Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Aku Benci Mereka


__ADS_3

“Mas Kala, lagi sibuk? Aira pengin ngobrol.”


Kala mengangkat bantal yang menutup setengah wajahnya. Sejak mendengar penuturan Thoriq, ia sedikit lebih diam dan menarik diri. Bahkan Liam tidak berhasil mengembalikan keceriaan Kala seperti biasanya.


Adiknya ragu-ragu untuk masuk kamar melihat wajah Kala yang datar saja.


Akhirnya Kala duduk. “Sini, Dek.”


“Mas … Aira bingung mesti gimana?”


“Aku juga, Ai. Mas nggak nyangka Buna dulu semenderita itu. Mas pengin benci kamu, Mama kamu, dan Aya. Beneran. Mas marah sampai ke ubun-ubun.”


“Mas mau benci Aira?” Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar.


“Maunya. Kamu penyebab Aya nggak bisa adil sama Buna.”


“Enggak, Kala. Jangan benci Aira. Benci aja Aya yang sudah dengan lemah mengiyakan untuk menikah dengan Mamanya Aira. Aya ikhlas. Aira nggak ngerti apa-apa. Please Kala, kamu harus tetap sayang dan jagain Aira, ya, Nak.”


Thoriq tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu, terkejut mendengar ucapan anaknya.


Dengan sinis Kala menjawab, “Kala nggak mau liat Aya. Sebenernya Kala mau pulang. Tapi Kala tau kalau pulang sekarang pasti Buna bingung. Tapi Kala bersyukur Buna pergi dari Aya sehingga bisa bertemu Daddy yang tidak pernah sedikit pun menyakiti Buna. Bersama Daddy, Buna bahagia.”


Kala meninggalkan Thoriq dan Aira yang menatap punggungnya dengan tatapan hampa.


Setengah berlari Kala menuruni tangga dan keluar dari rumah Ayahnya. Terlalu banyak luapan emosi masa lalu yang harus dicerna anak berumur empat belas tahun.


Kala berjalan menuju taman lalu duduk di ayunan. Hapenya berbunyi.


“Assalamualaykum, Buna, apakabar?” Sahutnya dengan suara bergetar.


“Waalaykumussalam, Buna baik, sayang. Kala kenapa?”


“Barusan Aya telepon Buna?” Kala mendengus kesal.


“Enggak, tapi feeling Buna udah beberapa hari ini nggak enak.”


“Buna, sekarang Kala tau alasan kenapa Buna pergi dari Aya. Ternyata Aya jahat, Mamanya Aira juga jahat.”


Qiara menghela napas, ia melihat sorot kekecewaan di mata putranya. Dirinya tahu lambat laun kejadian malam itu akan terungkap.


“Memang itu hal yang sangat menyakitkan buat Buna. Tapi sejalan dengan waktu, Buna mengikhlaskan. Tidak mudah, Kala, tapi Buna tetap move on.”


“Yang namanya Hanna Hanna itu yang culik aku, kan?”


“Tante Hanna. Kala, walaupun dia pernah berbuat tidak baik, tapi Tante Hanna jauh lebih tua jadi harus sopan, ya Nak.”


“Untuk apa sopan sama penjahat?”


“Karena Buna mengajarkan kamu untuk sopan sama semua orang. Terutama yang lebih tua. Kala, mungkin ini semua terlalu bertubi-tubi buat kamu. Salah Buna dan Aya tidak menceritakan sebelumnya.”


“Nggak! Buna nggak ada salah. Aya yang salah. Kala benci sama Aya!”


“Kala, Buna aja nggak benci sama Aya. Please, jangan bikin kemarahan menguasai kamu. Abis ini Kala sholat lalu istighfar yang banyak. Mengenai Aya, cobalah untuk memaafkan. Kala percaya takdir, kan? Berarti memang takdir Buna berjodoh dengan Aya hanya singkat. Dan alhamdulillah sekarang Buna bersama Daddy yang sangat mencintai Buna. Maafkanlah Aya, Kala …”


Qiara tahu anaknya masih marah, percuma untuk diajak bicara namun ada sikap yang tetap harus diluruskan dengan lembut.


