
Thoriq berdiri dengan gelisah. Tak nyaman di kegiatan yang menurutnya tidak penting. Hanna memaksanya mengambil foto-foto pre natal.
Hanna nampak sangat cantik, dengan gaun hamil berwarna pink yang terbuka, rambut tergerai. Begitulah gaya Hanna sekarang, sudah melupakan kerudung dan baju panjangnya.
“Mari, Pak, dua shot lagi,” panggil fotografer.
Hanna melingkarkan tangannya ke tengkuk Thoriq, satu tangan Thoriq melingkar ke pinggang Hanna. Fotografer minta Thoriq untuk mendekatkan wajahnya ke Hanna seolah hendak mencium sementara Hanna diminta menatap Thoriq dengan tatapan malu-malu.
Thoriq mengikuti semua arahan fotografer berharap sesi pemotretan segera berakhir. Kepalanya kembali berdenyut.
“Mas, nanti Hanna mau ngelahirinnya caesar aja ya, Hanna takut ngelahirin normal,” cetus wanita hamil itu saat menunggu fotografer mengatur setting baru. Dengan manja Hanna menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dada Thoriq. Kakinya menyelonjor di sofa tempat mereka duduk menunggu.
“Jutaan wanita selamat melahirkan normal, Hanna.”
“Aku kan bukan jutaan wanita itu, enak aja. Aku juga udah sewa fotografer buat rekam proses aku caesar, udah dapat ijin rumah sakit juga, asal cuma ada satu fotografer yang masuk.”
Thoriq tidak membalas, jarinya sibuk memijat kepalanya yang berdenyut.
Hanna menghadapkan wajahnya ke wajah Thoriq.
“Mas seneng nggak sih Hanna mau ngelahirin.”
“Seneng, dong. Dari awal Mas udah nunggu buat ketemu bayinya Mas.”
“Iiiih bayi kita. Mau dikasih nama apa, Mas? Beneran Hanna nggak boleh ikutan kasih nama?”
“Nanti aja kalau udah lahir Mas kasih tahu, ya.” Thoriq mengelus puncak kepala Hanna.
“Moga-moga bayi kita bisa bikin kita saling cinta ya, Mas. Hanna sayang banget sama Mas Thoriq,” ucapnya sambil mengecup bibir Thoriq.
Sambil tersenyum, Thoriq mengecup kening Hanna tanpa membalas ucapannya.
Hanna kembali menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. Tatapan matanya kecewa. Berharap kata cinta untuknya keluar dari bibir suaminya.
***
Dua hari kemudian, Hanna telah masuk ke ruang Super VIP. Kakek dan Nenek datang dari Solo. Mereka sudah sangat mengharapkan bertemu cicit mereka.
Esok hari rencananya Hanna akan dioperasi caesar. Hanna sedemikian rupa menghias ruang perawatannya dengan balon-balon berwarna pink. Teman-temannya silih berganti datang.
Tidak lupa Hanna melakukan update ke laman media sosialnya dan langsung mendapatkan respon dari ratusan ribu penggemarnya. Wajahnya yang ayu dan umurnya yang masih terbilang belia ditambah suami rupawan membuat banyak yang menjadikan Hanna dan Thoriq sebagai couple goals.
Thoriq duduk di tempat tidur istrinya, membiarkan fotografer mengambil foto mereka berkali-kali sesuai permintaan Hanna.
Setelah beranjak, Thoriq sempat mendengar salah satu teman Hanna berkata, “Suami lu gantengnya kebangetan deh, Han. Hati-hati ada yang rebut.”
“Gue sikat cewek itu. Berani-beraninya nyuri laki gue!” Jawab Hanna disertai derai tawa teman-temannya.
Salah satu teman Hanna diam-diam melemparkan kedipan menggoda pada Thoriq. Tidak membalas, Thoriq memalingkan pandangannya. Dirinya tidak perlu ribuan wanita cantik memuji dan menggodanya.
Setelah sekian lama, hanya satu wanita yang ia masih harapkan kehadiran dalam hidupnya yang hampa.
Kakek menyadari betapa Thoriq tidak menyukai situasi saat itu.
“Hanna, boleh Kakek dan Nenek ke kafe bersama suamimu? Kakek agak mengantuk.”
