Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Hadiah


__ADS_3

“Dev, aku punya sesuatu.”


“Sini-sini kasih ke aku.” Devan langsung melahap bibir istrinya. Bermain-main dengan organ kenyal itu hingga puas.


Qiara tersipu malu. “Bukan itu maksud aku,” ucapnya.


“Udah tiga bulan nikah, istriku masih malu-malu. Gemesin deh, jadi pengin …”


Qiara mundur tangannya menjulur menahan Devan yang siap menyerang.


“Sebentar, wait! Aku mau tunjukin sesuatu. Bendanya ada di nakas kamu.”


“Yang aku mau liat cuma kamu.”


“Astaghfirullah, oke, oke.”


“Asik…” Devan membopong Qiara, meletakkan tubuhnya perlahan di atas ranjang.


Ketika ia bergerak untuk mengungkung istrinya, Qiara berguling menuju nakas lalu memperlihatkan sesuatu.


“Pak Dokter, aku hamil!” Ucapnya dengan mata berbinar-binar.


Devan yang awalnya bersiap mulai olahraga ranjang tertegun. Ia meraih test pack yang menunjukkan dua garis biru.


“Sayang … maa syaa Allah, sayang …” Wajah Devan memerah, air mata bahagia menggenang di pelupuknya.


Qiara menatap wajah suaminya dengan bahagia. Ia mengangguk melihat suaminya masih belum memercayai kejutan yang baru diterimanya.


Dengan segera Devan bangun menuju sajadah yang masih tergelar lalu melakukan sujud syukur. Pria itu menangis bahagia.


Qiara duduk di pinggir ranjang sambil tersenyum menatap Devan.


Suaminya kembali dan menyentuh perutnya dengan lembut.


“Aku dokter obgyn malah nggak sadar istri hamil. Kesenengan pas buatnya aja,” ujarnya sedikit menyesal.


Qiara berbisik, “Jangan khawatir, aku juga menikmati kamu, kok.”


Mata Devan membola.


“Pengin nengok baby.”


“Tapi pelan-pelan.”


“Siap, laksanakan. Qiara Anjani, aku bahagia banget. I love you so much, you know that?”


Qiara menatap netra teduh Devan sembari mengecup lembut pipinya.


“I love you more than you know it,” balasnya.


Devan menyelipkan rambut panjang Qiara ke belakang telinga.


“Dev, kita mau mulai atau liat-liatan aja?”


Merasa tertantang suaminya langsung mendorong pelan tubuh Qiara, memulai aksinya dengan lembut namun tetap membuat istrinya mendesah panjang pendek.


Qiara yang biasa agresif kini cenderung menikmati sentuhan yang dilakukan Devan. Sebagai obgyn, Devan paham kehamilan bisa membuat kebiasaan orang berubah.


Pria itu meningkatkan intensitas permainannya, terus memberikan kenikmatan membuat Qiara mencapai puncak terlebih dahulu.


Setelah itu Devan memulai lagi dari awal, hingga akhirnya mencapai surga dunia bersama.


Usai permainan ranjang, Devan dan Qiara berbaring saling berhadapan. Devan mengusap perut istrinya.


Qiara yang kehamilan pertamanya harus berjuang sendiri tiba-tiba merasa terharu. Tak sadar ia menitikkan air mata.


Melihat bulir air mata mengalir di wajah Qiara, Devan terperanjat.


“Sayang, apa ada yang sakit? Tell me …”


“Nggak ada, sayang. Aku merasa sangat bahagia. Di kehamilan Kala, aku sendirian, Dev. Merasakan tanganmu di perutku sudah sangat membuatku bahagia.”


Devan menangkup wajah istrinya yang cantik, pandangannya menembus manik


Qiara dan lagi-lagi menjadikan istrinya tersipu.


“Aku akan menjaga kamu buah hati kita, in syaa Allah. Qiara, aku sungguh-sungguh mencintaimu, Sayang.”


Qiara semakin merapatkan tubuhnya ke suaminya. Walau istrinya tidak berkata apapun namun Devan bisa merasakan cinta yang besar untuknya.


Berita kehamilan Qiara segera tersebar. Kala sangat gembira dan bangga karena akan punya adik lagi.


Dalam video call-nya dengan Thoriq dan Aira, bocil itu memberitahukan kehamilan ibunya dengan penuh semangat.


“Buna mau punya baby?” suara Thoriq bergetar. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dengan senyum yang nampak dipaksakan.


