Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Luka Teramat Dalam


__ADS_3

Qiara menengok ke arah jam. Sudah pukul 18.00 dan Hanna belum datang juga. Biasanya Thoriq akan tiba pukul 19.00. Qiara sungguh tidak mau melihat Thoriq dan Hanna di hadapannya. Mentalnya belum sekuat itu.


Tidak ada berita dari Thoriq. Mendengar adzan berkumandang, Qiara memutuskan untuk menjalankan shalat Maghrib terlebih dulu.


Pukul 18.30, Hanna mendengar pintu diketuk.


“Aduh …” Cetus Qiara merasa perutnya sakit saat melangkah.


“Gara-gara seblak, nih.” Qiara berjalan sambil tertatih.


“Assalamualaykum Mbak.”


“Waalaykumussalam Hanna, masuk.”


Jatung Qiara berdegup kencang. Hanna terlihat sangat muda dan cantik. Sedikit lebih tinggi dari Qiara. Lesung pipit menghiasi kedua pipi. Alisnya bagai semut berbaris. Hidung bangir.


Qiara berusaha tetap tenang dan menahan air mata yang akan tumpah membayangkan malam-malam suaminya mencumbui Hanna.


Hanna duduk di sofa ruang tamu. Ia melihat sekeliling rumah yang Qiara dan Thoriq. Beberapa foto terpasang. Thoriq nampak memuja Qiara. Hanna mendengus pelan.


“Mbak ambil minum dan kue sebentar, ya.”


Hanna mengangguk sambil tersenyum manis.


Qiara kembali membawa teh dan kue lalu mempersilakah Hanna mencicipi kue bolu buatannya.


“Sialan, enak lagi bolunya,” batin Hanna. Sampai detik ini, ia hanya memasak untuk Thoriq sebatas sarapan pagi. Hanna memang tidak terbiasa bekerja di dapur. Di rumahnya, Bude Luki mempekerjakan banyak asisten rumah tangga.


Qiara pun bukan orang yang terbiasa di dapur. Namun semenjak menikah, ia belajar memasak makanan-makanan kesukaan Thoriq.


Qiara dan Hanna bercakap basa-basi sebelum akhirnya Hanna menjelaskan maksud kedatangannya.


“Mbak, Hanna mau minta maaf telah hadir di perkawinan Mbak dan Mas Thoriq. Hanna juga wanita, terbayang sakitnya jika suami tiba-tiba menikah lagi.”


Qiara hanya diam belum ingin menanggapi. Buatnya permintaan maaf sudah percuma karena perkawinannya tidak akan pernah sama lagi. Terlebih saat ini hatinya masih belum siap memaafkan.


“Hanna tau dan merasakan Mas Thoriq sangat mencintai dan takut kehilangan Mbak Qiara. Namun bagaimana pun, kita sekarang dihadapkan pada takdir untuk berbagi suami. Hanna sebagai yang lebih muda ingin menjalin hubungan baik dengan Mbak, walau sulit bagi Mbak untuk menerima Hanna sebagai istri Mas Thoriq.”


Hanna diam sejenak. “Kenapa dia diem aja sih?” Batinnya.


“Mbak, Hanna benar-benar ingin hubungan kita baik. Mmmm, terlebih lagi, saat ini … saat ini Hanna sedang hamil.”


Qiara terbelalak. Jantungnya bagai berhenti berdetak. Sekuat tenaga ia menahan air mata karena tidak ingin tampak tersakiti di hadapan Hanna. Walau sakitnya bagai ditusuk seribu pedang.


Hanna tersenyum dalam hati melihat ekspresi Qiara.


“Oh, ya. Sudah berapa minggu?”


Akhirnya Qiara mampu bersuara.


“Dua minggu, Mbak mau liat foto USG?”


Tanpa menunggu jawaban Qiara, Hanna menunjukkan foto USG dari hapenya.


“Ini kantung kehamilannya Mbak, masih kecil.”


Hanna melihat jari jemari Qiara yang sedikit gemetar. Lagi-lagi ia tersenyum dalam hati. Kecemburuan selama ini terbalas sudah. Dirinya menang telak. Apalagi Thoriq kini sudah semakin menunjukkan rasa sayang dan perhatian padanya.


