itu berganti dengan kebengisan.
“Telungkup, Marissa!”
Dengan patuh wanita itu mengerjakan perintah Alex yang langsung memuaskan napsu. Pria itu bergerak makin cepat membayangkan Fatimah merintih dan memohon ampun padanya.
Ia baru berhenti setelah Marissa tidak bergerak.
Seusai menutup area privat dengan selembar handuk, ia memanggil anak buahnya untuk membawa pergi wanita yang masih tidak sadarkan diri. Marissa diangkut begitu saja tanpa busana. Alex tidak memedulikan kehormatan wanita yang sudah berjam-jam melayaninya. Baginya wanita hanya barang pemuas syahwat.
“Tapi tidak dengan kamu Fatimah. Aku akan memperlakukanmu penuh hormat. Kecuali saat kita di atas ranjang.”
***
Di tengah suka cita pulihnya Azka dan Barran, Kala hanya tersenyum. Sesekali mengganggu Zee adiknya.
Berulang kali menghela napas lalu diam dengan mata menerawang.
“Kal, sabar ya. Mungkin kamu bisa ke Indonesia untuk bertanya langsung pada Fatimah.”
“First thing first, Ay. Sekarang Kala diperlukan di sini untuk jaga Buna dan adik-adik. Toh, antara Kala dan Fatimah belum ada ikatan jadi belum harus memeriksa keadaannya.”
“Lebih untuk kamu, supaya dapat jawaban.”
Kala mengendik. “Tunggu Hayyan stabil baru Kala mau pikirin yang lain.”
Abby menggenggam tangan Kala yang duduk di sebelahnya.
“Memang sakit tertusuk cinta. Tapi itu semua bisa hilang sejalan waktu kalau kita berusaha move on. Kalau sampai nggak bisa lupa, itu artinya Mas Kala obsessed. Jangan sampai ya Mas, terus bikin aneh-aneh yang bisa jadi bahan novel baru.”
“Abby … ssshhh.” Qiara memberi kode dengan menggeleng kepala agar Abby tidak melanjutkan wejangannya.
“Emang bener kok. Kalau cinta mati kayak Uncle ke Buna itu nggak apa. Tapi kalau obsesi berlebihan nggak bagus. Mas memang boleh cari tahu tapi kalau memang tidak mungkin dipertahankan ya jangan maksa.” Abby berapi-api memberi nasihat ke kakaknya yang sudah pening.
“Kok bisa ya, Mas, kita dibawa-bawa,” bisik Qiara yang sebetulnya tidak terima namun khawatir Abby makin meradang.
Thoriq tersenyum. “Sehat nggak sih, hubungan kita?”
__ADS_1
“Mas ada naksir cewek Arab?”
Thoriq menatap gemas ke wajah dengan mata membulat dan alis terangkat. Tipikal wajah Qiara jika mulai ngambek.
“Mmmm …”
“Oh yawdah.” Qiara lalu bangkit menuju vending machine, tak sadar ada beberapa wajah yang cengengesan melihat reaksinya.
“Ngambek, tuh, Uncle,” seloroh Azka yang geli sendiri terhadap kelakuan Bunanya.
Thoriq tertawa. “Uncle mau ajak Buna istirahat di hotel. Barran, Azka mau ikut. Kalian jangan kecapean terus.”
“Sepertinya ikatan batin kami malah membuat kuat satu sama lain,” Azka membual tapi ia memang tidak ingin jauh dari Hayyan. Barran mengangguk setuju.
Thoriq lalu bangkit sambil membawa tas. Bicara sebentar dengan Qiara yang melampiaskan kekesalannya ke vending machine.
Dengan bantuan Thoriq, limun yang dipesan Qiara akhirnya menggelinding dari dalam mesin. Setelah itu mereka berjalan ke hotel yang tak jauh dari rumah sakit.
Beberapa hari belum ada perubahan dari Hayyan. Kala harus kembali ke London untuk memeriksa pasien-pasiennya. Abby memilih untuk bekerja online memeriksa semua lini bisnis yang menjadi tanggung jawabnya.
Zee pulang bersama Kala karena sekolahnya sudah mulai lagi. Mereka akan kembali ke Hamburg setia akhir pekan.
Thoriq mendampingi Qiara, menjadi teman curhat di saat wanita itu gundah. Di lain pihak, Qiara membantu Thoriq untuk menyelesaikan beberapa kontrak dengan hotel-hotel besar yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Anak-anak merasa Qiara lebih tenang saat bersama Thoriq. Mereka juga yakin ibu mereka sudah mencintai Thoriq.
Abby menatap dua orang yang sedang asik membicarakan sesuatu.
