
Kala menatap tajam Hanna yang balas menatapnya dengan sendu.
“Kala, Tante sungguh-sungguh menyesal atas semua yang pernah Tante lakukan sama kamu. Andaikan bisa memutar balik waktu, maka akan Tante perbaiki semua kesalahan.”
Thoriq, Qiara, Devan menemani Kala yang bersikeras untuk menemui Hanna. Setelah berdiskusi dengan Ibu Asimah, psikiater sekaligus psikolog yang menangani trauma Kala, maka diperkenankan asal dalam pengawasan.
Aira masih tidak mau menemui Hanna. Dia memilih untuk kembali ke sekolahnya yang lama di Solo.
“Dari mana Kala tau kalau Tante sungguh menyesal, bukan cuma akal-akalan?”
“Kala … bicara yang baik, ya,” Qiara mengingatkan anaknya yang mulai berapi-api.
“Saat ini hidup Tante hanya dipenuhi dengan rasa menyesal. Tante bersalah pada orang tuamu, sebagai seorang ibu, Tante adalah ibu yang durhaka. Mas Thoriq, Mbak Qia, Kala, benar-benar saya mohon ampun atas kesalahan dan kebodohan.”
Suara Hanna bergetar dan tercekat, tangannya dingin.
“Tante tau? Sampai sekarang Kala takut di dalam gelap karena anak buah Tante selalu mematikan lampu supaya Kala tidak bisa melihat waktu itu. Tamparan di pipi Kala masih membekas di sini,” Kala menunjuk dadanya.
Thoriq dan Qiara bertukar pandang. Qiara merasa bersalah karena hal-hal yang Kala sampaikan luput dari perhatiannya.
Masih meluapkan emosi, Kala melanjutkan, “Tante tahu yang paling menakutkan? Berlari di antara baku tembak dan waktu menoleh ke belakang … waktu menoleh ke belakang, Kala liat Buna diseret masuk ke dalam mobil. Kala masih umur dua tahun, Tante, dua tahun!”
Thoriq memegang bahu Kala, mengusapnya perlahan berusaha menenangkan anaknya.
Air mata menetes membasahi cadar yang dipakai Hanna. Betapa keji perbuatannya pada anak umur dua tahun yang tidak tahu apa-apa. Begitu dalam luka yang ditoreh hingga sampai saat ini kejadian buruk itu masih tersimpan di ingatan Kala.
“Kala marah, Tante! Marah sekali!”
Hanna makin menunduk, dirinya ikhlas menerima kemarahan Kala. Ia berharap setidaknya anak itu punya kesempatan melampiaskan padanya.
“Tante juga jahat sama Buna! Tega-teganya merebut suami orang. Sampai hati membuat Buna disakiti Aya,” seru Kala melepas segenap kemarahannya.
“Kala… “ Qiara mengingatkan. Thoriq mengusap matanya, kejadian malam itu bagai film buruk yang selalu diputar di kepalanya.
“Kala benci sama Tante Hanna, Buna. Kenapa sih Allah menciptakan manusia sejahat dia?”
“Sayang, sudah selesai marahnya?” Qiara terus bicara dengan nada rendah dan lembut.
Kala menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Remaja itu tidak menjawab ibunya. Ia bersandar ke sofa dengan tangan dilipat di dada.
“Maafkan kemarahan anakku.”
“Hanna ikhlas, Mbak …”
“Jadi sekarang kamu tinggal di sini?”
“Ustadzah Nurlaila mengajak Hanna tinggal dan bekerja di sini. Beliaulah yang membimbing Hanna. Tapi … Tapi yang membuat Hanna berubah adalah buku Jalan Tobat, Qur’an, dan perangkat sholat yang Mbak kasih waktu di penjara.”
Thoriq, Devan, dan Kala menatap Qiara dengan heran.
“Butuh bertahun-tahun buat Hanna menyadari semua keburukan yang terjadi adalah buah dari perbuatan Hanna sendiri.”
Hanna tidak berani menatap Qiara.
