
Liam masuk ke hari-hari pemulihan. Bukannya prihatin, anak itu malah sibuk memamerkan lukanya di media sosial. Captionnya seolah dirinya bertempur hingga darah penghabisan. Demi membela kehormatan wanita.
Devan, Qiara, dan empat anak lainnya terbang ke Solo. Tanpa pemberitahuan dan membuat terkejut semuanya, termasuk Thoriq. Aira berulang kali menyuruh ayahnya menjaga pandangan dari Qiara yang terlihat makin cantik.
Liam merasa bangga karena keluarganya datang. Adik-adiknya berulang kali menyuruhnya mengulang cerita, dan semakin lama ceritanya semakin seru. Di mata mereka Liam adalah super hero.
Devan menggamit Thoriq lalu mengajaknya ke kafetaria. Kedatangan Dokter Devan sempat menghebohkan rumah sakit kecil di pinggir kota Solo. Banyak dokter obgyn yang selama ini mengenalnya dari seminar maupun tulisan kini berkesempatan untuk bertatap muka langsung. Di kafetaria, tak sedikit dokter yang menyapa.
Bisik-bisik pun terdengar, “Jadi itu Dokter Devan sama mantan suami istrinya? Ya ampun beruntung banget istrinya pernah nikah sama laki-laki ganteng.”
Thoriq dan Devan hanya tersenyum. Keduanya memesan americano. Menyeruputnya dengan nikmat.
“Kamu perhatikan nggak, di setiap cerita Liam, berapa kali ia menyebut nama Aira?”
“Banyak.”
“Kamu nggak keberatan anakku suka sama anakmu?”
“Enggak, Liam anak yang baik. Aku hanya memintanya untuk kasih slow dulu mengingat Aira masih kecil.”
“Liam tahu, kok. Dia merasa bersalah padamu, gara-gara dia sok jadi Love Guru, tak sengaja Kala dan Aira mendengar ceritamu dan Qiara.”
“Qadarullah. Aku sekarang merasa lebih plong karena Kala dan Aira tahu. Hanya aku khawatir Aira yang tiba-tiba pengin ketemu ibunya.“
“Kamu tahu dimana mantan istrimu sekarang?”
“Harusnya dia sudah keluar dari tahanan. Aku tidak pernah menghubungi atau menengoknya di penjara. Lagi pula kami sudah lama bercerai sebelum ia terkena kasus. Juga, aku belum bisa melupakan banyak perbuatan kejinya padaku, Qiara, dan Kala.”
“Kala dan Aira masih remaja, pikiran mereka masih belum terbuka. Emosi juga belum stabil. Kita yang udah tua-tua ini harus mengawal,” sahut Devan sambil menikmati cemilan sosis Solo.
“Dev, terima kasih. Kamu dan Qiara sudah membesarkan Kala dengan baik. Aku juga berhutang budi sama Liam yang sudah menolong Aira.”
“No worries, Kala adalah anakku juga. Dan tentang Liam. Bersiaplah Love Guru satu itu akan mengungkitnya padamu sesering mungkin.”
Thoriq tergelak.
***
Setelah pulih Liam dan Kala masih ingin tinggal bersama Thoriq. Sementara Devan dan keluarganya meneruskan berlibur ke Bali hingga saatnya Liam dan Kala pulang mereka akan menjemput lagi ke Solo.
Aira menyiapkan segala sesuatu untuk memulai kehidupan di pesantren. Ia akan mondok di sana. Yang ia cemaskan adalah Thoriq yang artinya akan hidup sendiri. Namun agaknya sendiri Thoriq tidak mempermasalahkan.
Thoriq telah melaporkan kejadian yang menimpa Aira dan Liam ke polisi. Dengan sigap polisi membekuk gerombolan preman yang memang sudah meresahkan warga.
Kala dan Liam masih menikmati hari-hari liburan di rumah Thoriq yang asri dan nyaman.
“Kala, kamu tau nggak di hari kejadian itu aku abis dari mana?” Liam bertanya sambil santai.
“Nggak… Aku nggak liat kamu sepagian.”
“Aku ke restauran yang di tengah kota, beli Selat Solo buat kamu. Abis kamu berhari-hari cembetut. Biasanya kamu kalau ada makanan jadi ceria lagi.”