“Sholat dan istighfar ya, Sayang. Dan sama Aira, dia sama seperti kamu. Jangan salahkan perbuatan Tante Hanna pada Aira,” sambungnya lagi.


Lagi-lagi Kala mulai mendengus, namun suara Qiara menembus ke dalam hati dan pikirannya.


“Kala pengin pulang …”


“Pulanglah jika kami menginginkan. Pasti Kala bingung banget di sana ya.”


“Marah dan kecewa, Buna. Kala pikir Buna pisah sama Aya karena perceraian biasa. Tapi nggak pikir kalau Aya itu pernah KDRT sama Buna.”


Thoriq yang menyusul Kala mendengar ucapan putranya merasa teramat sakit.


“Kala laki-laki dan anak Buna. Kala nggak terima Aya dulu sakitin Buna. Apalagi Si Aira itu, pasti sama aja kayak Mamanya.”


“Kalandra! Kamu jangan ngomong gitu. Iya, dulu Aya memang salah, bahkan Buna nggak mau ingat kejadian itu. Tapi itu sudah terjadi. Kala mau marah kayak apa nggak akan merubah apapun. Justru akan hanya mengotori hati kamu. Dan Aira, dia betul-betul nggak tau temtang ibunya ...”


“Dia udah mulai bela ibunya, kok…” Sungut Kala berapi-api.


“Sama seperti kamu bela Buna. Sayang, yang lalu biarlah berlalu. Buna udah memaafkan Aya dan Hanna. Kamu juga berusaha, ya. Buna senang kamu belain Buna. Tapi Aya adalah ayah kamu.”


Kala menghapus air matanya yang jatuh.


“Kala, sejak Aya tahu kamu adalah putranya, beliau selalu berusaha hadir buat kamu. Walau kita tinggal berjauhan, lewat Daddy, Aya selalu menanyakan perkembangan kamu. Setiap hari, Sayang. Buna tau karena Daddy cerita. Kamu ingat waktu kecil kamu pernah sakit? Aya setiap jam selalu tanya. Bahkan hendak menyusul ke London. Aya sayang sama Kala, Nak.”


Qiara menatap Kala dengan lembut, ia tahu anaknya mulai tenang.


“Sayang, sebulan ini, Aya terlihat sangat bahagia. Karena kamu dan Aira ada bersamanya. Teruslah menjadi anak Aya dan kakak bagi Aira.”


“Buna …”


“Sekarang Kala pulang. Sholat dua rakaat, mohon ketenangan dan kelembutan hati.”


“Kala belum mau pulang, Kala mau sholat di masjid aja seberang taman, kok.”


“Ya udah, hati-hati, jaga diri Kala. Oya, Liam mana?”


“Aku nggak liat Liam dari tadi, nanti aku cari. Buna … Kala sayang banget sama Buna. Kala akan jagain Buna selamanya.”


Mata Qiara menghangat. “Buna juga sayang sama kamu. Yang baik-baik, ya, Sayang. Video call-nya udahan dulu boleh, nggak? Sepertinya ada perang dunia ke seratus di bawah.”


Kala terkekeh sambil mengeringkan wajahnya yang basah air mata, “Triplets?”


“Siapa lagi … Salam buat Aya dan Aira, bye, Sayang.”


“Bye, Buna.”


Kala masih duduk di ayunan. Thoriq tidak mendekatinya. Ia mendengar semua percakapan Kala dan ibunya. Tak berapa lama Kala beranjak meninggalkan taman menuju masjid.


Thoriq berharap Kala mau memaafkannya. Kehilangan Qiara adalah hal terberat yang akan ditanggung seumur hidup. Rasanya tak sanggup jika Kala memusuhinya.


Setelah melihat Kala masuk ke masjid, Thoriq kembali ke rumah untuk melihat keadaan Aira yang juga sangat bersedih.

__ADS_1


***


“Lepasin! Iiiih! Tolong.”


Aira berteriak, kedua tangannya dicengkeram oleh dua preman yang entah muncul dari mana.


“Ikut ayo!”


“Nggak! Tolong!”


Kakinya menendang kian ke mari namun malah membuat dua preman itu makin tertawa dan menariknya ke arah semak.