“Hanna hanya ingin punya kesempatan untuk dimaafkan oleh Mas Thoriq, Qiara, Kala, dan tentu saja Aira. Itulah yang Hanna mohon setiap akhir sholat,” lanjutnya lirih.
Qiara menjawab dengan wajah termenung, “Butuh waktu bertahun-tahun buat Mbak Qia untuk memaafkan Hanna. Apalagi melupakan. Ternyata melupakan itu lebih sulit dari memaafkan.”
Kemudian ia melanjutkan, “Tapi Mbak sudah memaafkan kamu Hanna. Bahwa setiap orang pasti memiliki jalan tobat dan Mbak harap kamu akan bertahan di dalamnya. Kebahagiaan tidak akan sempurna jika kamu menyakiti orang lain.”
“Hanna mengerti sekarang, Mbak. Terima kasih sudah memaafkan Hanna.”
Thoriq memandang sinis ke mantan istrinya sebelum angkat suara, “Tidak semudah itu buat saya untuk memaafkan kamu, Hanna. Perbuatan kamu dulu terhadap saya dan Aira sangat menjijikkan. Saya tidak punya hati seluas samudra seperti Qiara.”
Hanna menelan ludah mendengar ucapan mantan suaminya.
“Hanna, ikhlas, Mas.”
“Tapi kamu bisa mengusahakan untuk Aira. Saya tidak akan menghalangi usaha kamu untuk dekat dengan Aira.”
Sebersit harapan tumbuh di hati Hanna.
“Terima kasih, Mas. Hanna akan buktikan kepada Aira. Dan semoga Mas punya keluasan hati untuk akhirnya memaafkan Hanna.”
“Tante, Kala mau kayak Buna bisa memaafkan, tapi belum bisa. Kala akan maafin kalau bisa membuktikan bahwa Tante beneran sayang sama Aira.”
“In syaa Allah, Kala. Tante akan mohon ampun dan buktikan kalau Tante sayang sama Aira.”
“Hanna, di antara kita sudah tidak ada apa-apa, jadi jangan harap apapun dari saya,” tegas Thoriq.
Hanna mengangguk, cinta menggebu yang dulu dirasakan untuk Thoriq sudah mati berganti dengan rasa malu dan menyesal.
Thoriq melanjutkan, “Saya tidak akan jadi jembatan antara Aira dan kamu. Tapi saya akan coba bujuk Aira untuk kembali ke pesantren karena dari dulu cita-citanya adalah mondok.”
“In syaa Allah saya akan jaga Aira selama di pesantren, Mas.”
Qiara memegang pundak Kala. Anaknya masih menatap curiga tapi tidak lagi berapi-api seperti tadi. Kala memang ekspresif sedari kecil. Ia berani menyatakan pendapat dan perasaannya.
“Udah lega sekarang, Kal?”
“Semoga, Bun. Paling nggak Kala udah liat Tante Hanna dan ngomong langsung.”
Qiara menatap Hanna, lalu berkata, “Hanna, kami pamit. Semoga kamu bisa terus seperti ini.”
“In syaa Allah. Sekali lagi Hanna minta maaf.”
Qiara tersenyum lalu mendekati Hanna. Ia merengkuh dan memeluk hingga Hanna menangis sesunggukan di pundaknya.
“Berusahalah di sisa umurmu untuk jadi ibu yang baik untuk Aira. Dia anak yang baik dan sholihah jangan sia-siakan,” bisik Qiara. Hanna mengangguk. Tekadnya bulat sesulit apapun ia akan menjadi ibu yang baik bagi Aira.
__ADS_1
Thoriq dan Devan kagum terhadap sikap Qiara kepada Hanna. Sementara Kala bersiap di samping Bunanya kalau-kalau Hanna melakukan tindakan aneh-aneh.
Qiara membiarkan Hanna menangis sampai puas di pundaknya setelah itu ia lanjut berkata, “Mbak Qia akan berdoa untuk kamu dan Aira.”
“Hanna juga akan berdoa untuk kebahagiaan Mba Qia dan keluarga.”
