
“Sayang, menurut kamu bagaimana kalau kita pindah ke London?” Devan bertanya ketika keduanya sudah di kamar tidur.
“Oh kok tiba-tiba?”
“Aku cuma berpikir mungkin kita bisa memulai awal yang baru. Terutama untuk Liam.”
Devan menutup bukunya lalu meletakkan di samping nakas. Qiara berganti baju di walk-in closet.
“Big decision, kita matengin dulu rencana itu lalu kita diskusi sama anak-anak?” Qiara menanggapi usulan Devan.
“Bukannya anak-anak ikut aja kemana kita pergi?”
“Iya sih, tapi aku berpikir untuk selalu melibatkan mereka dari awal, sekaligus membentuk kemampuan mereka berpikir dan berpendapat.”
Qiara mematikan lampu walk-in closet lalu keluar dengan gaun tidur. Devan meneguk salivanya. Kulit mulus Qiara bak pualam kontras dengan gaun menerawang warna biru tua.
“Pakai pakaian dinas, udah boleh?” Matanya membola tak berkedip.
Qiara berdiri agak jauh dari Devan lalu tersenyum menggoda.
“Menurut ngana?”
“Qia, sini …” Devan menepuk kasur di sampingnya.
“Eh lupa, aku mau jahit kancing baju Kala, tadi copot,” cetusnya sambil tersenyum jahil lalu berjalan ke arah pintu kamar.
“Ngadi-ngadi,” balas Devan yang sudah lompat dari tempat tidur untuk menangkap istrinya.
Qiara terpekik ketika merasa tubuhnya diangkat lalu dibaringkan dengan lembut.
Devan mengungkung dengan netra menatap lembut wajah di bawahnya.
Ia membelai pipi Qiara, telunjuknya menelusuri bibir yang sebentar lagi akan habis dilahapnya.
“Maaf aku nggak perhatian sama kamu, Qia. Sampai istri sendiri udah selesai nifas, malah aku nggak sadar. Padahal aku obgyn.”
Qiara menangkupkan tangannya ke wajah tampan suaminya. Jenggot kasar mulai tumbuh membuat Devan yang sudah macho terlihat lebih macho.
“Sayang, kamu udah kasih aku perhatian lebih dari yang aku harapkan.” Qiara lalu mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Devan.
Inilah yang disukai Devan, istrinya tak malu dan ragu untuk memulai permainan.
Ciuman yang awalnya lembut kemudian menjadi semakin panas. Devan turun untuk mencium pundak mulus Qiara, lalu ke ceruk lehernya. Membuat Qiara mendesah dengan mata terpejam.
Tangan Devan mulai menurunkan tali gaun tidur, sementara Qiara melepas kaos yang dipakai Devan. Tangannya lincah bermain dengan bulu dada suaminya.
Ia menggulingkan Devan hingga kini posisinya di atas.
“Just relax, Baby. Malam ini biar aku yang bikin kamu seneng.”
Qiara kemudian memulai memimpin. Menyentuh bagian-bagian sensitif membuat suaminya mendesah dan mengerang. Qiara melakukannya dengan penuh cinta, sampai Devan tak sanggup menahan dan mulai melakukan serangan balasan.
Mereka terus saling memberi kenikmatan dengan sentuhan dan meresapi ciuman. Akhirnya, lepas empat puluh hari puasa, mereka kembali merasakan surga dunia sepanjang malam.
Entah berapa ronde sudah mereka selesaikan ketika Qiara teringat sesuatu.
“Dev, aku belum pasang alat kontrasepsi.”
“Astaghfirullah… aku juga lupa. Duh, Sayang, maaf ya aku nggak becus jadi obgyn kamu. Main tancep aja.”
Keduanya terkekeh. Qiara juga sangat menginginkan jatah dari Devan, itu sebabnya ia lupa.
“Kalau aku hamil lagi, bakal bahaya?”
“Lebih baik hati-hati sih. Emang kenapa? Kamu ada yang sakit, Sayang?”
“Enggak ada sakit, cuma ini loh …”
Qiara berbisik di telinga suaminya, “Aku masih pengin lagi.”
