Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Malika


__ADS_3

Setahun berlalu, Malika tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Lastri jatuh cinta dan bertekat untuk mengasuh bayi yang diambilnya.


Dalam kekalutannya, Lastri memutuskan tidak mengembalikan Malika ke orang tuanya. Dengan miris ia melihat Hanna dan Dicky yang memohon-mohon di televisi maupun media sosial agar anaknya dikembalikan.


Semua akan dimaafkan, tidak ada tuntutan. Namun Lastri takut dengan ketidakberdayaannya sebagai orang kecil dimana jerat hukum tidak akan lepas begitu saja.


Di rumah sederhana cenderung seadanya, Lastri membesarkan empat orang anak. Mikala, Maira, Mirza, dan Malika saling menyayangi. Malika selalu berbinar-binar jika melihat kakak-kakaknya pulang sekolah.


Lastri tidak lagi bekerja serabutan setelah Malika hadir di keluarganya. Walau dengan berat hati, ia akhirnya menjual cincin kawin, satu-satunya peninggalan suami, kemudian dijadikan modal untuk membuat kue-kue jajan pasar dan minuman limun segar.


Maira dan Mirza ikut berjualan di rumahnya. Terkadang membuat nasi uduk atau mie goreng untuk bekal anak-anak tetangga, karena rata-rata orang tua mereka adalah pekerja kasar yang harus pergi pagi-pagi.


Malika menjadi kesayangan para ibu di lingkungan Lastri tinggal. Tertawanya lepas seperti Dicky, wajahnya imut dan cantik seperti Hanna, belum lagi keceriwisan yang pastinya menurun dari ayahnya.


Salah satu dari ibu mengusulkan Malika untuk dibuatkan video lalu dimasukkan ke media sosial. Mungkin saja bisa jadi viral dan menghasilkan uang. Lastri tidak tega anak yang direnggut dari orang tuanya menjadi penghasil uang.


Lastri teringat ketika ia membawa Malika pulang pertama kali ke rumahnya. Bu RT datang untuk memeriksa bayi yang menangis di rumah Lastri. Rumah mereka hanya dibatasi oleh dinding yang sama.


“Ini anak sepupu jauh saya,” jawabnya lirih setelah mengajak Bu RT bicara di luar rumah agar anak-anak tidak mendengar.


“Loh kenapa dibawa ke sini? Padahal Lastri aja udah kesulitan hidup tiga anak.”


Dengan senyum kecut, Lastri menanggapi, “Ibunya meninggal saat melahirkan, sepupu saya nggak sanggup ngurus.”


“Ya sudah, daftarkan segera sebagai warga. Terus dikasih susu biar nggak berisik.” Bu RT yang biasanya baik hati namun malam itu sedikit judes berlalu kembali ke rumahnya yang hanya berjarak dua meter dari rumah Lastri.


Mengambil napas lega, Lastri masuk ke rumah lalu mengambil Malika dari gendongan Mikala. Putra sulungnya menatap dengan pandangan menyelidik.


“Bu …”


“Sssh, mulai sekarang Malika jadi anggota keluarga kita. Ibu belum tau bakal cari uang dimana lagi, tapi akan terus berusaha. Mikala bantu, ya.”


Mikala memandang wajah resah wanita yang melahirkannya.


“Mika akan bantu. Besok Mika akan jualan tisu lagi. Kan udah nggak ujian.”


“Maafin, Ibu.”

__ADS_1


Mikala tidak menjawab, tapi bangkit lalu menyuruh adik-adiknya berbenah setelah makan dan bersiap tidur. Sebelumnya mereka sholat berjamaah.


Lamunan Lastri buyar ketika Malika menarik lengan dasternya.


“Iwuu …” Lalu menunjuk dua orang anak SMA yang ingin membeli klepon dan nasi kuning. Setelah pembelinya berlalu, Lastri memangku Malika sambil menciumi pipinya yang mulus. Anak kecil itu menciumi wajah Lastri lalu mereka tertawa berdua.


Di kabupaten yang berbeda, Hanna baru menyelesaikan sholatnya. Selama setahun mencari anaknya ke sana kemari, kini bersama suami akhirnya berpasrah. Mereka mendoakan anak yang bahkan belum sempat mereka beri nama agar selalu dalam keadaan baik.


Mereka berdua menerima ini menjadi bagian dari suratan takdir. Walau berat, mereka dan anak-anak melangkah melanjutkan hidup. Aira, Latifah, dan Fatimah pun selalu mendoakan adik mereka setelah sholat.


