
Aira duduk bersama para santri baru. Semuanya berjumlah duapuluh delapan orang dari seluruh kelas.
Ustadzah Ella memberi kata sambutan dan motivasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.
Aira dan para santri mendengarkan dengan seksama. Mereka kagum dengan kefasihan Ustadzah Ella.
“Niatkan semua karena Allah maka nikmat dunia akhirat akan kaudapatkan. Nikmat dunia bukan diukur dari kekayaan, tapi iman yang teguh dan nikmat sehat adalah nikmat yang tidak bisa dihitung secara material. Nikmat akhirat? Ya masuk ke surga … in syaa Allah.”
Ustadzah melayangkan pandangan ke arah orang tua sambil tersenyum.
“Kami akan menjaga amanah yang diberikan ke kami untuk mendidik dan memantau perkembangan putri-putri bapak dan ibu sekalian, dengan ridho Allah.”
Dari sudut ruangan, Hanna memerhatikan remaja putri berkerudung baby blue menyimak tanpa berkedip.
“Maa syaa Allah, cantiknya luar dalam kamu, Nak. Mama malu untuk mendekati.” Hanna diam-diam menyeka air mata yang mulai mengembang.
Ia begitu terpana dengan Aira hingga tidak melihat seorang remaja laki-laki masuk dan mengamatinya diam-diam.
Dengan penuh kecurigaan Kala mengamati gerak-gerik Hanna. Ia memang masih sangat kecil saat diculik. Tapi suara Hanna tidak mungkin ia lupakan. Wanita itu datang ketika Kala pura-pura tertidur dan memberi perintah pada anak buahnya.
Kala bergidig mengingat kejadian paling menakutkan sepanjang hidupnya. Qiara harus meminta bantuan psikolog untuk menghilangkan trauma pada Kala.
Suara Hanna memicu memori masa lalu muncul ke permukaan hingga menimbulkan reaksi fisik. Kini Kala berniat membongkar jika benar wanita bercadar itu adalah Hanna, maka ia harus melindungi adiknya dari wanita jahat.
Kala mengirimkan pesan:
Aya, bisa pindah ke belakang? Duduk di sampingku?
Thoriq mengernyit. Ia menoleh ke belakang lalu menggeleng.
Kala memerhatikan Hanna yang juga melihat ke arah Thoriq lalu ke dirinya. Mata Hanna terbelalak begitu mengenali Kala.
“Gotcha, it’s really you evil woman,” ucap Kala dalam hati.
Thoriq memerhatikan Kala terus melihat wanita bercadar di ujung ruangan. Panik, Hanna gegas keluar dari ruangan.
“Astaghfirullah ya, Allah, bantu Hanna untuk minta maaf dan Aira mau menerima hamba lagi.”
Hanna memutuskan untuk mengambil air wudhu. Begitu kembali, Ella telah selesai dan kini para guru dan staff sedang memperkenalkan diri.
Hingga tiba giliran Hanna. Wanita itu gugup setengah mati.
“Bapak dan Ibu sekalian, para santriwati, saya adalah salah satu staff administrasi atau tata usaha di sini. Saya siap membantu … in syaa Allah …”
Hanna tak sanggup menyebutkan namanya.
“Namanya ukhti, biar dikenal sama semua …” Ella mengingatkan.
“Oiya, maaf ustadzah, nama saya … nama saya Dini …”
Ella menatap Hanna dengan pandangan bertanya, namun melihat tatapan memohon dari Hanna, ia pun mengangguk.
Di belakang Kala semakin yakin bahwa wanita bercadar itu adalah Hanna, sekarang ia bingung bagaimana memberitahukan Thoriq dan Aira.
Ella menambahkan, “Ukhti Dini ini adalah staff paling baru di sini namun perannya sudah luar biasa membantu kami untuk bisa menghadirkan santriwati baru hari ini. Sebelum saya tutup …”
Belum sempat Ella meneruskan, pintu auditorium terbuka. Terlihat Dicky dan dua keponakannya tergopoh-gopoh masuk.
“Afwan ustadzah kami telat.” Dicky menyuruh keponakannya duduk di antara para santri.
Hanna berdecak melihat ke arah Dicky dengan kesal. Kemarin siang ia sudah berkali-kali mengingatkan agar tidak terlambat ke acara orientasi santri baru.
