
“Dua yang rasa caramel lalu dua lagi glazy original,” pinta Qiara pada penjual Bomboloni di Covent Garden. Pasar loak di kota London yang selalu semarak dengan hiruk pikuk pedagang benda unik hingga makanan dari berbagai jenis.
Qiara memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk cuci mata. Memiliki harta yang melimpah tidak membuatnya anti untuk pergi ke tempat-tempat yang dianggap merakyat. Malah dulu bersama Devan mereka sering menghabiskan waktu di sana jajan dari satu kedai ke kedai lain.
Setelah membayar, Qiara menuju toko buku yang menjadi favoritnya di ujung jalan. Menikmati udara yang sejuk ia melintasi penjual buah segar dan memutuskan untuk membeli beberapa jenis berries.
Ia hendak memilih berries aneka rupa ketika mendengar suara yang dikenal.
“How much?”
“Ten poundsterling. Thank you.”
Alis Qiara terangkat ketika menyadari Si Pemilik Suara.
“Loh, Mas Thoriq kok di London?”
Thoriq menoleh, sama terkejutnya dengan Qiara.
“Eh, Qia, assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam. Mas ngapain di London? Sama Aira dan Liam?”
“Ya enggak lah, Qia. Mas kan nggak mau jadi nyamuk.”
Qiara terkekeh.
“Mas ini pengangguran, mumpung visa ke Inggris masih berlaku, ya jalan-jalan aja. Lusa Mas mau ke Scotland.”
“Sama siapa?”
“Sendiri, Qiara … emang kamu mau nemenin?”
Qiara lagi-lagi terkekeh. Penjual berry yang sudah mengenal Qia dan tahu kesukaannya memberikan sekantung aneka berry.
“Wow, pertama kali aku lihat kamu berseri-seri sejak lama,” kata pedagang itu dengan tulus. Qiara dan Devan adalah langganannya sejak mereka pindah ke London.
“Tolong ditambah strawberry, anakku minta dibuatkan pie,” balas Qiara tak menanggapi namun sedikit memerah pipinya.
“Qia, Mas duluan, ya. Seneng ketemu kamu.”
“Eh Mas, mau kemana? Minum teh bareng, yuk.”
“Sama, Mas?” Alis Thoriq terangkat setinggi-tingginya, kupingnya melebar memastikan ia tidak salah dengar.
“Qia ajak bapak ini sama istrinya juga, sih. Ya sama, Mas lah. Eh atau Mas udah ada acara atau mau ketemu sama …”
Thoriq berusaha keras bersikap biasa saja, “Oh, boleh. Enggak kok, Mas nggak mau ketemu siapa-siapa.”
Qiara mendecak sambil tersenyum ketika penjual berry dan istrinya mengedipkan mata lalu mengangkat dua jempol mereka. Walau tidak mengerti percakapan Thoriq dan Qiara, namun mereka bisa menebak.
Sejak Devan meninggal, Qiara tak lagi ceria dan sering datang ke kios mereka dengan wajah sendu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Qiara kemudian menyusul Thoriq yang sudah berada di kios seberang.
Thoriq melihat Qiara berjalan ke arahnya. Ia mengambil napas beberapa kali supaya tenang. Padahal kalau bisa ia ingin menadak-nadak tidak karuan saking gembiranya.
“Yuk, mau ngeteh di ujung sana, nggak? Lucu deh, toko buku tapi ada kafenya. Pastries-nya enak-enak.”
“Boleh,” cicit Thoriq yang langsung berdehem.
__ADS_1
“Maksud Mas, boleh, Qia yang tunjukin ya.” Suara Thoriq kembali dalam dan berwibawa.
Mereka berjalan pelan sambil melihat-lihat kios yang menjual barang-barang bekas maupun baru. Thoriq mampir untuk membeli kamera keluaran lawas yang sudah langka namun masih bekerja dengan baik.
Qiara membeli makanan kesukaan Kala lalu memanggil kurir sepeda untuk mengirim ke tempat praktek anaknya.
“Kok Kala nggak bilang kalau Mas di sini?”
“Mungkin sibuk jadi nggak sempat cerita. Mas udah hampir tiga hari kok di London.”
“Loh kok nggak telepon Qia?”
“Mmm takut ganggu.”
“Ih, apaan sih.” Bibir Qia mengerucut. Thoriq harus mengalihkan pandangan khawatir jantungnya tidak lagi sekuat saat muda ketika menerima debaran yang menggila. Di matanya, Qiara masih nampak menggemaskan seperti dulu.
Mereka terus berjalan sambil mengobrol ringan.
“Yah, kafenya penuh, Mas. Padahal Qia lapar juga.”
“Masuk aja, siapa tahu ada yang ke luar.” Thoriq jalan terlebih dulu untuk masuk ke kafe. Ia bicara dengan pelayan yang mengatakan ada satu meja yang sedang proses membayar.