“Kami pamit dulu, Hanna. Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam, Mbak.”
Thoriq, Devan, dan Kala mengangguk lalu keluar dari ruangan Ustadzah Ella yang dipinjamkan agar mereka dapat leluasa berbicara.
Hanna tidak mengantarkan tamu-tamunya. Ia masih duduk merenung ketika Ella masuk.
“Bagaimana?”
“Alhamdulillah, Bu. Semoga Allah mudahkan jalan Hanna ke depan.”
“Aamiin … sana berangkat ke rumah sakit. Hape kamu udah bunyi terus, Dokter Dicky telepon sepertinya ada yang urgent.” Ella tidak mau Hanna lama-lama larut dalam kesedihan.
Alis Hanna berkerut, setahu dia hari Minggu tugasnya hanya mencatat barang-barang pembelian non medis selama seminggu.
“Terima kasih, nanti Hanna telepon Dokter Dicky.”
“Hanna, tadi kamu ketemu sama mantan suami? Bagaimana perasaan kamu?”
“Jujur, Hanna saat ini sudah tidak ada rasa apapun untuk Mas Thoriq. Dan beliau pun masih sama.”
“Maksudnya?”
“Masih sangat mencintai Mbak Qia. Hanna tadi mencoba merasakan apakah ada rasa cemburu setiap Mas Thoriq menatap Mba Qia. Tapi nggak ada, Bu. Bahkan Hanna merasa kasian karena Mbak Qia terlihat sangat bahagia dengan Dokter Devan.”
“Kamu selipkan doa untuk kebahagiaan mereka. Setiap kita berdoa baik untuk orang lain, maka malaikat akan berdoa untuk kita.” Ella tersenyum lalu memeluk Hanna. “Anak Ibu, kamu yang baik-baik, ya. Udah sekarang berangkat.”
“Hanna mau wudhu lalu berangkat ke rumah sakit. Pamit, Bu …”
Sementara itu menuju parkiran Devan menggamit Qiara yang berjalan di depan. Sementara Kala melesat lari begitu melihat Liam dan adik-adiknya.
“Aku nggak tau kamu dulu menemui Hanna di penjara.”
“Oh itu …”
“Qiara,” Devan memanggil istrinya dengan penuh penekanan. Tahu betul tabiat istrinya yang tidak mungkin hanya mengunjungi tanpa berbuat apa-apa.
“Qia cuma kasih buku sama alat-alat sholat, kok. Oiya sekalian bayar teman-teman satu sel Hanna untuk mengawasi kelakuannya, yaaa sedikit kasih pelajaran kalau dia aneh-aneh. Lumayan lama juga dia dibully sama mereka,” Qiara terkekeh.
Thoriq dan Devan yang berjalan sejajar langsung berhenti dan saling menatap dengan alis terangkat. Qiara terus berjalan menuju anak-anaknya yang sudah berkumpul di samping mobil.
“Dev … jangan aneh-aneh. Aku nggak mau dengar berita kamu dimutilasi.” Thoriq menatap kagum pada sosok yang terus berjalan dengan santai.
Devan mendecak, tak terima laki-laki lain menatap istrinya dengan pandangan memuja. “Tundukan pandangan atau kita berantem di sini.”
***
Hanna duduk di angkot. Ia masih merenung kejadian tadi siang. Walau Thoriq dan Kala belum sepenuhnya memaafkan, tapi setidaknya mereka memberi peluang dirinya bisa jadi ibu yang baik untuk Aira.
Pesan masuk:
Lama banget. Ini kerjaan udah numpuk.
Hanna membalas:
Maaf, Dokter Dicky. Sudah di angkot. Dua puluh menit lagi sampai.
Dicky menulis:
Oke. Hati-hati di jalan.
Begitu tiba di rumah sakit, Hanna langsung masuk ke gudang setelah mengambil catatan dan barcode label printer. Pekan lalu memang rumah sakit banyak membeli peralatan non medis seperti brangkar, tray, dan banyak lagi.