“Boleh, Kek.” Hanna melambai ke suaminya yang tersenyum tipis.
Di kafe, Thoriq memesankan makanan serta caffe latte untuk kakek dan neneknya. Setelah itu ia duduk di hadapan dua orang yang sangat ia hormati.
“Maaf …” Kakek berkata lirih.
__ADS_1
Kening Thoriq berkerut. “Untuk apa, Kek?”
“Mengambil kebahagiaanmu.”
Thoriq menghela napas, matanya menerawang jauh.
“Kakek tidak salah. Sudah menjadi kewajiban Thoriq untuk patuh pada Kakek dan Nenek.”
“Kakek dan Nenek hanya bisa mendoakan kebahagiaan kamu dan Hanna.”
“Kami in syaa Allah bahagia. Udah nggak sabar ketemu anak Thoriq.” Untuk sesaat mata Thoriq terlihat berbinar ketika membicarakan bayi yang dinantikannya.
“Semoga kehadiran anak membuat hubungan kalian membaik. Anak perlu kasih sayang dari kedua orang tuanya. In syaa Allah.”
Thoriq menyeruput kopi pahit, ia pun berharap kehadiran seorang anak akan mengurangi kehampaan dalam hidupnya.
***
Esok hari, Hanna dibawa ke ruang operasi. Thoriq ikut masuk untuk menemani istrinya. Hanna terus memegang erat tangan Thoriq. Sebelum masuk ruang operasi, Hanna memanggil seorang make up artist untuk merias wajah dan menata rambutnya.
“Aku ingin cantik menyambut anakku, Mas,” ungkapnya ketika Thoriq menyatakan ketidaksetujuannya.
“Mas tidak suka kalau semua kamu posting media sosial,” balas Thoriq singkat.
“Followers Hanna naik sama postingan. Udah ah, Hanna tetep mau panggil MUA dan hair dresser.”
Thoriq mengendikkan bahu lalu kembali memusatkan perhatiannya ke pekerjaan yang dikirim anak buahnya lewat email.
Di sinilah sekarang, Thoriq bersama Hanna dan seorang fotografer menunggu di ruang operasi.
Seorang dokter anastesi menyuntik epidural. Tak berapa lama dokter memulai operasi caesar.
Hanna merasakan perutnya didorong lembut dari atas dan akhirnya suara tangis bayi pecah memenuhi ruangan operasi.
Thoriq menatap bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih seperti ibunya. Hidung dan wajahnya seperti Thoriq. Ada belahan dagu yang bahkan langsung nampak.
“Mas, anak kita,” Hanna menangis terharu. Bayi yang diharapkan dapat membuat Thoriq mencintainya.
“Silakan diadzanin, Pak.”
Suster mengambil bayi lalu dengan hati-hari menyerahkan ke Thoriq. Berkaca-kaca, Thoriq menatap bayi mungil nan cantik yang kini berada di dekapannya.
Perlahan ia melafadzkan adzan. Air mata bahagia membasahi kedua pipinya. Hanna menatap suaminya dengan haru dan penuh harap. Thoriq akan mencintainya sepenuh hati demi buah hati mereka.
***
Hanna kini sudah di ruang perawatan bersama Kakek, Nenek, dan bayinya. Thoriq sedang keluar untuk menemui perawat.
Teman-teman Hanna banyak yang menengok, membawa berbagai kado untuk keperluan ibu dan bayinya.
“Mana nih, Bapaknya, mau kasih selamat,” tanya Merry, salah satu teman Hanna.
“Nah ini dia, Mas ini temen-temenku mau kasih selamat.”
Teman-teman Hanna gegas mendekat hendak mencium pipi Thoriq, sebagaimana kebiasaan di kalangan mereka.
Thoriq mundur selangkah lalu mengatupkan tangannya, dengan ramah berkata, “Terima kasih sudah menengok.”
Setelah itu lalu mendekati box tempat bayinya sedang tidur.
Teman-teman Hanna menatap dengan heran, sementara Hanna merasa malu dengan tingkah Thoriq yang menurutnya seperti orang di kampungnya dulu.
__ADS_1
Tak menghiraukan, Thoriq mengambil bayinya yang sedang tertidur di box.
“Cuci tangan dulu, sebelum memegang bayi, Thoriq,” ucap Nenek mengingatkan.
