Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Penyelamatan


__ADS_3

Tak memedulikan peringatan Mario, Devan melompat keluar dari mobilnya. Mario dan anak buahnya melindungi Devan.


Terdengar suara tembakan dari dalam mobil. Anak buah Mario terlebih dulu sampai di pintu mobil samping pengemudi. Tanpa susah payah, tangan kekarnya berhasil melumpuhkan Hanna, sementara si pengemudi sudah tertembak.


Devan membuka pintu belakang dan menemukan Qiara dengan pakaian yang basah oleh darah segar.


“Qia, no, no, no! I got you baby, you’re safe now.”


Devan membalik tubuh Qiara. Sebuah luka tembak terlihat di dada atas. Mata Qiara terpejam, wajahnya pucat pasi.


“Qia … Qia … be strong! I got you.” Devan membopong Qiara ke mobilnya. Melewati Hanna dan anak buahnya yang berhasil di lumpuhkan.


Hanna menatap ke arah Qiara. Terlepas dari kondisi Qiara yang tak berdaya, namun ia iri dengan bagaimana Devan begitu melindungi Qiara.


Terus menatap punggung Devan yang berlari membawa Qiara ke mobil ambulans yang disiapkan Anwar, air mata mengalir dari netra Hanna.


“Bapak, Ibu, Hanna pengin nyusul aja. Hidup Hanna sudah hancur.”


Tanpa pikir panjang, Hanna berdiri lalu berlari menjauh. Anwar mengangkat senjata dan menembakkan ke arah Hanna. Tubuh wanita yang hatinya dipenuhi dendam itu tersungkur tak bergerak.


***


Thoriq duduk di samping tempat tidur Kala di rumah sakit. Putranya menderita dehidrasi dan trauma. Dalam tidurnya, Kala menangis dan terus memanggil Buna.


Di kamar operasi, dokter berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Qiara. Wanita itu kehilangan banyak darah. Kondisinya kritis.


Dhanu, Marianne, dan seluruh sahabat Qiara ikut menunggui. Devan duduk diam tak bersuara. Wajahnya tegang, matanya sendu memikirkan kemalangan yang menimpa Qiara dan Kala. Dan semua bermula darinya.


Devan menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


“Ya Allah, selamatkan Qiara, hamba mohon. Kala masih memerlukan Bunanya.”


Keadaan Thoriq juga tidak lebih baik dari Devan. Ia diliputi rasa bersalah ketika mendengar Hanna termasuk dalam komplotan yang menyulik anaknya dan menyakiti Qiara.


“Qia, Mas banyak banget salah sama kamu. Mas nggak nyangka Hanna ternyata sejahat itu.” Thoriq buru-buru menghapus air matanya karena melihat Kala bangun.


“Aya, I want Buna. Where’s Buna?”


Thoriq mengelus kepala putranya.


“Kala harus sabar, ya, Buna harus disembuhin dulu biar bisa ketemu Kala.”


“Aya, Kala takut.” Mata Kala berkaca-kaca, namun ia sekuat tenaga menahan tangis.


Pintu kamar terbuka.


“Uncle Devan!” Panggil Kala dan langsung duduk di tempat tidur. Mengangkat tangannya minta digendong.


Devan melirik Thoriq yang memberi persetujuan. Kala langsung berdiri dan melompat ke pelukan Devan.


“Uncle, where’s Buna. I wanna see Buna.”


“Buna wants to see you too. Buna sedikit terluka dan harus disembuhin.”


Kala memeluk erat-erat, membuat Thoriq merasa iri. Walaupun ia ayahnya, namun terlihat Kala lebih terbiasa dengan Devan.


Thoriq menata Devan dengan tatapan bertanya. Devan menggeleng. Hati Thoriq kembali mencelos melihat jawaban Devan yang artinya operasi Qiara masih berlangsung.


“Uncle di sini sama Kala,” pinta anak kecil itu lirih. Devan duduk di tempat tidur rumah sakit sambil terus menggendong Kala.


Fauzan, suami Ella, salah satu sahabat Qiara masuk ke kamar Kala. Matanya terlihat sangat cemas.


