
Thoriq berada di mobil yang terparkir di basement apartemen yang dihuni bersama Hanna.
Hari ini ia memperpanjang cuti satu hari untuk mencari Qiara.
Ia mendatangi sahabat-sahabat istrinya di tempat kerja mereka. Tidak ada satu pun yang mau menemui dengan berbagai alasan. Thoriq menelpon para suami sahabat istrinya untuk menanyakan apakah istri mereka bercerita tentang Qiara. Mereka mengatakan tidak ada berita tentang Qiara.
Thoriq bahkan mendatangi tempat tinggal mereka, menanyakan pada ART apakah ada Qiara di sana. Hingga akhirnya memutuskan untuk menunggu Dhanu selesai praktek. Namun satu-satunya kakak istrinya itu tidak berhasil ditemui.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke apartemen.
Thoriq membuka hapenya, mencari foto dirinya bersama Qiara. Pria itu menatap wajah istrinya dengan sendu. Tak terbayangkan ada rasa sesakit ini. Dadanya sesak memikirkan tidak bisa lagi bertemu Qiara, mendengar celoteh riangnya, tidak bisa memeluk tubuhnya.
Kehadiran Hanna dan janin di perutnya tidak akan bisa menggantikan cintanya yang hilang. Qiara-lah yang membuatnya hidup dan memiliki harapan.
Thoriq berpikir tentang bagaimana ia harus bersikap pada Hanna. Wanita yang kini tengah mengandung anaknya. Thoriq harus menahan marah karena kondisi Hanna.
Betapa besar kekecewaan pada Hanna dan dirinya sendiri. Di saat ia mulai membuka hati, di saat benihnya bertumbuh di rahim wanita yang belum sepenuhnya ia cintai, kini Thoriq kenyataan bahwa Hanna-lah yang membuat Qiara pergi.
Dengan tidak bersemangat, Thoriq keluar dari mobil. Langkahnya gontai menuju apartemen yang ditinggalinya bersama Hanna.
“Assalamualaykum,” sapanya kepada Hanna yang sedang duduk menonton TV.
“Waalaykumussalam Mas.” Hanna terkejut karena hari ini seharusnya Thoriq menginap bersama Qiara.
Papa datang Nak,” ucap Hanna sambil mengusap perutnya.
Ia melongok ke belakang Thoriq, berharap ada Qiara di sana. Sebuah kemenangan mutlak jika kakak madunya minta maaf di hadapan suami mereka.
Tidak menemukan yang dicari Hanna berpikir Qiara memutuskan untuk bercerai karena tidak bisa menerima kehamilan. Terlebih lagi wajah Thoriq nampak kusut.
“Apapun, yang penting aku nggak perlu berbagi suami lagi dengan Qiara,” batinnya kegirangan.
“Gimana sama Mbak Qia, Mas?” Hanna tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya.
Thoriq berusaha meredam emosi, membuat nada suaranya datar dan biasa saja. Ia terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Hanna sedang hamil anaknya.
“Hanna, Mas masih capek, mbo’ ya disuruh duduk dulu, ditawarin minum.”
“Aku malah nungguin Mas bikin susu buat aku,” balasnya dengan manja.
Thoriq menghela napas.
“Nanti Mas bikinin, sekarang Mas mau mandi dulu.”
“Ih Mas, Hanna udah nunggu-nungguin. Terus kenapa sekarang nggak dicium?”
“Kamu juga sebagai istri kalau suami datang, cium tangan lah. Disiapin minum, cemilan. Hamil atau tidak hamil, kewajiban istri adalah melayani suami.”
Hanna memberengut. Baginya, suamilah yang harus memanjakan dan melayani istri, apalagi sedang hamil.
“Iya, iya Hanna bikinin kopi. Mas mandi dulu gih. Aku pesenin martabak depan apartemen, Hanna juga lagi pengin, daripadi debay ngiler.”
Hanna jinjit mengecup bibir suaminya. Thoriq tidak membalasnya.
“Hanna pengin tiap kali pulang Mas cium Hanna dan debay. Sekarang Hanna ke depan dulu ya. Kalau ditelpon babangnya suka lama.”
“Iya,” jawab Thoriq datar lalu berjalan ke kamarnya.
Pria itu menghela napas, melihat kamar yang sangat berantakan. Bungkus makanan bertebaran, selimut yang tidak dirapikan, belum laginremah makanan dan gelas yang sudah dipakai dimana-mana.
Berbeda dengan kamar di rumah Qiara yang tertata rapi.
Thoriq melihat apakah ada baju yang sudah disiapkan untuknya. Sekali lagi menahan kekecewaan Thoriq mengambil pakaian dari lemari dan masuk ke kamar mandi.
Gelombang kenangan bermunculan. Thoriq mengingat bagaimana Qiara selalu menyambutnya jika ia pulang terlambat karena lembur.
Jikapun mereka pulang bersama, Qiara akan segera menyiapkan air mandi, pakaian, membuatkannya kopi dan menyiapkan cemilan. Baru setelah itu istri pertamanya membersihkan diri.
__ADS_1
“Qia, dimana kamu?” Ucapnya lirih.