“Wah, makasi ya Liam. Waduh aku jadi kepengin Selat Solo.”
Dari kantong belanjaan, Liam mengeluarkan mukena berwarna putih dengan bordir bunga-bunga cantik warna-warni. Lalu selembar kerudung panjang berwarna baby blue.
“Aku beliin ini juga buat Aira, dia suka nggak ya?”
“Suka pasti. Kapan mau kasih? Apa sekarang mumpung lagi packing. Aku temenin.” Kala bangkit sambil menarik Liam.
Keduanya menuju kamar Aira dan mengetuk.
“Yaaa sebentar masih ribet.” Sahut remaja putri setengah berteriak.
“Bentar aja, Dek,” sahut Kala. Sementara sikap Liam sangat santuy dan tidak ada wajah gugup sama sekali.
“Apa sih, Mas, mau traktir aku bakso?” Aira membuka pintu. Tak menyangka ada Liam, ia tidak memakai kerudung. Remaja putri itu langsung membanting pintu dan memakai mukena karena kerudungnya entah tertimbun dimana.
Sementara Liam, yang tadinya sangat cool tiba-tiba terpana. Rambut Aira yang ternyata panjang, tadi dicepol ke atas, memamerkan wajah berbentuk hati. Lehernya jenjang. Ada tahi lalat di bawah telinga kiri.
Kala menyodok rusuk kakaknya membuat Liam terkesiap dan baru menundukkan pandangan.
“Hey, adik aku itu, jangan ampe gitu amatan liatnya. Oy!”
Liam tergagap. “Iy… iya, maaf. Ai maaf, ya, nggak ngasih tau aku di sini. Mmm… Aku beliin farewell gift, ada mukena dan kerudung. Semoga kamu suka.”
Aira tersipu malu. “Makasi, Liam. Ya udah aku packing lagi ya.”
Gadis kecil itu membalik badan lalu jingkrak kesenangan sambil menciumi hadiah dari Liam.
“Dek, pintunya belum ditutup keleus. Haiiish.” Kala geleng-geleng melihat tingkah adiknya.
Sementara Aira berharap ditelan bumi, Liam senyum-senyum penuh arti.
__ADS_1
***
“Ustadzah Ella, ada yang ingin saya sampaikan.”
Hanna duduk di hadapan Ella. Tangannya meletakkan file berisi berkas Aira. Karena mereka berdua di kantor Ella, Hanna melepas cadarnya.
Air mata menitik.
“Ada apa, Nak? Kenapa berkas santri ini kamu bawa ke sini? Dan kenapa kamumenangis?”
“Karena … karena … santri Aira adalah anakku yang kucampakkan, Ustadzah.”
“Innaalillaahi wa innaailayhi rooji’un. Hanna. Kamu nggak pernah cerita kalau sudah punya anak.” Ella menutup mulut dengan tangannya, matanya terbelalak tak menyembunyikan keterkejutannya.
“Mas Thoriq Aditya adalah suami pertama Hanna. Saya pernah cerita tapi tentang Aira masih sembunyikan karena tidak sanggup melawan kekecewaan dan rasa bersalah pada diri sendiri.”
“Terkait orientasi santriwati baru, kamu kontak sama Aira atau ayahnya?”
“Hanna kontak Aira. Sekali Mas Thoriq pernah mengirimkan pesan menanyakan apakah Aira bisa mundur seminggu untuk orientasi. Mereka mengenal saya sebagai Ibu Dini, dari nama panjang Hanna Andini.”
Ustadzah Ella terdiam. Matanya menatap foto Aira. Anak itu mirip ibunya, hanya bentuk mata dan bibir yang berbeda. Mungkin mirip ayahnya.
“Saya belum siap bertemu Aira dan Mas Thoriq. Dosa dan kesalahan saya begitu banyak pada mereka”
“Hanna, manusia itu adalah tempatnya khilaf. Sekarang Ibu tanya, apakah kamu menyesali perbuatanmu?”
Air mata menetes ke tangan Hanna, “Sangat, Ustadzah. Hanna merasa sangat bersalah dan teramat menyesal.”
“Sudahkah kamu bertobat?”
“Hanna sudah melakukan sholat tobat dan benar-benar berjanji tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Hanna harap, Allah menerima tobat Hanna sebelum nyawa ini dicabut …” Air mata makin mengalir deras.
