Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Luka di Atas Duka


__ADS_3

“Daddy!”


“Devan …”


Thoriq dan Liam membantu Devan yang tersungkur di atas kedua lututnya. Mereka memapahnya ke kursi tunggu. Liam mengulurkan minuman yang diterima dengan tangan gemetar.


“Qiara … Qiara …” Racau laki-laki dengan sorot mata putus asa.


Thoriq dan Liam siap menerima berita terburuk.


“Qiara berhasil melewati operasi caesar, hanya saja bayi kami masih kritis dan harus masuk inkubator. Ibuku … ibuku tidak selamat.” Devan menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Innaalillaahi wa innaailayhi rooji’un. Aku turut berduka, Devan.”


Devan menangis hingga bahunya berguncang. Liam menatap ayahnya dengan khawatir. Tak pernah sekalipun ia melihat ayahnya menangis.


“Thoriq, aku dan Liam harus menemui ayahku. Maukah kamu … maukah kamu menunggui Qiara. Aku takut saat sadar ia sendirian.” Devan dengan tatapan putus asa memohon pada Thoriq.


“Pergilah, akan kukabari perkembangan apapun. Devan, Liam, my deepest condolences. Aku turut berduka.”


Devan menggandeng Liam, langkahnya berat.


Thoriq kembali duduk di kursi tunggu, setelah memeriksa kondisi Kala melalui Stephanie. Mel dan Mark menuju rumah sakit untuk ikut menunggui Qiara dan bayinya.


Tak berapa lama, Thoriq melihat Qiara di atas brankar didorong ke luar. Wajahnya terlihat lemas dan khawatir.


“Qia …” Thoriq menyapa dengan lembut.


“Mas, anak Qia?”


“Anak Qia lagi di inkubator, Qia kuat ya supaya bisa cepet nemenin.”


Air mata mengalir dari sudut mata Qiara. Sungguh Thoriq ingin memeluk wanita yang masih bertahta di hatinya.


“Devan di mana, Mas?”


“Ssshhh, jangan terlalu banyak bicara dulu ya, Qia. Coba untuk tidur biar pulih luka operasimu.” Qiara mengangguk, matanya terpejam, ia masih dalam pengaruh obat bius.


Qiara tiba di ruang perawatan terbaik di rumah sakit itu. Melanie dan Mark tiba tak lama setelah Qiara kembali tertidur. Setelah memastikan Qiara tidur pulas, Thoriq menelepon Kala dan Aira.


“Aya … mana Bunanya Kala?” Anak laki-lakinya terlihat baru habis menangis.


“Buna lelah habis melahirkan adek bayi.”


“Adek bayi udah lahir? Cowok kan?”


Thoriq menggeleng, tadi ia lupa menanyakan jenis kelamin anak Qiara dan Devan. Ia malah lebih fokus pada kondisi mantan istrinya. Thoriq memijat keningnya karena Kala masih menunggu jawaban.


“Nanti Aya telepon Daddy, ya. Kala dan Aira udah makan?”


“Udah, Aya. Kala sama Aira diajak makan di restoran Uncle Jeremy.”


“Say thank you to Uncle Jeremy. Apakah Aya boleh bicara sama Stephanie?”


“Yes, Thoriq, how’s Qiara?” Stephanie terlihat khawatid.


“She’s still sleeping post caesarian surgery. Bayinya di inkubator. Tapi semuanya stabil menurut Devan. Bisakah kita bicara tanpa Kala dan Aira mendengar?”


Stephanie mengangguk lalu berpindah ruangan.


“Steph, apakah aku bisa menitipkan Kala dan Aira lebih lama? Devan harus kembali karena … karena ibunya meninggal.”


“Astaga, Dian. Poor Dian. Aku baru mengenalnya semenjak Devan menikah dengan Qiara. Dia wanita yang sangat baik. Semoga ia tenang di sana.”


