Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Captain Marvel


__ADS_3

Dari ambang pintu, Kalandra menatap dua sosok yang sedang bercanda di dalam sebuah bangunan yang dipersiapkan untuk menjadi restoran hidangan Indonesia di jantung kota London.


Hayyan, duduk di kursi roda, mendongak ke kakaknya yang diam mematung.


“Mas, kok aku nggak didorong?”


Dari belakang, Zee menerobos sambil berteriak, “Mas Kala, ngganjel. Minggir, Zee kangen Buna.”


Qiara menoleh karena mendengar suara Zee.


“Anak-anak Buna udah dateng..” Qiara tersenyum lebar.


“Udah dari tadi. Pas di pintu ada portal ngalingin.” Zee menunjuk ke arah Kala dengan bibir menjebik. Zee langsung mengambil posisi favorit: di pelukan Bunanya.


Azka dan Barran mendorong Kala agar melangkah ke masuk. Liam mengambil alih kursi roda Hayyan. Aira berjalan di sampingnya dengan perut yang semakin membuncit.


“Buna, Aya …” Kala memeluk kedua orang tuanya yang pada akhirnya kembali bersatu. Thoriq menepuk pundak anaknya sementara Qiara mengacak rambut Si Dokter Tampan.


Kala terharu karena akhirnya ayah dan bundanya kembali bersatu.


Qiara lalu beralih untuk menyium kedua pipi Hayyan yang sudah berangsur pulih.


“Buna udah gede, malu sama Zee.” Hayyan berusaha menjauhkan tubuhnya. Qiara berhenti lalu kembali menghujani Hayyan dengan cium kasih sayang seorang bunda yang hampir ditinggal pergi anaknya.


“Mas Hayyan jadi baby lagi …” celetuk Zee sambil cengengesan.


Thoriq tertawa lalu mengelus pundak Qiara agar berhenti mengganggu Hayyan. Pria yang sangat berbahagia itu menghampiri putrinya.


“Aya, Aira kangen.”


Thoriq dan Qiara baru pulang dari Italia. Anak-anak membelikan tiket menonton opera. Ide dari Aira karena ia tahu ayahnya pernah punya bucket list menonton opera bersama Qiara, namun urung karena pernikahan mereka keburu runyam.


“Gimana hamilnya? Seru?” Thoriq merangkul Aira, mengajaknya duduk.


“Seru, sekarang Aira pengin makan terus.”


“Bener tu Aya, kerjaannya nongkrong di depan kulkas. Paling hobby makan es krim, bisa satu pint sendiri.” Liam mengadukan kelakuan istri tercintanya. Aira hanya menjebik manja.


“Ya Allah, Ai ati-ati ah, direm sedikit.”


“Nggak bisa, bawaan bayi, Ay.”


“Nanti anak kamu kayak aku Dek, doyan makan,” sahut Kala menaikturunkan alis.


“Ay, ay Captain!” Aira menjawab menirukan gaya Kala. Liam menggeleng kepala tak setuju sama sekali dengan ucapan adiknya.


Mereka semua lantas duduk mengitari meja makan siap untuk food testing di restoran baru milik Thoriq.


Beberapa pelayan menyiapkan hidangan.


“Garang asem ati ampla? Aya yang bikin?” Aira terpekik senang karena ada makanan kesukaannya.


“Iya dong.“


“Ini enak banget, harus cobain.”


Aira langsung menyendok nasi dan lauk tanpa menunggu aba-aba.


“Enak bangeet! Apalagi kalau makan pakai tangan.” Setelah menyemprot dengan sanitizer, jari jemari Aira mendarat di nasi yang sudah dirames dengan garang asem. Bumil makan dengan lahap.


Suami dan para iparnya menatap heran. Mereka tidak terbiasa makan jerohan. Kala ikut menyendok ke piringnya.


“Nih, cobain, Zee. Mas Kala suapin.”


Sementara Thoriq memandang miris ke anak perempuan satu-satunya makan tanpa ingat tata krama.