“Hanna berdoalah juga untuk kemudahan bagi kamu untuk meminta maaf pada mantan suami dan anakmu. Berdoalah juga agar mereka diberi kelembutan hati untuk memaafkanmu.”
Sambil terisak Hanna menghapus air mata dengan kedua punggung tangannya.
“Kamu juga punya tanggung jawab terhadap Kamelia Aira anak kamu. Tahukah kamu, kelak kita akan dihisab tentang bagaimana tanggung jawab terhadap anak-anak kita? Berjuanglah untuk memperbaiki kesalahanmu terhadap Kamelia Aira.”
Hanna menjawab dengan lirih, “Saya takut, Ustadzah …”
“Takutlah hanya pada Allah. Mohon padaNya. Jika Allah berkehendak melembutkan hati Kamelia Aira, maka itulah yang terjadi. Kun fayakun.”
“Ustadzah …” Hanna menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Sssh, nangis aja biar lega. Setelah itu, mantapkan hati. Jalan tidak selalu mudah, tapi ingat bahwa kita selalu punya tempat untuk bersandar yaitu kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Wajibnya kita adalah terus berikhtiar dalam kebaikan. Niatkan semua karena Allah …”
“Ustadzah …” Hanna tidak mampu berkata-kata, ada rasa takut namun tumbuh niat untuk memperbaiki hubungan dengan anaknya.
“Mulai sekarang, Hanna panggil Ibu aja, kalau nggak keberatan.”
Dengan mata berlinang air mata, Hanna menatap wanita dengan mata teduh dan senyum menenangkan.
“Ibu …” Hanna kemudian mencium punggung tangan Ella dengan khidmat.
***
“Ay, lagi sibuk nggak?”
Thoriq mendongakkan kepala menatap Aira yang mengintip dari ambang pintu. Laki-laki itu sedang menyelesaikan beberapa review dokumen yang dibawa pulang.
“Masuk, Sayang. Duuuh, anak Aya udah siap belum hidup mondok di pesantren?”
“Cuma satu yang Aira belum siap.”
“Oh, ada yang belum dibeli? Besok aja sebelum ke Semarang kita mampirin.”
Aira menggeleng kuat. Thoriq membereskan berkas-berkasnya dan meletakkan di meja.
“Aira belum siap ninggalin Aya sendiri di rumah. Beberapa hari setelah Aira di pesantren Mas Kala dan Liam akan balik ke London. Aya bakal sendirian banget di rumah.”
“Sini duduk di samping Aya.” Thoriq menepuk sofa di sampingnya.
Aira duduk di sofa langsung memeluk ayahnya.
“Aya kalau kesepian gimana?”
“Nggak, nanti Aya banyakin tilawah. Plus ada Netflix.” Jawab Thoriq mengedip sebelah mata,
“Kalau kangen Aira? Kan cuma boleh teleponan seminggu sekali. Itu juga kalau setoran hafalan Aira udah beres.”
“Aya akan kirim doa buat Aira.”
“Kalau kangen sama Tante Qia gimana?”
__ADS_1
“Hush, istri orang.”
Keduanya tergelak. Thoriq mengecup pucuk kepala anaknya.
“Aira juga baik-baik di sana. Nggak usah nangis-nangis kalau kangen Aya.”
“Iih siapa juga …” Aira menjebik padahal dalam hati ia juga khawatir jauh dari ayahnya. Thoriq adalah dunia, ayah sekaligus ibu baginya.
“Ay, Aira nggak melarang kalau Aya mau menikah lagi.”
“I know. Makasi, ya …”
Aira menatap dalam netra ayahnya lalu bertanya serius, “Belum ada yang bisa ganti posisi Tante Qia, ya?”
“Belum …” Thoriq tersenyum melihat tingkah Aira yang sok tua dibanding usianya.
“Dasar bucin. Pokoknya Aya janji nggak akan sedih-sedih lagi. Aira jadi kepikiran Aya, nanti Aira nggak bisa mikir terus nilainya jelek.”
“Beuh, ngancem.”
“Embur … Aya, janji …” Aira menatap serius ayahnya dengan tatapan galak.
Menatap Aira dengan lembut, Thoriq membalas, “Aya janji, nggak akan sedih lagi.”
“Aira sayang sama Aya.” Aira kembali memeluk Thoriq.
