
Devan berdiri di depan pagar rumah Dhanu. Sungguh sial nasibnya setelah sampai Jakarta, ia harus beristirahat karena beberapa hari demam.
Terpikir untuk menyuruh orang mencari tahu tentang Qiara dan Kala, namun akhirnya memutuskan untuk menunggu hingga ia sembuh sebelum mulai mencari Qiara dan Kala.
Pria itu masih berdiri ketika sebuah family car mendekat dan stop di depan pagar.
Pintu belakang terbuka, Devan melihat ke dalam. Seorang anak kecil melompat dari tempat duduk belakang ke pelukannya.
“Uncle Devan!” Pekik Kala sambil melompat ke pelukan Devan.
“Hi Kiddo, how are you?”
“I got sick for a few days, but now I’m all good. Where’s Liam?”
Devan menatap ke arah wanita yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Tanpa memalingkan wajah dan terus memandang wajah yang dirindukan, Devan menjawab Kala, “Liam nggak ikut karena harus sekolah. Katanya dia mau kirim kamu gambar Thor.”
Hati Qiara berbunga-bunga. Tak pernah sedikit pun menyangka Devan akan menyusul ke Jakarta. Walau ada sedikit kekhawatiran menggantung.
“Hi, Dev.”
“Hi, you …” Devan dan Qiara sama-sama saling menatap dengan kerinduan terpancar di netra mereka.
Dhanu turun karena baru pertama kali bertemu langsung dengan Devan, dokter yang menolong kelahiran Kala.
“Hi, welcome to Jakarta, I’m Dhanu, Qiara’s elder brother.”
“Dr Dhanu, very nice to finally meet you. Qiara banyak cerita tentang Anda, Dokter.”
“Please, just Dhanu. Atau kamu mau kita berlaku seperti teman sejawat, Dokter Devan?”
“No, it’s Devan, then.”
Dhanu mengajak Devan masuk setelah mengenalkan pada Marianne dan Rama. Kala tidak mau turun dari gendongan Devan.
“Terima kasih waktu itu kamu membantu Qiara melahirkan.”
“Mas jangan diungkit-ungkit lagi, ah …” Wajah Qiara merah padam.
“Nggak apa-apa, Qia, dokter harus bisa memisahkan antara panggilan tugas dan masalah pribadi,” jawab Dhanu sungguh-sungguh. Sementara Qiara melirik tajam ke Devan yang cengengesan.
“Buna, Kala mau main sama Abang Rama… Tapi Uncle Devan jangan pulang.”
“Uncle Devan masih akan di sini, I miss you guys…” Devan melirik Qiara. Lirikan yang tidak luput dari pengamatan Dhanu dan Marianne.
“Mas sama Mbak Marianne juga mau ini .. istirahat sebentar, iya tiba-tiba pegel nih, leher, punggung …” Dua orang itu langsung pamit meninggalkan Devan dan Qiara, sementara Kala sudah lebih dulu melesat ke kamar Rama.
“So …” Lanjut Devan setelah tinggal mereka berdua.
Antara gugup dan bahagia, Qiara bertingkah sangat canggung di hadapan Devan. Wanita itu menggigit bibirnya membuat Devan gemas.
Pria itu bergeser ke sofa di samping Qiara.
“Qia, begitu kan orang terdekatmu memanggil?”
__ADS_1
Qiara mengangguk, masih gugup dengan jantungnya berdegup kencang memandang wajah blasteran yang ternyata sering muncul di mimpi-mimpinya.
“Hey, kok kamu begini? Biasanya langsung bawel ngomelin aku?”
“Dev, aku …” Qiara memejamkan mata dan mengambil napas dalam. Sekarang giliran Devan yang mengigit bibir menahan gejolak yang tiba-tiba muncul.
“Dev, apa kabar?” Cicit Qiara. Dari rangkaian kalimat yang tersusun di kepalanya ternyata ia hanya sanggup menanyakan kabar.
Netra Devan membola. Ia bersiap menjelaskan segala sesuatunya pada Qiara.
“Aku, baik, Qia …”
“Dev, maaf ya aku pulang ke Indonesia nggak bilang kamu. Kami … “
“Aku yang minta maaf. Kamu harus terseret masuk ke masalah pribadiku.”
“Sepertinya nggak ada sangkut paut sama kamu, deh. Jangan GR …” Jawab Qiara sambil mencebik.
