
Nadine tak berkedip melihat betapa gagahnya Devan di pesta donatur. Memakai setelan tuxedo hitam dan kemeja putih. Mata dan senyumnya ramah menyapa para tamu yang merupakan konglomerat penyumbang dana rumah sakit.
Malam itu mereka berdua menjadi bintang. Pihak rumah sakit berencana melebarkan departemen obgyn. Devan dan Nadine diminta menjelaskan keberhasilan mereka saat membantu persalinan quintuplets.
Nadine kemudian menempatkan dirinya di samping Devan saat melihat pria pujaannya tidak membawa istri. Ia mengikuti kemana Devan bergerak dengan dalih menjalankan tugasnya.
Devan menjaga jarak dari Nadine yang nampak sekali ingin terlihat akrab dengannya.
Beberapa donatur nampak terpesona melihat Nadine. Malam itu ia memakai gaun hitam rancangan perancang muda Nensi Jodaka.
Nadine yang masih terbilang muda dibanding rekan-rekan sejawatnya nampak elegan. Rambut coklat bergelombang terurai indah melewati bahu yang sedikit terbuka. Kulitnya kecoklatan hasil tanning di salon termahal di kota London.
Sebagai laki-laki, Devan bukannya tidak menyadari kecantikan Nadine. Tapi dia menarik batas tegas antara mahram dan non mahram. Ia lebih sering menundukkan pandangan, menjaga diri dari napsu yang datang diam-diam.
Istri dan anak-anak yang ia miliki adalah kebahagiaan yang hakiki. Ia tak perlu seorang Nadine atau siapapun yang bisa merenggut dan menghancurkan.
Sepanjang malam, Nadine berusana menarik perhatiannya. Devan tegas pada sikapnya dan terus mengabaikan.
Hingga tiba saatnya seorang petugas panggung memanggil Devan dan Nadine untuk bersiap. Mereka akan memberikan ulasan singkat mengenai kasus terbaru yang mereka tangani lalu ke rencana pengembangan divisi obgyn.
Sebelum naik ke panggung, Nadine hendak melingkarkan tangannya ke lengan Devan. Santun tapi tegas, Devan gesit menghindar dan langsung memasuki area panggung.
Nadine mendengus kesal. Ia memasang senyum terbaiknya saat memasuki area panggung.
Tanpa diketahui Devan, Qiara yang awalnya memutuskan tidak hadir karena Hayyan rewel akhirnya tiba di auditorium tepat saat Devan dan Nadine memasuki panggung.
Tidak jadi memakai busana dari Alexa namun memakai baju rancangan desainer batik senior dari Indonesia. Dengan senang hati Iwan T membuat desain terbaik untuk istri Devan Donavy. Pewaris tunggal Donavy Group. Hanya dalam waktu singkat, gaun diterbangkan bersama beberapa penjahit andalannya jika diperlukan alterasi.
Qiara menatap wajah Nadine yang tanpa cela. Nampak sekali wanita itu mengincar suaminya. Qiara berdiri di samping pintu yang tidak terlihat dari arah panggung.
Ia mendengarkan presentasi Devan dan Nadine. Mengagumi kecerdasan suaminya, tak sabar bercinta dengannya nanti malam.
Selesai presentasi, Devan dan Nadine kembali ke belakang panggung. Qiara menyusul karena ingin memberikan kejutan. Tak sulit bagi mantan interior designer untuk mencari lokasi pintu menuju belakang panggung.
Ia melihat Devan berjalan di depan Nadine yang berusaha menyusulnya.
Qiara menyalakan video. Devan belum melihat karena sibuk memasukkan Q-Card ke kantung bagian dalam tuxedo.
Wajah Qiara sumringah siap menghambur ke sang suami ketika Nadine lari ke samping Devan. Dalam sekejap, tangannya melingkar di leher Devan kemudian menarik wajah tampan itu ke arahnya. Bibir Nadine sedikit terbuka siap menerima ciuman dari Devan.