“Aamiin. Devan memintaku menjaga Qiara, aku tahu ini canggung baginya karena aku mantan suami Qiara. Tapi dia betul-betul bingung. Bayinya lahir prematur dan sekarang di inkubator. Istrinya masih belum sepenuhnya sadar pasca operasi, Ibunya baru saja meninggal, Liam masih tertekan. Beban Devan sangat berat.”


“Baik, Kala dan Aira bisa tinggal di sini. selama yang diperlukan. Barang-barang mereka sudah di apartemenku. Ada Jeremy dan Shaline juga yang ikut menjaga.”


“Thank you, thank you so much.”


“I’m doing it for Qiara. Not for you.” Tiba-tiba Steph berubah ketus.


Thoriq paham perasaan Stephanie padanya, ia bersyukur saat tidak bisa menjaga, banyak yang menyayangi Qiara.


“I understand, thank you …” Ucap Thoriq dari hati yang paling dalam.


Thoriq kembali ke ruangan Qiara. Mark keluar untuk mencari tahu tentang bayi Qiara dan Mark. Thoriq menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Qiara.


Diam-diam Mel memerhatikan betapa Thoriq tidak pernah melepaskan pandangan pada mantan istrinya. Sesekali membenahi selimut Qiara yang masih tidur lelap.


“Devan, Devan, …” Panggil Qiara lirih dalam tidurnya.


“Sssh, Qia, bobo lagi ya …”


“Kala lari … jangan ambil Liam,” Qiara terus mengigau. Tangannya bergerak-gerak.


Mel ikut berusaha menenangkan Qiara.


“Sayang, sayang, jangan banyak gerak, just go to sleep dear,” bisik Mel penuh perhatian.


Setelah Qiara agak tenang, ia kembali tidur.


Thoriq merapikan selimut yang sedikit berantakan.


Mark kembali sambil tersenyum lebar.


“I saw the baby. It’s a girl and so beautiful. She’s still so tiny though. Not allowed take any picture.”


“I wanna see. Thoriq, do you want to see Qiara’s baby?”


Thoriq mendengarkan pembicaraan tentang bayi Qiara dan Devan dengan berat hati.


“Lebih baik aku di sini menunggu Qiara. Devan menitipkannya padaku.”


Stephanie kemudian mengurungkan niat dan kembali duduk di samping suaminya.


“Aku belum memberi tahu Marianne,” bisik Marianne pada Mark.


Wanita paruh baya itu menyambung, “Kasihan Qiara …”


Thoriq sangat paham bahwa semua musibah yang dialami Qiara bermula dari perkawinannya dengan Hanna. Perlu bermunajat pada Sang Pencipta, Thoriq memutuskan untuk sholat.


“Mel, aku sholat dulu, ya.” Thoriq lalu masuk kamar mandi untuk wudhu. Air segar membasahi kulit seakan memberinya energi baru. Setelah mengambil peralatan sholat dari ranselnya, pria itu memulai ibadahnya kepada Sang Khalik.


Dirinya sedang bermunajat ketika terdengar suara Qiara mengigau, “Mas Thoriq … jangan pergi … Qia masih cinta sama Mas Thoriq.”


Thoriq terpaku di atas sajadahnya. Jika Qiara masih istrinya, maka ia akan langsung berbaring di sampingnya, mengucapkan kata cinta sepanjang malam, dan mengatakan semua akan baik-baik saja.


Namun kini Qiara sudah milik Devan. Tak ada lagi tempat baginya dan Thoriq tidak berniat menghancurkan kebahagiaan pasangan itu.


Thoriq berdiri lalu memutuskan untuk melaksanakan sholat sunnah, memohon pada Yang Maha Pengasih agar memberinya kekuatan untuk mengubur perasaannya pada Qiara karena selama ini, ia tak pernah sanggup.


***


Qiara membuka mata. Rasa sakit di perut bawah membangunkannya.


“Devan …”

__ADS_1


Devan yang tidur di kursi tepat di samping Qiara terbangun.