Bukan cuma telat, laki-laki tidak becus ini malah datang di akhir acara.
Dicky yang mengenali Hanna hanya mengendikkan bahu.
“Dasar laki-laki nggak guna!” Sungut Hanna, tak sadar kehadiran Dicky sedikit menghiburnya.
“Tidak apa, Dokter Dicky, selamat datang Latifah dan Fatimah. Nanti setelah ini kalian silakan berkenalan dengan teman-teman. Saya lanjutkan, sesi berikutnya adalah orientasi kampus. Masing-masing staff akan membawa satu santri bersama keluarga sehingga jika ada tanya jawab bisa lebih gamblang. Terima kasih.”
Ella membagi tugas para staff. Hanna setidaknya lega karena ia akan mengantarkan Dicky dan kedua keponakannya.
Kala terus memantau gerak-gerik Hanna. Ingin melihat apakah wanita itu mendekati adiknya.
Aira mendekati kakak dan ayahnya kemudian mengajak mereka keliling kampus. Ia sempat melirik mobilnya kosong. Matanya mencari Liam.
“Liam ke mesjid, Dek. Katanya males nunggu di mobil.”
Malu karena ketahuan, Aira hanya mengangkat alis, padahal matanya mencari di mana letak mesjid.
“Mesjidnya di luar kampus …” Bisik Kala lagi sambil nyengir lebar. Aira menyikut kakaknya yang makin terkekeh.
Dari sudut mata Hanna melihat interaksi Aira, Kala, dan Thoriq yang terlihat sangat akrab. Ada rasa tercubit namun ditepis karena ini semua adalah kesalahannya.
“Ustadzah Hanna, aku Latifah dan ini adikku Fatimah. Ini pamanku yang ganteng namanya Oom Dicky,” sapa Latifah dengan senyum ramah ke arah Hanna.
Kala tak sengaja mendengar, ia menatap tajam ke arah Hanna yang langsung menunduk dan membawa Dicky beserta keponakan keliling kampus.
“Assalamualaykum, saya Ustadzah Ella, in syaa Allah saya yang akan mengantar Kamelia Aira berkeliling kampus pesantren. Anda ayahnya?”
“Waalaykumussalam, betul saya ayahnya Aira.” Thoriq mengatupkan tangan di dada.
“Saya kakaknya Aira, nama saya Kala, apakabar ustadzah?” Kala mengatup tangannya dan menyapa ramah kepala sekolah adiknya. Thoriq melirik betapa mirip Kala dengan Qiara yang ramah dan mudah bergaul.
“Maa syaa Allah, putra dan putrinya ganteng dan cantik. Semoga kalian jadi anak soleh dan solehah…”
“Aamiin,” balas ketiganya.
Ella sengaja menemani Aira dan keluarganya untuk tahu lebih jauh sifat mereka. Dari perkenalan, ia merasa ketiganya adalah orang yang berhati lembut.
Yang ia khawatirkan adalah hadirnya Kala, korban Hanna di kasus penculikan dan penganiayaan. Remaja itu nampaknya mencurigai Hanna karena sedari tadi terus mengawasi dari jauh.
“Kala umur berapa? Sekolah dimana?”
“Tahun ini in syaa Allah lima belas. Aku cuma beda sebulan dari adikku.”
“Ooh? Kok bisa?”
“Ibu kami beda, tapi kami seperti saudara kandung kok, Ustadzah …” Sahut Kala lagi.
Thoriq merangkul kedua anaknya sementara Ella berjalan di depan. Mereka akan melihat gedung tempat belajar mengajar.
“Aku tinggal di London sama Buna dan Daddy. Sekolah di Westbay Private School,” lanjut Kala. Thoriq benar-benar melihat kesamaan Kala dengan Qiara yang gampang akrab dengan orang yang baru dikenal. Sementara Aira lebih mirip dirinya sedikit pendiam.
“Maa syaa Allah. Maaf boleh tanya, kalau di sana apakah ada fasilitas sholat?”
“Alhamdulillaah ada. Itu kenapa orang tuaku memilih Westbay karena ada fasilitas beribadah untuk muslim. Tidak besar, tapi memadai. Guru dan murid di sana juga friendly, Ustadzah.”