Aira terus melawan, tapi kekuatannya tidak sebanding.


Tiba-tiba salah satu preman tersungkur.


Aira langsung membebaskan diri. Dilihatnya Liam memegang kayu memukul preman yang sekarang bangun dengan mata nyalang karena marah.


“Aira, lari pulang!”


Aira berlari meninggalkan Liam yang kini melawan dua orang. Liam yang dulu pernah ikut karate melawan dengan sengit. Walau akhirnya kualahan menghadapi preman kampung yang mengeluarkan senjata tajam.


Sambil berlari Aira menoleh kebelakang. Liam mengaduh karena tangannya kena sabetan pisau. Spontan Aira berbalik mengambil batu dan ranting. Remaja putri itu tak gentar apalagi melihat baju Liam terkena noda darah.


Dengan seluruh kekuatan ia melempari preman itu ke arah kepala. Satu batu tepat sasaran. Liam yang melihat Aira kembali untuk membantunya kini pasang badan melindungi Aira.


Tangan Aira kuat memegang ranting lalu mengarahkan ke preman.


“Pergi! Pergi jangan ganggu kami.”


Preman itu hendak melawan ketika melihat sekelompok penduduk datang mendekat. Rupanya ada yang melihat kejadian dan memanggil bala bantuan.


Keduanya lari mengendarai motor yang diparkir. Beberapa penduduk mengejar sementara yang lainnya menolong Liam.


“Ai, did they hurt you?” Liam bertanya lirih menahan sakit.


“No, I’m fine. Kamu yang berdarah.”


Aira melepas kerudung karena di dalamnya memakai inner. Lalu mengikat tangan Liam untuk menghentikan pendarahan.


“Kalian dari rumah Pak Thoriq, kan? Kami antar. Kita mesti laporin itu preman-preman makin berani. Kemarin anaknya Bu Wulan kena todong juga di sini.”


Sambil memapah Liam yang terhuyung-huyung karena lukanya mengeluarkan banyak darah, salah satu dari bapak-bapak yang membantu berusaha menghubungi Thoriq.


Dari kejauhan Thoriq melihat Liam dan Aira bersama penduduk kampung belakang.


“Liam, Aira!”


“Aya!”


Thoriq memeluk Aira, lalu mendekati Liam yang terlihat pucat.


“Hey Uncle, cool, eh? Got hurt saving a girl …” Tak sempat meneruskan kalimatnya Liam jatuh pingsan.


“Liam!” Aira dan Thoriq berteriak.


Menuju rumah sakit mereka melihat Kala.


“Mas, Liam pingsan.”


Kala langsung naik mobil duduk di belakang.


“Liam, Liam, what happenned? Kenapa dia berdarah.”


“Aira diserang preman dan Liam membantu. Liam kena sabet pisau.”


“Liam bertahan, please … please. Aya, cepat..”


Setibanya di rumah sakit, dokter UGD langsung menangani Liam. Thoriq menelepon Devan.


Sayatan di tangan Liam mengenai pembuluh darah besar. Beruntung Aira membebat kuat hingga Liam tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi.


Aira berdiri termenung. Tubuhnya gemetar hebat.


“Adek …”


Kala memeluk adiknya. Aira menangis di pundak kakaknya.


“Salah Aira, Mas. Semua salah Aira. Aku emang nggak guna. Bikin sulit semua. Aira benci diri Aira. I wish I’ve never been born.”


“Sshh sssh … Everything will be alright.”


Kala mengelus belakang kepala adiknya yang masih menangis tergugu. Ia menuntun Aira untuk duduk di bangku tunggu, membiarkan pundaknya menjadi tempat bersandar.


“Dek, istighfar ya, sambil berdoa Liam bisa survive.”


Aira menggangguk, tangannya masih memeluk erat kakaknya. Kala terus mengelus dan menenangkan adiknya. Bibirnya merapalkan kalimat doa untuk keselamatan Liam.


Dalam hati Kala ketakutan setengah mati, tapi ia berusaha menutupi untuk adiknya. Wajah Liam begitu pucat, tubuhnya dingin.


