Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Ketemu?


__ADS_3

Qiara, Kala, Dhanu, Marianne, dan Rama menikmati makan siang di hari Minggu yang cerah. Kala menikmati aneka makanan Indonesia yang ternyata cocok dengan lidahnya.


“Buna, aku suka banget soto ayam dan perkedel.”


Qiara hampir tersedak karena itulah makanan kesukaan Thoriq. Berusaha menghilangkan kenangan masa lau Qiara menyendok soto ke dalam mangkuk.


“Sini Buna ambilin lagi, Kala mau apa?“


“Soto ayam dikasih telor, Buna, pleeeease,” pintanya dengan mulut celemotan membikin gemas Dhanu dan Marianne.


“Kala pinter banget makannya, Auntie gemes pingin cubit pipinya.”


Kala menyeringai lebar sambil menunggu Qiara selesai menyendokkan soto ke mangkoknya. Sekejap suara sruput-sruput penuh kenikmatan terdengar hingga meja-meja sebelah.


Para tamu melirik anak kecil yang tidak peduli suaranya menggugah tamu lain untuk ikutan memesan soto ayam.


Dhanu mengacak rambut keponakannya.


Rama berdiri untuk cuci tangan ketika tidak sengaja menabrak tamu wanita yang melwati meja mereka, bergandengan dengan seorang pria.


“Hati-hati, Dek,” ucap wanita itu.


Refleks Qiara, Dhannu, dan Marianne menatap ke tamu wanita itu.


“Hanna …” Ucap Qiara dan Dhanu serempak.


Hanna terkejut lalu menatap Qiara lalu buru-buru menggandeng pria di sebelahnya menjauh.


Wajah Qiara menjadi seputih kertas. Gelombang kepedihan kembali datang menghantam sanubarinya. Air mata mengembang.


“Buna, Buna kenapa? Buna nangis kenapa?”


Kala takut melihat ibunya diam dengan mata berkaca-kaca.


“Qia, Qia …” Dhanu merangkul pundak Qiara.


“Kala mau dipangku Buna,” rengek Kala dengan tatapan khawatir. Qiara adalah segalanya bagi anak laki-laki itu.


Qiara terkesiap. “Astaghfirullahaladzim. Maafin Buna, Sayang, Kala kaget ya.”


Kala berpindah ke pangkuan Qiara lalu memeluknya erat. Qiara mengelus-elus punggung putranya.


“Buna kenapa nangis?”


“Maafin Buna, tadi Buna keingat sesuatu yang dulu pernah bikin sedih. In syaa Allah, sekarang Buna udah nggak apa-apa.”


Kala menatap netra bunanya. Membersihkan jejak air mata dengan telunjuknya.


“Kala lanjutin mamamnya ya,” bujuk Qiara.


Kala mengangguk lalu pindah lagi ke kursinya. Masih menatap Qiara dengan khawatir.


“Dilanjutin makannya, mau Buna suapin?”


“No, thank you! I’m a big boy,” sahutnya sambil menyeringai jenaka. Qiara tersenyum melihat ekspresi anaknya.


***


Di luar restoran, jantung Hanna berdegup kencang. Wajah Qiara masih terbayang-bayang di benaknya.


Qiara, wanita yang tidak pernah dilupakan oleh Thoriq. Wanita yang selalu bertahta di hati mantan suaminya. Walau apapun yang ia lakukan, Thoriq tidak pernah tulus memberikan cintanya.


Bahkan ketika mereka resmi berpisah, Thoriq yang waktu itu masih dalam kondisi lumpuh malah terlihat lega. Seakan beban berat yang dipikul selama dua tahun pernikahan, terangkat sudah.


Dengan terbata Thoriq berpesan pada Hanna agar menjaga diri, kemudian meninggalkan ruang sidang bersama Kakek. Hati Hanna terasa hampa hari itu.


Cita-citanya menua bersama Thoriq terhempas keras dan buyar. Walau sudah ada Bastian yang menunggunya, tetap masih ada banyak cinta untuk Thoriq.


“Kita ke hotel dulu, baru nanti malam kita terbang ke Eropa.”

