
Hidung Kala menempel di kaca yang memisahkannya dengan ruangan tempat inkubator adiknya.
Thoriq menggendong Kala yang terus terpaku melihat Abby.
“Aya, kenapa mata adek ditutup?”
“Soalnya di inkubator itu dipasang sinar yang bahaya untuk mata adek.”
“Kenapa adek dikotakin?”
“Soalnya adek lahirnya kecepetan, Sayang.”
“Kenapa adek lahirnya kecepetan?”
Thoriq melirik Qiara yang menjawab anaknya, “Soalnya adek mau lihat dunia, adek pikir udah waktunya keluar.”
“Adek maaa, nggak nurut.” Kala menjebik ke arah adiknya.
“Mas Kala, gantian, Aira pengin liat adek.”
“Eh ini adiknya Kala bukan adik Aira. Nanti Aira minta adik sama Aya,” sahut Kala yang tak terduga bersikap posesif.
Kini giliran Aira menjebik. Anak itu menyangka adik kakaknya adalah adiknya juga.
“Kala, nggak apa ini jadi adik Aira juga. Nanti kalau Aya menikah dan punya bayi, bisa jadi adik Kala juga,” sahut Qiara dengan lembut.
Meski belum sepenuhnya menerima penjelasan ibunya, Kala merosot turun untuk bergantian dengan Aira. Sementara Thoriq tertegun mendengar perkataan Qiara.
Kini giliran Aira menempelkan hidung di kaca.
“Aya adik Abby cantik, aku juga mau adik.”
Thoriq hanya mencium gemas anak perempuannya yang terus menunjuk Abby.
Kini giliran Qiara yang melirik untuk melihat reaksi Thoriq. Tak sengaja mereka bersitatap. Sorot mata Qiara sulit diartikn.
“Eh udah yuk kita ke kafetaria ketemu Mel dan Mark,” ucap Thoriq menghindari kecanggungan antara dirinya dan Qiara.
“Mas, Qia diantar ke kamar aja, nanti Mas Thoriq sama anak-anak ke kafetaria.”
“Kala mau sama Buna …”
“Kala, Buna biar istirahat dulu, supaya cepat pulih dan cepat pulang.”
“Bener, Buna?”
“Iya, Sayang. Kamu sama Aya dan Aira ke kafetaria aja. Makan yang enak.”
“Kala mau milkshake strawberry?” Thoriq menoel pipi gembil putranya.
“Mau! Aira mau apa?”
“Aku mau yang Mas Kala pesen.” Thoriq tersenyum melihat betapa Aira sangat mengagumi kakaknya. Jika ditanya kenapa, katanya karena Kala itu jagoan.
Kala tersenyum bangga lalu mengulurkan tangan agar adiknya turun dari gendongan Thoriq.
Mereka berdua berjalan bergandengan, Kala menunjuk ini itu seolah menjelaskan banyak hal pada Aira.
“Nanti kita bisa gandengan berempat. Aku, Liam, Aira, Abby.” Kala menempatkan dirinya sebagai pemersatu keempat anak itu kelak.
Wajah Aira bersemu merah mendengar Kala menyebut Liam. Perubahan yang luput dari pindaian Thoriq dan Qiara.
“Qia nggak mau ikut ke kafetaria?” Thoriq merasakan degup tidak beraturan di jantungnya saat mendorong kursi roda Qiara.
“Enggak, Mas. Nggak enak dilihat orang. Bagaimana pun sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas Kala aja kita terkait,” balas Qiara.
“Kamu memang wanita baik, Qia. Mas menyesal kita berjodoh hanya sebentar.”
“Qadarullah, Mas. Yang penting sekarang Qia harap hubungan Qia, Devan, dan Mas baik selalu buat Kala.”
“In syaa Allah. Mas juga berharap begitu. Nanti malam Mas balik ke Indonesia, Qia. Alhamdulillah ada rombongan mau sewa villa. Mas harus ada di sana untuk persiapan.”
“Ikut seneng usahanya Mas lancar. Kala pasti sedih karena Mas pulang lebih cepat.”
Thoriq melihat ke arah dua anaknya yang sibuk kejar-kejaran.
“Kala mah asal ada kamu udah happy dia. Titip Kala ya, Qia. Mas percaya kamu dan Devan selalu sayang Kala. Kamu juga jaga diri. Semoga ke depan nggak ada lagi bahaya yang mengintai kamu karena Stella dan Hanna udah ditangkap.”
“Aamiin. In syaa Allah Qia dan Devan akan jaga amanah dari Mas. Semoga kita semua dalam lindunganNya. Mas udah nengokin Hanna?”