“Ih Aya kok mukanya jadi aneh …” celetuk Kala polos. Kini Aira ikut melihat ke wajah ayahnya. Thoriq langsung salah tingkah di depan dua anaknya.


“Kala mau adik cowok dari Buna. Dari Aya, Kala mau adik cewek lagi.”


Masih dengan perasaan kecewa, Thoriq berkata, “Kala dapat adik dari Buna aja, ya. Biar Aya sama Adek Aira.”


Aira mencium pipi ayahnya. Anak perempuan itu peka terhadap perasaan ayahnya. Ia pernah menemukan foto Thoriq dan Qiara tersimpan di bawah bantal. Terkadang melihat ayahnya menghela napas panjang memandangi foto itu.


Kala menjebik lucu ke ayahnya, mau tidak mau Thoriq tertawa melihat ekspresi bocah banyak gaya itu.

__ADS_1


“Aya, Kala mau bikin PR dulu, disuruh bikin family picture. Aku mau gambar Buna, Kala, Daddy, Liam, Aya, Adek Aira. Nanti aku minta Daddy kirim ke Aya.”


Thoriq termangu menyadari betapa lebarnya definisi keluarga menurut Kala. Melihat anaknya mulai tidak sabaran, Thoriq mengakhiri pembicaraan singkat mereka.


“Okay, Kala baik-baik ya, jagain Buna …”


“Ay ay, captain…”


Jika ada satu orang lagi yang nelangsa dengan berita kehamilan Qiara, dia dalah Jasmine Porter alias Stella.


Lisa dengan gegap gempita memberitahukan pada para staff. Setelah mendengar berita itu, Stella ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


“Dev, harusnya aku yang hamil anak kamu.”


Stella merasa buntu karena ia hanya punya waktu enam bulan. Dua bulan berlalu tapi belum ada sedikit pun kesempatan untuk mendekati Devan maupun Qiara.


Delapan bulan sebelum ia harus keluar dari negara itu dan pergi entah kemana. Stella kembali ke mejanya. Kembali berkutat dengan tugas-tugas sebagai asisten yang dibencinya.


***


Waktu berlalu, kini kehamilan Qiara berusia lima bulan. Devan dan Qiara sepakat untuk tidak melakukan gender reveal hingga hari kelahiran buah cinta mereka.


“Liam, tunggu Buna,” ucap Qiara mengejar Liam yang sudah lari ke kantor kakeknya.


Stella yang sedang bekerja di mejanya segera berdiri mendengar suara gelak tawa yang sangat ia rindukan.


“Liam …” Gumamnya. Matanya berkaca-kaca, setahun sudah ia tidak bertemu putra tunggalnya. Liam lebih tinggi dan … nampak sangat bahagia.


Anaknya bercanda menarik Qiara supaya berjalan lebih cepat. Sementara Qiara pura-pura susah berjalan sehingga Liam mendorongnya.


Stella membenci pemandangan di depannya. Liam akrab dan menyayangi wanita hamil yang sangat dibencinya.


“Qiara, Liam!” Panggil Lisa memanggil begitu melihat Qiara bersama Liam.


“Lisa!” Liam menghambur ke Lisa yang sudah dikenalnya dari kecil.


Qiara saling bertegur sapa dengan Lisa. Sekali lagi Stella bersungut, bahkan saat dirinya menikah dengan Devan, Lisa hampir tak pernah bicara dengannya.


“Grandpa!” Liam kini menghambur ke kakeknya yang baru keluar dari ruang meeting.


“Hey kiddo. Baru pulang sekolah, ya? Kala mana?”


“Kala bobo di mobil. Aku main di kantor Grandpa boleh, kan?”


“Boleh, dong. Kita nanti ke proyek baru ya. Qiara, thank you udah antar Liam. Nanti malam aku antarkan ke mansion. Gimana kabarmu?”


“Aku, baik, Dad. Makin gendut,” jawab Qiara sambil mengelus perutnya ysng makin membuncit.


“Adek udah nendang-nendang. Tapi kalau siang malah bobo di perut Buna.” Liam meletakkan tangannya di perut Qiara dan hampir membuat Stella naik pitam.


Qiara menatap Liam dengan penuh rasa sayang. Phil bersyukur Qiara dan Liam bisa saling menerima.


“Oke, Buna, salam buat Steph, Mel, Mark. Buna jangan dekat-dekat Uncle Jeremy nanti Daddy cemburu,” ucap Liam yang menyebut dirinya Love Guru.


“Hush, sotoy … “ Qiara mengacak rambut Liam sambil mengerling pada anak itu.