“Ada pelajaran agama Islam?”
“Nggak ada, tapi ada ustadz dan ustadzah dari mesjid dekat rumah yang datang tiap sore. Kami enam bersaudara belajar mengaji dan fiqih sama mereka. Buna dan Daddy juga ikut. Daddy kadang-kadang sih soalnya kerja.”
“Ustadzah senang dengarnya. Kapan liburan lagi ke sini, coba pesantren khusus pria di kota sebelah. Mereka ada program liburan.”
“In syaa Allah, ustadzah, mungkin aku ajak adik-adikku. Karena kakakku tahun depan akan kuliah.”
“Kamu anak baik Kala, Ustadzah senang ngobrol sama kamu. Naaah, ini kita sudah sampai di gedung tempat belajar mengajar. Aira, yuk jalan di sebelah Ustadzah.”
Ella menuntun Aira, menunjukkan ruang-ruang kelas yang tertata rapi dan apik. Bukan saja ruang kelas tapi ada studio seni kaligrafi, dapur untuk praktek memasak, dan perpustakan.
Aira yang pencinta buku sangat menyukai perpustakaan yang nyaman menghadap ke taman dan kolam. Suara gemericik air memberinketenangan, tak sabar rasanya tenggelam dalam ratusan buku-buku yang bisa membawa imajinasinya melalang buana.
Pintu perpustakaan terbuka. Tak sengaja ternyata Hanna juga membawa Dicky dan keponakannya meninjau ke tempat yang sama.
Kala mengernyit, sementara Thoriq tiba-tiba mengenali suara Hanna.
Mengangguk sekilas, Hanna mau tidak mau menerangkan kepada rombongan mengenai perpustakaan.
“Ustadzah Hanna, apakah di sini ada buku dongeng?” Tanya Fatimah sambil melihat berkeliling.
__ADS_1
Tubuh Hanna menegang, Thoriq berbalik melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya. Mata Kala tiba-tiba menyorot kemarahan. Tangannya mengepal.
Aira yang sedang menikmati suasana tercengang melihat perubahan ekspresi ayah dan kakaknya.
“Jadi benar itu kamu, Hanna.” Suara Thoriq terdengar dingin.
Hanna menunduk. Ella segera berdiri di antara Hanna dan Thoriq. Sementara Dicky dan keponakannya bergeming merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul.
“Apakabar, Mas Thoriq dan Aira? Betul ini Hanna. Mantan istri Mas dan mamanya Aira.”
Aira menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya terbelalak melihat wanita di depannya. Tertutup cadar, hanya terlihat mata sendu Hanna yang berkaca-kaca.
“Mama?” Tanya Aira lirih
“Betul, ini Mama, Aira.” Suara Hanna tercekat.
Aira berdiri mematung. Matanya terus menatap Hanna. Napasnya memburu.
“Aya, Mas Kala, kita pulang. Aira nggak mau ada di sini.”
Aira bergegas menuju pintu, air matanya berlinang.
“Aira, tunggu. Mama mohon. Mama ingin minta maaf pada kamu dan ayahmu. Juga Kala. Kamu Kala, kan? Anaknya Mbak Qia?”
Kala gemetar, kilasan perlakuan para penculik suruhan Hanna kini terbayang jelas di benaknya. Ketakutan teramat sangat yang dulu dirasakan berada jauh dari ibunya dikelilingi orang asing berwajah bengis kembali menguasai pikirannya.
Thoriq menoleh ke putranya, menyentuh tubuh kaku dengan gigi gemeletuk.
“Kala, istighfar, Nak.”
Aira berbalik lalu maju mendekati ibunya. Matanya menatap marah.
“Aira hanya ingin menatap mata seorang ibu yang tega meninggalkan bayi dan suaminya saat sedang lumpuh.”
Tanpa kedip ia terus menatap tajam ke arah Hanna.
“Aira, Mama minta maaf.”
Aira tak menjawab. Thoriq merangkul Kala yang kini kembali pucat pasi.
“Aya, kita pergi dari sini Aira, nggak mau dekat sama wanita ini.” Suara Aira bergetar menahan marah, wajahnya basah karena air mata.