“Enak! Buna kenapa nggak pernah masak ini? Buna harus belajar dari Uncle eh Aya,” cetus Zee bersemangat. Kala menyendok lagi lalu menyuapi adik bungsunya.


“Aya kan bisa tiap saat masakin sekarang.”


“Oiya, udah jadi Aya-nya Zee. Enaaak.”


Keluarga itu lalu menyantap semua hidangan yang dikeluarkan. Karedok segar, soto ayam hangat buatan Qiara lengkap dengan perkedel, gurame asam padeh adalah beberapa hidangan yang muncul siang itu. Semuanya lezat sempurna.


Thoriq memutuskan untuk membeli restoran temannya yang ingin kembali ke Indonesia. Awalnya restoran itu justru menyajikan makanan Italia, oleh Thoriq konsepnya diubah menjadi makanan Indonesia.


Sambil menyantap, Kala berkata, “Aya, Buna, besok Kala pamit mau ke Indonesia. Kala mau ketemu sama Fatimah.”


Aira sedih karena Fatimah membatalkan rencana ta’aruf tanpa sebab yang jelas. Fatimah hanya menjelaskan ada hal rumit yang membuat dia belum bisa menerima Kala.


Bahkan ketika Dicky dan Hanna mendatanginya, Fatimah tidak bercerita apa-apa hanya mohon doa agar semua lancar.


“Kala, hadapi semua dengan kepala dingin. Apapun yang terjadi, yakinlah bahwa rencana Allah adalah yang terbaik,” ucap Thoriq dengan nada bicaranya yang tenang seperti biasa.


“I just need a closure.”


“Then go get it, Kal. Buna yakin ada sesuatu yang terjadi hingga Fatimah mengambil keputusan sepihak.”


“Mas kapan berangkat?” Azka menatap kakaknya yang terlihat tidak seperti biasanya.


“Besok. Mas cuma dapat cuti seminggu.”


“Semoga cepat beres.” Azka menepuk pundak Kala memberi semangat.


“Aamiin, makasi doanya.”


“Astaghfirullah … Mbak Abby?” Hayyan menatap ngeri ke arah kakaknya yang baru datang bersama seseorang yang sangat dikenalnya.


“Hayyan biasa aja, deh.” Abby mendekati Bunanya lalu memeluk erat. Tak lupa memberikan salam pada Thoriq.


Hamilton yang berdiri di samping Abby tersenyum kepada semua.


“Kulkas udah bisa senyum,” Zee mengguman lirih. Qiara mendelik ke arah putri bungsunya.


“Hamilton, nice to have you here. Maaf masih sedikit berantakan. Minggu depan baru beres dan kami segera buka.” Thoriq memersilakan Hamilton untuk duduk.


Hayyan mendelik dan menarik Abby untuk duduk di sampingnya.


“Dari semua laki-laki di dunia, harus dia banget ya?” Bisik Hayyan, Abby hanya terkekeh sambil melirik Hamilton.


“Any problem, soldier?” Tanya Hamilton dengan gaya khasnya: kulkas.


“No, Sir! Silakan duduk dan selamat datang di keluarga Donavy-Aditya.”


***


“Mas …”


“Ya, Qia Sayang.”


Qiara merapatkan tubuhnya ke tubuh Thoriq mencari kehangatan di sana.


“I love you.”


“You are my one and only love, Qiara Anjani.” Thoriq mengecupi pucuk kepala istrinya yang sudah siap terbang ke alam mimpi.


Dalam kehangatan, Qiara memejamkan mata, merasakan hembusan lembut napas laki-laki yang terus membelai rambutnya hingga ia tertidur.


Thoriq menatap wajah cantik yang bertahun-tahun dirindukan siang malam. Perlahan dikecupnya hidung dan bibir mungil ketika pemiliknya sudah lelap dalam dekapannya.


“Alhamdulillah ya Allah. Ijinkan kami memiliki umur yang berkah dan menikmati hari tua bersama anak-anak dan banyak cucu.”