Langkah Qiara terhenti, senyumnya hilang. Tulang-tulangnya hampir copot tak menyangka sekali lagi akan merasakan suaminya dicuri wanita lain.
Devan berhasil mengatasi keterkejutannya lalu menghindar dari bibir Nadine yang hanya berjarak sesenti.
“Nadine! What the hell?”
“Ah, you wanted it too, I can tell.”
__ADS_1
“No! Kamu wanita sakit, Nadine! Sakit. Jauh-jauh dari saya. Sungguh menyedihkan.”
Devan melangkah untuk menjauhi Nadine, sementara Qiara bersembunyi di balik cerukan. Tangannya gemetar namun tetap mengambil video Devan dan Nadine.
“Aku? Menyedihkan? Yang menyedihkan itu istrimu, sudahlah badan tidak terurus, rambut acak-acakan, jorok. Apa kamu tidak sumpek disuguhi pemandangan seperti itu setiap hari?”
Devan menghentikan langkahnya. Hanya memiringkan badannya ia menjawab dengan suara menahan geram.
“Istriku, Qiara, menghabiskan setiap detik dari dua puluh empat jam yang ia miliki, tujuh hari dalam seminggu, tanpa libur, untuk menjaga anak-anakku. Paham? Kau tau, setiap pulang kantor aku menantikan untuk melihatnya dengan rambut dicepol ke atas, baju rumah longgar, kadang ada noda di sana-sini karena Abby sedang bereksperiman dengan makanannya.”
Devan membayangkan istrinya, lalu melanjutkan, “Enam anak, Nadine, dia tangani hampir semuanya sendiri. Para pengasuh anak-anakku bahkan mengeluh karena mereka tidak banyak melakukan pekerjaan. Tiap malam, istriku bangun untuk menyusui. Ia duduk di kursi goyang dekat jendela, bersenandung doa-doa. Aku pura-pura tidur tapi aku menikmatinya. Pemandangan terindah.”
Air mata menggenang di pelupuk Qiara.
“So, jika kamu berpikir dapat membuatku tertarik padamu? Buang jauh niatmu. Aku sepenuhnya milik Qiara dan dia adalah milikku. Jangan dekat-dekatku malam ini, terlalu jijik aku melihatmu.”
Devan melanjutkan langkah, kemarahannya membuat ia melewati Qiara yang masih bersembunyi.
Video masih berjalan, Qiara bisa mendengar jelas ucapan Nadine, “Aku akan menghancurkanmu Devan. Tak akan aku berhenti sampai kau memohon padaku.”
Nadinr menoleh ke sampingnya. Dia menarik seorang petugas kebersihan rumah sakit yang ternyata stand by di dekatnya. Perempuan bertubuh kecil itu gemetar.
“Kamu akan membantuku menghancurkan laki-laki itu! Atau kamu akan dipecat dari rumah sakit ini. Kau ikuti kata-kataku bahwa Devan Donavy melecehkanku di sini. Kamu dengar itu?”
Nadine mencengkeram lengan petugas kebersihan. “Siapa namamu?”
“Patricia Jenkins, dokter. Please jangan pecat saya.”
“Nadine, kamu nggak tau berhadapan dengan siapa …” Qiara menatap Nadine dengan pandangan yang sulit diartikan.
***
Qiara ke luar setelah Nadine dan Patricia yang masih ketakutan meninggalkan area belakang panggung. Dirinya mengintip memastikan tidak ada yang melihatnya.
Nadine sudah kembali ke auditorium. Devan membuang muka begitu melihat wanita gadir berjalan ke arahnya.
Memasang wajah sebal, Devan beranjak menjauhi Nadine ketika ia merasa pundaknya ditepuk.
Kemarahan Devan memuncak, ia berbalik hendak memberi pelajaran. Persetan dengan karir tapi baginya Nadine adalah gangguan stadium akhir.
“Hai, Sayang … aku akhirnya datang.”
Wajah Qiara menatapnya lembut.”
“Qia …” Refleks Devan memeluk lalu memberi ciuman panjang. Tamu-tamu di sekitarnya tertegun melihat Devan mencium seorang wanita berkerudung.