“Gaes, kita harus intervensi mereka.”
“Setuju!” Jawab Azka dan Barran serempak. Di ujung ruang tunggu ICU, Hamilton menutupi bibirnya agar tidak terlihat geli melihat tingkah wanita berkerudung dengan wajah setengah bule.
***
Hayyan kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Anggota kesatuan yang diberi cuti pemulihan memilih untuk berjaga di depan ruangan Hayyan.
Akhir pekan, Thoriq mengajak Qiara jntuk rehat sejenak, mencari kue di kafe cantik agak jauh dari rumah sakit.
“Qia, kamu harus refresh kalau nggak kamu stress,” bujuk Thoriq ketika Qiara menolak.
Sepulang dari jalan-jalan, di ruang Hayyan sudah berkumpul Kala, Zee, Liam dan Aira yang diam-diam memberi kejutan.
Suasana menjadi lebih hangat. Aira yang merindukan ayahnya terus bergelendot sambil minta disuapi potongan apel. Bawaan bayi katanya.
Selesai Thoriq menyuapi Aira, Kala berdehem.
“Aya, Kala mau minta Aya tanggung jawab. Buna hamil.”
“Kalandra! Apaan sih?” Qiara memukul anaknya dengan gemas.
“Siap! Saya akan bertanggung jawab!”
Thoriq menjawab suka rela sambil tertawa geli.
Tentu saja ini adalah ide gila Kala yang muncul sekonyong-konyong.
“Mas, Kala itu bercanda, emang kita ngapain?”
“Makanya halalkan biar bisa ngapa-ngapain,” celetuk Barran sambil mengacungkan jempol.
“Nggak tepat banget, sih. Hayyan belum sadar malah ngomong yang gak jelas.”
“Buna, justru di situasi seperti ini, Buna perlu seorang pendamping,” sahut Liam merangkul ibu sambungnya.
“Ya, tapi … ya masak sekarang?”
Melihat tidak ada penolakan berarti, ke delapan anak muda itu langsung bergerak.
“Bisa, kenapa enggak? Menurut Mahzab Hanafi, Hambali, dan Maliki, boleh seorang anak laki-laki menikahkan ibunya.” Dengan gamblang Barran menjelaskan.
“Ini kok jadi orang tua yang dipaksa kawin sama anaknya?”
Barran menyahut dengan santai, “Kan sesuatu yang baik ndak apa kalau dipaksakan. Buna, Sayang, kalau kami liat, Buna itu sudah sangat siap. Lagi pula, rukun menikah itu hanya ada kedua mempelai, ijab kabul, wali wanita, dan dua saksi.”
“Mayor Kulkas bisa jadi saksi, dia kan muslim. Lalu ada Dokter Yusuf juga sudah bersedia. Nanti pulang ke London baru dicatatkan untuk pengesahan,” sambing Abby yang sudah browsing tata cara menikah menurut Kemenag karena Qiara dan Thoriq masih sama-sama WNI.
“Gimana Qia? Kalau Mas siap nikah sama kamu kapan aja.”
Berbeda dengan sebelumnya, Qia kini nampak lebih siap untuk menerima Thoriq.
“Yes! Beraksi kita!” Seru Zee kegirangan.
“Wait!” Tiba-tiba Zee berhenti lalu menatap tajam ke arah Thoriq.
“Janji dulu nggak boleh posesif. Zee harus tetap boleh peluk-peluk Buna. Sesekali tidur sama Buna. Janji nggak?”
“Siap Nona Zahratul Jannah binti Devan Donavy. Uncle janji.”
Siang itu ruang perawatan Hayyan ditata lebih apik karena banyak tangan yang membantu. Kesatuan Hayyan sudah membeli bunga. Walau Abby mengernyit karena bunga yang dibeli aneka rupa dan warna sehingga sulit mengatur konsepnya.
Disaksikan Hamilton dan Dokter Yusuf, Thoriq menjabat tangan putranya lalu mengucapkan kembali kalimat sakral, “Saya terima nikahnya Qiara Anjani dengan mas kawin uang senilai Rp500juta rupiah tunai.”
Anak-anak Qiara dan Thoriq bernapas lega lalu serempak mengucap doa untuk pengantin baru.
“Semoga Allah SWT memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu.”
“Buna, gaes, aku ketinggalan apa?”
***
Halo halo … Qia akhirnya bersatu lagi dengan Thoriq, authornya nggak tega …
__ADS_1
Oya untuk Kala dan Fatimah mungkin akan jadi extra part atau mungkin di spin off jadi judul sendiri. Baiknya gimana ya? Ada ide? 😉
***