***


Seminggu berlalu. Thoriq menggandeng Qiara untuk memasuki restoran. Hari itu adalah pembukaan restoran yang diberi nama Kisah Bahagia.


Keduanya menyebar undangan hanya untuk kerabat dekat, namun tak disangka, banyak yang ingin menyicip hidangan di sana. Antrian mengular.


Abby yang ditunjuk sebagai manager langsung memerintahkan pegawai dapur untuk menyiapkan secangkir wedang ronde sebagai penghangat bagi mereka yang rela berdiri menunggu meja.


Para tamu restoran bukan saja orang Indonesia yang bermukim di sana. Tidak sedikit warga lokal yang ingin mencicipi makanan otentik khas Indonesia.


Putra dan putri Qiara kecuali Kala hadir di acara tersebut. Mereka tak menyangka suasana restoran dibuat menyerupai suasana ruang keluarga mereka di mansion. Foto-foto mereka terpajang dengan apik.


Tak ketinggalan foto bahagia ketika Devan masih bersama mereka. Lalu ada foto Thoriq dan Aira. Foto-foto itu membuat bahan cerita bagi pengunjung hingga mereka saling membagikan kisah bahagia di keluarga mereka.


Thoriq tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Qiara. Senyum lebar tersungging di wajah keduanya.


“Aku senang Buna udah nggak jadi zombie lagi. Udah bisa senyum dari hatinya, bukan cuma basa-basi,” celetuk Zee bahagia.


“Kamu sendiri gimana, Dek? Secara kamu adalah princess-nya Daddy,” tanya Hayyan sambil mengelus punggung adik bungsunya.


“Aku akan selalu jadi princess-nya Daddy, dan Aya akan jadi Aya aku.”


“Umur kamu berapa sih, Dek? Jawabannya dewasa banget,” seloroh Barran dari seberang meja.

__ADS_1


“Zee ini kan lahir saat kakak-kakak udah dewasa, makanya kebawa tua. Di sekolah aja temen-temen selalu curhat sama Zee. Ya masalah sama saudara, orang tua, pacar.”


“Ya Allah, another Love Guru.”


“Nggak mau, itu Kak Liam aja. Zee mau jadi world traveler.”


Thoriq dan Qiara mendekati meja anak-anak.


“Suka makanannya?”


“Soto Buna, is the best.”


“Sayang Mas Kala nggak bisa ikut. Pasti dia abisin itu semua sotonya Buna.”


“Siapa bilang Kalandra nggak bisa datang.”


Semua menoleh ke asal suara.


Kalandra berdiri tegak dengan menggandeng Fatimah yang menatap mereka dengan takut-takut. Fatimah masih memakai seragam pilot.


“Kala … eh Kala?”


“Aya, Buna, adik-adikku tersayang … sudah kenal, kan? Ini Fatimah, istri Kala.”


***


Mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


Fatimah merasa canggung dan tidak nyaman. Sementara Kala terus menggandeng istri yang baru dinikahi beberapa belas jam lalu di atas ketinggian 20.000 kaki.


Qiara masuk membawakan minuman hangat untuk semua. Ia memerhatikan Fatimah yang terus menunduk.


“Fatimah, duduk sini dekat Buna.”


Fatimah menatap Kala meminta persetujuan..


Fatimah jalan berlahan. Begitu mendekati Qiara ia bersimpuh lalu mencium tangan ibu dari suaminya.


“Buna, maaf. Fatimah nggak berharap kejadiannya seperti ini.” Fatimah berlinang air mata.


Kala mendekati istrinya lalu sama bersimpuh di depan Thoriq dan Qiara.


“Aya, Buna, maaf …”


Thoriq memeluk anaknya.


“Kala, Aya dan Buna yakin kamu punya alasan yang jelas. Sekarang yang Aya ingin tanyakan adalah siapa yang menikahkan kamu dengan Fatimah? Adakah saksi?


“Oom Dicky yang menikahkan, saksinya adalah Mikala dan Mirza saudara angkat Malika.”