Nadine terbelalak, kini dia yang merasa tulangnya luruh.
__ADS_1
Devan menangkup tangannya ke wajah Qiara. Matanya lekat menatap manik hitam istrinya.
Menyadari keheranan teman dan para tamu, Devan mengenalkan Qiara.
“Sorry for our show, everyone, this is my lovely wife, Qiara Anjani. Maaf istri saya jarang ke rumah sakit. Maklum kami punya enam anak di rumah,” ujarnya sambil terkekeh.
Qiara melingkarkan tangannya ke lengan Devan. Dirinya memang sengaja memotong jalur Nadine sehingga lebih dulu sampai ke suaminya.
Para tamu dan kolega berebut berkenalan dengan Qiara. Para kolega hanya melihat Qiara melalui foto yang dipajang Devan di ruangannya.
Gaun rancangan Iwan T menyita perhatian. Banyak yang tertarik dan menanyakan. Lebih dari itu, Qiara punya pesona bagaikan magnet yang menarik orang untuk mengenalnya lebih jauh.
Devan sangat bangga dengan istrinya, tangannya melingkar ke pinggang Qiara yang kini sedikit berisi. Ia tidak mempermasalahkan, istrinya telah melahirkan satu putri dan tiga anak kembar. Baginya Qiara adalah wanita tercantik.
Berulang kali Devan mengecup kening Qiara membuat Nadine yang menatap dari jauh merasa jengah. Tersingkir dan harus minggir, Nadine memutuskan untuk pulang lebih awal.
Di perjalanan pulang, Devan terus mencium Qiara. Driver menutup pembatas antara tempat duduknya dengan tempat duduk penumpang, memberikan privasi pada sepasang manusia.
Qiara yang tersentuh dengan perkataan Devan saat membelanya di hadapan Nadine memberikan ciuman panjang dan nikmat. Keduanya tak sabar tiba di rumah untuk melanjutkan ke permainan yang lebih mengasyikkan.
“Sayang, janji ya, kamu jadi milik aku selamanya,” pinta Devan lirih.
“In syaa Allah …” Qiara mengarahkan tangan Devan ke dadanya. Walau terhalang gaun, tak menjadikan Devan gagal memberikan kenikmatan di setiap sentuhan di tubuh Qiara.
Tangan Qiara bergerilya menuju pusaka Devan. Yang sekali sentuh langsung siap siaga mengempur. Di dalam mobil yang melaju, diiringi hujan rintik yang membasahi kota London, Qiara dan Devan melepaskan hasrat hingga sampai di titik tertinggi.
Tepat di depan rumah, mereka telah kembali duduk rapi dengan tangan saling bertautan.
“I love you, Dev …” Ucap Qiara dengan napas masih terengah.
“Jangan lope-lope dulu, di kamar kita selesaikan ronde-ronde berikutnya.”
“Ay ay, captain,” balas Qiara menirukan gaya Kala.
***
Sudah beberapa hari ini Devan pulang lebih awal. Tak seperti biasanya, Devan nampak lebih diam dan banyak berpikir.
Qiara memandang suaminya.
“Mungkinkah Nadine menjalankan rencananya?” Tanya Qiara dalam hati. Bahkan saat Abby menggapai tangan ayahnya minta dipangku, Devan nampak tak peduli dan sibuk dengan pikirannya.
Tak hanya itu, Devan nampak tegang beberapa hari dan ketika Qiara bertanya, ia memilih berkelit.
Malam hari, Devan memilih tidur lebih awal, sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi karena mereka selalu mengobrol hingga berlanjut ke kegiatan panas.
Ada ketakutan yang muncul di hati Qiara. Apakah memang Nadine menjalankan rencananya atau justru Devan yang akhirnya kalah dan memilih menjalin hubungan terlarang.
__ADS_1
Tak terasa, air mata mengalir turun. Rasa sakit atas pernikahan Thoriq dan Hanna begitu membekas. Apakah dirinya harus sekali lagi merasakan kepedihan yang sama?
***