Dari jauh ia melihat Dicky sedang bicara santai dan bercanda dengan beberapa perawat. Gayanya flamboyan sekali. Dokter Dicky memang jadi primadona pekerja wanita di rumah sakit itu.
Hanna mendengus, “Cabul.”
Di gudang sudah ada beberapa petugas magang.
“Hanna alhamdulillah akhirnya kamu sampai. Tolong handle barang-barang printilan itu ya, kami soalnya sudah setengah jalan untuk barang-barang besar.”
“Siap, Mas.”
Pintu gudang terbuka. Dicky melayangkan pandangan. Begitu melihat sosok yang dicarinya sudah bekerja, ia tersenyum. Hanna tidak melihatnya karena sibuk mencatat dan memberi label.
Ia mengacungkan jempol pada Tunggul yang menyuruh Hanna mengerjakan bagian printilan. Bagian itu adalah yang paling menyebalkan karena itemnya banyak jadi butuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi.
“Rasain, emang aku nggak tau kamu diem-diem masih suka katain aku cabul,” gumam Dicky lalu keluar menuju ruang prakteknya.
Dicky menutup pintu dengan senyum puas di bibir.
Sore hari, Hanna membereskan semua barang-barangnya dan bersiap pulang bersama petugas magang lainnya.
Melewati UGD, ia melihat Dicky sedang tebar pesona dengan para perawat yang nampaknya kesengsem berat dengan bualan yang keluar dari mulut bujang lapuk itu.
“Ckckckck …” Gumamnya sambil terus lewat tanpa menoleh.
Tanpa disadari, begitu Hanna lewat, Dicky menyudahi percakapannya lalu gegas mengintip ke arah Hanna. Matanya menatap punggung wanita bergamis panjang berjalan menjauh.
“Nggak … nggak … dia bukan tipeku.” Dicky menggeleng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
__ADS_1
“Dev, kita nggak apa-apa ya tinggalin anak-anak di hotel cuma sama Kala dan Liam.”
“Cuma semalam, Sayang. Lagi pula Abby dan triplets itu kan nurut banget sama kakak-kakaknya.”
“Kala kurang sabar kalau Barran udah iseng gangguin Hayyan.”
“Udah nggak apa-apa. Sini, senderan di aku.”
Devan menyewa sebuah villa mewah di lereng Gunung Dieng. Villa bernuansa kayu itu menawarkan kehangatan di suhu kisaran 10 derajat Celcius malam itu.
Qiara berjalan mendekati suaminya lalu merebahkan kepala ke dadanya. Mereka duduk di dek menghadap ke perbukitan hijau. Dengan jaket tebal dan selimut serta perapian yang dinyalakan petugas.
Devan merangkul pundak Qiara dan mengecupi pucuk kepalanya.
“Maa syaa Allah pemandangannya,” gumam Qiara.
Devan mencubit dagu Qiara menghadapkan wajah cantik itu ke wajahnya.
“Iya, maa syaa Allah,” jawabnya lalu mendaratkan ciuman lembut ke bibir istrinya.
Qiara tenggelam dalam kehangatan bibir Devan yang belum puas **********. Suaminya makin mengeratkan pelukan dan makin melancarkan serangan tidak hanya ke bibir.
“Devan, Devan sebentar …”
Devan menatapnya dengan pandangan terganggu.
“Aku mau cek anak-anak. Paling nggak Kala, ya boleh dua menit.”
Begitu Devan melonggarkan pelukannya Qiara melesat ke dalam mengambil hape.
Devan tidak mau melepaskan istrinya dengan mudah. Setelah mematikan perapian, ia mengunci pintu dan menutup tirai. Qiara sedang bicara dengan Kala.
“Ternyata Mas Thoriq mengangkut semua anak-anak dari hotel ke rumahnya. Mereka lagi bikin api unggun di halaman belakang. Triplets lagi belajar bikin jagung bakar,” bisik Qiara yang masih mendengarkan laporan Kala.