Thoriq menghampirinya karena Kala masih terus menempel pada Devan. Fauzan dan Thoriq ke luar ruangan.


“Qiara makin kritis, barusan dokter memberitahukan. Peluru berhasil dikeluarkan namun ia mengalami pendarahan internal yang parah. Jangan lepas berdoa.”


Lutut Thoriq mendadak lemas mendengar ucapan Fauzan.


“Salah gue semuanya, Zan. Kalau gue nggak nikah sama Hanna, semua nggak terjadi.”


“Ini takdir, lu harus ikhlas dan terima. Percuma juga nyesel. Lagi pula pernikahan lu sama Hanna sudah menghadirkan Aira. Apa lu nyesel punya Aira?”


Thoriq menggeleng. Putrinya masih dititipkan ke Kakek dan Nenek. Aira terus menanyakan Kala dan ingin menemui kakaknya.


“Lu jagain Kala dan Aira, itu tugas lu. Nggak usah mikir macem-macem. Harus kuat, Thoriq! Lu punya dua anak sekarang. Gue ke atas dulu, nanti gue balik kalau ada kabar. Gue nggak mau nelepon karena takut ganggu Kala.”


“Thanks, Bro.” Fauzan merangkul Thoriq memberikan dukungan pada sahabatnya.


Devan terus memerhatikan pintu, menunggu Thoriq masuk. Hatinya tak tenang. Kala sudah kembali tertidur. Dokter memberikan sedikit obat agar Kala tenang.


Dengan hati-hati, Devan membaringkan Kala. Thoriq yang baru masuk ikut membantu dengan menepuk-nepuk bokong Kala agar tenang.


Devan dan Thoriq duduk di sofa.


“Peluru Qia sudah diambil. Tapi pendarahan internalnya parah.”


Dari arah tempat tidur terdengar Kala bertanya, “Aya, Buna ketembak?”


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Thoriq dan Devan serempak. Mereka langsung berdiri mendekati Kala yang nampak cemas.

__ADS_1


“Buna ketembak?”


Thoriq merengkuh anaknya ke dalam pelukan. Ia takut jujur pada anak berusia tiga tahun yang seumur hidupnya tak pernah berpisah dari Bunanya.


“Kala, Buna luka karena tertembak. But Buna is so strong, jadi sekarang Buna lagi berjuang supaya bisa ketemu Kala lagi.”


Kala kembali menjebik-jebik menahan tangis. Thoriq mengeratkan pelukannya.


“Kala berdoa, supaya Buna kuat.”


Kala mengangguk kuat-kuat. Dia memposisikan tangannya di dada seperti yang diajarkan Bunanya saat berdoa. Matanya terpejam keningnya berkerut. Bibirnya komat-kamit merapalkan permohonannya.


Thoriq dan Devan terharu. Netra mereka menghangat. Dalam hati mereka tak lepas memohon pada Allah Yang Maha Pengasih untuk memberi kesempatan buat Qiara bertemu anaknya lagi.


Pintu terbuka. Dhanu muncul.


“Alhamdulillah, Qiara selamat. Operasi berhasil. Sekarang masih di ICU tapi sudah stabil,” ucapnya dengan wajah lega.


“Uncle Dhanu?” Kala tidak mengerti ucapan Dhanu, menatap pamannya dengan alis terangkat.


“Your Buna is gonna be fine, Kala. Alhamdulillah.”


Mata bulat Kala mulai berbinar. Berita dari pamannya memberi anak itu kekuatan dan semangat.


“Kala pengin sama Buna.”


“Sekarang biar Buna bobok dulu. Kala ucap alhamdulillah karena Allah sudah mendengar dan mengabulkan doa kita semua,” ucap Thoriq yang akhirnya bisa bernapas lega.


Kala buru-buru menghapus air matanya.


“Alhamdulillah Allah yang Baik …”


Dhanu, Thoriq, dan Devan tersenyum mendengar ucapan polos Kala.


