Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Pemetik Kapas


__ADS_3

Qiara mengemudikan mobilnya keluar dari area penjara. Ia membutuhkan penutup cerita dengan Hanna.


Sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Qiara berharap Hanna diberi kesadaran untuk memulai segalanya dengan benar. Mencari kebahagiaan adalah hak setiap orang, namun bukan berarti dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain.


Qiara ingat pesan ayahnya almarhum untuk selalu memberi pesan dan kesan baik. Mukena, Al Qur’an, kerudung, serta buku yang ditulis oleh ulama tentang tobat bisa jadi langkah awal Hanna untuk membenahi diri.


“Kuharap ke depan kamu bisa memilih langkahmu dengan baik…” gumam Qiara sambip mengingat wajah Hanna yang terlihat kuyu dan kusam.


“Enough!” Qiara menggelengkan dan fokus pada jalanan metropolitan yang padat merayap.


Menjelang sore, Qiara mengarahkan mobilnya ke rumah lama yang dulu dihuni dengan Thoriq untuk menjemput Kala. Tahu ibunya akan ke penjara, pada awalnya Kala ngotot ingin ikut. Di imajinasinya, penjara adalah tempat Harry Osborne, musuh Spiderman ditahan.


Baru ketika Qiara menjelaskan, Kala langsung takut bertemu tante jahat yang sering dilihatnya saat ia diculik. Inilah yang membuat Qiara geram, teganya Hanna menorehkan kenangan buruk pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


Hapenya berdering, sambungan video call dari Thoriq.


“Assalamualaykum, Qia, kamu dimana?”


“Waalaykumussalam, masih otw. Kenapa, Kala rewel ya, Mas?”


“Enggak, kok. Qia, ini Mas disuruh Kala telepon aja. Bentar deh, Qia ini Kala mau ngomong sendiri.”


“Buna kok lama?” Tanya anak kecil yang masih posesif terhadap ibunya. Keningnya berkerut, bibirnya manyun. Thoriq dan Qiara sama-sama gemas melihat ekspresi putra mereka.


“Ini Buna udah otw loh, Kala lagi main apa tadi?”


“Tadi main sama Adek Aira, terus Adek bobok, barusan main sama Aya. Buna cepetan …” Katanya masih dengan bibir manyun-manyun.


“In syaa Allah, Kala, sayang …”


Suara Kala melembut, kini gayanya ganti merayu, “Malam ini Liam sampai di Jakarta, besok boleh nggak kita undang Liam dan Aira ke rumah Oom Dhanu biar kita main bertiga?”


Thoriq mencelos, seminggu setelah Qiara keluar dari rumah sakit, Devan kembali ke Australia. Banyak pasien yang sudah menunggunya. Walau Qiara membatasi interaksinya dengan Thoriq, namun setiap mereka bicara atau jumpa urusan Kala, hati Thoriq selalu bahagia dan berbunga-bunga.


Tidak mudah untuk mengharapkan rujuk dengan Qiara, karena mereka sudah resmi bercerai secara agama dan negara. Sesuai syari’at, Qiara harus menikah dan bercerai dulu dengan orang lain sebelum kembali dengannya. Itu pun jika Qiara mau.


Membayangkan Qiara menikah lagi membuat Thoriq hampir gila. Ia mulai menguatkan hati hingga tiba saatnya Qiara menikah dengan pria pilihannya. Tak terbayang bagaimana sakitnya Qiara saat harus berbagi suami.


Kala menarik kaos ayahnya, menyadarkan dari lamunan.


“Aya, Buna nanya Adek Aira boleh nggak main ke rumah Oom Dhanu?”


“Boleh dong. Qia, besok Mas anter Aira ke sana. Ya udah kamu ati-ati nyetir. Mas tunggu di rumah,” jawab Thoriq tergagap dan langsung terkesiap menyadari apa yang ia ucapkan. Begitu pula dengan Qiara.


“Maksud, Mas, Kala tunggu Qia, bukan Mas. Eh gimana sih. Aduh Qia …” Thoriq meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hati Qiara menghangat melihat mantan suaminya salting. Wanita itu tersenyum tipis berharap wajahnya tidak bersemu merah.


Thoriq yang masih sangat hapal reaksi Qiara tersenyum lebar melihat semburat merah di pipi mulus mantan istrinya.


“Aya ketawanya kok gitu?” Kala menatap ayahnya dengan alis terangkat.


