
Rumah Hanna selalu ramai dengan teman-temannya yang ingin menengok Aira. Beberapa kali Thoriq mengingatkan agar Aira tidak digendong oleh banyak orang karena takut jika ada virus atau penyakit.
Terlebih, Thoriq tahu, Hanna lebih sering memberikan Aira ke baby sitter untuk diberikan susu formula. Hanna mengatakan tidak nyaman karena putingnya perih setiap menyusui.
“Hanna, Aira sama Mas aja ya, di kamar. Kasian mungkin mau bobok.”
“Ih Mas, temen-temen Hanna kan pengin liat Baby Aira. Kok malah dibawa ke kamar?”
Thoriq tersenyum ramah pada teman-teman istrinya.
“Nggak apa-apa ya, Aira saya bawa ke kamar.”
Tanpa disadari Hanna, semua temannya meleleh melihat senyuman Thoriq dan langsung mengangguk. Tanpa menunggu jawaban, Thoriq menggendong Aira ke kamarnya.
Di kamar Thoriq melepas bedong dan bermain dengan Baby Aira. Alunan murottal terdengar menyejukkan. Baby Aira tertawa-tawa.
“Aira, Aya sayang kamu.”
Thoriq diam-diam memanggil dirinya Aya jika hanya berdua dengan Aira. Ia tahu Hanna ingin Aira memanggilnya dengan sebutan Papa.
“Aya akan selalu jaga Aira.”
***
Thoriq baru pulang dari kantor ketika mendengar Aira menangis di kamar.
“Bu Darsih! Apa yang kamu lakukan pada anakku?”
Baby sitter bernama Bu Darsih itu terperanjat. Ia hendak memberikan obat tidur agar Aira tenang.
“Keluar! Hanna! Hanna!” Thoriq mengambil Aira dari gendongan Bu Darsih yang ketakutan. Obat itu dibelinya di toko obat. Dosisnya sangat kecil membuat bayi-bayi yang diasuhnya selalu tenang. Ia belum pernah ketahuan, sampai saat ini.
“Pak, itu obat dosisnya aman buat bayi,” ujarnya membela diri.
“Diam kamu! Ini ibunya mana sih? Hanna!” Teriak Thoriq.
“Ibu pergi dari pagi sama temen-temennya. Ke Bandung katanya pulang agak malam,” sahut Bik Isah, ART nya.
“Bu Darsih, saya akan laporkan kamu ke polisi!”
“Ampun, Pak. Saya nggak bermaksud buruk. Saya sayang banget sama Non Aira. Itu obat cuma buat tenang aja, bukan buat apa-apa.” Bu Darsih bersimpuh ketakutan.
Mata Thoriq menatap nyalang ke perempuan setengah baya.
“Bik Isah, panggil security kompleks. Suruh jaga orang ini. Saya mau bawa Aira ke dokter dulu.”
Kalut, Thoriq naik mobil lalu menuju rumah sakit terdekat. Ia masuk ke IGD melaporkan bahwa anaknya diberi obat oleh baby sitternya. Thoriq sempat mengambil sisa obat sehingga langsung diperiksa oleh lab rumah sakit.
“Thoriq…”
“Mas Dhanu! Tolong anak Thoriq, Mas, baby sitternya kasih obat nggak jelas. Thoriq nggak tau udah berapa lama Aira dikasih obat itu. Mas Dhanu, tolong anak Thoriq.”
Dhanu sebagai salah satu dokter senior yang bertugas di IGD langsung memerintahkan perawat memeriksa darah Aira.
“Siapa nama anakmu dan berapa umurnya?”
“Kamelia Aira Putri Thoriq. Panggilannya Aira. Hari ini pas berumur tiga bulan, Mas.”
Dhanu tertegun mendengar nama anak Thoriq. Ia melirik kepada laki-laki yang tak sadar sebetulnya telah memiliki dua orang anak.
“Mana ibunya? Sebaiknya Aira banyak disusui supaya substance apapun keluar lewat urine.”
“Istri saya sedang di luar kota, Mas,” ucap Thoriq lirih.
“Hmm … suster, tanyakan susu yang biasa diberikan ke Bayi Aira, segera buatkan. Thoriq, saya akan cek ke lab. Kamu di sini aja.”
“Baik, Mas.” Thoriq duduk di tempat tidur Aira yang kini tenang dan asik melihat-lihat terangnya lampu.
__ADS_1
“Aira, maafin Aya yang lalai jagain kamu.”
Thoriq menghubungi Hanna. Terdengar gelak tawa beberapa wanita ketika Hanna mengangkat telefon.
“Hanna dimana kamu?”
“Iih, Mas, santuy. Hanna otw dari Bandung tadi pengin healing.”