Hanna kini sedang hamil enam bulan. Bukan berniat mengganti anak yang hilang, tapi enam bulan selesai nifas Hanna merasa mual dan pusing. Ketika diperiksa, ternyata dirinya hamil. Dalam kesedihan, Dicky dan Hanna bersyukur dan berharap Allah ridho kali ini mereka bisa membesarkan anak mereka.


Eliza sempat diselidiki, namun tidak ada bukti yang mengaitkannya dengan hilangnya anak Hanna dan Dicky.


Bertemu di kantor polisi, Eliza dengan santai berkata ke Hanna, “Dasar perempuan pembawa sial. Dicky kebawa sial karena nikah sama pendosa kayak kamu.”


“Mbak Eliza sudahlah. Nggak ada faedahnya bicara seperti itu. Saya dan Mbak sudah tidak ada hubungan apa-apa setelah Bapak meninggal. Jangan pernah datang ke rumah saya lagi. Mbak tidak diharapkan.”


Eliza yang ditemani suaminya langsung memberungut. Daru, suami barunya hendak memukul Dicky yang dengan mudah menangkis.


“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya,” ujar Dicky sambil menggandeng Hanna, tak ingin membuang waktu untuk mantan ibu tiri yang dulu memporakporandakan keluarganya.


Hanna tersenyum. Dicky pun membalas senyuman istrinya.


“Sayang, gimana perut kamu?”


“Alhamdulillah baik, Mas. Hanna bikinin mas pisang goreng, ya, tadi dikirim Bu Asdawi tetangga belakang.”


“Sini duduk samping aku dulu.” Dicky menepuk ranjang sebelahnya.


Hanna mengikuti permintaan suaminya lalu duduk sambil merebahkan kepala di dada bidang. Dicky mengelus pucuk kepala Hanna.


“Sayang, tau kan aku cinta banget sama kamu?”


Hanna mengangguk sambil menyembunyikan wajah di dada yang menguar aroma kasturi kesukaaannya.


“Mas, jangan tinggalin Hanna,” pintanya lirih.

__ADS_1


“Loh? Kok kamu ngomong gitu?”


“Mas bisa aja salahin Hanna karena nggak bisa jaga diri jadi terjatuh kena meja lalu harus dioperasi lalu anak kita hilang…”


“Aku justru yang merasa bersalah nggak bisa jagain kamu dan anak kita. Sayang, ini takdir, kita harus terus mohon kekuatan sama Allah agar kita berdua bisa melalui ini barengan. Itulah hakekat berumah tangga. Merasakan dan menjalankan bersama.”


“Kalau kayak di novel-novel, suami malah suka cari wanita lain buat melampiaskan semua rasa sedih.”


“Itu kan novel-novel, tokoh laki-lakinya bukan aku …” Dicky mencubit gemas hidung mancung istrinya.


Ia berkata lagi, “Aku punya kamu, Aira, Latifah, Fatimah, bayi di perutmu, dan anak kita yang sekarang belum diijinkan untuk bersama. Cukup buatku.”


“Makasi, Mas. In syaa Allah, Hanna bisa jadi istri sholihah dan ibu yang baik. Semoga juga kita bisa ketemu anak kita kelak.” Air mata mulai menggenang membasahi buku mata lentik Hanna.


Dicky pun merasakan matanya mulai menghangat. Ia mengeratkan pelukannya.


“Sayang, anak kita udah setahun ya umurnya. Kalau misalnya Allah ijinkan kita ketemu lagi, kamu mau kasih nama yang sudah disiapkan?”


Hanna menggeleng. Dulu mereka berdua ingin memberikan nama Daniah kepada bayi mereka yang hilang. “Aku pengin banget anak kita yang kedua diberi nama Malika Jamila, dan adiknya nanti Mikayla.”


“Malika Jamila? Artinya apa, Sayang?”


“Ratu yang cantik, baik paras maupun akhlaknya. Doa Hanna dimana pun Malika berada, ia menjadi anak sholihah, selalu bisa menjaga dirinya, jadi pemimpin, punya paras cantik dan perilaku yang menyenangkan hati.”


Dicky mengingat wajah anaknya yang dulu sempat diadzani sebelum masuk ke NICU. Walau baru berusia beberapa menit, namun wajah Malika memiliki garis-garis cantik seperti ibunya. Dicky buru-buru mengusap matanya.


“Setuju, Sayang. Semoga kita juga bisa ketemu Malika, ya. Sepertinya sudah saatnya kita mengurus akta kelahiran. Kita harus bisa melangkah, ya …”


Hanna terdiam, lalu menjawab pelan, “Berat banget, Mas, tapi harus …”


***



Maaf telat up ya, author lagi hiling ke sini ..


*Coba tebak ini dimana? **😍*

__ADS_1


***


__ADS_2