Wajah Thoriq berubah keras. “Mas rasa sudah nggak ada urusan. Waktu belum bercerai pun Hanna jarang banget pegang Aira. Mas belum mau ketemu dia, biar Mas jadi ayah dan ibu untuk Aira.”
“Memaafkan itu sulit ya, Mas. Apalagi melupakan.”
Thoriq tidak menjawab karena dia sama sekali belum memaafkan apalagi melupakan perbuatan Hanna padanya dan Aira.
“Mas, nggak cari calon ibu buat Aira?” Qiara iseng bertanya.
__ADS_1
“Kamu kayak Nenek aja, tiap minggu kenalin Mas sama wanita. Mas sampai bingung banyak banget stok kenalannya Nenek.”
Qiara tersenyum, Thoriq masih nampak tampan di usianya yang melewati angka tiga puluh, mapan pula. Dalam istilahnya Thoriq masuk ke kategori duren, duda keren.
“Belum ada yang nyangkut, Mas?”
Thoriq diam, kemudian perlahan menjawab. “Mungkin setelah ini Mas akan mulai membuka diri. Namun gak akan ada perjodohan. Mas akan menjalin hubungan dengan wanita yang membuat Mas jatuh cinta.”
“Seperti Mas dulu sampai sekarang masih jatuh cinta sama kamu, Qia. Itu sebabnya Mas harus menjauh,” tambahnya dalam hati.
Mereka sudah tiba di kamar. Qiara bangun perlahan lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Qia, abis dari kafetaria, Mas nggak ke sini lagi. Mas dan Aira sekalian pamit, ya.”
“Iya Mas. Hati-hati. Maaf Mas datang malah banyak kejadian nggak enak. Kapan-kapan Qia sekeluarga main ke Indonesia.”
“Sehat buat Qia dan Abby. Kamu bahagia selalu bersama keluargamu, ya. Devan suami yang luar biasa. Maafin semua kesalahan Mas. Semoga pas kita ketemu, seperti di surat Qia, kita bisa menertawakan atas apa yang pernah terjadi di antara kita.”
“Mas masih ingat surat Qia… Mas juga, ya. Terima kasih udah jadi bagian hidup Qia melalui Kala. Walau nggak bersama, semoga anak kita nggak akan pernah kurang kasih sayang dari orang tuanya. Maafin Qia juga ya, Mas. Safe trip back to Indonesia. Salam buat Nenek dan Kakek.“
Thoriq memanggil Aira untuk berpamitan. Dengan sendu, anak perempuan itu memeluk dan menyium pipi Qiara.
“Bye, Tante Qia.” Matanya berkaca-kaca.
“Aira nggak usah nangis, kamu kan adek aku, jadi bisa ketemu Buna kapan aja lewat call.”
Thoriq dan Qiara tergelak mendengar jawaban sotoy anak mereka. Tak lama Thoriq dan anak-anaknya menuju kafetaria.
Qiara memandang pintu yang baru saja tertutup.
“Bye, Mas …” bisiknya.
***
Pov Qiara
Aku tahu kenapa Mas Thoriq pulang. Dia tidak mau menimbulkan masalah untukku dan Devan. Walaupun Devan pernah memintanya untuk menjagaku, tapi kami bukanlah lagi sepasang suami istri.
Mas Thoriq bagaikan buku yang tak habis kubaca. Atau mungkin tak akan pernah habis. Aku tahu ini salah karena jauh di lubuk hati, masih ada perasaan untuknya.
Devan bukanlah pelarian, aku memang mencintainya. Sepertinya inilah hakekat cinta yang tak utuh.
Dalam sepi aku menangis untuk terakhir kali. Air mata untuk kenanganku dengan Mas Thoriq.
Andaikan hati ini punya tombol on/off, akan kumatikan semua rasa yang masih ada untuknya. Andaikan semudah itu mematikan perasaan.
Aku punya kehidupan dengan Devan, Liam, Kala, dan Abby.
“Kamu jangan jadi perempuan menye-menye, Qiara,” terngiang pesan mendiang ayahku ketika dulu beliau menilaiku terlalu lebay.
Ya lebay. Ayahku benar. Inilah definisi terjujur dari perasaanku ke Mas Thoriq.
Aku akan mengukir bahagiaku bersama Devan, Kala, Abby, dan Liam. Merekalah masa depanku. Jalan menuju surga dunia dan akhiratku.
***
Pov Thoriq
Thoriq menatap keluar dari jendela burung besi yang membawanya pergi meninggalkan Qiara dan Kala.