“Aira, Mas Thoriq.” Hanna memanggil dengan keberanian yang tersisa.
“Aya, tolong Kala. Buna … Buna …” Kala tiba-tiba berteriak histeris.
Thoriq mendekap Kala, Aira menoleh cemas ke kakaknya.
“Mas, ada Aira. Kita keluar dari sini.”
Thoriq menoleh ke arah Ella, lalu pamit kemudian menyusul Aira dan Kala. Ia tak lagi menoleh ke Hanna yang menatapnya dengan putus asa.
Hanya bisa menatap punggung Thoriq dan Aira yang terus merangkul Kala, Hanna jatuh terduduk.
“Hanna!” Ella dan Dicky terkejut.
Hanna terisak-isak.
“Hanna tau nggak akan mudah, tapi tidak menyangka akan sesakit ini.”
Latifah dan Fatimah memandang dengan bingung. Ella memeluk Hanna, kemudian berdiri untuk bicara dengan Dicky dan dua keponakannya.
“Maaf, sebentar saya yang akan melanjutkan touring ke seluruh kampus. Ijinkan saya bawa Hanna ke ruangan dulu.”
“Tidak usah, Bu. Saya bisa sendiri. Saya akan ke mushola saja.”
“Hanna, biar kami mengantar. Kamu terlihat pucat.” Dicky terlihat cemas. Hanna tidak terlihat sehat dan baik.
“Iya nggak apa-apa ustadzah. Lagi pula aku dan Fatimah sering main ke sini waktu ada mendiang Mama.”
Hanna menatap kedua gadis kecil lalu tersenyum. Tangannya menyentuh pipi-pipi halus mereka.
“Ijinkan saya, Ustadzah.”
Ella mengangguk, kemudian Dicky membopong Hanna untuk dibawa ke rumah sakit dengan mobilnya.
Di saat yang bersamaan, Liam bertemu dengan Thoriq dan Aira yang masih memapah Kala.
“Kala, what happened to you?”
“He met my mom.”
“Kala … Kala …” Liam panik melihat Kala kini tak sadarkan diri dengan mata membalik.
“Uncle, bawa ke rumah sakit. Aku akan telepon Buna dan Daddy.”
Mereka memasukkan tubuh Kala yang kaku ke dalam mobil. Thoriq melarikan mobil ke rumah sakit yang sama dengan Dicky membawa Hanna.
Hari yang awalnya begitu indah berakhir begitu kacau.
***
Hingga sore, Kala masih tertidur di ruang perawatan. Dokter memberinya obat tenang sesuai dosis. Liam terus memegang tangan adiknya.
“Kala, you just have to be strong. Come back for me, please.” Liam berbisik di telinga adik sambung yang sangat disayangi.
Aira memeluk Thoriq sambil menangis, sementara wajah ayahnya tegang. Qiara dan Devan dalam perjalanan dari airport ke rumah sakit.
Thoriq mendekati Kala.
“Sayang, semoga kamu bisa dengar Aya. Nggak ada yang bisa sakitin Kala lagi. Di sini ada Aya, Liam, Aira. Buna dan Daddy sama semua adik kamu juga menuju ke sini. Kala denger Aya? You are safe. Bangun ya, Nak. Aya kangen denger kamu bilang ‘Ay ay, Captain’. Aya kangen ngobrol sama kamu. Kita semua pengin kamu bangun.”
Thoriq lalu membisikkan lafadz-lafadz Qur’an di telinga Kala.
Mata putranya masih terpejam. Namun tangannya sudah tidak mengepal erat.
Pintu terbuka.
“Kala, Kala ini Buna, Sayang.” Qiara setengah berlari mendekati Kala lalu mencium pipi anaknya.
“Liam, bisa tolong jaga Abby dan triplets di ruang tunggu. Daddy nggak kasih mereka masuk. Biar Daddy ke sini. Boleh, kan?”
“Iya, Buna.” Liam meremas tangan Kala lalu beranjak keluar. Tak berapa lama Devan masuk. Wajahnya cemas.
Thoriq menggamit Devan.
“Dev, aku punya kenalan psikolog dan psikiater senior dari Jakarta. Beliau kebetulan sedang di Semarang jadi pembicara dan sebentar lagi menuju ke sini. Psikolog yang menangani Kala waktu kecil sudah meninggal.”
