Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Aku Cinta Kamu, Nak


__ADS_3

Minggu demi minggu berlalu. Liam, Kala, dan Javier duduk dengan resah di sofa tunggu di klinik Dr Irene. Qiara merasa sakit teramat hebat di perutnya hingga Devan membawanya ke IGD klinik.


Menurut dugaannya Qiara mengalami kontraksi. Lebih cepat dari perkiraan kelahiran karena istrinya baru masuk minggu ke tiga puluh tiga.


Devan ikut memeriksa Qiara dan karena terlihat salah satu bayi terlilit tali pusar, maka harus segera diambil tindakan operasi caesar.


Dr Irene dan suami telah dipanggil dan dalam perjalanan menuju klinik. Devan terus berada di samping istrinya. Liam dan Kala ngotot ingin ikut sehingga di temani Javier, sementara Phil di rumah menjagai Abby.


Qiara memejamkan mata sambil mengatur napas. Devan terus menggengam tangannya. Persiapan operasi untuk Qiara sudah dilakukan.


“Dev, Qia, kami siap.”


Qiara didorong ke ruang operasi. Devan ikut setelah memakai baju operasi. Ribuan kali membantu persalinan caesar namun saat melihat istrinya di meja operasi hati Devan mencelos juga.


Di luar, Kala mengirimkan pesan ke ayahnya.


“Aya, Aira, Buna mau melahirkan. Doakan ya …”


Thoriq yang baru menyelesaikan sholat malam membaca pesan anaknya.


“Iya sayang, Aya akan doakan. Kebetulan Aya habis tahajjud.” Devan melirik jam lalu menghitung selisih waktu Solo dan London.


Setelah membalas pesan anaknya, pria itu menengadah, “Ya Rahman, ya Rahiim, ya Malik, Ya Lathif, hamba mohon, jagalah Qia dalam lindunganMu, lancarkan operasinya, cepatkan pemulihannya, sehatkan bayi-bayinya. Aamiin ya Rabb.”


Sementara itu, Qiara sudah mendapatkan suntikan epidural dan menunggu obat bekerja.


“Devan, maafin Qia, titip anak-anak, ya Sayang.”


“I love you Qia, aku di sini. Kita akan jaga anak-anak kita barengan.”


Devan mengecup kening Qiara.


“Kami akan mulai,” Dr Irene mulai menggurat perut bawah Qiara dengan pisau laser.


Devan dan Qiara terus berdoa.


“Bayi pertama, akan keluar.”


Finn siap menerima bayi dengan kain lebar di tangannya.


Dalam hitungan detik bayi laki-laki keluar dari perut Qiara dan menangis dengan kuat.


Air mata mengalir dari kedua sudut mata Qiara dan Devan. Masih harus berjuang untuk dua bayi lagi.


Bayi pertama diletakkan di meja periksa, Finn dengan cekatan memeriksa kondisi kemudian kembali untuk menerima bayi kedua.


Devan mengawasi Finn dengan tegang, wajahnya lega melihat rekannya mengacungkan jempol tanda bayinya sehat.


“Finn, second one.”


Kembali tangis bayi laki-laki memecah ruangan operasi. Suaranya lebih kuat dari bayi pertama dan dari ukuran tubuhnya juga lebih besar.


“Sekarang aku akan mengeluarkan bayi ke tiga, posisinya sulit sehingga aku tidak bisa mengeluarkannya lebih dulu. Dari ukuran tubuh juga lebih kecil. Finn bersiap.”


Devan mengelus pucuk kepala Qiara yang menatapnya dengan khawatir.


“Bismillaah, kita pasrahkan kepada Allah, Sayang. Kamu istighfar terus.”


Devan tersenyum dan menatap lembut netra istrinya untuk menenangkan walau jantungnya sendiri berdegup tidak karuan.

__ADS_1


Cukup lama Irene berusaha membebaskan belitan tali pusar hingga akhirnya ia berkata, “Finn, persiapkan alat bantu.”


Devan menempelkan bibirnya ke sisi kening istrinya. Netra bening itu berderai air mata.


Bayi ketiga keluar, tidak ada suara tangis. Devan bisa melihat anaknya yang sudah membiru. Qiara menarik-narik tangannya.


“Dev, bagaimana anakku? Devan … please tell me.”


Sebagai dokter, ia sering melihat kondisi ini dengan tingkat kemungkinan hidup tidak terlalu tinggi. Devan dan Irene berusaha menenangkan Qiara.


“Finn sedang berusaha, Qia, kamu harus tenang nanti tekanan darah kamu naik. Yuk dzikir lagi.” Kini Devan menempelkan keningnya ke sisi wajah Qiara, matanya terpejam sepenuh hati mohon untuk keselamatan anaknya.


Irene berulang kali menoleh ke arah suaminya. Finn masih berusaha ketika akhirnya ia menatap pasrah dan menggeleng.


“Time of death 10:30.”


***


Liam, Kala, dan Phil yang menggendong Abby duduk mengelilingi box bayi berisi bayi-bayi mungil.


Devan duduk di tepi tempat tidur istrinya.


“Buna, aku mau kasih live report ke Aya sama Adek Aira, ya.”


Devan memberikan hapenya dan Kala langsung menekan nomor Thoriq.


“Assalamualaykum Aya, alhamdulillah Buna sudah melahirkan.” Ekspresi anak itu lucu.