Thoriq keluar. “Kala, titip Aira ya. Liam butuh donor. Aya akan ke PMI dulu sebagai syarat Liam bisa mendapatkan darah.”


“Ai, nurut sama Mas Kala. Kabarin Aya.”


Keduanya mengangguk. Thoriq meninggalkan anak-anaknya dengan wajah cemas. Liam masih belum keluar dari kondisi kritis.


Kala dan Aira terus memandang pintu UGD, menunggu siapa pun memberi kabar tentang Liam. Kala melihat tangan adiknya masih gemetar kemudian mengenggamnya.


“Bismillah semua baik-baik aja,” ucapnya menenangkan Aira. Adiknya mengangguk.


“Mas, maafin Aira karena ternyata hadirnya Aira membuat Buna dan Aya berpisah. Maafin juga karena Mamanya Aira udah jahat sama Buna dan Mas.”


“Ssssh, udah nggak usah dipikirin, Ai. Seperti kata Buna, memang seperti ini takdir yang ditulis buat kita. Yang harus kita lakukan adalah ikhlas dan tetap menjalaninya dengan baik.”


“Mas, jangan benci Aira…”


Kala mengeringkan air mata yang mengalir di pipi Aira dengan punggung telunjuknya.

__ADS_1


“Selamanya kamu adiknya Mas. Maafin Mas juga, ya, tadi sikapku kasar sama kamu. Beberapa hari ini Mas juga kecewa sama Aya dan marah ke kamu.”


“Mas dan Buna berhak marah.”


“Buna yang berhak marah. Tapi bahkan Buna bilang sudah memaafkan Aya.”


“Aku nggak nyangka Mamaku jahat banget. Untung aku nggak hidup sama dia lagi.”


“Hey hey … gimana pun juga Tante Hanna itu ibu kamu. Kamu tetap harus hormat,” sela Kala yang mengingat nasihat Bunanya.


“Aku nggak ingat wajah Mama seperti apa. Kalau Buna, dari kecil aku tahu. Kamu tahu nggak Aya tuh masih simpan semua foto Buna. Ada foto mereka di pantai yang selalu Aya pandangi sebelum tidur. Aku juga sering liat Aya menitikkan air mata setelah baca surat dari Buna.”


Mata Kala menghangat. Ia pun merasakan betapa Ayahnya menutupi rasa cinta untuk Buna.


“Aya udah menerima hukuman dari perbuatannya, Mas. Aya nggak bisa hidup sama Buna, satu-satunya wanita yang dia cintai. Di lain pihak, aku sedih dan kasian sama Mamaku yang hidup di bawah bayang-bayang Buna.”


“Kita nggak mungkin ngerti apa yang mereka rasakan, Dek. Tapi yang jelas dari ini semua ada aku dan kamu. Kita bersaudara. Mas akan jagain kamu, walau kita berjauhan. Seperti Aya yang juga selalu jagain Mas.”


Pintu UGD terbuka.


“Keluarga Liam Patrick Donavy.”


“Kami, kami adik-adiknya.” Kala dan Aira berdiri mendekati suster.


“Pasien sekarang sedang dioperasi untuk menutup luka di pembuluh darah. Silakan menunggu di depan ruang operasi lantai dua.”


Setelah mengucapkan terima kasih, kakak beradik itu menuju ke lantai dua. Kala mengabari Thoriq yang masih di PMI. Juga menelepon Devan yang ternyata memantau melalui salah satu dokter di rumah sakit tersebut.


Hape Kala berbunyi, “Buna, assalamualaykum.”


“Waalaykumussalam, Buna udah dapat update tentang Liam. Kala sama Aira gimana? Aira kamu baik-baik aja kan, Nak? Tante dengar tadi Liam lagi nolongin kamu.”


Aira tercekat, rasa bersalah kembali merayapi hatinya. “Iya, maaf Tante.”


“Loh, bukan salah kamu. Jadi ceritanya gimana?”


“Aira tadi mau nyusulin Mas. Aira pikir Mas Kala ke taman yang di belakang. Di sana memang ada jalan sepi, Aira dihadang preman. Aira … Aira ditarik ke semak-semak, alhamdulillah Liam datang dan bantuin. Maafin Aira, Tante.”