“Udah tadi di luar, Nek,” jawabnya tanpa melepas pandangan dari bayi perempuan yang masih tidur.
“Ehm, siapa nama anaknya, Mas?” Tanya Diana, teman Hanna yang lain.
Thoriq menggendong bayinya.
“Bismillaah, perkenalkan ini adalah Kamelia Aira Putri Thoriq. Panggilannya Aira.”
Hanna menutup mulutnya yang ternganga, berusaha menutupi rasa kecewa. Ia lalu pura-pura tertawa dan mengiyakan. Di hadapan teman-temannya ia ingin dilihat sebagai pasangan yang saling mencintai dan saling mendukung.
Kakek melirik Nenek.
“Aira, bukankah nama itu dekat sekali dengan Qiara?” Batin Nenek dalam hati.
“Thoriq sudah mendaftarkan ke catatan sipil dan sedang diproses. Dia hari akte akan jadi, in syaa Allah,” sambung Thoriq lagi.
“Namanya bagus banget, sekali lagi selamat, ya, Mas Thoriq, Hanna, Kakek, dan Nenek.” Setelah berpamitan, teman-teman Hanna meninggalkan ruangan.
Thoriq masih terus menggendong Aira, menatapnya dengan penuh kasih.
Sepasang mata menatapnya dengan kecewa. Hanna berharap Thoriq akan membagi kebahagiaan bersama dirinya. Namun suaminya hanya sesekali menanyakan keadaan atau membantunya jika diperlukan.
Tidak ada ucapan terima kasih bahkan kecupan karena telah mengandung dan melahirkan bayi yang sehat dan cantik. Hanna menatap Thoriq yang asik menggendong Aira. Tatapan yang amat sangat ia dambakan dari suaminya.
Tiba-tiba Bayi Aira menangis. Thoriq hendak menyerahkan ke Hanna untuk disusui.
“Mas, Hanna udah bawa susu formula, tadi sama suster udah dibuatin lalu ditaro di box penghangat.”
Kening Thoriq berkerut. Belum sempat bertanya, Nenek sudah mendului.
“Susui anak kamu Hanna, justru di masa baru melahirkan ini, susu kamu akan mengeluarkan kolostrum yang bagus untuk daya tahan tubuh si bayi.”
“Bekas jahitan Hanna masih sakit, Nek. Hanna udah siapin semuanya kok. Nanti kalau udah enakan juga Hanna akan susuin.”
“Sini Mas bantu untuk duduk supaya bisa menyusui.”
“Mas, nanti ya, Hanna masih nggak enak banget. Oya itu ada baby sitter di luar, namanya Bu Darsih. Kalau Mas repot, panggil aja Bu Darsih buat ngasih susu ke Ai .. Aira,” ucap Hanna tersendat mengucapkan nama panggilan bayinya. Ia ingin protes namun untuk hal ini ia tidak berani membantah Thoriq.
“Hanna, Mas mohon, kamu susui Aira, dia menangis makin keras.”
Kakek dan Nenek saling berpandangan. Mereka pun kecewa terhadap sikap Hanna yang mereka nilai sudah sangat jauh berubah. Terlebih Hanna tidak ingin menyusui Aira.
Akhirnya Hanna mengambil bayinya dan mencoba menyusui. Thoriq duduk di samping Hanna.
“Alhamdulillah nyusunya pinter,” kata Thoriq kepada Kakek dan Neneknya.
Sementara Hanna menyusui dengan rasa khawatir, ia banyak mendengar cerita teman-temannya bahwa bentuk payudara akan berubah setelah menyusui.
Pikirannya melayang pada aneka perawatan pengencang payudara yang harus dia ambil apabila sampai hal itu terjadi.
“Mas, ******* aku sakit. Lidah Aira kasar banget,” rengeknya manja.
Nenek kembali menjawab, “Memang seperti itu rasanya saat awal-awal menyusui. Kamu yang sabar, Hanna. Sekarang kamu seorang ibu, harus banyak mengalah untuk anak.”
Hanna tidak menjawab, matanya menatap bayi yang sedang lahap di pelukannya. Thoriq menyentuh kening Aira lalu mengecupnya pelan.
“I love you Aira,” bisiknya.
__ADS_1
***