“Maa syaa Allah. Aya juga sayang sama Aira. Sekarang tidur, besok kita berangkat jam sembilanan, jadi sampai Semarang sebelum Dzuhur.”
“Ay, mmm … Liam kasih aku gift, mukena sama kerudung.” Aira bicara sambil menyembunyikan wajahnya ke dada ayahnya.
Thoriq mengangkat wajah putrinya, menatapnya dengan serius.
“Anak Aya udah gede … Take it easy dengan Liam, ya. Sekolah dulu yang bener. Ingat, kelak Aira akan jadi wanita dewasa yang mandiri, istri, dan ibu. Semuanya perlu basis pendidikan yang kuat. Juga akhlak yang baik.”
“Biar nggak kayak Mama Hanna.”
“Aira …” Thoriq menegur.
“Pokoknya Aira nggak mau kayak Mama, menghancurkan rumah tangga orang, ninggalin anak, jadi penculik. Aira benci sama Mama. Sayangnya cuma sama Aya dan Mas Kala.”
Thoriq menghela napas dengan berat.
“Rasulullah berpesan agar kita menghormati Ibu. Bagaimana pun, Mama Hanna adalah ibunya Aira. Hormatilah. Belajar dari kesalahan Aya dan Mama, dan jadilah muslimah yang taat serta berhati lembut.”
“In syaa Allah. Doa’in ya, Ay …”
“Always, always. In syaa Allah. Sekarang tidur!”
“Ay ay, Captain …” Gelak Aira mengikuti gaya kakaknya.
Setelah putrinya kembali ke kamar, Thoriq memandang keluar dari jendela ruang kerjanya. Langit bersih, bintang-bintang bertaburan. Bulan menampakkan cahaya putih berpendar.
“Jagalah putra dan putri, hamba, ya, Allah. Hanya kepada Engkau hamba menyerahkan perlindungan sebaik-baik perlindungan. Aamiin …”
***
“Maa syaa Allah, pesantrennya bagus. Dek, keren banget. Kamu pasti betah di sini.” Kala semangat menunjuk bangunan pesantren.
Area pesanten dibagi menjadi empat bagian. Di bagian depan adalah untuk kantor pengelola dan tata usaha serta ruang auditorium. Bagian kiri untuk pesantren putri dan tempat tinggalnpara ustadzah dengan pemandangan menghadap ke arah sawah-sawah.
Dipisah oleh lapangan hijau yang luas dikelilingi jogging track adalah gedung untuk kelas-kelas dan ruang laboratorium baik untuk bahasa dan pelajaran science. Di bagian belakang ada gedung olah raga lengkap dengan kolam renang, lapangan buku tangkis, basket, dan volley.
Thoriq dan Aira memang memilih boarding school khusus putri. Pesantren tersebut hanya memiliki beberapa guru pria untuk mata pelajaran tertentu dan mereka tidak tinggal di area pesantren.
“Liam nggak boleh masuk, soalnya bukan mahram,” kata Kala ketika mereka tiba di lobby dan tertulis pengumuman.
“It’s okay, aku tunggu di mobil aja,” balas Liam sambil membantu Thoriq dan Aira mengeluarkan barang.
Berbarengan dengan mereka ada beberapa santri baru. Aira langsung berkenalan dengan mereka dan ternyata mereka semua akan belajar di kelas yang sama.
Thoriq, Kala, dan Liam juga berkenalan dengan para orang tua yang mengantar. Para santriwati terbengong melihat Kala dan Liam sampai orang tua mereka menegur. Kala dan Liam akhirnya menyingkir karena mereka pun harus menjaga pandangan.
Dua orang wanita menyambut mereka dari kantor tata usaha.
“Assalamualaykum, ahlan wa sahlan, para orang tua dan santri baru. Mari silakan masuk,” sapa wanita bercadar dengan ramah.
“Waalaykumussalam, ahlan bik, yaa ustadzah,” jawab mereka serempak.
Thoriq seperti mengenali suara wanita tersebut namun mengindahkan. Ia mengantarkan Aira masuk bersama orang tua lainnya sambil membawa beberapa barang Aira.
Karena sibuk, Thoriq tak sempat memperhatikan wajah Kala berubah pucat pasi dengan bulir-bulir keringat dingin keluar dari keningnya.
***
__ADS_1