“Sayang … kok bangun?”


“Perut aku nyeri. Devan, bayi kita?”


“Cantik.”


“Perempuan?”


Devan mengangguk dengan semangat.


“Karena prematur, bayi ada di inkubator. Besok kalau kamu sudah bisa jalan, kita bisa liat.”


Qiara menangis terharu. Di meja operasi ia sempat dibius total krn mengalami pendarahan sehingga tidak tahu bayinya selamat atau tidak.


Ia masih setengah sadar saat dipindah ke kamar walau kondisinya dinilai stabil. Bahkan Qiara merasa bermimpi Thoriq menungguinya.


Rasa syukur memenuhi kalbunya. Bayi yang dinantikan lahir selamat walaupun lebih cepat dari yang seharusnya. Ia bertekad segera pulih supaya bisa bersama putri yang baru lahir.


“Perut aku sakit, Dev.”


Devan menyibakkan gaun rumah sakit istrinya. Memeriksa dengan seksama, ia minta ada alat USG di tempatkan di sana.


“Semua aman, in syaa Allah. Luka jahitnya nyeri, ya? Aku akan mintakan obat penghilang rasa sakit diberikan lagi lewat infus.”


Qiara tersenyum menatap suaminya.


“Kenapa? Aku ganteng, ya?”


“Ganteng banget …Aduh!” Qiara terkekeh sebelum sedetik kemudian mengaduh.


“Jangan ketawa keras-keras dulu, Sayang. Jahitan kamu masih sakit. Aku panggil suster buat kasih obat dulu.”


Devan beranjak keluar ketika Qiara memegang tangannya.


“Dev, Kala sama Liam bagaimana?”


“Kala nginep di hotel sama Thoriq. Aku udah minta Thoriq tinggal di penthouse aja tapi dia nggak mau. Liam sama Daddy.”


“Sama Mommy juga, kan?”


Devan terdiam karena dia belum memberi tahu Qiara bahwa Jack dan Dian meninggal dalam insiden ini.


“Sayang, kamu jangan banyak bicara dulu. Aku panggil perawat buat kasih kamu obat ya. Lalu kamu tidur. Ini masih jam dua pagi.”


Tak berapa lama perawat memberi obat dan Qiara pun tertidur kembali. Devan menggenggam dan menciumi tangan istrinya.


“Ya Allah, sekali lagi aku hampir kehilangan Qiara. Kali ini juga bayiku.”


Devan memandangi wajah Qiara dengan penuh cinta.


“Tidurlah dengan nyenyak, Sayang, besok kita jenguk anak kita.”


***


“Devan, maa syaa Allah, anak kita. Rambutnya tebel. Gede ya untuk ukuran bayi tujuh bulan…”


“Makasi, ya, Sayang. Dagunya punya aku, hidungnya juga. Bibirnya juga, lhoo kok hampir semua kayak aku?” Devan terkekeh menggoda istrinya yang langsung menjebik.


Terus memandangi buah hatinya, Qiara bertanya, “Kala udah tau adiknya cewek?”


“Udah, terus dia minta adeknya dibalikin ke pabrik.”


Qiara menahan tawa, luka operasinya masih nyeri jika ia terlalu banyak gerak, termasuk bersin dan tertawa.


“Mungkin lagi otw. Oya, Thoriq dan Aira pulang besok malam.”


“Loh?” Qiara terkejut karena rencananya Thoriq akan seminggu mengunjungi Kala.


“Thoriq bilang ada kerjaan dadakan di villa.”


“Padahal baru kemarin mereka tiba, Kala masih kangen.”


“Kapan-kapan kita ke Indonesia. Oya, aku udah kirim foto bayi kita ke Dhanu dan Marianne. Mereka khawatir sama kamu dan debay.”


“Makasi sayang. Dev, bayi kita baik-baik aja, kan?”