“Semoga sehat selalu kamu dan bayi.” Qiara berusaha keras menahan suaranya agar tidak bergetar. Kedua tangannya saling meremas.


Hanna melirik jam di dinding. Dia mendengar ada mobil masuk.


“Mbak aduh maaf ada minyak angin? Hanna tiba-tiba mual.”


“Eh sebentar, Mbak ambil.” Walau hatinya perih namun sambil tertatih menahan sakit di perutnya, Qiara mengambil minyak kayu putih di kamarnya.


“Semoga timingnya pas, semoga timingnya pas,” rapal Hanna.

__ADS_1


Sambil mengendap agar tidak terlihat dari garasi, ia berjalan ke arah meja makan sambil membawa cangkir. Di sana ia duduk di lantai.


Qiara yang baru keluar dari kamar terkejut.


“Astaghfirullahaladzim, Hanna kamu kenapa? Jatuh, ya Allah.” Qiara berlutut untuk membantu Hanna bangun.


“Assalamualaykum. Ya Allah, Hanna kamu kenapa?”


“Mas bantu Hanna, tadi Qia tinggal masih di sofa.”


Thoriq berlari ke arah Hanna lalu membantunya bangun.


“Aaaaw!”


Hanna berteriak.


“Mas tidurin di sofa.”


“Mas bawa Hanna pulang. Hanna nggak mau di sini Mbak Qiara jahat! Aaaaw!” Teriaknya lagi.


Qiara terbelalak.


“Hanna, Mbak tadi kan ambil minyak kayu putih.”


“Bohong Mas. Hanna padahal datang untuk minta maaf dan berusaha menjalin hubungan baik dengan Mba Qiara. Setelah Hanna bilang kalau lagi hamil …. Aaaaw, Mbak Qia dorong Hanna.”


“Bener begitu Qia?” Thoriq memandang Qiara dengan tatapan yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Tatapan penuh amarah dan benci.


“Enggak Mas, demi Allah …”


Qiara tidak bisa meneruskan kalimatnya ketika pipinya tiba-tiba terasa panas. Thoriq menamparnya dengan sekuat tenaga.


“Jahat banget sih kamu Qia! Mas posisi kamu sulit, tapi Hanna itu ibu hamil! Mas nggak nyangka di balik ini semua kamu itu wanita jahat!”


Sambil menahan sakit di pipinya, Qiara berusaha menjelaskan.


“Sama sekali Qiara nggak sentuh …”


“Diam kamu! Hanna ayo kita pergi. Mas nggak mau kamu deket perempuan jahat ini.”


Hanna bangkit dengan tertatih sambil terus mengaduh.


“Mas dengerin Qia dulu.”


“Sana! Jauh-jauh dari Mas!” Dengan sekuat tenaga Thoriq mendorong Qiara hingga jatuh. Perutnya mengenai ujung meja tamu.


“Aaah sakiiit. Ya Allah, Mas tolong!” Qiara menjerit menahan sakit yang teramat sangat di perutnya.


Thoriq yang kaget karena Qiara jatuh dan mengenai ujung meja kini ia beralih akan membantu Qiara.


“Mas, bawa Hanna pergi!” Pinta Hanna yang tidak ingin Thoriq membantu Qiara. Di saat yang bersamaan Hanna juga berteriak.


“Mas tolong perut Qia sakit banget.”


“Rasakan Qiara! Itulah hukuman sudah menyakiti Hanna. Yuk Hanna kita pergi.” Thoriq memapah Hanna tanpa berniat memeriksa keadaan Qiara.


Dengan putus asa Qiara yang masih tergeletak di lantai menatap Hanna dan Thoriq meninggalkannya.


Didengarnya suara mobil suaminya menjauh. Qiara berusaha bangkit namun perutnya terasa tertusuk sesuatu.


“Aaaah toloooong, teriaknya sekuat tenaga.” Hapenya ia tinggal di kamar.


“Tolooooong,” teriaknya lagi. Perutnya semakin sakit.