Di kamar mandi, Thoriq membasahi tubuhnya. Beginilah hidupnya sekarang. Kehilangan wanita yang ternyata masih sangat ia cintai dan harus hidup dengan istri manja yang ingin selalu diperlakukan sebagai ratu.
Pria itu berdiri lama di bawah shower. Air mata membasahi wajah, berulang kali ia meninju tembok dengan tangan yang luka-luka. Tangan yang dipakai untuk menampar Qiara.
Thoriq mendengus, “Bahkan tangan suaminya luka, Hanna sedikit pun tidak memberi perhatian. Baginya melihat Qiara datang untuk minta maaf lebih penting.”
“Mas, kok lama banget di kamar mandi? Hanna laper, makan duluan, ya. Atau mau ditemenin mandinya?” Suara Hanna terdengar menggoda dari balik pintu kamar mandi.
“Mas udah mau selesai, Hanna.” Sesungguhnya Thoriq masih ingin berlama-lama di kamar mandi. Berharap air panas yang menyentuh kulitnya dapat menghilangkan rasa sesal.
Hanna kembali ke ruang TV untuk menyantap martabak telur bebek. Thoriq masih belum mau beranjak dari pancuran.
“Kamu pasti selama ini sakit banget, Qia. Tapi aku yakin kamu pasti mau bertahan jika … jika aku bisa menjagamu malam itu.” Sekali lagi Thoriq memukul dinding dengan tangan kanannya. Di bawah guyuran air, air mata pria itu membasahi wajahnya.
Setelah beberapa saat, dengan malas Thoriq mengambil handuk, mengeringkan tubuh lalu memakai pakaiannya. Ia keluar mendapati Hanna sudah memakan hampir semua martabak yang dibelinya.
“Mas lama sih di kamar mandi, jadi tinggal dikit deh martabaknya. Hanna laper terus.”
“Habisin aja Hanna,” sahut Thoriq tidak peduli.
“Siap, Papa,” sahutnya kembali menirukan suara anak kecil. Thoriq menggelengkan kepalanya.
Ia mencari secangkir kopi.
“Hanna, kopi Mas mana?”
“Oiya tadi mau bikin malah lupa. Mas bikin aja sendiri ya, sekalian bikinin susu aku.”
Thoriq tidak menjawab, pria itu membuatkan kopi untuk dirinya lalu susu hamil untuk istrinya.
“Ini Hanna.”
“Nah, makasi Mas. Hanna sebenernya nggak doyan susu tapi kalau Mas bikinin Hanna mau minum.”
“Mas tadi gimana sama Mba Qiara?”
“Mas belum ketemu.”
“Loh kok gitu? Mbak Qiara itu udah jahat sama Hanna dan janin kita. Harus dikasih peringatan. Hanna nggak mau Mba Qia sakitin Hanna lagi ke depannya.”
Thoriq tidak tahu harus berkata apa agar tidak meledak. Ada janin yang harus dijaga, tapi ada istri yang harus dididik.
“Mas tahu siapa yang jahat. Nggak usah diingetin lagi. Hanna, Mas capek banget. Tolong kasih waktu Mas buat santai-santai.”
Bukannya membiarkan suaminya istirahat, Hanna malah duduk di pangkuan suaminya. Wajahnya berhadapan dengan wajah Thoriq. Senyumannya menggoda.
“Sini Hanna bikin rileks.”
“Hanna bukan kayak gini cara bikin suami istirahat.”
Hanna memberengut.
“Mas kenapa sih? Tiap ada urusan sama Mbak Qia pasti terus jahat sama Hanna, kemaren-kemaren Mas udah sayang.”
Thoriq benar-benar frustasi. Dadanya hampir meledak menghadapi istri manja yang tidak mau memahami suami. Istri yang telah melontarkan fitnah keji pada Qiara. Istri yang telah membuat dirinya kehilangan satu-satunya wanita yang dicintai.
“Hanna tolong siapkan Mas makan malam ya. Mas laper.”
Dengan kesal Hanna turun dari pangkuan Thoriq. Mengambil bungkusan nasi padang tanpa membawakan piring, sendok, dan garpu.
“Mas makan duluan deh, Hanna masih kenyang.”
Thoriq berjalan ke pantry, mengambil peralatan makan. Hanna sudah duduk lagi di depan TV sambil mengunyah remah-remah martabak yang tersisa di bungkusan.
Di meja makan Thoriq makan sendiri. Pria itu harus berusaha untuk menelan setiap suapan.
__ADS_1
Tenggorokannya tercekat mengingat Qiara yang kini entah dimana. Apakah ia dalam keadaan baik? Apakah sakit di perutnya sudah hilang? Banyak pertanyaan muncul di benak Thoriq.
“Mas, aku masih kepikiran Mbak Qia. Walau dia istri Mas, tapi Hanna nggak terima atas perlakuannya.”
Thoriq membuang bungkus nasi padang, lalu mengambil hape dari tasnya. Dirinya sudah tidak tahan mendengar Hanna yang bertingkah sok suci dan terus memfitnah Qiara.