“Alhamdulillah, jadi perkawinan kalian sudah sah di mata agama. Secepatnya kalian urus pencatatan.”


“Baik, Aya.”


***


Flash back


“Kapten Fatimah, saya diminta menyampaikan salam dari penumpang bernama Alexander Mahendra,” pimpinan pramugari menyampaikan saat mengantar minuman ke kokpit.


Netra Fatimah mengeruh. Ini adalah penerbangan ke lima dimana Alex menjadi penumpangnya.


“Terima kasih.”


“Boyfriend?” Tanya kopilotnya.


“Nop! Siap terbang?” Fatimah tidak mau membahas kehidupan pribadinya.


“Siap, Kapten.”


Penerbangan dari Hongkong menuju Jakarta ditempuh dengan mulus.


Larut malam, Fatimah baru turun dari mobil yang mengantarkan ke apartemen ketika sekelompok pria berjas mendekati.


“Kamu tau? Ayahmu ada di mana?”


“Nggak peduli.” Tanpa melihat Fatimah sudah tahu sosok tinggi yang berbicara sengan nada angkuh.


“Sepertinya saya menekan tombol yang salah. Fatimah, liat ke sini.” Alex menyodorkan layar hapenya.


“Ini video rekaman tadi sore. Oh ada lagi. Ini diambil tadi pagi.”


Nampak Latifah, kakaknya dalam kondisi hamil besar sedang berjalan dari parkiran menuju ruang praktiknya.


“Dasar orang jahat! Pasti kamu mau mengancamku, kan? Menikah denganmu atau anggota keluargaku celaka. Orang macam kamu ini emang nggak ada gunanya.”


“Ouch … calon istri jangan galak-galak lah. Ini alamat wedding bridal kita. Besok kamu datang untuk mengukur gaun pengantin atau perkataanmu jadi kenyataan. Mungkin dimulai dari kakakmu dulu.”


Tangan Alex membuat gerakan melendung di depan perut menggambarkan Latifah yang sedang hamil.


“Sebetulnya aku bisa saja menculikmu, memaksakan kehendakku padamu. Tapi tidak. Aku menghormatimu, Fatimah. Bahkan jika kamu minta, aku akan berhenti bermain-main dengan wanita mulai sekarang. Ini menunjukkan bahwa aku bukan cuma begundal yang tidak bisa berusaha. Keluargamu, anggaplah itu jaminan bagiku.”


Fatimah menarik napas dalam. Kemarahannya menggelegak.


“Oya, kekasihmu dalam perjalanan ke sini. Siap-siap menangis, karena dia akan pulang tinggal nama.”


“Brengsek kamu,” pekik Fatimah. Sementara Alex menahan diri untuk tidak menerkam Fatimah. Membawa gadis pembangkang itu ke tempat tidur.


“Aku benar-benar tak sabar untuk berduaan denganmu di ranjang kita. Sampai saat itu, jaga dirimu hanya untukku. Selamat tidur, aku sudah letakkan boneka cantik di tempat tidurmu.”


Fatimah terbelalak. Ia yakin apartemennya sudah disadap. Begitu Alex dan gerombolannya pergi, ia memanggil taksi.


“Hotel Fermon.”


Dari dalam mobil, Alex tersenyum.


“That’s my girl. Gue suka perempuan yang bisa melawan. Gemesnya cewek ini. Alvin, gue mau Denisa sudah siap di kamarku.”


Alvin yang duduk depan tertawa lalu menjalankan perintah atasannya.


“Sekali bejat tetap bejat”, pikir Alvin.


Semenjak bertemu Fatimah, entah sudah berapa banyak wanita terkapar di ranjang Alex. Hasrat yang dirasakan untuk Fatimah disalurkan dengan brutal melalui perempuan-perempuan cantik yang diinginkan. Mereka adalah selebritis papan atas yang tidak kuasa menolak Alex. Jika tidak ingin karir mereka hancur.


“Kalandra sampai dimana?”