“Kala mau mamam dulu? Jadi nanti kalau ketemu Buna, Kala udah sehat dan kuat.”


“Mau! Kala laper, Aya,” balasnya sambil melirik nampan berisi makanan. Ia melihat isi nampan dan langsung berbinar-binar.


“Soto, Kala suka soto.”


Thoriq menyiapkan semangkuk soto dan nasi, tidak lupa perkedel karena Kala sudah ribut minta disuap.


“Thoriq, saya ke atas dulu, nanti ke sini lagi. Kala, Uncle tinggal sebentar, ya …”


Kala yang sudah menikmati soto dan perkedel mengacungkan jempol ke arah Devan. Sementara Thoriq memfokuskan diri menyuapi Kala untuk menutupi rasa cemburu pada Devan.


***


Kala sudah boleh pulang. Thoriq membawanya ke rumah. Di sana ada Kakek, Nenek, dan Aira.


Walau hanya sekali melihat Bunanya dari balik kaca, Kala terhibur. Ia menanyakan kenapa banyak slang di tubuh Buna. Dengan hati-hati, Devan menjelaskan dengan bahasa yang dipahami anak kecil. Ia tidak ingin Kala takut.


Setelah kejahatannya terbongkar, Stella dan Tom kabur entah kemana. Anwar telah mengirimkan red notice ke interpol untuk Stella dan Tom. Mereka kini dicap sebagai buronan.


Kala sedang bermain dengan Aira. Kesehatan Aira semakin membaik sejak bertemu Kala. Di sela bermain, Kala sering mendatangi ayahnya untuk menanyakan Buna.


Kakek dan Nenek makin melihat kemiripan Thoriq dan Kala. Mereka seakan melihat cucu mereka saat masih kecil. Kedua pasangan buyut itu juga kagum dengan bagaimana Qiara membesarkan Kala.


Anak laki-laki itu sopan, tak pernah lupa mengucapkan tolong dan terima kasih. Walau belum hafal bacaan sholat tapi ia selalu semangat ikut Thoriq dan Kakek ke masjid.


“Di Australia masjidnya jauh dari rumah Kala.” Dengan bahasa Indonesia masih terbata-bata.


Nenek memeluk cucu buyut yang baru ditemuinya beberapa minggu terakhir. Ia mendengarkan celoteh Kala bercerita kehidupan di Australia. Sangat terlihat betapa Kala dekat dengan Bunanya, karena di setiap cerita selalu ada Buna.


Aira resmi jadi bayangan kakaknya. Anak perempuan itu kini makin ceria mengikuti pembawaan kakaknya yang konyol dan lucu.


Kala sering menceritakan juga tentang Liam dan berharap suatu saat mereka bisa main bertiga. Aira selalu menyimak setiap cerita Kala. Kakaknya lebih ceriwis sementara Aira cenderung lebih pendiam.


“Kala, Buna bangun, ayo kita ke rumah sakit.”


Kala langsung merosot dan lari ke mobil. Thoriq menangkap putranya.


“Ganti baju dulu, Sayang. Yuk sama Aya.”


Dengan wajah cemberut Kala menarik Thoriq ke kamar untuk membantunya ganti baju. Aira mengintil kakaknya.


“Ai, kakak ketemu Buna dulu, ya.”


Mata Aira berkaca-kaca.


“Kakak nggak pulang ke sini lagi, ya?”


Kala menatap ayahnya. Ia rindu dan ingin bersamanya Bunanya tapi tak tega meninggalkan Aira.


“Nanti kita lihat kondisi Bunanya Kakak Kala dulu, ya Aira.” Mendengar jawaban ayahnya air mata Aira mengalir tak terbendung.


Thoriq memeluk Aira dan menciumi pipinya.


“Aira sedih ya, Kakak mau pergi?”

__ADS_1


Aira mengangguk.


“Aya, ayo …” Kala menarik tangan ayahnya.


“Aya anter Kakak dulu ya, Sayang.”


“Bye Kakak …”


“Bye Ai.” Kala melonjak-lonjak menuju mobil sementara Aira menatap dari balik jendela dengan air mata berlinang-linang.