“Hilang hiling, nih Aira dikasih obat tenang sama Bu Darsih. Sekarang lagi dicek di Rumah Sakit Meditama. Kamu kesini!”
Hanna tersentak, ada rasa bersalah masuk ke hatinya.
“Mas kondisi Aira gimana?”
“Lagi diperiksa. Kamu dimana?”
“Masih di Pasteur.”
“Jam berapa ini Hanna, jam delapan malam kamu masih di Bandung ninggalin anak?”
“Mas, dari dulu kan selalu bilang itu bayinya Mas, ya sekarang urus dong!” Bentak Hanna kehilangan kesabaran.
Thoriq terdiam. Matanya menatap ke bayi kecil yang masih bergerak-gerak. Tak mau berbantahan ia menutup telepon Hanna.
“Aira sayang, mulai sekarang Aya yang akan jaga kamu.” Thoriq menggendong Aira dan memberikan susu yang sudah dibuatkan suster IGD.
Aira menyusu dengan lahap, matanya terpejam kadang terbuka sebelum akhirnya tertidur. Setelah itu dengan terampil Thoriq memosisikan Aira sehingga bersendawa, baru menidurkannya lagi.
Dari jauh Dhanu mengamati mantan adik iparnya yang dengan penuh rasa sayang menjagai putrinya.
“Akan kah kamu bisa menyayangi Kala seperti kamu menyayangi Aira?”
Dhanu menerima hasil lab. Dia berkerut membacanya lalu mendatangi Thoriq.
“Mas, gimana sudah keluar hasilnya Aira?”
“Baru pemeriksaan substance yang diberikan. Ini memang satu jenis obat tenang. Kami tidak tahu dosis yang diberikan. Dari kasat mata sepertinya kondisi Aira baik, tapi nanti akan dikonfirmasi dengan hasil darah. Untuk dampak jangka panjang tidak dapat dipastikan sekarang, tapi saran saya, banyak memberikan ASI pada Aira untuk membangun sistem kekebalan tubuhnya. Selama ini Aira minum ASI?”
Dhanu tercenung. Ia tahu bagaimana perjuangan Qiara agar memiliki ASI cukup untuk Kala. Padahal Qiara harus pontang-panting bekerja. Selelah apapun adiknya akan bangun untuk menyusui Kala.
Dhanu mendekati Aira. Garis wajahnya mirip dengan Kala. Ciri khas dagu terbelah seperti ayahnya juga terlihat.
“Hai Aira, ini Uncle Dhanu. Kamu akan baik-baik aja, nyusunya yang pinter, ya.”
Setelah itu Dhanu beranjak meninggalkan ayah dan bayi.
“Mas Dhanu, terima kasih. Mmm … Mas, bagaimana kabar Qiara?”
Dhanu tersenyum memegang pundak Thoriq. “Sudah jangan pikirkan Qiara, fokuslah pada keluargamu. Saya tinggal nanti akan ada dokter anak yang menangani Aira.”
Thoriq mengangguk lemah.
Ia kembali duduk di samping Aira yang sudah tertidur.
“Bagaimana aku bisa tidak memikirkan Qiara. Harapan bertemu dengannya suatu saat adalah satu-satunya yang membuatku bertahan,” batinnya sambil menghela napas panjang.
Setelah menunggu sekitar satu jam, dokter anak datang memberitahukan hasil lab kepada Dhanu.
“Kami tidak menemukan tanda keracunan atau efek seketika dari obat penenang. Hanya perhatikan jika ada muntah, diare, atau bayi tidak tenang selama 24 jam segera bawa kemari. Teruslah memberikan ASI. Secara psikologis, perbanyak mendekap si bayi dan bicara, karena itu akan memberikan ketenangan.”
“Baik, dokter. Bagaimana dengan pemberian susu formula?” Tanya Thoriq karena Hanna tidak terlihat bersemangat menyusui Aira.
“Usahakan lebih banyak ASI dibanding sufornya. Jika ibu bekerja, usahakan untuk memompa susu lalu disimpan di freezer. Apakah ada lagi pertanyaan? Jika tidak, Aira sudah bisa pulang untuk istirahat di rumah. Pasti lebih nyaman di rumah.”
Thoriq ragu-ragu meninggalkan Aira.
“Kamu uruslah administrasi. Aku sedang tidak ada pasien jadi bisa jaga Aira,” cetus Dhanu yang sudah selesai menolong pasien.
__ADS_1
“Terima kasih, titip Aira ya, Mas. Terima kasih.”
Dhanu melihat Thoriq menyiumi pipi putrinya dengan perlahan sebelum menuju counter kasir.