“Jetnya sudah masuk wilayah Indonesia. Kamu yakin mau melawan keluarga Donavy?”


“Mereka itu orang baik. Handal di bisnis tapi tidak di dunia hitam. Mereka bukan saingan kita. Sekarang balik ke rumah.”


Perjalanan menuju istana Alexander Mahendra cukup lancar ketika iringan kendaraan mereka dihadang oleh beberapa mobil polisi.


“Stop! Berhenti pemeriksaan!”


“Katakan siapa yang ada di mobil ini.” Alexander menatap malas ke arah polisi-polisi.


Baru anak buahnya melangkah keluar, para polisi sudah menodongkan senjata apa mereka.


“Keluar!” Perintah komandan polisi.


“Boss, sebaiknya kita keluar.”


Alex dan Alvin keluar dengan tangan terangkat.


“Buka bagasi!”


Alex tersenyum karena di bagasinya tidak ada apa-apa.


Petugas membuka bagasi dan berseru, “Lapor, ada orang terluka parah di sini.”


Alex dan Alvin terperanjat.


Petugas menarik tubuh babak belur namun masih bergerak dengan sisa napas.


“Ibrahim,” bisik Alex kepada Alvin.


“Bukankah dia ada di Pulau Sol?”


“Seharusnya. Dia juga baik-baik saja di sana.”


“Anda kami tangkap! Bawa ke kantor polisi.”


Semua rombongan Alexander Mahendra digiring masuk ke dalam truk polisi. Pimpinan gerombolan mafia itu menahan marah karena dipermalukan, terlebih penggerebekan itu diliput beberapa stasiun TV.


“Ada yang menjebak kita.” Alex menggumam. Saat ini ia tidak bisa memercayai siapa pun. Termasuk Alvin sahabatnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Kalandra diam di dalam mobil menyaksikan seluruh kejadian tadi.


“Kal, sekarang temui Fatimah. Sebelum Alex bergerak,” tegas Mario. Kala mengangguk.


Mereka menuju ke sebuah hanggar privat. Tangan Kalandra terkepal. Mario melirik putra Qiara yang ternyata memiliki sisi nekat seperti ibunya.


Sejak Fatimah membatalkan rencana ta’aruf, Kala minta Mario untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi. Kala sendiri tidak bisa bergerak karena harus menjaga Azka yang masih koma.


Setelah mendapat keterangan lengkap, Kala menyusun rencana sederhana. Ia memerintahkan Mario menjemput Ibrahim dari Pulau Sol tempat ia dipaksa bekerja mengangkut batu untuk pembangunan resort.


Anak buah Mario menyamar sebagai anggota gerombolan Alex. Ketika Ibrahim menyadari, ia memberontak. Anak buah Mario menghajarnya tanpa ampun karena Ibrahim berhasil menembak salah satu dari mereka.


Tubuh Ibrahim yang tak berdaya diletakkan di kendaraan ketika supir sedang menunggu kedatangan Alex di bandara.


Bukan rencana yang muluk-muluk, namun cukup untuk membuat Alex berhenti memantau Fatimah.


Kala minta bantuan rekannya di kedutaan agar ia bisa masuk ke Indonesia tanpa terdeteksi. Alex dan gerombolannya menggurita hampir di semua lini. Kala masuk ke Indonesia bersama rombongan penari Indonesia yang baru pentas di Inggris.


Jet berisi anak buah Mario yang mirip Kalandra terbang sesuai rencana untuk mengelabui anak buah Alex yang memonitor.


Mario dan Kala bekerja dengan rapi menyusun strategi. Mantan agen rahasia itu yakin Alex akan membalas dendam pada Kala dan Fatimah. Penjahat sekelas Alex pasti punya cara untuk bebas.


Kala menyuruh Mario untuk mendatangi musuh utama Alex dan membujuknya untuk mengambil alih kekuasan. Manusia serakah itu tak berpikir panjang dan setuju.


Di malam Alex ditangkap, anggotanya kocar-kacir. Musuh utamanya langsung mengambil alih.