Devan menatap istrinya yang tersenyum. Ia balas berbisik di telinga istrinya, “Aku juga.”
Sepasang manusia dimabuk cinta kembali memberikan kehangatan hingga akhirnya tertidur kelelahan.
***
Spanduk bertuliskan “Welcome home Abby” tergantung di atas pintu mansion.
Javier, asisten baru di rumah membantu Liam dan Kala membuat dekorasi untuk menyambut Abby yang sudah boleh pulang.
Begitu mobil Devan masuk ke halaman mansion, dua anak laki itu lari menyambut hingga Javier harus mengejar.
Devan dan Qiara bahagia karena Abby semakin kuat dengan pertumbuhan yang terpantau normal. Bayi cantik berumur hampir dua bulan itu sudah bisa membuka mata dan senang tersenyum.
“Abby … Abby …” Liam dan Kala memanggil-manggil dari samping mobil. Devan mengurangi kecepatan hingga akhirnya berhenti di depan pintu utama mansion.
Ayah Devan ikut menyambut kedatangan cucunya. Semenjak istrinya meninggal, ia sering menghabiskan waktu di mansion bersama Kala dan Liam.
Qiara turun dengan Abby dalam dekapannya. Javier membantu menurunkan tas bayi. Sementara Kala dan Liam tidak sabar untuk melihat adik mereka.
“Buna aku mau liat adek,” pinta Kala sambil melompat-lompat.
Entah kebetulan atau apa, Abby yang awalnya banyak senyum tiba-tiba memejamkan mata ketika duo heboh itu ingin melihat.
“Buna, kayak boneka, cantik banget,” cetus Liam kagum. Kala dengan gaya sok tahu malah menjebik melihat Abby karena sampai detik itu ia masih ingin adik laki-laki. Tapi matanya terus menatap adik bayi yang sepertinya pura-pura tidur.
“Abigail Dian Donavy,” Phil memanggil nama cucunya, menahan emosi yang campur aduk.
__ADS_1
Di satu sisi bahagia karena Devan dan Qiara memakai nama mendiang istrinya sebagai nama tengah. Sedih karena Dian sudah pergi untuk selamanya padahal mereka menantikan saat pertama kali menggendong cucu kedua.
“Dian, cucu kita cantik banget. Bentuk wajahnya seperti Devan, matanya jelas ini mata Qiara. Bulu matanya lentik, rambutnya coklat dan tebal. Andaikan kamu di sini, pasti langsung heboh mau beli macem-macem baju bayi,” ucap Phil dalam hati sambil memandang Abby yang masih digendong Qiara.
“Qia, may I?” Pintanya.
Qiara menyerahkan Abby ke Phil. Begitu pindah ke gendongan kakeknya, Abby membuka mata dan tersenyum.
“My God, so beautiful. The most beautiful baby I have ever seen. Hello Abby … I am your grandpa.” Phil mengeluarkan suara-suara lucu dan membuat Kala serta Liam bertukar pandangan karena heran.
“Grandpa kenapa suaranya gitu?” Tanya Liam tak bisa menyembunyikan keheranan.
“Nggak apa-apa, kalau sama bayi ya harus gemes gini suaranya.”
“Ooooh …” Sahut Liam dan Kala serempak.
“Hello Abby, this is Liam, you’re brother.” Liam ikut menggunakan suara lucu seperti kakeknya membuat semua yang mendengar tertawa.
“Abby, I’m Kala, you’re boss.” Susul Kala masih dengan muka tengil.
“Sshh, Kala.” Devan mengacak rambut Kala lalu menggendongnya.
“So you’re the boss.”
“Hm!” Kala mengangguk tegas.
“Coba, boss geli nggak kalo diginiin?” Devan lalu mengusapkan jenggotnya yang masih belum dicukur ke badan Kala. Anak itu langsung terpekik kegelian.
Javier yang keluar lagi setelah meletakkan barang ke kamar Abby, pria latin itu tersenyum, hatinya menghangat melihat keakraban keluarga tuannya.