__ADS_1


Hanna menggangguk sambil tersenyum manja. Laki-laki itu mengeratkan pelukan di pinggang Hanna, membayangkan kenikmatan yang akan menjadi haknya tak lama lagi.


***


“Buna, dorong yang kenceng, lagi Buna!”


Pekik Kala yang duduk di ayunan sambil tertawa kegirangan.


“Aku mau coba berdiri, ya Buna.”


“Kalandra! Duduk aja, ya Sayang,” sahut Qiara menghentikan niatan ngawur anaknya.


Dhanu dan Marianne memperhatikan ibu dan anak itu.


“Qiara masih cinta banget sama Thoriq ya, Mas.”


Dhanu mendengus kesal. Ingin rasanya dulu menemui Thoriq dan menghajarnya habis jika Qiara tidak mencegahnya.


“Nggak ngerti kenapa adekku bisa cinta mati gitu sama Thoriq brengsek itu.”


“Mas perhatiin ga, tadi Hanna jalan sama siapa. Kok bukan sama Thoriq?”


“Bodo amat! Mau dia jalan sama kadal aku nggak peduli.”


“Papa masak orang jalan sama kadal,” sambar Rama yang ternyata mendengarkan percakapan Dhanu dan Marianne.


“Kamu nggak ada dengar kabar-kabar tentang Thoriq lagi?” Marianne merendahkan suaranya.


“Semenjak waktu itu anaknya dikasih obat tidur sama pengasuhnya, aku nggak denger-denger lagi tentang dia. Dan aku nggak peduli. Dia masa lalu yang buruk untuk adikku.”


“Kala udah sering nanyain ayahnya kata Qia.”


“Kalau terserah aku, lebih baik Thoriq nggak perlu tahu dia punya anak sama Qiara.”


Marianne melihat ke arah Qiara dan Kala yang berlari ke arah mereka sambil tertawa bahagia.


***


Di Solo ia berusaha sembuh untuk Aira. Tidak ada pilihan lain karena Hanna melepaskan hak asuh atas anaknya sendiri.


Tidak ada rasa kecewa atau marah. Berbeda dengan dulu saat ia bercerai dengan Qiara, pria itu hancur dan meratapi kebodohannya. Perceraian dengan Hanna justru memberinya angin baru.


Aira tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik. Wajahnya perpaduan antara Thoriq dan Hanna. Walaupun tidak mencintai ibu yang melahirkan anaknya, Thoriq sangat mencintai Aira.


Putri kecilnya menjadi penyemangat. Perlahan ia berlatih hingga kini ia mampu berjalan menggunakan tongkat dan bicara secara normal. Pria yang tidak sadar dirinya telah memiliki dua anak itu juga sudah bekerja, memulai bisnis penginapan dan villa di pegunungan Dieng dan daerah Magetan.


Thoriq melirik Aira yang masih terlelap di sampingnya. Di sisi tempat tidur yang dulu dipakai Qiara. Perlahan ia bangun untuk membuatkan susu. Aira punya janji dengan dokter yang merawat asthma bawaan.


Perlahan Thoriq menutup pintu kamar, ia berjalan ke teras. Menghirup udara segar. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan dua orang ibu yang sedang belanja sayur.


“Mbak, masih inget sama Qiara yang dulu tinggal di rumah sebelah? Beberapa hari lalu Bik Sum lihat dia lewat sini.”


“Oh yang kabur dari suami KDRT itu?”


Hati Thoriq mencelos namun ia memasang telinga. Jantungnya berdegup kencang.


“Aku dikasih tahu Bik Sum yang jaga warung depan kompleks, tau kan? Secara orang lama kan tinggal kita berdua.”


“Pak Thoriq juga baru datang lagi. Jangan-jangan mereka selisipan.”


“Hah, orang cantik kayak Qiara jangan lah balikan sama orang nggak guna kayak Thoriq itu. Udah kawin lagi terus mukulin. Amit-amit. Itu namanya laki-laki lucknut.”