Qiara dan Kala menatap Aira dengan ngeri.


“Astaghfirullah, Aira. Mereka … mereka sempat … sakitin kamu?”


“Nggak, Tante. Alhamdulillah ada Liam, Tante. Dia pukul satu orang preman, lalu suruh Aira lari. Ternyata preman-preman itu bawa pisau.”


“Kala periksa apa adik kamu ada yang luka,” perintah Qiara dengan raut cemas.


Kala menyibak lengan panjang Aira dan terlihat bekas-bekas cengkeraman dua preman tadi.


Devan kini sudah berada di layar bersama Qiara. Dia ikut terkejut melihat lebam-lebam, artinya preman-preman tadi mencengkeram dengan sangat kuat.


“Kala, kamu bawa Aira ke UGD, minta dioles sama salep pendingin. Lalu minta mereka periksa apa ada luka di bagian lain.”


“Aira nggak apa-apa, Uncle. Beneran. Tadi malah Aira sempat lemparin premannya pake batu dan kena kepala. Terus bocor deh kepalanya. Sukurin!”


Kala tertawa lebar lalu merangkul adiknya dengan bangga.


“Adek aku.”


“Kalandra!” Qiara gemas dengan kelakuan Kala yang bukannya cemas malah bangga.


“Gitu dong, Dek, bisa ngelawan. Ini aku yang didik, dari kecil aku cekokin cerita super hero. Abby juga udah aku ajarin supaya nggak jadi cewek menye-menye.”


“Kalandra Akira Putra Thoriq!”


Qiara putus asa melihat Kala dan Aira malah tos dengan penuh kebanggaan.


“Ya udah, kalian nunggu di depan ruang operasi, nanti Daddy minta Aya kalian beli salep dingin untuk tangan Aira. Kalandra, jaga Aira, janji?”


Kala mengeratkan rangkulan ke pundak adiknya. “In syaa Allah, janji.”


Aira terharu dan langsung memeluk Kala.


“Makasi Mas.“


Setelah mengakhiri video call, Kala dan Aira duduk menunggu Liam. Tak berapa lama Thoriq datang dan langsung memeluk Aira.


“Aira, kamu nggak apa-apa? Uncle Devan tadi telepon Aya.”


“I’m fine Aya. Tapi masih suka takut kalau kebayang kejadian tadi. Untung ada Mas Kala yang bikin Aira tenang.”


Thoriq merangkul kedua anaknya mengecupi kepala mereka satu persatu.


“Aya apaan sih, malu tau …” Ucap Kala tapi tidak juga mengurai tangan ayahnya.


“Tahan aja malunya, Aya sayang banget sama kalian berdua.”


“Keluarga pasien Liam …” Panggil seorang dokter dari pintu ruang operasi.


Thoriq, Kala, dan Aira segera mendekati dokter muda itu.


“Liam sudah melewati masa kristis. Operasinya berhasil sekarang pasien sudah di ruang pemulihan.”


“Alhamdulillah …” Tiga orang bapak dan anak itu mengucap serempak.


“Oya, apakah Adek yang bernama Aira?”


Alis Aira terangkat, “Betul, Dokter. Ada apa?”


“Sepanjang operasi pasien terus memanggil nama Anda.”


Wajah Aira berubah merah padam. “Ooh itu mungkin karena sebelumnya Liam menyelamatkan saya,” jawabnya cepat.


“Baiklah, nanti perawat akan memberi tahu kalau Liam bisa dijenguk. Dokter Sonny di dalam juga sudah berhubungan dengan Dokter Devan di London. Saya tidak menyangka bisa ikut dalam tim yang mengoperasi putera Dokter Devan. Beliau adalah Dokter terkenal terutama untuk metode bayi tabung.”


“Daddy aku itu, Dokter. Nanti aku juga mau jadi Dokter kayak Daddy,” sahut Kala bangga.


“Semoga lancar, baik, saya pamit dulu.” Dokter muda itu beranjak pergi meninggalkan Thoriq dan anak-anaknya yang kini bisa bernapas lega.

__ADS_1


***


__ADS_2