Menyingkir tanpa asa dan cinta untuk Qiara, adalah keputusan terberat yang harus diikhlaskan.
Aira tidur di kursi sebelahnya. Nyaman di kursi business class yang dipesan untuk mereka berdua.
“Kita harus bisa bahagia, Ai. Aya janji tidak akan sedih-sedih lagi.”
Thoriq mengelus pipi lembut Aira. Wajahnya makin hari makin mirip Hanna. Dia bertekad membesarkan Aira menjadi wanita yang bisa menjaga diri dan hati. Tidak seperti ibunya.
“Maafkan Aya yang belum bisa memaafkan mama kamu, Nak. Mungkin suatu saat, tapi belum sekarang.”
Thoriq menarik selimut, mengeluarkan hape, dan mulai membuka foto-fotonya dan Qiara.
“For the very last time.”
Foto-foto penuh tawa mengingatkan masa bahagianya dulu. Dari pertama berkencan hingga menikah. Berakhir si foto favoritnya ketika mereka berdua bermain di tepi pantai.
“Qia harus bahagia, ya. Mas juga akan mulai mencari kebahagiaan. Baik-baik, Qia.”
Thoriq mengambil extrrnal hardisc lalu memindahkan file-file foto hingga tak tersisa satu pun. Setelah selesai, disimpannya dalam ranselnya.
“Selamat tinggal, Qia …”
***
“Alhamdulillah dapat dua botol. Moga payudara satunya juga dapat banyak.”
Qiara puas melihat botol-botol berisi ASI. Karena Abby masih di inkubator ibunya belum bisa menyusui langsung. Qiara bersyukur air susunya banyak, di awal ia khawatir Abby tidak mau menerima, tapi dengan rakus Abby malah terus menyesap dari alat yang dipakai perawat untuk memberikan susu.
__ADS_1
Melihat kondisi Abby yang semakin kuat, dokter sesekali meminta Qiara untuk melakukan Kangaroo Mother Care. Sebuah teknik terapi skin to skin antara ibu dan bayi, dimana bayi diletakkan ke atas tubuh dan ditutup dengan baju ibunya.
Qiara sempat mencelos melihat begitu banyak selang dan kabel yang menempel di tubuh Abby. Tapi ia menguatkan hati, disentuhnya lembut kulit Abby, sambil terus dibacakan surat-surat Al Qur’an yag ia hafal.
Devan dan Qiara berbagi tugas. Qiara akan fokus dengan Abby sedangkan Devan akan terus mendampingi Liam dan Kala. Mereka juga mendapat bantuan dari Stephanie, Mel, dan Mark yang sudah menganggap Kala cucu mereka sendiri.
Seorang perawat masuk, dengan senyum lebar menyapa Qiara.
“Hai Mam, wow almost four bottles of milk. Abby itu bayi kuat, dia bisa menghabiskan setengah botol sekali minum. Biasanya bayi yang sangat prematur belum doyan ASI karena pencernaan belum siap.”
“Alhamdulillah, saya sudah tak sabar menyusui langsung.”
“Saya akan tanyakan ke dokternya, kira-kira berapa lama lagi Abby kuat untuk disusui langsung. Saya ambil botol-botolnya, ya Mam.”
Qiara mengangguk lalu mengemasi peralatan pompa susu. Kini ia sudah bisa bergerak sendiri. Hanya ia belum kuat menggendong dan belum berani tidur di samping Kala karena lasak.
Di malam hari Qiara pulang ke mansion sementara setiap pagi, Devan atau ayahnya mengantar ke rumah sakit.
Sore itu ia bersiap karena Devan akan menjemput. Suaminya bekerja di rumah sakit yang sama, jadi Devan selalu memanfaatkan waktu kosong untuk bersama Qiara dan Abby.
“Hi gorgeous. Cantiknya istriku.” Devan berseri-seri melihat Qiara yang sedang berberes.
“Gombal! Aku lagi morat-marit gini nggak karuan.” Tak kalah bahagia, Qiara berhenti lalu berjalan mendekati Devan.
“You are the most beautiful woman in the whole universe. And you are mine.” Tak sabar ia langsung melahap bibir manis Qiara yang sudah dirindukan sejak pagi mereka berpisah.
“Devan, masih harus puasa kan,” Qiara tersipu malu setelah akhirnya Devan menyudahi ciuman panjangnya.
“Ih yang puasa kan anu kamu aja. Selain itu bebaskeun, Baby …”
“Eeew … “ Qiara mengernyit menanggapi kemesuman tingkat dewa dari suaminya.
“Haish, jual mahal, sini kamu.”