“Oh ya, aku jadi ingat. Qia, tolong ingatkan Jeremy untuk melihat lokasi restoran yang diinginkan. Daddy memberikan dia privilege untuk memilih sebelum pembeli lain.”


“Qia nggak ketemu Jeremy, tapi nanti akan disampaikan ke Shaline, tunangannya.” Qiara menekankan kata tunangan ke Liam yang langsung terkekeh.


Sambil terus pura-pura bekerja, Stella mendengarkan percakapan singkat sambil memikirkan rencana menyingkirkan Qiara dan mengambil Liam. Kini ia memiliki dendam kesumat pada Devan yang telah mengirimkannya ke kamp kerja paksa.


“Akan kubuat Devan kehilangan orang-orang yang ia cintai.”


***


“Dev, apakah aku bisa pinjam Qiara untuk proyek di Perth? Tenang akan kupastikan Qiara tidak kelelahan.”


“Dad …” Devan menggeleng tak setuju.


“Hanya sehari, Devan Donavy. Pelit amat sih.”


Qiara melirik suaminya sembari tersenyum geli. Dirinya suka saat Devan terang-terangan bersikap posesif.


“Qia, kamu mau ikut Daddy ke Perth. Aku takut kalau kecapean. Masak iya nggak bisa pakai video call aja.”


“Dev …” Phil mendengus sebal.


“Berangkat sama siapa aja?”


“Aku, Lisa, Jasmine, Qia. Berempat aja. Zaniff asistenku sudah di sana.”


“Jasmine?”


“Asisten Lisa yang baru. Bianca cuti hamil.”


“Dari mana dia?”


“Entahlah, Dev. Lisa yang memeriksa credentials-nya. Jadi boleh atau tidak?”


“Nggak …”


Phil menatap anaknya dengan pandangan memohon. Penting baginya untuk mengajak Qiara meninjau proyek perkantoran di Perth. Walau MJ Design telah bekerja dengan baik, tetap saja Phil berharap Qiara datang dan melihat.


“Aku kenal sama Jasmine, she’s cool. Dia suka main sama anak kecil,” sahut Liam tiba-tiba nimbrung.

__ADS_1


Anak kecil itu lalu menoleh ke Kala yang sedang bersantai di pangkuan Bunanya. Ia berkata, “Kala, kapan-kapan kalau main ke kantor Grandpa aku kenalin sama Jasmine.”


Devan tertawa, Liam yang biasanya pemalu dengan orang yang lebih tua dan baru dikenal kini lebih terbuka. Kala melirik kakaknya lalu mengangkat alis dan mengangguk, enggan mengubah posisinya.


“Buna, Kala kangen Uncle Jeremy. Pengin main ke kafenya. Boleh nggak besok pas Buna ke Perth?”


“Kala temenin Daddy aja, besok kan nggak kerja. Masak Daddy sendirian?”


“Jadi Qiara boleh ke Perth?” Phil memastikan agar anaknya yang bucin akut itu tidak berubah pikiran.


“Boleh, tapi … Qia nggak boleh kelamaan berdiri, paling lama di proyek 60 menit. Sebelum pulang harus tidur dulu, baru naik pesawat. Setuju, Dad?”


“Ya … ya … setuju,” jawab Phil malas.


“Oh, nggak jadi deh.”


“Ck, alright, I will take a very good care of your Qiara. Promise!”


Devan memberi kode mengawasi dengan kedua jarinya. Qiara dan Dian menggelengkan kepala mendengarkan perdebatan bapak dan anak. Hati Qiara menghangat, ia merasa bahagia berada di keluarga Devan.


Mereka bercakap dan bercanda sebelum waktu tidur buat anak-anak.


Hape Dian berbunyi. Sebuah pesan bergambar masuk. Alisnya berkerut.


“Qiara, Mommy boleh bicara di dapur?”


“Okay, Mom. Kala sama Daddy dulu, ya.”


“Is everything alright?” Tanya Devan ingin tahu, heran dengan perubahan ekspresi wajah ibunya.


“Nothing, nothing …”


Dian menggandeng Qiara masuk dapur lalu menunjukkan pesan masuk.


“Lihatlah …”


Qiara terbelalak melihat foto-foto dirinya benerapa hari lalu sedang mengobrol akrab dengan Jeremy di sebuah laman berita. Semakin terbelalak membaca caption: Istri Devan Donavy Akrab dengan Mantan Pacarnya.