“Alhamdulillah stabil. Dalam kandungan, usia tujuh bulan itu bayi masih mengalami penyempurnaan organ. Jadi di inkubator bayi akan belajar beradaptasi dengan lingkungan barunya.”


“Berapa lama di inkubator?”


“Tergantung perkembangan, tapi biasanya di usia lahir prematur 30-40 hari. Saat ini bayi masih minum susu formula, kalau ASI kamu udah keluar, langsung dikasih ke bayi.”


Qiara mengangguk dengan semangat. Tak sabar untuk menyusui bayi mungilnya.


“Dev, mmm kita jadi kasih nama apa? Kamu udah bikin seratus pilihan kayaknya.” Qiara tersenyum sambil tak jemu memandang bayi cantik di dalam kotak transparan.


Devan menatap putrinya.


“Kalau Abigail Dian Donavy, kamu setuju nggak, Sayang?”


“Beautiful name. Aku setuju karena ada nama Mommy.”


“Bismillaah, in syaa Allah nama putri kita Abigail Dian Donavy.”


“Kok Mommy dan Daddy belum nengok ya, Dev. Malah kemarin sekilas aku lihat Stephanie dan Mark nemenin Mas Thoriq. Apa itu mimpi? Kamu juga kemana?”


Raut Devan berubah sendu. Istrinya harus segera diberi tahu.


“Kita ngobrol di taman yuk, lagi pula waktu jenguk Abby udah habis.”


Devan mendorong kursi roda sebab Qiara belum kuat berjalan jauh. Di gazebo taman rumah sakit, mereka berbincang.


“Qia, ada berita sedih yang harus kusampaikan. Semoga ini tidak membuatmu tertekan. Kamu harus kuat ya, Sayang.”


Sorot mata Qiara berubah. Alisnya bertautan.


“Jack, meninggal.”


“Apa?”


“Stella menembak Jack di depan Liam.”


Qiara menutup mulutnya, matanya terbelalak. Kenangan-kenangan bersama Jack berkelebat di benaknya. Dulu, Jack-lah yang selalu menyemangati Qiara untuk sabar terhadap Devan di awal pertemuan mereka.


Jack selalu ada untuk keluarga Donavy. Bahkan Jack dulu sudah bekerja saat Stella masih jadi istri Devan. Tak terbayang betapa sedih hati keluarga Jack mengetahui Stella yang membunuhnya.


“Lalu gimana? Leslie, istrinya?”


“Leslie dan anak-anak shock berat. Jack sudah dimakamkan kemarin.”


Bulir-bulir air mata menetes di pipi Qiara. Devan memeluk dan menenangkan istrinya.


“Itu sebabnya Mommy dan Daddy belum ke sini?”


Devan menarik napas dalam. Berat menyampaikan berita duka yang kedua pada Qiara.

__ADS_1


“Mommy … Mommy menemukan Jack, dan karenanya Mommy terkena serangan jantung. Dokter mencoba menyelamatkan namun tidak berhasil. Qia, Mommy sudah pergi meninggalkan kita semua kemarin.”


“Innaalillaahi wa innaailayhi rooji’un … Devan …”


Qiara dan Devan saling berpelukan dan menguatkan. Kehilangan dua orang yang sangat dekat dan mereka cintai.


“I’m sorry Devan, I’m soo sorry. Gara-gara aku ada di hidup kamu, Mommy dan Jack meninggal.”


“Qia, please don’t say that. Seperti kamu bilang ini qadarullah. Ini momen yang berat dan sulit buat kita.”


“Devan, bagaimana Liam?”


“Liam masih trauma. Ia takut menemuimu dan Kala. Liam masih tidak percaya ibunya tega menyakiti orang lain.”


“Dimana Stella?” Tanya Qiara geram.


“Aku belum menemui setelah ia ditangkap. Tapi ia dicari di di empat negara. Tiga di Afrika dan satu di sini.”


“Apa yang dirasakan padamu bukanlah cinta melainkan obsesi. Bahkan ia tidak peduli anaknya melihat kekerasan yang dilakukan. Dev, kamu harus pulang. Liam perlu kamu.”