“Astagfirullahaladzim, Ya Allah aku berserah padaMu. Laa ilaahaillallaah.. toloooooong, laa ilaahaillallaah …”


Qiara terasa makin lemah. Pandangannya buram, ia mencoba bergeser, namun perut malah lebih sakit.

__ADS_1


“Toloooong, laa ilaahaillallaah …”


“Astaghfirullah, Bu Qiara. Tolooong toloooong semua tolooong ke rumah Ibu Qiara. Tolooooong!”


Sayup-sayup Qiara mendengar suara wanita berteriak. Sebelum pingsan Qiara melihat banyak orang berdatangan dan semua lalu menjadi gelap.


***


Di mobil Hanna masih melanjutkan actingnya. Merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


“Mas bawa ke rumah sakit. Tahan Hanna. Ya Allah.” Thoriq semakin panik mendengar rintihan Hanna.


Thoriq memohon tidak terjadi apa-apa pada janin di perut Hanna. Ia sungguh marah dan tidak menyangka Qiara setega itu.


“Nggak usah Mas, Hanna pulang aja, tiduran juga ilang kok.” Hanna khawatir karena sesungguhnya ia tidak merasakan apa-apa.


“Kamu kesakitan terus dari tadi, kita periksa dulu. Kalau perlu kamu dirawat.”


Hanna diam saja, otaknya berpikir bagaimana cara mengelabui dokter-dokter. Ia berharap actingnya cukup meyakinkan nanti di hadapan dokter-dokter.


Mereka tiba di emergency rumah sakit terdekat. Thoriq berteriak pada petugas yang langsung sigap membantu Hanna duduk di kursi roda.


Wanita yang dibutakan cinta itu terus berteriak sambil memegangi perut.


Perawat memindahkannya ke tempat tidur. Thoriq menceritakan kejadiannya tanpa sadar menyebut nama Qiara sebagai penyebab Hanna kesakitan.


Hanna tersenyum melihat nada kebencian setiap Thoriq menyebut nama Qiara.


Dokter memerintahkan perawat memanggil USG. Hanna terus mengaduh. Thoriq mengelus kepala Hanna untuk menenangkan sambil sesekali mengecup keningnya.


“Yang kuat ya, Sayang. Berjuang buat bayi kita.”


“Iya Mas,” Hanna menjawab lirih menyembunyikan perasaan berbunga-bunga karena Thoriq memanggilnya sayang.


“Hanna seneng dipanggil sayang.”


“Mulai sekarang Mas akan panggil kamu Sayang. Mas sayang sama kamu Hanna.”


“Hanna juga sayang sama Mas … aaaw!”


Thoriq kembali mengecupi kening Hanna.


“Permisi Pak, biar kami periksa kandungan. Ini dengan Obgyn jaga, dokter Indira,” ucap salah seorang perawat.


“Maaf saya kasih jel perutnya ya Bu, agak dingin sedikit.”


Dokter Indira memeriksa dengan seksama kandungan Hanna. Memutar-mutar alat di perut Hanna.


“Saya nggak melihat ada kontraksi ya, kantung hamilnya juga tenang tidak ada indikasi apa-apa.”


“Tapi kenapa istri saya kesakitan?”


“Tadi benturannya kena sebelah mana?”


“Nggak kena perut, tapi saya jatuh terduduk dan langsung sakit.” Hanna berusaha meyakinkan dokter.


“Bapak liat jatuhnya? Maaf saya ingin menentukan apakah sakitnya dari kandungan atau dari organ lain. Yang jelas kalau dari kandungan alhamdulillah semua aman.”


“Saya liat pas istri saya sudah jatuh. Dia kesakitan sekali Dok.”


“Saya serahkan kembali ke dokter umum, kalau dari saya aman. Hanya kalau mau bedrest semalam untuk observasi kebih bagus.”


“Baik, Dok. Gitu aja. Biar aman, ya Sayang?”


“Iya Mas, Hanna ikut Mas bilang apa.”


Thoriq menatap istrinya dengan penuh rasa sayang. Ajaib kehadiran benih kecil dalam perut bisa seratus delapan puluh derajat mengubah perasaan seseorang.

__ADS_1


Segera Thoriq mengurus administrasi agar Hanna bisa dirawat inap.


***


__ADS_2