“Mom, aku hanya bicara dua menit dengan Jeremy. Aku pun kesana karena ulang tahun Stephanie. Dia yang menampungku ketika pertama tiba di Melbourne. Aku dan Jeremy berpapasan di pintu masuk kafe. Lagi pula ia sudah ditunggu Shaline tunangannya di mobil. Bahkan Shaline sempat ngobrol denganku.”


Dia mendengarkan penjelasan Qiara dengan seksama. Walau ia menyayangi Qiara, tetap saja kiriman berita bergambar tadi mengganggunya.


“Mommy minta kamu nggak ke sana dulu. Biarkan semuanya mereda. Kamu cegah juga Kala untuk bertemu Jeremy. Mommy khawatir akan berkembang beritanya. Kamu tahulah laman gosip.”


Wajah Qiara menjadi muram. Ia khawatir terhadap reaksi Devan yang pencemburu. Bunyai hape terdengar lagi.


“Astaga, ada berita baru, Qia.”


Qiara membaca berita dengan judul, “Petualangan Cinta Qiara Anjani”


Hatinya miris membaca berita yang seolah-olah dirinya dulu memainkan perasaan Jeremy dan Devan. Padahal saat itu luka hatinya terhadap perkawinan Thoriq dan Hanna masih lebar menganga. Tak sedikit pun ia berpikir untuk menjalin hubungan cinta.


“Qiara,” panggil Devan yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu dapur.


“Dev, aku …”


Devan berjalan ke arah istrinya yang menatapnya khawatir. Laki-laki itu menatap manik hitam Qiara. Tanpa diduga langsung memeluk istrinya erat.


“Aku sudah lihat beritanya, Jack mengirimkan padaku.”


“Maafin aku, Dev. Sungguh, itu hanya sapaan tak sampai dua menit. Jeremy pun sedang ditunggu Shaline. Kamu tahu bagaimana Jeremy kan, suka bercanda nggak tau tempat.”


Devan mengingat kesebalannya pada Jeremy saat bersaing merebut hati Qiara.


Ia tidak berkata apa-apa namun makin mendekap istrinya.


Dian terus membaca berita yang kini dilansir media-media sejenis dari berbagai sudut pemberitaan.


“Qiara, jangan khawatir. Donavy Group punya tim media sosial yang sudah Daddy gerakkan untuk membendung berita ini. Sudah tepat besok kamu ke Perth. Setidaknya menjauh dari pusaran awal berita di Melbourne. Daddy dan Lisa akan menjagamu.”


Qiara berterima kasih pada ayah mertuanya. Hatinya terlanjur sedih. Fitnah ibarat menyebar kan sekarung bulu ayam di perempatan yang ramai. Bulu ayam akan tertiup angin dan berterbangan ke mana-mana. Mustahil mengumpulkan bulu ayam yang sudah tersebar.


Begitulah jahatnya fitnah yang akan terus menyebar seberapa pun usaha yang dikeluarkan untuk memadamkan. Kerusakan sudah terjadi.


Memberi penjelasan juga bukan langkah mudah karena Qiara harus menjelaskan hal yang sangat pribadi.


Mata Qiara yang biasa berbinar kini berubah sendu.


“Buna, kenapa sedih?” Tanya Liam diikuti Kala yang memutuskan untuk menyusul para orang dewasa.


Terkesiap, Qiara memaksa tersenyum pada dua bocah di depannya.


“Ada berita yang bikin Buna khawatir. Semoga aja semua bisa baik pada akhirnya,” jawab Qiara lirih.


“Buna bilang sama Kala, nanti Kala marahin orang jahatnya. Kala akan jagain Buna, udah janji sama Aya.”


Lagi-lagi Qiara terkesiap mendengar pernyataan anaknya. Devan langsung merangkul istrinya, masih ada rasa cemburu melihat ekspresi Qiara yang berubah jika mendengar sesuatu tentang mantannya.


“Makasi, Sayang. Kala doakan semua baik-baik, ya,” pinta Qiara yang disambut dengan anggukan Kala.


“Anak-anak sekarang udah jam delapan, tidur, yuk. Ajak Devan.”


“Mommy dan Daddy juga pulang, ya.”


Sembari mencium anak dan menantunya, Dian berkata, “Usulan Mommy adalah membuat klarifikasi untuk mengimbangi berita, Qia.”

__ADS_1


“Kami akan diskusikan malam ini setelah anak-anak tidur, Mom. Terima kasih. Aku percaya ini adalah ulah wartawan abal-abal yang mencari sensasi.”


***


__ADS_2