“Duh, Kala,” batin Thoriq lalu menatap pasrah ke layar. Dari seberang sana, Qiara mengenggam kemudi, berusaha menghilangkan bayangan Thoriq barusan.


“Qia udah dulu ya, nanti kabarin kalau mau nyampe. Kala makan di sini dulu, tadi dikirimin soto sama Nenek. Hati-hati, nyetirnya, assalamualaykum.


“Waalaykumussalam, Mas.”


Begitu telepon terputus Qiara menggelengkan kepala.


“No, Qiara, kamu harus move on dari Mas Thoriq. Walau sulit …” ucapnya pada diri sendiri.


***

__ADS_1


“Daddy, masih lama nggak sih?”


“Sabar Liam, kamu baru nanya lima menit yang lalu.” Devan tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.


“Huuft, lama.” Liam menghempaskan punggungnya ke sandaran. Ini pertama kali Liam naik pesawat ke luar Australia menuju Indonesia. Devan tidak ingin terlalu memanjakan anaknya, mereka berdua naik pesawat komersial menuju Jakarta.


“Liam, do you miss your mom?”


“Kinda, Dad. Tapi aku memang sudah terbiasa ditinggal Mommy. Biasanya Mommy kalau kerja bisa sampai sebulan. Kali ini Mommy kerja di negara apa?”


Devan merangkul Liam lalu mengecup pucuk kepalanya. Tidak menjawab pertanyaan anaknya.


***


\~Flash back on\~


“Devan, ya ampun, akhirnya kamu datang juga, Sayang… selamatkan aku dari neraka ini. Semuanya hanya kesalahpahaman. Aku bisa jelaskan.”


Stella menyambut Devan dan rombongan di depan rumah sederhananya. Wanita itu menghambur dan langsung dihadang oleh anak buah Mario.


“Apa maksudnya ini? Devan, please, I can explain.”


Devan menatap netra mantan istrinya dengan jijik.


“Kamu adalah orang paling egois yang pernah kukenal. Kamu tidak memikirkan akibat perbuatanmu ke Liam.”


“Apa maksudmu, Sayang? Aku tidak mengerti ketika tiba-tiba ada surat penahanan. Aku kabur karena bingung dan ingin menyelidiki duduk perkaranya. Aku tidak bisa leluasa jika berada di penjara. Tom sedang kusuruh menyelidiki. Sayang, aku tidak pernah kenal siapa Hanna…”


Devan tersenyum sinis.


“Tidak ada yang pernah menyebut nama Hanna kepadamu. Sudahlah, Stella, kamu terlalu ceroboh. Tom juga sudah kami tangkap. Tawaran pekerjaan padanya hanyalah siasat.”


“Devan ini fitnah.” Stella membujuk Devan dengan suara mengiba.


“Tapi tenang, aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara. Kamu ibu dari anakku. Hanya itu satu-satunya yang menyelamatkanmu saat ini.”


“Bawa dia, Mario!” Titah Devan.


Mata Stella terbelalak karena menyangka Devan akan membawanya pulang dan membelanya. Belum sempat berkata apapun, Stella merasakan gigitan serangga di leher samping. Setelah itu semua gelap.


Devan berlutut menatap Stella yang tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang disuntikkan ke lehernya. Ia menatap wajah yang dulu membuatnya tergila-gila setengah mati.


“Bawa dia, sampaikan ke Karel tidak boleh ada yang bicara dengan dia.”


“Siap, Tuan.”


Devan kembali ke mobilnya, sama sekali tidak menoleh ke belakang melihat bagaimana orang-orangnya menggotong Stella dan melemparkannya ke bagasi.


Dua puluh jam kemudian, Stella bangun karena guyuran air. Ia terbaring di lantai batu yang keras dan dingin. Seorang laki-laki dengan wajah bengis dan luka menyeramkan menariknya berdiri.


“Hey, let go of me!”


Laki-laki itu tidak peduli. Ia mendorong Stella untuk berjalan di depannya. Stella baru menyadari kalau kaki dan tangannya di rantai. Bajunya telah diganti dengan baju kerja overall berwarna abu-abu.


“Wait! Where am I?” Stella berteriak.


“Devan, this is not funny! Come out, Devan!”


Laki-laki menyeramkan itu menarik Stella dan menampar wajahnya hingga wanita itu tersungkur.