“Aku nggak mau meninggalkan kamu dan Abby sendirian, Sayang.”


“Kami akan baik-baik saja, in syaa Allah. Aku akan mulai belajar jalan lebih jauh.”


Qiara tersenyum menenangkan Devan. Berat bagi Devan untuk membagi diri antara Qiara, Liam, dan ayahnya yang masih sangat terpukul dengan kematian Dian.


“Sayang, I trully really love you. Terima kasih buat pengertiannya.”


Devan menempelkan keningnya ke kening Qiara. Tangannya mengelus wajah istrinya. Hatinya miris melihat luka jahitan di pelipis Qiara dan memar di pipi sebelahnya.


“Antar aku ke kamar lalu kamu pulang, ya, temani Liam dan Daddy.”


Devan mengangguk lalu mendorong kursi roda Qiara menuju ruangannya.


***


Setelah pulang menjaga Qiara, Thoriq membawa anak-anaknya ke hotel. Devan menawarkan penthouse, namun ia tahu laki-laki itu sedang kalut dengan berbagai hal yang terjadi hari itu dan dirinya tidak mau merepotkan suami Qiara.


Thoriq menginap di hotel yang sudah dipesannya. Kala dan Aira langsung tidur setelah membersihkan diri dan ganti baju. Kala sempat rewel karena ingin bertemu ibunya. Akhirnya ia tidur setelah Thoriq membacakan cerita sambil menepuk-nepuk bokongnya.


Melihat kedua anaknya tidur Thoriq merasa bahagia. Jika ada yang kurang adalah hadirnya Qiara.


Ia teringat kalimat yang keluar dari bibir Qiara dalam tidur.


“Apa benar kamu masih cinta sama Mas?” Gumamnya lirih, matanya menerawang jauh.


Pemandangan kota Melbourne malam itu sedikit berawan menutupi bintang dan bulan.


Berulang kali Thoriq menghela napas, menyesalkan takdir yang memisahkan dirinya dengan Qiara. Kenaifannya menikahi Hanna hingga detik ia bersikap tidak adil kepada Qiara.


Begitu bahagia pernikahannya dulu sebelum kehadiran Hanna. Walaupun ada Aira sebagai buah hubungannya dengan Hanna, namun ia tidak bisa menerima dan memaafkan hal buruk yang mantan istrinya yang kedua.


Thoriq memainkan cincin pernikahan dengan Qiara yang dipakai sebagai liontin kalungnya. Tak sedikit pun rasa terhadap Qiara berkurang.


“Qiara tidak boleh lagi mencintaiku, ia sudah milik Devan. Qiara harus membuang jauh perasaannya padaku.”


Dengan sendu dipandangnya cincin yang pernah mengikat cinta mereka. Ada nama Qiara Anjani terukir di bagian dalam.


“Kamu baik-baik di sini ya, Sayangku. Mas secepatnya akan pergi. Seperti cincin ini, nama Qia akan selalu di hati Mas.”


***


Stella bangun setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya. Ia ingin menggerakkan tangan ketika sadar ada borgol yang menghalangi gerakannya.


Seorang perawat masuk.


“Where am I?”


“Medix Hospital, Melbourne,” jawabnya singkat. Ia memeriksa luka jahitan dan infus lalu tanpa berkata apapun segera keluar dari kamar.


“Aku ingin bertemu pengacara! Kau dengar itu? Devan Donavy membuangku ke Afrika untuk kerja paksa! Ini semua kesalahpahaman!” Stella terus berteriak.


Karenya nyeri, Stella memegang luka operasi yang masih basah.


“Sialan! Luka ini akan meninggalkan bekas dan mengurangi kemulusan kulitku. Dasar Qiara bedebah!”


Pintu terbuka, Karel masuk dengan seorang petugas polisi setempat. Karel yang biasanya memakai seragam lapangan kini berbalut jas rapi. Sama dengan petugas di sampingnya.