Devan menghela napas lalu menceritakan sepak terjang Stella. Ia berniat jujur dan menerima konsekuensi apapun. Termasuk jika Qiara mengusirnya.
“Jadi aku diberhentikan dari proyek-proyek atas permintaan Stella?”
Devan mengangguk. Menyiapkan mental untuk kemungkinan yang terburuk.
“Alhamdulillah. Ya Allah … Selama ini aku berpikir mereka benar-benar menganggapku tidak profesional dan semua keburukan yang mereka tulis.”
Wajah Qiara nampak lega.
“Maaf, Qia,” sahut Devan benar-benar makin menyesal.
“Tidak, kami tidak menikah dan tidak akan menikah. Sekarang kami menjalankan co-parenting untuk Liam.”
“Bagaimana dengan Liam?”
Devan tersenyum mengingat nasihat anaknya malam itu untuk bicara dengan Qiara.
“Karena Liam-lah aku di sini. Liam yang menyuruhku mengatakan ini padamu.”
Alis Qiara terangkat. Devan menatap manik mata Qiara lekat-lekat.
“Qia, aku punya perasaan lebih untukmu. Hari itu di Sydney, aku berencana mengatakannya padamu. Aku mundur karena di hatimu masih ada Thoriq. Juga Liam yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Lalu Stella, banyak hal yang menjadi pertimbanganku. Aku minta maaf, Qia.
Jika masih ada kesempatan, aku ingin menjalin hubungan denganmu…”
“Hubungan seperti apa?”
Devan tersentak lalu melirik Qiara yang menatap dengan sorot mata jahil.
“Qiara Anjani …”
“Dev, aku benar-benar tersanjung dengan ajakanmu. Kita coba perlahan?”
Dengan nada memelas Devan membalas, “Tapi Qia, aku sungguh-sungguh menyukaimu, tidak bisa kah kamu … wait wait, what? Kamu bilang apa?”
“Makanya jangan nyerocos dulu. Aku bilang, kita coba perlahan?”
__ADS_1
“Maksudnya perlahan?”
“Yaaa kita menggali perasaan masing-masing, lalu juga hmmm kita kan punya keluarga yang akan terimbas dengan hubungan kita, Dev.”
“Jangan khawatir kalau tentang orang tuaku. Mereka sudah setuju. Maafkan jika mereka membuatmu menjauh. Aku sungguh-sungguh minta maaf.”
Qiara menunduk. “Aku ngerti, Dev.”
“So, are we boyfriend and girlfriend now?” Devan menaikturunkan alisnya.
“Jayus …” ucap Qiara geli melihat kelakuan Devan.
“Aku boyfriend kamu, kan, sekarang?” Devan keukeuh.
Qiara terkekeh melihat pria berusia 34 tahun itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Dev, tapi kamu tau ya, sulit jadi boyfriend wanita muslim. Kita nggak pegangan tangan, no kissy-kissy …”
“Bismillaah, aku siap.”
“Belum lagi kamu harus rajin sholat, belajar ngaji lagi.”
“In syaa Allah aku siap.”
“Dan belum tentu juga kita nikah …” Lanjut Qiara yang langsung menutupi bibirnya dengan kedua tangan.
“Katanya slowly, kok udah mikirin nikah. Kamu juga pengin ya sama aku?” Goda Devan yang langsung membuat Qiara merah padam.
“Bodo amat!” Qiara hendak berlari masuk namun Devan buru-buru berdiri menghalangi.
“Qiara, my dear, kita akan berusaha bareng-bareng ya. Aku menghormati permintaan kamu dan berusaha menjalankannya.”
“Aku juga Dev, aku akan membuka hatiku untuk kamu.”
Devan menghembuskan napas lega.
“Qia, boyfriend-mu kangen minuman lemongrass yang biasa kamu bikin. Mau nggak kamu bikinin, girlfriend?” Devan tertawa jahil.
Degup jantung Qiara kini berdegup tak beraturan.
“Gelay …” gelaknya lalu berlari masuk.
“Sini … boyfriend.”
Devan terbelalak. Jika jantung bisa copot, maka saat itu ia akan sibuk mengembalikan jantung ke tempatnya.
“Qia …” ucapnya dengan bahagia.
***
Maafkan daku telat up. Lagi banyak acara nih, nikahan saudara dll.
😘😘😘
***
__ADS_1