Tiba di hanggar, Fatimah masih dengan baju seragam pilot berdiri resah. Melihat gadis pujaan hatinya Kala langsung keluar dari mobil, bahkan sebelum mobil berhenti.


“Mas Kala, jangan di sini! Mas harus pulang. Ada orang jahat mau sakitin Mas! Pulang Mas, ayo!”


Kala tersenyum lembut.


“Mas pulang asal kamu ikut.”


“Mario! Kita harus segera pergi. Alex berhasil kabur. Ada kebocoran di pihak kita, sekarang Alex menuju kemarin.” Anak buah Mario melaporkan.


“Berangkat! Kita tidak punya ijin menggunakan senjata api.”


Kala memersilakan Fatimah naik ke pesawat jet yang baru tiba. Laki-laki berseragam mendekati mereka.


“Kapten Fatimah,” sapa pilot yang tiba-tiba mengeluarkan benda berkilat.


Fatimah langsung menendang pistol dari genggaman pria di hadapannya. Tak mau kalah, Kala melumpuhkan penghianat yang berani menodongkan senjata ke Fatimah.


“Naik!” Mario memerintahkan.


Beberapa anak buah mantan agen rahasia itu menyingkirkan pilot yang tergeletak. Memasukkannya ke dalam ruangan janitor.


“Kopilot, minggir, aku yang akan terbangkan pesawat. Mas Kala, periksa apakah orang ini perlu diamankan!” Fatimah memberikan order sementara Kala malah terpesona menatap wanitanya.


“Ya Tuhanku, Kalandra!” Bentak Mario menyadarkan.


“Sir Mario, Alex dan beberapa anak buahnya sudah di jalan masuk.”


Fatimah sudah menyalakan pesawat dan kini perlahan, burung besi itu keluar dari hanggar.


Dari kejauhan anak buah Mario memantau dua buah mobil yang melaju cepat menerobos portal. Mereka bersiap untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk mengingat pesawat jet pribadi bukanlah pesawat tempur yang dilengkapi persenjataan.


Mereka betul-betul bergantung pada kelihaian seorang Kapten Fatimah.


Pesawat jet pribadi milik keluarga Donavy mulai melaju lebih cepat di landasan. Namun jarak dengan mobil Alex dan kroni-kroninya semakin berkurang.


Kala dan Mario duduk di belakang Fatimah dan kopilot. Mario mengawasi kopilot yang gugup.


Fatimah dengan tenang menambah kecepatan untuk tinggal landas.


“Mario, mereka makin dekat!” Teriak salah satu anak buah Mario.


“Bersiap! Keluarkan senjata, menembak jika pesawat berhasil dilumpuhkan.”


“In syaa Allah tidak akan bisa dilumpuhkan,” Fatimah berkata yakin.


Mata Kala tak berkedip. Kini ia benar-benar yakin bahwa Fatimah adalah jelmaan Captain Marvel yang diidolakannya.


Mario menggelengkan kepala melihat Kala yang bisa-bisanya kesengsem di saat genting.


Terdengar bunyi tembakan.


“Katakan mereka pakai senjata apa?” Fatimah bertanya, matanya menatap lurus ke arah landasan.


“Laras pendek,” sahut Mario.


“Jaraknya masih terlalu jauh. Bersiaplah kita akan tinggal landas.”


Di tengah desingan peluru dengan tenang namun sigap, Fatimah menjalankan fungsi take-off.


“Bismillah ya Allah, jaga kami.” Fatimah lalu membacakan Al Fatihah yang selalu berhasil membuatnya tenang.


Pesawat tinggal landas dengan mulus. Meninggalkan Alex yang berteriak kesetanan karena marah.


Malam itu kerajaannya berhasil diambil alih. Tuduhan pembunuhan berencana sudah pasti akan menjeratnya. Namun baginya yang terberat adalah kehilangan Fatimah.


“Kita bunuh keluarga Fatimah!” Teriaknya murka.