“Abby lagi belajar bikin pisang goreng sama Bibik dan Aira. Hayyan nggak berhenti makan oncom goreng.”
Devan tersenyum lalu berdiri di belakang Qiara sambil perlahan melepas kerudung yang dipakai istrinya kemudian melepas jaket tebal dan melemparnya sembarangan.
“Dev, bentar …” Bisik Qiara lagi.
“Sekarang sambil nunggu jagung matang, Barran dan Azka lagi tenis meja lawan Thoriq dan Liam.”
“Hmm,” Devan sudah tenggelam di ceruk leher Qiara membuat sekujur tubuh wanita itu meremang.
“Okay, Kala, salam buat adik-adik, ya. Bye.”
Qiara tak sanggup lagi menahan serangan Devan.
“Dev, ih aku lagi dengerin …”
Devan mendorong lembut Qiara ke atas tempat tidur lalu mengungkungnya. Sepuluh tahun lebih mereka bersama dan ia masih terus mendambakan manisnya cinta bersama Qiara.
Mereka sangat mengetahui titik sensitif pasanganya dan tak pernah berhenti mencari spot lain yang bisa menggugah hasrat.
Di sela-sela ciuman panjang dan bernafsu, mereka bertatapan, mengagumi satu sama lain. Qiara mengelus rambut kasar yang tumbuh di sisi rahang Devan lalu menatap netra suaminya yang berwarna coklat.
“Sekarang ya Qia,” pinta Devan. Qiara mengangguk dan merasakan Devan bergerak perlahan. Keduanya menikmati ritme yang mereka ciptakan.
Setelah tuntas, mereka berbaring saling berhadapan, seperti biasa Qiara akan menelusup ke dada suaminya yang hangat.
Devan mengelus pundak mulus Qiara. Mengecupnya beberapa kali.
“Qia, menurut kamu nanti di London, Kala harus melanjutkan terapi kah?”
“Aku rasa lanjut ya. Kasian ternyata Kala sering terbangun malam-malam dan ketakutan.”
“By the way nggak kerasa tahun depan Liam udah kuliah.”
“Iya, Dev … sedih juga dia pilih kuliah di luar kota jadi cuma sesekali bisa ketemu. Dev, beberapa hari lalu ayah kamu bertanya apa aku mau memegang perusahaannya karena beliau mau pensiun.”
“Kamu mau, Sayang?”
“Aku nggak mau terlalu sibuk karena Abby dan triplets masih perlu perhatian. Mungkin beberapa hotel aja yang aku pegang.”
“Menurut aku, kamu bisa pegang hotel dan restauran yang head office-nya di London. Untuk yang Australia sepertinya Daddy akan menyerahkan ke sepupuku, Austin.”
“Kamu nggak keberatan jatahmu dipegang Austin?”
“Sayang, tanpa itu semua kita sudah lebih dari cukup. Pendidikan anak-anak juga sudah terjamin dan aku sudah siapkan dana yang bisa cair jika mereka berumur dua puluh lima tahun. Sangat memadai untuk mereka memulai hidup mandiri.”
“Austin itu yang Desember pernah visit ke London?”
“Betul, hati-hati dia playboy.”
“Berondong.”
Devan melihat Qiara yang di usia hampir menginjak empat puluh tahun masih terlihat muda.
“Just be careful, cukup aku cemburu sama Thoriq, nggak usah nambahin Austin.”
“Kok bawa-bawa Mas Thoriq? Kenapa dia?”
Devan tidak menjawab namun sejujurnya ia tahu mantan suami Qiara itu masih belum bisa move-on dan sering mencuri pandang ke istrinya.
“Pokoknya kamu punya aku, titik.”
Devan kembali mengungkung Qiara dan menciumi wanitanya. Kembali mereka mereguk manisnya cinta malam itu hingga tubuh lelah mereka saling memeluk untuk memberikan kehangatan.
“I love you, Dev. Nggak usah cemburu sama siapa-siapa. I’m forever yours.” Qiara mengecup lembut ujung hidung mancung suaminya.
__ADS_1
***