“Aku sedang tidak mood. Jangan menguji kesabaranku. Jalan!” Perintahnya sambil menarik Stella berdiri lalu menyuruhnya berjalan.


Stella keluar dari bangunan. Sepanjang mata memandang ia melihat hamparan ladang kapas. Entah berapa orang berpakaian sepertinya bekerja dalam diam memetik kapas di bawah terik matahari.

__ADS_1


Mata Stella terbelalak ngeri.


“Tolong, tolong, keluarkan aku dari sini, aku akan membayarmu berapa pun.”


Orang itu kembali menampar Stella.


“Kamu lihat tiang di sana?”


Stella menelan ludah, di tiang itu seorang perempuan diikat dengan kepala tertunduk. Matanya terpejam, tubuhnya lemas lunglai. Banyak noda darah di bajunya.


“Dia sudah berdiri di sana selama dua hari, siang dan malam. Dia akan sangat senang jika kamu menggantikannya. Kerja! Jangan pernah bicara apapun, kepada siapapun. Atau kamu akan kehilangan lidahmu.”


Air mata mengembang di pelupuk. Tanpa memedulikan, laki-laki itu mendorong Stella, memasangkan keranjang bambu di punggungnya lalu menyuruhnya mulai bekerja memetik kapas.


Stella sulit bergerak karena rantai di tangan dan kakinya terlalu berat. Sepatu yang dipakainya terlalu tipis. Laki-laki itu meninggalkan Stella yang mulai memetik kapas dengan tangan gemetar.


“How could you, Dev. Hanya demi Qiara, kamu tega melakukan ini padaku. Ibu dari anakmu,” batin Stella sambil berlinang air mata.


Tiba-tiba terdengar bunyi mencetar persis di samping kakinya. Ada laki-laki lain dengan wajah sama menyeramkan berdiri memegang seutas cambuk.


“Kalau masih menangis, cambuk ini akan mengenaimu. Kerja!”


Stella buru-buru mengusap air mata, setengah mati menahan rasa marah, takut, kecewa. Jika kemarin ia merutuki hidup sederhana di desa, maka hari ini rumah sederhananya itu bagaikan istana.


Tanpa disadari, seseorang mengambil foto dirinya sedang bekerja lalu mengirimkan ke sebuah nomor.


Devan membuka kiriman gambar di hapenya.


Ia mengetik pesan:


Beri dia makan dan minum sama seperti tahanan lainnya. Pisahkan dia di ruang isolasi untuk tidur.


Devan menghapus pesan lalu menggumam, “Selamat tinggal, Stella …”


Flash back off


***


Devan menatap awan berarak dari jendelanya. Sungguh berat menjatuhkan hukuman kepada Stella. Namun wanita itu sudah keterlaluan.


Ia bisa saja membawanya kembali ke Australia atau Indonesia untuk menjalani proses hukum. Meski Hanna telah memberikan kesaksian keterlibatan Stella, namun ia khawatir bukti yang diajukan tidak kuat. Hanna-lah yang terbukti menyulik Kala, bertarung dan menembak Qiara.


Jika Stella menyewa pengacara yang bagus, ia bisa saja lolos. Memahami kenyataan betapa belutnya Stella dan bukti-bukti yang kurang kuat, maka Devan memutuskan untuk mengatur sendiri hukuman untuk mantan istrinya itu.


Kedua orang tua Stella pasrah mendengar kejahatan yang dituduhkan ke anaknya. Walau mereka lebih ingin Stella menyerahkan diri dan menjalani proses hukum, namun akhirnya mereka menerima keputusan Stella untuk melarikan diri.


Mereka minta tolong dengan sangat pada Devan agar kasus Stella tidak muncul ke permukaan demi kepentingan Liam.


Liam menatap ayahnya dengan bertanya.


“Liam, it’s still 4 hours to go. Let’s watch a movie,” ucap Devan dengan lembut.


“Aku pengin main sama Kala, Dad. Aku udah bawa mainan Thor banyak banget.”


“Sabar, ya, sayang …”


“Dad, jangan tinggalin aku, ya …” cetus Liam tiba-tiba.


“Kok Liam ngomong gitu?”


“Nggak apa-apa, Liam cuma punya Daddy.”


“Daddy akan selalu ada buat Liam.”

__ADS_1


Liam kemudian memeluk Devan. Memutuskan untuk tidur hingga tiba di Jakarta.


***


__ADS_2