“Siapa yang bisa disuruh, Boss? Anak buah kita sudah kocar-kacir. Sudah, lupakan perempuan itu. Kita bereskan dulu kekacauan ini.” Alvin menyadarkan bossnya.


Alex menatap ke atas. Tak dihiraukan bunyi sirine polisi yang meraung mendekati. Sudah tidak ada jalan lain untuk kabur kecuali melawan. Dan percuma melawan karena akan menambah dakwaan.


“Kamu bisa lolos dariku sekarang Fatimah, suatu saat kita pasti bertemu lagi.”


Alex kemudian memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan senjata di tanah, berlutut, dengan tangan ke atas.


***


Pesawat telah aman di jalur udara menuju London. Semua bernapas lega.


Fatimah menyalakan fungsi auto pilot. Anak buah Mario menginterogasi kopilot. Memastikan dia bukan antek-antek Alex.


“Sudah di atas, kalau dia mau aneh-aneh berarti dia harus udah siap celaka bareng-bareng,” ucap Fatimah enteng.


“Enel uga,” batin Kala yang makin kesengsem.


Di kokpit tinggal Kala dan Fatimah yang duduk di kursi pilot.


“Fatimah kenapa nggak ngomong kalau ada masalah?”


Fatimah tidak berani menatap Kala. Matanya lurus memandang gelapnya malam.


Setelah keduanya terdiam, Fatimah berkata, “Mas, aku tau bagaimana sejarah Mama Hanna dengan Tante Qia. Kemudian, Mas dibesarkan di keluarga Donavy yang terpandang. Aku ini siapa, Mas? Hanya anak dari dusun kecil yang hampir dijual bapaknya untuk membayar hutang. Lepas dari hutang, malah diburu raja mafia buat diperistri.”


“Mas Kala kok liatnya nggak gitu, ya? Di mataku, kamu itu wanita cerdas, mandiri, pemberani, tenang, sholihah. Itu semua lebih penting daripada masa lalu Buna dan Tante Hanna. Ya, aku memang dibesarkan oleh Daddy, tapi beliau tidak pernah membedakan orang dari mana dia berasal.”


“Fatimah juga malu terhadap kelakuan Ayah. Belum lagi Alex yang mengancam akan menyakiti keluargaku dan Mas.”


“Jadi kamu lebih baik nikah sama begundal itu?”


“Ya enggak lah. Aku hanya perlu berpikir untuk membuat solusi terbaik. Keluargaku selamat, Ayahku pergi jauh, aku nggak perlu nikah sama Alex.”


“Terus kalau nggak nikah sama dia, kamu mau nikah sama siapa?” Kala menatap lembut gadis di hadapannya yang mendadak tersipu.


“Jawab, Fatimah. Kamu maunya nikah sama siapa?” Desak Kala. Apapun jawaban Fatimah dia akm siap.


“Sama Mas Kala,” masih dengan malu-malu menjawab lirih.


“Alhamdulillah, mari kita laksanakan.”


“Maksudnya?”


“Kita nikah di sini, sekarang juga. Mas telepon Oom Dicky jelasin semuanya. Dengan jadi istriku, Mas bisa jagain kamu.”


“Mas tapi …”


“Mau apa enggak?“ Kala tidak mau ada peluang kehilangan gadis yang sudah membuatnya terpesona sedemikian rupa.


“Tante Qia, Oom Thoriq?”


“Kita selesaikan yang utama. Kamu pastikan kita sampai di London dengan selamat sambil aku menelepon Oom Dicky untuk menjelaskan. Fatimah jawab Mas, mau nggak nikah sama Mas?”


“Bismillah. In syaa Allah Fatimah mau jadi istri Mas Kala.” Fatimah menjawab dengan mantap.


Malam itu, di 20.000 kaki dari permukaan Laut Cina Selatan, di hadapan Dicky yang tersambung melalui video call, Kala mengucapkan janji suci untuk menerima nikah dan kawinnya Fatimah Ibrahim.


End of Flash Back


***

__ADS_1


__ADS_2