“Tuan-tuan, Nyonya, silakan masuk. Di ruang baca sudah saya siapkan kue-kue dan teh.”
“Terima kasih Javier,” balas Devan sambil masih menggelitiki si Boss.
Phil terus menggendong Abby, hingga akhirnya si bayi menangis.
“Qia kasih susu Abby dulu, ya, Dad. Mungkin haus soalnya tadi di rumah sakit juga malah main.”
Mendengar kata ‘main’ Kala langsung menoleh ke adiknya. Matanya berkilat-kilat jahil membuat Devan makin gemas dan menggigiti perut gembulnya.
“Daddy, aku mau sama Buna dan Adek.”
“Hayo, Kala ada akal apa ini? Kok tiba-tiba pengin sama Buna?”
“Enggak Daddy, aku mau sama Buna.”
Kala lalu merosot dan mengejar Bunanya yang sudah menuju kamar bayi.
Qiara sedang asyik menyusui Abby ketika Kala mengintip. Tersenyum melihat wajah anaknya, Qiara menyuruhnya masuk.
“Kala, Adek Abby masih kecil nggak boleh deketi figurine yang keras. Coba cari boneka yang lembut kan ada tuh.”
“Yah cuma ada satu, Buna.”
“It’s okay.”
“Nanti Adek nggak hafal sama Thor. Aku mau mulai didik dia, Buna.” Kala sedikit merajuk.
“Kalau gitu yang figurine ditaro di atas laci aja, Sayang.”
Kala setuju dan langsung mengerjakan.
“Buna, emang bener kita mau pindah ke Lodong?”
“Kemana?”
“Lodong?”
“Oh, London. Menurut Kala gimana?”
“Asal sama Buna mau aja. Kapan kita pindah Buna?”
“Empat bulan lagi setelah Kala dan Liam kenaikan kelas.“
Kala merebahkan dirinya di sofa tempat ibunya menyusui, hanya perlu beberapa detik sebelum anak itu tertidur pulas.
Qiara mengelus rambut Kala, sementara Abby masih lahap menyusu. Ia memikirkan rencana mereka pindah mukim ke London.
Tak disadari, Devan mengintip dari balik pintu sambil tak henti bersyukur.
***
Empat bulan berjalan. Hingga tiba waktunya mereka akan berangkat ke London.
Phil memutuskan untuk ikut pindah karena baginya, Melbourne sangat sepi tanpa Dian.
Devan dan keluarganya akan tinggal di rumah besar milik Phil yang malah memilih tinggal di sebuah rumah tak jauh dari sana.
“Rumah di London adalah rumah awal yang kubeli. Aku baru menikah dengan ibumu. Kami bertemu di sebuah universitas saat Dian menjadi mahasiswa. Love at the first sight, true love forever. Terlalu banyak kenangan indah di sana.” Kenang Phil dengan mendiang istri yang masih sangat dirindukan.
“Dev, saat kamu mencintai wanita, pertahankan. Jangan pernah berkhianat dan berpaling dari apa yang sudah kalian bangun.”
Devan memandang Qiara yang sedang duduk di teras menyusui Abby, sementara Liam dan Kala sedang asyik main bola di halaman bersama Javier.
“In syaa Allah enggak akan, Dad.”
“Gangguan akan masuk jika kamu membuka kesempatan. Tutup akses hatimu untuk wanita lain.”
__ADS_1
“Hey, you know I’m not that kind of man.” Devan menepuk pundak ayahnya.
“Yep, aku cuma mengingatkanmu. Kamu mati kalau sampai mengkhianati Qiara. I personally will kill you.”
“You will kill me, Qiara will cut my Mr P, gosh…”
“Sebuah peringatan! Daddy serius Devan. Awas kamu mengkhianati wanita sebaik Qiara!”
“Naudzubillah. Devan berharap dan berusaha untuk menjaga cinta untuk Qiara sampai maut menjemput.”
