Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Kenalan Lagi


__ADS_3

Qiara menyapa ramah ke keluarga calon besannya, “Assalamualaykum, selamat mal … loh Mas Thoriq, Hanna, Dicky, Aira …?”


“Aya, jawab salam Tante Qia,” bisik Aira yang gemas karena Thoriq bukannya menjawab salam malah membola matanya menatap Qiara.


“Eh iya, waalaykumussalam Qia, Liam, dan Zee.”


“Liam, jadi gadismu itu Aira?” Qiara bertanya penuh harap dan langsung tahu jawabnya dari ekspresi Liam.


Qiara tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Walau Aira adalah anak yang dikandung Hanna dengan mantan suaminya tapi semua kenangan buruk itu sudah hilang dimakan waktu.


“Maa syaa Allah, Ai sini,” Qiara mendatangi Aira dan langsung memeluk calon menantunya.


“Ya udah secepatnya aja akadnya kalau sama Aira, ya,” sambung Qiara lagi dengan nada hangat. Aira dan Hanna tadinya takut Qiara akan menolak karena masa lalu yang buruk.


“Mas Thoriq, Dicky.” Qiara mengatup tangan ke dadanya


“Mbak Qia,” sapa Hanna takut-takut tapi Qiara langsung membentangkan tangannya.


“Besan …”


“Mbak Qia …” Dua wanita yang pernah berseteru itu berpelukan erat membuat semua yang ada di ruangan itu menarik nafas lega.


Adik-adik Aira ikut menyalami Qiara. Sementara Zee dan Malika langsung berbisik-bisik menggosipkan kedua kakak mereka.


“Silakan duduk, Qia.” Thoriq mempersilakan Qiara dengan suara tercekat. Aira mendelik ke arah ayahnya.


“Makasi, Mas. Qia dari tadi udah gugup banget, kalau kayak gini namanya reunian bukan kenalan, ya,” celetuk Qiara sambil menempati kursi di samping Hanna.


“Kenalan jadi besan, Mbak Qia,” balas Dicky sambil tersenyum lebar.


“Bener juga.”


Qiara mengamati Liam berusaha untuk tidak terus menerus menatap Aira. Sementara Aira yang duduk di samping ibunya juga berusaha fokus mengikuti pembicaraan Qiara dan Hanna, sesekali melirik ke arah Liam.


Jika ada jantung yang berdegup tidak karuan malam itu malah jantung di dada Thoriq Aditya. Bulir-bulir keringat dingin muncul di keningnya. Ia juga berusaha keras untuk mengendalikan netra yang ingin terus menerus melihat Qiara.


Wanita itu sendiri melihat seperlunya, karena Thoriq bukanlah mahram. Sama seperti saat berbincang dengan Dicky, hanya sekali-sekali saja Qiara melihat ke arahnya.


Di ruang private yang telah dihias cantik dengan bunga aneka warna bernuansa putih dan kuning, mereka semua beramah tamah.


Liam kemudian secara resmi mengutarakan maksudnya untuk menikahi Aira dan sekali lagi memohon ijin Thoriq, Hanna, Dicky, dan Qiara.


Aira menyubit keras ayahnya yang pura-pura menolak pinangan Liam.


“Karena calon pengantin putri memiliki cubitan yang sangat keras dan saya tidak mau badan ini biru-biru, maka dengan mengucap bismillah, saya terima pinangan Liam Patrick Donavy untuk anak saya Kamelia Aira Putri Thoriq. Saya ingin ingatkan bahwa kalian belumlah sah secara agama dan hukum, jagalah hubungan kalian hingga ijab qabul.”


Liam lalu berdiri diiringi Qiara dan Zee yang membawa kotak perhiasan.


Hanna dan Thoriq ikut berdiri di samping Aira.

__ADS_1


“Aira, Sayang, Buna berikan perhiasan ini sebagai tanda pengikat antara kamu dan Liam.”


Qiara menyematkan bros berlian serta memakaikan gelang dan cincin berlian pada calon menantunya. Desain yang khusus dipesan oleh Qiara ke seorang desainer perhiasan terkenal di Inggris.


Kemudian Thoriq memakaikan cincin ke jari manis Liam. Bukan Hanna yang memakaikan karena Liam masih belumlah mahram baginya.


Setelah acara tersebut, Aira, Hanna, dan Qiara tenggelam dalam pembicaraan seru mengenai persiapan pesta pernikahan yang akan diadakan sebulan lagi.


Hanna dan Aira sudah membuat konsep pernikahan outdoor di salah satu hotel milik Thoriq di pegunungan dekat Solo.


Nuansa baju mereka berwarna peach yang akan dibuat oleh desainer busana pengantin Annie Ayani. Untuk para orang tua, akan memakai warna abu-abu muda.


Liam sudah tidak memiliki orang tua jadi untuk berdiri menemaninya di pelaminan adalah Qiara dan Azka sebagai saudara laki tertua dari satu ayah.


Sebelum pulang ke London, Liam akan mengukur baju. Untuk seluruh saudara Liam, Hanna dan Aira sudah memilihkan kain untuk seragam. Ia tinggal minta mereka untuk mengirimkan ukuran.


Malam itu suasana begitu hangat. Hidangan lezat mengiringi bincang-bincang rencana bersatunya dua keluarga melalui pernikahan anak-anak mereka.