***


Qiara sudah dipindah ke ruang perawatan biasa. Walau bekas jahitan masih terasa, namun ia merasa lebih baik dan memohon agar bisa bertemu Kala.


Ia bolak-balik menanyakan anaknya ke Dhanu dan Devan. Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Anak kecil yang sudah tak sabar bertemu Bunanya langsung menerobos.


“Kala!”


“Buna!”


Doa orang yang baru terlepas dari mara bahaya saling berpelukan. Qiara tidak memedulikan rasa nyeri. Semua terbayarkan melihat anaknya selamat dan dalam keadaan baik.


“Buna … I miss you …” Mata Kala berlinang-linang air mata. Hanya saat bersama Buna ia menunjukkan sisi anak kecilnya.


“Buna kangen Kala juga. Buna seneng banget ketemu Kala.”


Kala tidak menjawab Buna tapi langsung mendekap erat. Qiara meringis kesakitan walau ditahan.


Dhanu hendak menggeser Kala yang langsung ditepis.


“Kala, hati-hati, dada kanan Buna masih ada luka.”


Kala melihat ke arah dada Bunanya, alisnya terangkat.


“Buna belum sembuh? Buna harus banyak makan supaya cepet sembuh. Iyakan, Aya?”


Thoriq menatap Kala dan Qiara dengan penuh syukur. Pemandangan yang indah melihat ibu dan anak berpelukan melepas rindu dan kekhawatiran.


Qiara tersadar jika Thoriq dari tadi memerhatikannya.


“Assalamualaykum, Mas,” sapanya masih dengan suara lemah.


“Walaykumussalam, Qia. Gimana kabar kamu?” Tanyanya lembut sambil berjalan mendekat.


“Qia sadar udah dari tadi Subuh, Mas. Bingung banget karena nggak tau ada di mana. Alhamdulillah Devan nunggu di luar ICU.”


Thoriq dan Devan saling mengangguk sekilas. Hati Thoriq masih berdenyut setiap mengingat hubungan Qiara dan Devan. Sementara bagi Devan ia masih melihat bagaimana Thoriq dan Qiara masih sangat saling mencintai.


Seorang perawat masuk.


“Maaf, pasien masih harus beristirahat.”


Kala menatap curiga kepada perawat itu.


“What did she say? I want with Buna.” Anak itu memeluk erat Bunanya.


“Suster, adik saya baru ketemu putranya. Bolehkan saya menemani mereka?”


Dhanu memutuskan dialah yang akan menemani adik dan keponakannya karena Thoriq dan Devan bukanlah mahram bagi Qiara.


“Adek, tapi harus hati-hati karena Mama masih luka.”


Tangan Kala menangkup wajah Bunanya. Ia sangat ketakutan Qiara sakit lagi sehingga tidak bisa menemui ibunya.


“Buna …”


“I will be fine as long as you’re fine. Tapi biar aman, Kala tidur di sebelah kiri Buna, ya,” ucap Qiara menenangkan anaknya.


Kala bergegas pindah, lalu tidur meringkuk menempel pada Qiara.


Perawat tersenyum lalu mengingatkan agar Thoriq dan Devan segera keluar. Dengan canggung keduanya keluar dari kamar Qiara.


***


Di sebuah lantai penjara yang dingin, seorang wanita meringkuk. Kakinya dibalut perban setelah dokter mengeluarkan peluru.


“Heh, lu pelakor, ya?” Bentak seorang penghuni wanita.


“Bukan, gue istri sah!”


“Mimpi. Di sini kita benci pelakor. Pegang dia.”


Hanna menatap ngeri empat orang wanita yang memandangnya dengan penuh kebencian.


“Pergi! Jangan mendekat! Tolong! Tolong!”


Seorang wanita menjambak rambutnya lalu menampar kedua pipinya. Tanpa punya kekuatan melawan, Hanna menerima pukulan demi pukulan para wanita penghuni penjara.


“Ampun … ampun …” Pintanya lirih sebelum tak sadarkan diri.

__ADS_1


***


__ADS_2