“Daddy …”
Duo angin ribut masuk langsung mencuci tangan kemudian duduk bersama Devan dan Phil. Langsung mencomot aneka penganan yang disiapkan Javier dan Qiara. Phil kemudian asik bercengkrama dengan cucu-cucu yang kini jadi sumber kebahagiaanya.
Devan keluar ke teras menemani Qiara.
“Sayang, Abby masih minum atau udah bobo?”
“Masih minum, nih,” Qiara mengintip ke balik kain penutup untuk menyusui. Entah karena mereka sedang berada di golden hour, Devan melihat sore itu Qiara terlihat cantik dan berseri.
“Qia, Abby pasti nanti cantiknya kayak kamu.”
Tersipu malu, Qiara menjawab, “In syaa Allah…”
Mendengar suara ayahnya, Abby bergerak-gerak. Qiara membuka kain penutup dan Abby langsung mencari ayahnya.
“Hai Princess, hai my beautiful princess …”
Abby langsung tertawa lebar, matanya berbinar-binar. Devan mengambil putri kecilnya. Mendudukkan di pangkuannya menghadap ke bukit-bukit di belakang mansion.
Abby protes, ia menjejak-jejakkan kaki sambil memutar tubuhnya menghadap Devan.
“Dia pengin cium Daddy-nya,” ucap Qiara yang tertawa melihat kelakuan putrinya.
“Oooh, Abby mau cium Daddy?”
Begitu diputar, Abby langsung menempelkan bibirnya ke pipi Devan. Kakinya bergerak kesenangan. Ayahnya balik membalas ciuman membuat Abby terkekeh.
“Awas, baru nyusu nanti gumoh.”
“Udah disendawain kan?”
“Ya belum kan langsung kamu ambil tadi.”
Dengan terampil, Devan menepuk punggung anakknya hingga terdengar bunyi sendawa besar dari bayi lima bulan itu.
“Alhamdulillah… gede banget glege’an anak Daddy nih,” ucapnya sambil mengusap jenggotnya ke tangan Abby. Bayi cantik itu tertawa kegelian.
“Sayang, kemarin waktu kamu ke Sidney, aku pergi ke obgyn karena spiralku kayaknya mengsol.”
“Oh ke dokter Stevan asistenku, kan?”
“Iya, ini hasilnya.”
Devan mengamati foto USG yang diletakkan di meja.
“Oh akhirnya lepas spiral? Udah siap hamil emang? …. Wait …”
Devan mengambil hasil foto USG dsn mengamatinya.
“Qiara, kamu hamil dua bulan?”
Dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan Qiara mengangguk.
“Maa syaa Allah, ya Allah …”
Tidak percaya, Devan mendekatkan hasil USG dan mengamati. Matanya berkaca-kaca.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Qiara, aku cinta sama kamu! Aku, Devan Donavy, cinta sama Qiara Anjani!” Teriak laki-laki itu ke arah bukit.
Devan menadak-nadak sambil menggendong Abby yang kegirangan.
Phil, Liam, Kala keluar dengan ekspresi geli sekaligus melihat tingkah Devan.
“Guys, Qiara hamil, alhamdulillah.”
“What, is that true? Qia kamu udah boleh hamil lagi emang?” Phil memukul lengan Devan membuat anaknya stop menari-nari.
“Bukannya istri kamu harus pake kontrasepsi? Kamu obgyn bukan sih? Hadeh!” Protes Phil lagi.
“Qiara udah pake kontrasepsi, Dad, tapi masih tembus juga.”
Phil makin meradang. “Dasar anak mesum! Sini kamu!”
Devan terkekeh lalu pura-pura kabur. Liam
ikut melonjak-lonjak. Tujuh tahun menjadi anak tunggal kini ia akan punya tiga adik. Sementara Kala duduk memegang perut ibunya sambil komat kamit.
“Ngapain Kala?”
“Berdoa biar kali ini adiknya laki-laki,” jawabnya sambil terus memejamkan mata, tangannya kini menegadah.
Qiara mengacak pucuk kepala Kala. Kenangan indah sore itu tersimpan lekat di dalam benaknya.
“Alhamdulillah ya, Allah …”
***
__ADS_1