Bayi Aira sedang terlelap, wajahnya nampak damai. Sesekali tersenyum dalam tidur.
“Qia, Mas harap banyak yang bantu kamu menjaga Kalandra di sana.”
Sampai di rumah, Bu Darsih sudah dibawa ke kantor polisi. Thoriq menidurkan Aira di box bayi di kamar tidurnya.
Thoriq mengganti popok dan baju Aira, lalu membalurkan minya telon. Ia kemudian menanyakan pada Bik Isah apakah Hanna menyimpan ASI di freezer.
Karena Hanna tidak memompa susunya, Thoriq mengambil perlengkapan sufor dan termos air panas beserta botol-botol.
Di kamar ia memandangi Aira yang masih terlelap. Sempat setelah kelahiran Aira, Thoriq memutuskan untuk tidur sekamar dengan Hanna. Ia ingin memberi semangat agar Hanna mau menyusui Aira. Tapi Hanna menolak, mengatakan jahitannya tambah sakit jika menyusui.
Thoriq juga melihat Hanna lebih sibuk dengan hape ketimbang menjaga Aira. Akhirnya keinginan itu pudar dengan sendirinya. Aira lebih sering tidur bersama Thoriq. Kemudian dia membeli box bayi dan diletakkan dekat ranjangnya. Thoriq tidak keberatan beberapa kali bangun tiap malam untuk memberikan susu pada Aira.
Di pagi hari, ia menyerahkan Aira pada Hanna. Tanpa tahu bahwa Hanna lebih sering menitipkan Aira ke Bu Darsih setelah Thoriq ke kantor.
Thoriq melihat ke jam dinding. Sudah pukul sebelas, dan dirinya belum makan. Ia mengirimkan pesan ke Hanna:
Aira sudah di rumah. Pulanglah. Tolong simpan ASI untuk Aira.
Jawaban dari Hanna langsung masuk:
Oke, Mas. Ini masih di toll. Terus mau anterin dua orang temen Hanna dulu, ya.
Karena lapar, pria itu kemudian keluar untuk mencari makanan. Bik Isah keluar dari kamarnya lalu membuatkan nasi goreng dengan telur ceplok. Hanna tidak memintanya untuk masak karena mengandalkan pesanan layar antar.
“Terima kasih, Bik, maaf malam-malam jadi masak.”
“Nggak apa-apa, Pak. Abis ini Bapak istirahat, biar Bibik yang nungguin Bu Hanna.”
“Baik, Bik.”
Thoriq menghabiskan nasi goreng telor ceplok sambil sesekali mengerut keningnya karena sakit kepalanya kambuh.
Setelah makan, ia masih bertahan untuk menunggu Hanna. Dengan menahan sakit kepala, ia menunggui istrinya.
Hampir pukul dua belas Hanna sampai di rumah.
“Eh gue udah sampe rumah, besok kita janjian lagi ya, Say …” Hanna mengakhiri teleponnya melihat Thoriq duduk menungguinya.
“Assalamualaykum, Mas,” ujarnya sambil mencium tangan Thoriq.
“Waalaykumussalam, kamu bersih-bersih terus liat Aira.”
“Aira nggak apa-apa kan? Tadi Hanna bosen terus temen-temen ngajakin kuliner ke Bandung.”
“Hanna, Aira itu baru beberapa bulan, dan kamu kan juga nggak harus pergi ke Bandung kalau mau melepas bosen.”
“Terus, Hanna mau pergi ke mana? Apa Mas Thoriq kepikiran gitu ngajak Hanna pergi? Enggak kan? Di pikiran Mas Thoriq itu cuma ada Qiara, Qiara, Qiara!” Balas Hanna dengan nada tinggi.
Thoriq mendesah, tidak salah memang apa yang dikatakan Hanna.
“Ini semua gara-gara Mas Thoriq yang nggak bisa move on dari Qiara! Sampai anak yang Hanna kandung aja dikasih nama Aira. Jangan pikir Hanna nggak sebel!”
Kepala Thoriq berdenyut.
“Hanna, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Mas sudah berusaha Hanna, maafkan Mas kalau sampai sekarang belum ada rasa cinta untuk kamu. Dan mengenai nama Aira, terserah jika kamu mau memanggilnya dengan nama lain. Tapi buat Mas anakku tetap Aira.”
Merasa kepalanya semakin sakit, Thoriq hendak menyudahi perdebatannya.
“Maaf, tapi Mas harap kamu bisa lebih perhatian pada Aira. Mas mau istirahat dulu.”
Thoriq bangkit dari kursinya, baru beberapa langkah tiba-tiba ia tersungkur.
__ADS_1
“Mas Thoriq!” Pekik Hanna.
***