Hati Thoriq makin miris dan pedih namun bertahan untuk mendengar jikalau mereka tahu informasi tentang Qiara.


Hingga akhirnya ketika semakin banyak ibu-ibu berkerumun topik berganti.


Thoriq bertekad untuk mendatangi apartemen Dhanu untuk mencari tahu tentang Qiara. Juga ke semua teman-teman mantan istrinya.


“Aya …” Terdengar suara lembut dan imut dari anak perempuan berpiyama baby pink.

__ADS_1


“Anak Aya udah bangun, masuk yuk, Aya bikinin susu.”


Thoriq mencium pipi Aira lalu menggandengnya masuk.


***


Qiara menggendong Kala yang demam sejak semalam. Dhanu mengusulkan agar dibawa ke dokter. Kala tidak pernah sakit, jadi Qiara cukup khawatir karena demamnya cukup tinggi.


Saat itu keduanya menunggu obat di farmasi rumah sakit ketika Kala minta dibawa ke toilet karena mual.


Qiara bergegas ke toilet.


Sepeninggal Qiara, Thoriq duduk di tempat yang sebelumnya ditempati Qiara dan Kala sambil memperhatikan Aira yang sedang main boneka.


“Obat untuk Kalandra Akira Putra Thoriq.” Suara announcer terdengar jelas.


Thoriq tersentak.


“Obat untuk Kalandra Akira Putra Thoriq.”


Thoriq bergegas maju ke counter ketika mendengar Aira memanggilnya.


“Aya, Aiya mau pipis.”


Thoriq gegas mendekati anaknya dan membawanya ke toilet perempuan.


“Aya nggak boleh masuk, Aiya aja udah bisa.”


“Ini tisue basahnya, kalau Aira nggak bisa pakai jet shower-nya, ya.”


“Ay ay captain!” Aira menirukan gaya pelaut. Menurut Nenek, semasa Thoriq kecil ia sangat suka dengan pelaut dan sering menirukan gaya mereka.


Di dalam toilet, Qiara sedang merapikan Kala yang baru saja muntah. Anak kecil itu terkena diare karena salah makan. Qiara tak memperhatikan seorang anak perempuan masuk ke dalam bilik toilet.


“Kala, udah enakan?”


“Udah Buna,” jawab Kala lirih.


Anak perempuan yang barusan masuk sudah selesai lalu berjalan ke wastafel hendak mencuci tangan.


“Tante, bisa tolong nyalakan? Aiya mau cuci tangan,” pinta anak yang masih cadel itu.


Qiara tersenyum pada Aira menyalakan kran lalu fokus kembali pada Kala yang memerhatikan Aira.


“Adek.” Tunjuknya kepada Aira.


Aira melirik malu-malu tidak berani melihat ke arah Qiara dan Kala.


“Terima kasih,” kata Aira setelah selesai lalu buru-buru lari keluar toilet.


Di luar ia memanggil ayahnya yang menunggu agak jauh dari pintu toilet wanita.


“Aya, Aiya sudah selesai.”


Thoriq melambaikan tangan lalu menggandeng Aira. Ia masih penasaran dengan pasien bernama Kalandra Akira Putra Thoriq.


Nama yang dulu dia rancang bersama sang permaisuri hati. Thoriq dan Aira menuju farmasi ketika berpapasan dengan Nenek yang menyusul ke rumah sakit.


“Nenek sudah ambilin obatnya. Yuk kita makan, Kakek lagi pengin jalan-jalan sebelum pulang ke Solo.”


Aira langsung menggandeng neneknya dan berjalan di depan Thoriq.


“Aya ayo Aiya laper …” pintanya menarik Thoriq yang hendak berjalan ke farmasi.


Mereka bertiga menuju lobby untuk bertemu kakek yang sudah menunggu.


Tak lama setelah ketiganya berlalu, Qiara dan Kala keluar toilet menuju farmasi.


Di sana Qiara langsung ke counter karena nama Kala sudah muncul di layar monitor farmasi bersama satu nama lain yang tidak asing: Kamelia Aira Putri Thoriq.

__ADS_1


***


__ADS_2