Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Tanpa Qia


__ADS_3

Thoriq masuk ke dalam rumah yang dihuninya bersama Qiara. Rumah yang dibangun dari kerja keras berdua.


Awalnya Thoriq ingin membeli rumah lebih besar yang tidak perlu renovasi. Qiara mengusulkan untuk membeli rumah lebih kecil namun masih bisa dirombak sedikit-sedikit hingga sesuai kemauan mereka.


Mereka jatuh cinta pada rumah ini. Letaknya di tengah perumahan dengan jendelanya besar-besar sehingga setiap ruangan selalu terang dengan cahaya alami. Qiara memakai keahliannya, merombak sedikit di sana-sini, memilih tema kayu-kayu yang membuat suasananya nyaman dan homey. Rumah mereka sering menjadi contoh hunian mungil di majalah interior.


Kini Thoriq melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah kehilangan jiwa. Tidak ada lagi Qiara yang menyambutnya dengan senyuman. Tak ada lagi tawa renyah Qiara. Sepi. Semua ruang terasa dingin.


Melangkah gontai, Thoriq masuk ke dalam kamar. Melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Thoriq meletakkan tubuhnya di sisi pembaringan Qiara.


Ditariknya selimut, dibenamkan wajahnya ke bantal, mencium sisa aroma lotion istrinya yang masih melekat. Thoriq membayangkan malam-malam Qiara sendiri di sini, menahan sakit dan kecewa, merelakan suaminya berbagi ranjang dengan perempuan lain.


Thoriq teringat netra Qiara yang menahan kepedihan hati setiap melihat kissmark yang sengaja ditinggalkan Hanna di tubuhnya. Thoriq kemudian berusaha mendekap Qiara dan dengan ikhlas istri pertamanya kembali melayani dengan sepenuh hati. Memberikan kenikmatan dengan luka yang takkan pernah sembuh.


Qiara yang merelakannya untuk pergi ke Hanna dan menyambutnya kembali jika sudah tiba gilirannya. Thoriq mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu teringat betapa terusiknya saat melihat dua pria memandang Qiara. Hanya memandang, dia sudah begitu cemburu. Bagaimana dengan Qiara yang merelakan suaminya bercinta dengan Hanna.


“Qia, Qia, maafin Mas yang udah nyakitin kamu sedemikian dalam. Mas ingin ketemu buat memohon ampun.”


Thoriq menggapai hapenya yang diletakkan di nakas. Ia menelepon Qiara, meninggalkan ribuan pesan di sana.


Kemudian ia menelepon Dhanu yang selalu menolak panggilannya. Hampir gila Thoriq karena mengkhawatirkan keadaan Qiara.


Thoriq terus menghubungi sahabat-sahabat Qiara dan tidak ada satu pun yang mengangkat teleponnya. Thoriq berharap Qia bersama salah satu dari mereka.


Dengan tangan gemetar, Thoriq mencari nomor telepon saudara-saudara Qiara. Satu persatu ia menghubungi mereka tanpa hasil.

__ADS_1


Thoriq menangis meratapi perbuatannya. Berita kehamilan Hanna membuat dirinya ingin melupakan Qiara yang juga membutuhkannya. Rasa sayang yang mulai timbul untuk Hanna membutakan dirinya terhadap Qiara.


“Bagaimana mungkin aku percaya kalau Qia akan menyakiti Hanna? Kemudian aku menamparnya dan mendorongnya sekuat tenaga. Ya Allah. Sungguh dzolim diri ini.”


Thoriq memeluk guling Qiara erat-erat. Mengandaikan itu adalah istrinya.


“Jika Allah mengembalikan kamu pada Mas, nggak akan pernah Mas sakitin kamu lagi. Mas akan jagain kamu Qia…” Air mata membasahi guling, Thoriq terus menangis merindukan sosok yang sudah pergi menjauh.


***


Selama dua minggu sepulang kantor, Thoriq mencari Qiara. Pria itu menandatangi rumah sahabat-sahabat Qiara. Terkadang di antara kunjungan ke proyek, ia mampir ke kantor mereka. Entah sudah berapa kali ia diusir oleh security.


Dhanu tidak dapat ditemui. Menurut perawat, dokter itu mengikuti seminar di luar negeri. Thoriq mendatangi apartemennya, dan mendapatkan jawaban yang sama.


Kehidupannya dengan Hanna menjadi lebih hambar dari sebelumnya. Hanna hanya bisa menatap suaminya yang berdiam diri di sofa sambil terus mencari-cari tahu tentang Qiara.


Hanna pernah memohon agar Thoriq menyentuhnya. Hatinya terlonjak ketika Thoriq menggandengnya ke kamar. Dan mulai menyentuhnya. Hanna menikmati semua yang dilakukan Thoriq kepadanya.


Hanna sangat bahagia, menyangka Thoriq akhirnya menyerah mencari Qiara dan kembali padanya.


Harapannya terhempas karena begitu kewajibannya selesai, Thoriq langsung meninggalkannya. Tidak ada pelukan dan kecupan mesra. Hanna menatap punggung suaminya yang keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Mas, temenin Hanna,” pintanya.


“Mas sudah menyelesaikan kewajiban memberi nafkah batin. Tidurlah.”

__ADS_1


Hanna putus asa. Tidak ada kehangatan yang sempat dirasakannya. Wajahnya datar dan pria itu kembali sibuk dengan hapenya mencari Qiara.


“Mas!” Bentak Hanna.


Thoriq meletakkan hapenya, berjalan ke arahnya, menatapnya dingin.


“Barusan kamu bentak Mas?” Nada suaranya lembut namun membuat Hanna bergidig. Netra suaminya yang dingin menghujam ke netranya menembus ke hati. Sungguh ia tidak menyangka Thoriq memiliki sisi mengerikan seperti ini.


“Maaf, Mas.”


Thoriq tidak berkata apa-apa. Terus menatapnya dengan tajam dan dingin.


Hanna menundukkan kepalanya dan kembali ke tempat tidur. Thoriq menutup pintu lalu kembali ke kesibukannya mencari Qiara.


Di kamarnya Hanna terisak.


“Aku hanya ingin cintamu, Mas. Tidak bisakah kamu mencintaiku sedikit saja?” Isaknya pelan, khawatir Thoriq mendengar perkataanya.


Di luar Thoriq berselancar di media sosial, mencari jejak Qiara. Seluruh media sosial Qiara telah di non-aktifkan. Thoriq mencari di media sosial teman-temannya. Bahkan teman yang jarang ditemui.


Hatinya pilu mengakui pencariannya tanpa hasil.


“Dimana kamu Qia?”


Malam itu ia merenungi kembali setiap kata yang ditulis Qiara. Setiap kata yang dituliskan dengan penuh kepedihan.

__ADS_1


***


__ADS_2