“Kenalin adek-adeknya Liam, Kala, Aira dan Abby. Yang ini lahir pertama, namanya Azka Gani Donavy, kemudian yang besar ini Barran El-Fatih Donavy.”


“Yang ketiga? Bukannya kamu cerita Buna hamil kembar tiga kan?”


“Mmmm … Daddy jelasin.” Kala terlihat bingung.


“Selamat ya Dev, semoga anak-anak kamu dan Qia jadi qurrotun a’yun buat keluarganya. Shalih dan diteguhkan agamanya.”


“Terima kasih, Thoriq … Mengenai anak ke tiga kami …”


Mata Devan berubah sendu.


“Qia mana?” Menduga ada berita buruk, refleks Thoriq langsung menanyakan Qiara.


Devan menatap Thoriq karena heran dengan reaksinya, namun sebelum mengucapkan apa-apa, pintu ruang perawatan dibuka.


“Hi guys, look who’s here. Baby number three.”


***


Flash back On


“Time of death: 10.30”


Qiara tidak bisa membendung lagi air mata. Devan menatap bayinya tergolek dengan tubuh membiru. Finn telah berupaya dengan semua cara yang ia tahu untuk membuat bayi itu bernapas lagi.


“I’m sorry, Devan, Qiara.”


Seperti tahu adik bungsunya pergi, kakak-kakak yang lahir duluan kini terdiam setelah tadi menangis kencang.


“Boleh aku gendong anakku?”

__ADS_1


“Kami tidak menyarankan,” jawab Irene tegas. Ia harus memikirkan kesehatan psikologis dari Qiara.


“Devan, please, I’m fine. I just wanna hold it for a bit.”


Devan mengangguk pada Irene dan Finn.


Perlahan Finn memberikan bayi ketiga kepada Devan. Air matanya mengalir deras melihat putranya tidak bergerak.


“Betapa gantengnya kamu, Sayang. Kamu mirip Daddy. Bentuk bibirmu seperti Buna. Daddy berharap bisa bermain bersama kamu, tapi nanti saja kita bertemu di surga ya, Nak.”


Devan mengecupi bayinya mendekapnya erat seakan tak mau dipisahkan.


“Dev, please.”


Hati-hati, Devan memindahkan ke pelukan Qiara.


“Hai sayang, hai ganteng. Akhirnya Buna bisa lihat wajah kamu. Sayang, maafin kita nggak bisa bareng sekarang. Tapi Buna yakin, kita akan ketemu lagi. Kita akan main di padang yang indah, penuh bunga dan kupu-kup…”


Qiara berhenti bicara, ia merasakan gerakan dari tubuh bayi di gendongannya.


Merasa hanya imaginasi, Qiara membacakan dengan lirih surat Al Fatihah di telinga anaknya.


Suasana menjadi syahdu, Irene dan Finn menatap ibu dan anak yang mengikhlaskan diri pada takdir. Tak ada lagi air mata, Qiara terus membacakan ummul Qur’an hingga ayat terakhir lalu mengecup hidung anaknya.


“Buna cinta banget sama Adek.”


Tak diduga bayi bergerak lalu menangis dengan kencang. Tubuhnya yang membiru berangsur normal. Qiara terus menciumi pipi anaknya, sampai Finn mengambil untuk diperiksa kembali.


“Keajaiban, semua tanda vital normal. Walau demikian karena telah terjadi gagal napas, akan kami pantau di NICU, jika terjadi penurunan fungsi otak.”


Devan dan Qiara berpelukan. Tak dapat dikatakan betapa mereka bersyukur atas kesempatan melihat bayi kembar tiga mereka lahir ke dunia.


“Alhamdulillah ya Allah.” Ucap Devan sambil sujud syukur.


“Kita tetap harus waspada, akan kita pantau mereka di NICU. Qia kamu bisa ke kamar perawatan untuk pemulihan.”


“Sayang, sebelum dipindah ke NICU, adzani mereka satu persatu.”


Dengan penuh rasa syukur, Devan mengadzani ketiga bayinya. Suaranya merdu, tiga bayi seperti mendengarkan lafadz ayah mereka.


***


Thoriq ikut bernapas lega. Dirinya tidak ingin Qiara bersedih. Reaksinya membuat Devan yakin mantan suami istrinya masih menyimpan banyak cinta.


Dirinya yakin akan Qiara yang mampu menjaga diri, ia hanya berharap istrinya juga percaya padanya.


“Sini, ini kembar yang ke tiga. Namanya Hayyan artinya kehidupan. Mas Thoriq, Qia sekarang anaknya banyak.” Qiara terkekeh menatap anak-anaknya.


“Iya Qia, Mas ikut senang. Semoga Qia lekas pulih ya.. udah dulu, Mas mau liat Aira, dari semalam demam.”


“Oh kasian, udah ke dokter?”


“Belum, kalau masih panas siang ini Mas bawa ke dokter.”


“Uncle Thoriq, salam buat Aira. Harus cepet sembuh, kalau nggak nanti aku takut-takutin lagi,” ujar Liam jahil.


“Kalau sembuhnya cepet, Liam berhenti nakutin Aira, nggak?” Sahut Thoriq tak kalah jahil.


Liam tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan semuanya, Thoriq mengakhiri panggilan video call seperti biasa sebelum menyudahi berpesan agar Kala menjaga ibunya.


***


__ADS_2