“Hanna, Mas ingin kasih liat sesuatu.” Suara Thoriq terdengar tercekat.
Hanna menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
Setelah Thoriq menyambung hapenya ke TV, di layar muncul rekaman CCTV kejadian di rumah Qiara.
Hanna pucat pasi.
Thoriq menyaksikan lagi setiap detik dimana Hanna sengaja menuduh Qiara kemudian dirinya yang menolak mendengar penjelasan Qiara lalu bertubi-tubi menyakiti istrinya. Rekaman berlanjut sampai Qiara digotong oleh para tetangga, tak sadarkan diri, dengan wajah seputih kertas.
Setelah selesai, Thoriq mematikan TV. Tidak berkata apa—apa.
Dengan panik Hanna berusaha membela diri, ”Mas itu editan. Hanna beneran didorong oleh Mbak Qiara! Perut Hanna memang sakit banget!”
Dengan tenang Thoriq memutar lagi rekaman. Hanna menggelengkan kepalanya menolak untuk menonton.
“Nggak Hanna nggak mau liat. Hanna mau di kamar. Hanna pikir Mas sayang sama Hanna dan janin kita. Nyatanya Mas malah bersekongkol sama Mba Qiara untuk memfitnah Hanna!”
“Duduk Hanna.”
Hanna gegas ke kamar. Thoriq menghadangnya, menatap Hanna dengan tatapan yang sulit dijelaskan hingga membuat Hanna ketakutan.
“Mas bilang duduk dan tonton lagi video itu detik demi detik. Kasih tau Mas dimana ada kejadian yang diedit? Perempuan licik! Pantas saja dokter-dokter tidak menemukan apapun, ternyata kamu pura-pura!”
Thoriq menyuruh istrinya duduk di depan TV. Kali ini Hanna tidak berani membantah.
Sekali lagi mereka menonton rekaman kejadian. Tangan Thoriq terkepal. Wajahnya merah menahan marah.
Hanna meraih tangan Thoriq yang masih diam mematung menatap layar kaca yang menampilkan wajah Qiara yang pucat seperti kehilangan darah.
“Mas … Mas dengerin Hanna. Semua bisa dijelasin. Hanna ngelakuin ini karena nggak pengin berbagi Mas Thoriq dengan Mbak Qia. Apalagi sekarang kita akan segera punya anak. Buah cinta kita. Hanna lebih berhak atas Mas Thoriq karena Hanna sudah hamil. Hanna pengin Mbak Qia ngerti itu, Mas. Hanna cinta banget sama Mas Thoriq.”
Thoriq berusaha mengendalikan dirinya.
“Buah cinta kaubilang? Mas belum mencintaimu Hanna. Mas berusaha mengenal kamu lebih jauh, berdamai dengan kenyataan kamu juga istri Mas. Tapi apa? Kamu malah memfitnah Qiara, membuat Mas menampar dan mendorong Qiara? Itu mau kamu, Hanna?” Sentak Thoriq.
“Tapi Hanna nggak nyuruh Mas menyakiti Mbak Qiara!”
Thoriq berusaha keras mengendalikan emosi. Ada janin yang harus dijaga. Tubuhnya bergetar, matanya menatap tajam ke arah Hanna.
“Mas nggak nyangka kamu setega itu Hanna. Dibalik kepolosanmu ternyata kamu adalah wanita licik dan manipulatif yang membuat Mas menyakiti satu-satunya wanita yang sangat Mas cintai. Kamu ingat, ya. Mba Qiara adalah satu-satunya wanita yang Mas cintai dan akan terus demikian.”
“Mas!”
Thoriq menatap Hanna dengan pandangan dingin.
“Buat Mas, kamu adalah kewajiban yang harus Mas tunaikan. Tidak lebih. Mas akan mencintai bayi dalam kandunganmu. Dan jangan coba-coba berbuat aneh-aneh yang membahayakan bayiku. Karena kalau sampai ada apa-apa, baik kamu sengaja atau tidak. Mas tidak akan ragu menceraikan kamu. Mas sudah tidak peduli lagi dengan janji ke Kakek dan Nenek.”
Thoriq berusaha keras untuk tidak menampar Hanna seperti ia menampar Qiara.
Air mata Hanna berlinang-linang. Hancur sudah semua usahanya untuk merebut cinta Thoriq. Dengan lembut Thoriq menghapus air mata dari wajah Hanna.
“Jangan sedih, nanti bayiku sedih. Oya satu lagi. Pekan ini adalah giliran Mas di rumah Mbak Qiara. Walau istri Mas sudah pergi, tapi Mas masih tetap akan menginap di sana. Kamu baik-baik di sini. Jaga bayiku.”
Sambil terisak Hanna berkata, “Bayi kita, Mas.”
“Bayiku. Tidak ada lagi kata kita. Seperti yang sudah Mas bilang tadi bahwa kamu hanyalah sebuah kewajiban yang harus Mas tunaikan. Jangan berharap lebih.”
Thoriq lalu keluar apartemen. Meninggalkan Hanna yang tergugu. Ia melangkah keluar tak memedulikan tangis dan ratapan Hanna.
***
__ADS_1