Jika Hanna sebagai ibu calon mempelai wanita merasa satu bulan terlalu singkat untuk semua persiapan, sebaliknya bagi Liam dan Aira satu bulan itu sangatlah lama.


Thoriq banyak menasihati mereka untuk bersabar. Dirinya ingat dulu merasakan hal yang sama ketika hendak menikahi Qiara. Begitu juga hal yang sama dirasakan oleh Hanna dan Dicky.


Untuk walimah, Qiara berencana untuk mengadakan pesta di Australia, mengundang kerabat dari keluarga Devan yang kebanyakan tinggal di sana. Juga dari keluarga Stella, yang masih berhubungan baik dengan Liam.


Sementara Liam berencana untuk mengadakan pesta kecil untuk memperkenalkan Aira sebagai istrinya kepada para kolega dan teman-temannya di London.


Sebelum berpisah, Hanna memeluk Qiara.


***


Di kamar, setelah Zee sudah meringkuk pulas, Qiara keluar dari kamar putrinya. Ia mendapati Liam sedang memandangi foto dirinya dan Stella.


Laki-laki itu mengerjap menyadari Qiara sedang mengamatinya.


“Buna …”


“Kangen Mommy, ya?”


Liam mengangguk.


“Liam berandai-andai jika Mommy tidak terobsesi dengan Daddy, mungkin Mommy juga masih ada di sini.”


Buna mengusap rambut coklat anak sambungnya.


Tak disangka Liam menangis di dengan tangan menipang kepalanya. Lama Liam menangis hingga akhirnya ia mengambil tisu di meja untuk membersihkan air mata yang membasahi wajahnya.


Qiara mengusap punggung Liam menciba menenangkan.


“Maaf, Buna. Malam ini aku kangen banget sama Mommy dan Daddy. Bukan berarti aku nggak sayang Buna, tapi …”

__ADS_1


“Ssh it’s okay. Sampai sekarang, Buna juga masih kangen sama Bapak dan Ibu, apalagi sama Daddy-mu.”


Mendengar ucapan bunanya, Liam langsung menatap dalam-dalam netra Qiara.


“Buna harus berusaha untuk bangkit, ya. Been six years. Apalagi setelah menikah nanti aku akan tinggal di Indonesia. Cuman ada Kala di London. Mana bisa anak itu jadi pendengar yang baik kalau Buna mau curhat.”


Qiara tersenyum, ia tahu walau Kala kini sudah dewasa, namun ada sisi kanak-kanak yang kadang muncul jika sedang bersama ibunya.


Seperti saat ia berkunjung dan Qiara asik bercerita tentang sesuatu, Kala malah tidur dengan mulut terngaga.


“Emang Buna nggak ada rencana nikah lagi? Buna masih cantik loh, aku tau banyak duda di London yang mengincar Buna,” kata Liam sambil menyeringai lebar. Dirinya tahu ada satu duda beberapa lantai di bawah penthouse mereka pasti sedang belingsatan memikirkan bunanya.


“Sotoy, kamu. Jujur aja, Buna nggak ada niatan untuk menikah lagi. Buna tau harus bangkit dari rasa sedih, tapi rasanya tidak perlu harus dengan menikah. Buna mau jalan-jalan sama Zee ke Turki, mau umroh lagi kalau salah satu dari anak laki-laki Buna mau menemani. Atau mau menjelajah Tuscany. Banyak lah …”


“Hmm, sounds interesting. Yang penting Buna harus ingat pesan Daddy untuk selalu bahagia.”


Qiara mengangguk. Keduanya bercakap sejenak sebelum masuk kamar untuk beristirahat.


Dalam kamar Liam menulis pesan ke adik-adiknya: Misi belum berhasil!


***


Thoriq bagai cacing kepanasan. Semenit tiduran, lalu jalan mondar-mandir di kamar hotelnya, kemudian duduk, mematikan lampu, menyalakan lagi.


Semua gara-gara satu orang: Qiara Anjani.


Mantan istrinya itu memang selalu cantik, tapi malam ini, Qiara begitu berseri-seri. Meski Thoriq tahu tak sekali pun Qiara menatapnya lebih dari satu kali kedipan mata sebelum mengalihkan pandangan.


Akhirnya ia mengambil napas dalam sebelum mengetik di hapenya:


Assalamualaykum Qia, sudah tidur belum?


Thoriq merasakan ketegangan yang sudah lama tidak ia rasakan. Adrenalin terpompa. Di lubuk hatinya ia sedikit menyisakan tameng jika Qiara tidak membalas pesannya.


10 … 15 … 20 … 30 menit.


Selama itu Thoriq bermunajat di hamparan sajadah lembut mohon kebaikan untuk dirinya dan keluarganya.


Belum ada respon walau masih juga tidak terlihat dua centang biru. Thoriq memutuskan untuk tidur.


Direbahkan kepalanya di bantal dingin sambil menggosok dadanya dan berkata, “Harus legowo kalau memang dia bukan untukmu.”


Matanya belum bisa terpejam, ia masih bolak-balik melihat hapenya. Memastikan ringer di posisi paling keras.


Belum juga terbaca.


“Ah sudahlah …” Thoriq menghibur diri dengan sejuta kemungkinan alasan Qiara tidak membalas pesannya.


Lalu terdengar bunyi pesan masuk. Sepersekian detik Thoriq langsung menyambar hapenya.

__ADS_1


“Aya … tidur! Jangan mikirin Buna!”


***


__ADS_2