“Help me! Dia itu pemimpin kamp kerja paksa di Afrika. Tangkap dia, penjahat hak asasi!” Seru Stella pada petugas polisi.


“Tenanglah Nyonya Stella, kami sudah lama mengenal Tuan Karel Karemby. Beliau ini adalah pemimpin badan intelijen di negaranya. Saya adalah Detektif Adam Hauser yang menangani kasus Anda.”


“Tidak, itu bohong! Aku dipekerjakan sebagai pemetik kapas setiap hari. Anak buahnya bahkan melecehkanku berkali-kali. Tolong percaya padaku, Detektif Adam.”


Kedua aparat itu bertukar pandangan lalu tertawa terkekeh.


Detektif Adam berdehem sebelum mulai berkata, “Anyway … Nyonya Stella aka Jasmine Porter, dongeng ladang kapas Anda tidak akan membantu mengurangi tuntutan. Wah, wah, Anda sibuk sekali rupanya. Kita lihat, pembunuhan James, Gregg yang baru Anda kenal, meracuni Brian suami sendiri lalu Jack, orang yang pernah bekerja dengan Anda. Belum lagi pemalsuan identitas.”


Stella pucat, tangannya gemetaran.


“No! Itu semua hanya kesalahpahaman. Devan yang membuatku berbuat semua itu! Dia yang mengirimku ke kamp …”


“Ya ya… teruslah berkata demikian. Menyalahkan orang atas perbuatan Anda. Menganggap diri Anda sebagai korban.”


“Aku memang korban, percayalah …” Stella mengubah intonasinya menjadi suara memelas.


Karel mendengus.


“Sudahlah, kamu tidak bisa mengelak lagi. Korbannya adalah orang-orang yang mati di tanganmu. Bersiaplah menikmati kehidupan di belakang jeruji besi di negaraku,” ujarnya.


Adam menambahkan, “Jangan khawatir, kamu tetap bisa didampingi pengacaramu. Jika tidak mampu, ada pengacara negara yang bisa membantumu.”


“Aku ingin menelepon Devan, dia pasti mengerti bahwa ini semua kesalahpahaman.”


“Ck ck ck, Nyonya Stella, saya akui kegigihan Anda. Apakah Anda pikir Tuan Devan masih mau menemui Anda? Dua tuntuan lain yang saya belum bacakan adalah penculikan terhadap istri dan anaknya. Belum lagi kekerasan yang Anda lakukan di depannya.”


Adam mengerutkan keningnya. Ia adalah ayah dari tiga orang putra. Bahkan dalam kondisi apapun ia tidak pernah menampakkan senjata di depan mereka.


“Liam itu anakku, bagaimana aku menyulik anakku sendiri.”


“Well, kita dengarkan kesaksian Liam kalau begitu. Anakmu akan bicara di depan hakim tentang hal itu.”


“Liam akan membelaku …” Pikir Stella yakin.


“Dan Qiara, perempuan itu yang memaksa ikut …”


“Stop Nyonya, semua pernyataan Anda bisa kami pakai di pengadilan.”


Adam menghela napas menatap tahanan yang keras kepala di depannya. Sementara Karel tersenyum sinis, tahanan yang satu ini memang merepotkan.


“Well, sepertinya kita sudah membuat Nyonya Stella lelah. Mari kita tinggalkan, aku lelah mendengarkan khayalannya.”


Stella menatap keduanya dengan pandangan memelas yang biasanya ampuh untuk menaklukkan laki-laki.


Tapi kali ini tidak. Adam dan Karel beranjak meninggalkannya. Stella menarik-narik tangannya agar lepas dsri borgol menyebabkan luka di sana-sini.


“Tolong, teleponkan Devan Donavy untukku. Dia akan mengerti dan mengeluarkanku dari sini. Tolong …”

__ADS_1


***


__ADS_2