“Apa kata kenalanmu?“
“Ibu Asimah berkata saat ini kita diminta terus membisikkan kalimat yang menenangkan. Meyakinkan Kala bahwa dia aman. Dipantau apakah trauma yang muncul ada efek ke fisik misalnya kejang terus menerus. Jangka panjang, beliau menawarkan hipnoterapi untuk menghilangkan ketakutan yang rupanya masih tersimpan di memori Kala.”
Qiara menghampiri Thoriq dan Devan. “Mas …”
“Qia, Mas benar-benar nggak sangka akan bertemu Hanna. Demi Allah, Qia.”
“Aya nggak salah Buna, please jangan salahin Aya.” Aira menatap Qiara dengan tatapan memohon.
Qiara tersenyum lembut. “Enggak, Sayang. Qadarullah. Sekarang kita berdoa dan berusaha supaya Kala cepet bangun.”
“Buna … ada Buna?” Suara Kala terdengar lemah.
“Kala … Kala, Buna di sini. Buka matanya yuk, Nak.”
“Nggak mau, ini pasti cuman mimpi. Tolong Kala, Buna ... Aya …”
Thoriq mendekat, “Kala bisa dengar Aya?”
Kala mengangguk.
__ADS_1
“Sekarang tangan Aya pegang tangan Kala, berasa kan?”
Kala mengangguk.
“Tangan Aya terus akan pegang tangan Kala. Nggak akan Aya lepas. Sekarang Kala buka mata pelan-pelan.”
Kala membuka mata perlahan, melihat wajah Thoriq tersenyum padanya.
“Hi Kiddo.”
“Aya … it’s really you.” Kala langsung memeluk erat ayahnya. Qiara menyaksikan bersama Devan dan Aira. Semua masih mencemaskan Kala.
Suara Thoriq terdengar sangat menenangkan.
“Kala sekarang liat sekeliling. Liat Kala ada di mana dan ada siapa aja?”
Kala melihat berkeliling. “Buna? Daddy? Aira?”
Qiara kini gantian memeluk Kala erat-erat. “Welcome back, Kala.”
Tangan Kala masih gemetar, sisa traumanya masih nampak, namun napasnya sudah lebih teratur dan wajahnya terlihat tenang.
“Adek, kamu nggak apa-apa?”
“Mas Kala, Aira takut ngeliat Mas Kala kaku.”
“Ini Mas udah bisa mleyot-mleyot lagi,” jawabnya. Suaranya masih lemah namun sudah bisa menggerak-gerakan badannya.
Sekarang semua bisa bernapas lega, karena Kala sudah mulai bisa bercanda.
“Kala jangan terlalu banyak gerak dulu,” tegur Qiara yang masih khawatir.
“Tadi Kala ketemu sama Tante Hanna. Kala takut Buna. Tapi sekarang udah nggak lagi. Ada Aya dan Buna soalnya.”
Qiara mengecupi kening dan pipi anaknya, hingga Kala minta ampun karena kegelian.
“Buna, Kala mau ketemu Tante Hanna, banyak yang pengin Kala omongin. Kala mau marah sama Tante Hanna. Sekarang dia lebih kecil dari Kala.”
“Nanti ya, Kala …”
“Aira nggak mau ketemu Mama. Aya, Aira balik aja ke sekolah yang lama di Solo. Males tiap ada Mama pasti ada musibah.”
***
Hanna menatap langit-langit ruang UGD. Berulang kali menghela napas.
“Hanna …”
“Pak eh Dokter Dicky.”
“Tumben dia nggak panggil aku cabul. Berarti beneran besar masalahnya,” batin Dicky yang kini sudah memakai jas putih.
“Kamu udah boleh pulang, biayanya sudah diselesaikan oleh Ustadzah Ella. Dan karena kamu karyawan banyak dapat keringanan. Jangan terlalu stress, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Berdoa dan bermohon terus. Nanti kamu mampir counter obat, ada penambah darah dan vitamin buat kamu.”
“Terima kasih, Dokter.” Hanna bangkit dengan kepala yang masih pusing.
“Ustadzah Ella akan jemput kamu, sekarang lagi ambil mobil. Soalnya tadi ke ke sini naik mobilku.”