Devan kembali merengkuh Qiara, tangannya bergerilya di tubuh yang selalu ia inginkan.
Jika Qiara merasa insecure dengan bentuk tubuhnya yang makin semok, tidak dengan Devan. Ia memuaskan kedua tangannya untuk meremas bagian-bagian tubuh Qiara yang makin berisi.
Tak mau kalah, Qiara ikut mengarahkan sentuhan tangan Devan ke bagian yang ia inginkan. Sembari meraba tubuh kekar dan sempurna milik suaminya. Sentuhan selembut sayap kupu sukses membuat tubuh Devan meremang. Hanya satu yang ia hindari. Pusaka Devan. Akan panjang urusan jika Si Junior tegak berdiri.
“E ehm …” Suara berdehem menghentikan kesibukan mereka.
Dua bibir bertautan dan dua pasang tangan yang bergerak kian kemari langsung saling melepaskan.
“Evening, Doctor Devan, saya lihat Anda sibuk sekali,” sapa dr Maliq, dokter anak yang merawat Abby.
“Ah Doctor Maliq, you know, I can never get enough of …” Devan tidak bisa meneruskan ucapannya karena Qiara keburu membekap mulut lemes suaminya.
Maliq tergelak. Dokter senior itu memiliki pengalaman luar biasa dalam merawat bayi prematur. Devan dan Qiara sangat memercayakan Abby di bawah pengawasannya.
“Nggak apa Qia, saya juga pernah muda. Dokter Devan pesan saya dijaga nanti setelah nifas untuk pasang kontrasepsi. Kemarin Qiara ada pendarahan jadi lebih baik rahimnya dikuatkan dulu.”
“Siap, Doctor. Kalau perlu saya yang pasang alat kontrasepsinya. Apapun biar setoran harian lancar.” Devan menaikturunkan alisnya sambil menatap Qiara dengan mata mesum.
Wanita itu sampai kehabisan kata-kata.
“Kamu tahu nggak Qia, pada saat wanita merasa tidak nyaman dengan tubuhnya pasca melahirkan, justru para suami menganggap itu seksi. Jadi siap-siap aja.”
Devan kini tergelak parah karena merasa mendapat angin.
“Maaf dokter ke sini kenapa ya?” Tanya
Qiara ke Dokter Maliq sambil melirik sinis ke suaminya.
“Oh iya, mengenai keinginan kamu untuk menyusui langsung Abby. Perkiraan saya setelah tiga hari ini bisa dicoba. Abby sepertinya lebih cocok dengan ASI ketimbang susu formula. Tapi tunggulah sampai ia terbiasa dengan kebiasaan barunya.”
“Abby juga sangat nyaman di pelukan saya, Dokter.”
“Betul, saya pantau juga demikian. Bersabar lah dulu hingga kondisinya benar-benar mantap. Abby bayi yang kuat.”
“Seperti ibunya,” balas Devan cepat.
Qiara dua kali berjuang dengan gigih melawan wanita-wanita tidak waras yang ingin menyakitinya. Hanya karena obsesi yang mengatasnamakan cinta.
Perjuangan hidup mati Qiara membuat Devan kagum habis terhadap istrinya. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari ukuran normal wanita Asia, namun keberanian tidak perlu ditanyakan.
Bahkan saat ia masih menjadi pria menyebalkan di atas kursi roda, Qiara adalah satu-satunya manusia yang berani mendebatnya, mematahkan semua argumennya dengan tenang.
“Tetaplah menjadi pasangan yang saling mencintai dan kompak. Memiliki anak lahir prematur butuh kesabaran karena secara fisik dia memang belum siap dilahirkan. Secara medis ada kemungkinan dampak di masa depan. Jika itu terjadi pada Abby, aku harap kalian saling menguatkan.”
Devan dan Qiara saling bertatapan. Tangan Devan meraih tangan Qiara dan menggenggamnya erat. Bersama wanita di sebelahnya ia merasa kuat.
Setelah Dokter Maliq keluar, Qiara dan Devan bersiap untuk pulang. Sebelumnya mampir melihat Abby. Mereka tertawa melihat Abby yang dengan rakus menyesap air susu yang diberikan melalui alat khusus.
“Stay with me, Qiara. You are my world, my everything.” Devan memeluk istrinya dari belakang sambil matanya lekat melihat ke putri mungilnya.
“In syaa Allah, Sayang. You are my sun and moon.” Qiara membalikkan badan untuk mengecup bibir suaminya. Keduanya tinggal beberapa saat lagi karena enggan meninggalkan Abby.
__ADS_1
***