Wajah Qiara yang kecewa, langsung berseri lagi.
“Qia liat-liat buku gih, biar Mas tungguin di sini.”
“Nggak apa-apa?”
Thoriq mengangguk. Qiara tersenyum lalu berjalan ke rak-rak buku. Dengan ekor matanya Thoriq memerhatikan Qiara berjalan ke arah buku-buku interior design.
Begitu duduk, Thoriq mengirim pesan ke Kala: Aya ketemu sama Buna.
Thoriq tersenyum kecut lalu membalas: Kami sahabatan aja.
Kala hanya mengirimkan stiker bergambar anak kecil sedang berjoget-joget.
“Mas, udah dapet bukunya, nih. Qia juga beli buku tentang legenda Scotlandia buat Mas.”
“Wah, makasi. Masih inget kalau Mas suka baca legenda.” Jika hati Thoriq bisa dilihat, maka saat ini bagaikan taman dengan bunga bermekaran setelah puluhan tahun kering kerontang.
Qiara tersenyum, “Ingat kok.”
“Mas udah pesenin, peppermint tea sama tarte au chocolate.”
“Wah masih ingat juga kesukaan Qia.” Mata Qiara berbinar karena bertepatan dengan pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Thoriq memerhatikan Qiara yang langsung menyeruput teh yang masih panas.
“Qia, ditunggu dulu dong, sini Mas kipasin.” Thoriq menarik cangkir teh lalu mengipasi dengan tangannya sementara Qiara memegangi bibirnya yang sempat terkena air panas.
“Kamu minum dulu ice tea-nya Mas. Nanti gampang bisa pesen lagi.”
Qiara minum ice tea untuk meredakan bibirnya yang terkena teh panas. Ia juga memesan lagi segelas untuk Thoriq.
“Sekarang udah nggak terlalu panas. Minum pelan-pelan, Qia.” Thoriq mendorong cangkir teh ke arah Qiara.
Qiara terkekeh lalu menyeruput teh favoritnya, bergantian dengan menyendokkan tarte au chocolate yang lezat.
Thoriq menikmati croissant sausage karena kafe tersebut adalah kafe halal. Benar kata Qiara, pastry di sana renyah dan nikmat.
__ADS_1
“Mas habis dari Scotlandia kemana lagi?”
“Mungkin mau nyebrang ke Itali. Mas mau nonton opera dari dulu kepingin.”
“Haa iya, nonton opera ada di bucket list kita ya,” sahut Qiara enteng sambil terus menikmati pastry di hadapannya.
“Kamu udah pernah nonton?”
“Mmm udah sama Devan beberapa kali.”
“Oh.” Ada rasa kecewa di hati Thoriq yang langsung ia tepis.
“Aku masih sering keingetan Devan.” Suara Qiara sedikit bergetar.
“Yah tumpah.” Tak kentara, Thoriq menyenggol gelasnya hingga membasahi ujung lengan jaketnya.
“Qia ada tisu. Ini, Mas.”
Qiara memerhatikan Thoriq mengeringkan jaketnya.
“Mau pesan lagi?”
“Nggak usah, kok, ini masih banyak.”
“Mas sengaja ya? Biar Qia nggak sedih keingetan Devan?”
“Kentara?”
Qiara tersenyum. “Makasih ya, Mas. Qia masih belajar mengontrol perasaan dan nggak gampang sedih. Devan pasti nggak mau Qia sedih.”
“Pastinya.”
“Mas besok malam ngapain? Makan malam di rumah Qia, yuk. Biasanya anak-anak kalau hari Sabtu nggak kemana-mana.”
“Qia masakin?” Thoriq memancing.
“He eh, in syaa Allah. Soto dan perkedel kan? Kesenangan Kala dan Abby juga.”
Hidung Thoriq kembang kempis.
“In syaa Allah nanti Mas datang.”
“Mas temenin Qia belanja dulu, yuk. Ada Toko Vietnam dua blok dari sini. Mau kan?”
“Mas berharap tokonya lima belas blok dari sini, Qia,” jawab Thoriq dalam hati.
“Mas …” Panggil Qiara karena tidak mendengar jawaban Thoriq.
“Mau, mau. Mas bayar dulu.”
Tak berapa lama Thoriq dan Qiara menyusuri jalan-jalan di kota London. Thoriq sengaja mampir di beberapa toko untuk mengulur waktu.
Selesai belanja, Qiara menelepon supir keluarga. Thoriq menunggu sampai mobil Qiara datang lalu mereka berpisah.
“Ya Allah, alhamdulillah, alhamdulillah.”
Pria itu kemudian berjalan menuju hotelnya di pusat kota dengan wajah sumringah.
***
__ADS_1