“Iya, Pak. Eh Dokter.”
“Apa aja asal jangan yang itu …”
“Cabul?” Hanna mengangkat alis.
“Ck … hsssh sana pulang.” Dicky bersungut namun masih mengantar Hanna ambil obat dan menunggu di mobil.
Sekilas Hanna melihat seseorang yang diingatnya sebagai tunangan Qiara menggandeng satu anak perempuan dan tiga anak laki yang super heboh.
Dari wajah mereka, Hanna dapat menyimpulkan bahwa anak-anak itu adalah putri-putri Devan dan Qiara.
“Kamu kenal mereka? Itu yang bule dokter terkenal banget. Namanya Dokter Devan, dia berhasil mengembangkan metode baru untuk bayi tabung. Katanya salah satu anaknya dirawat disini.”
“Anak sambung. Namanya Kala. Remaja ganteng yang tadi bersama anakku dan mantan suamiku.”
Dicky tidak berkomentar. Tak berapa lama seorang wanita cantik berkerudung biru bunga-bunga dan mengenakan tunik senada keluar bersama Aira dan seorang remaja jangkung yang membuat kaum Hawa melotot karena ketampanannya.
“Aira … Mbak Qia …” Hanna terperanjat.
Dicky melihat ke arah rombongan yang kini menaiki mobil besar.
“Hidupku ruwet. Semua salahku,” keluh Hanna lirih.
“Ya iya lah, masak salah gue…”
Mata Hanna memicing ke arah Dicky yang sedang duduk santai di sebelahnya.
“Ada ya makhluk nggak sensitif kayak gini,” batinnya.
“Jangan liat-liat, kalau naksir aku belum tentu mau.”
“Subhanallah, aku nunggu di bawah pohon aja. Mending ngomong ama semut.”
Hanna berjalan menuju pohon rindang dengan bangku taman terpasang di bawahnya.
“Kok ngikutin, Dok?”
“Aku belum pernah liat orang ngomong ama semut. Siapa tau jadi temuan ilmiah dan aku bisa seterkenal Dokter Devan.”
Hanna berbalik, alisnya terangkat. Bukannya mundur, Dicky melewatinya dan duduk di bangku.
“Udah sini, untung kamu tekanan darah rendah, sumbu pendek amatan.” Dicky menepuk bangku menyuruh Hanna duduk.
“Kamu pernah serius nggak?”
“Pernah, kalau lagi nggak sama kamu.”
“Aku emang nggak perlu dianggap serius,” cetus Hanna meratapi diri.
“Kalau kamu mau berpikir kayak gitu, ya bakal kejadian. Ni ada semut. Ngomong gih.”
“Ya Allah Gusti, paringono sabar.” Walau mengeluh terbit secercah senyum di bibir Hanna.
(Ya Allah, berikanlah kesabaran)
Dicky melirik lalu tersenyum diam-diam.
“Selesaikan masalahmu satu persatu, jalan pikirnya tu jangan cewek banget gitu, loh. Banyak drama. Nggak bakal beres.”
“Aku bingung mulai dari mana.”
“Dari asal muasal. Aku nggak tau persis masalahmu, tapi entah bagaimana, sepertinya Allah menempatkan semua orang yang punya masalah sama kamu di tempat ini, sekarang. Pasti Allah punya maksud tertentu. Tugas kamu mikir, bukan nangis.”
“Aku merusak pernikahan Thoriq dan Qiara. Sepertinya aku harus mulai dari sana sebelum ke Aira,” pikir Hanna.
“Nah ketemu kan,” ucap Dicky seolah bisa membaca pikiran Hanna.
“Sotoy!”
“Enggak maksudnya Ustadzah Ella berhasil ketemuin kamu. Tuh di sana.” Dicky menunjuk dengan mengangkat dagu ke arah Ustadzah Ella.
Hanna tertawa. Entah bagaimana ia tertawa lepas. Tawa yang mungkin belasan tahun tidak pernah singgah.
Dicky tersenyum senang.
“Makasih, Dokter. Saya pamit.
Dicky menatap Hanna yang berlalu menuju Ella, lalu menggumam, “Hmmm, mungkin aku harus ganti spesialis ke kejiwaan.”
***
__ADS_1