Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
EP 1: Ketika Cinta Memilih


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah binti Ibrahim dengan mas kawin lima ratus juta rupiah, tunai.”


Seorang laki-laki dengan lantang melafazkan kalimat sakral. Sumpah yang membuat seorang wanita terikat secara sah padanya.


Laki-laki itu mengulurkan tangan, Fatimah menciumnya. Air mata mengalir dari wajah cantik yang makin cantik dengan pulasan make-up tipis.


Laki-laki tampan itu mencium kening Fatimah dengan lembut. Fatimah memejamkan mata saat bibir laki-laki itu menyentuh kulitnya.


Mendekatkan bibirnya ke telinga Fatimah, laki-laki itu berkata, “Kubilang juga apa, kamu akan jadi wanitaku. Selamat kamu sudah menjadi Nyonya Alexander Mahendra.”


***


Ribuan kilometer dari tempat Fatimah melangsungkan pernikahan dengan Alexander, Kalandra memeluk erat kedua anaknya. Si Sulung Hazel berumur tujuh tahun, si Bungsu Kenzo berumur tiga tahun.


Hatinya berdenyut.


“Mas Kala …” Zee mendatangi kakaknya. Hatinya sedih melihat kakak yang biasanya periang kini menatapnya sendu.


“Aku ikut sedih.”


“Mas Kala akan baik-baik aja. Makasih udah nemenin Mas.”


“Aku kasih makan Kenzo dulu ya..”


“Biar Mas aja. Kenzo, makan dulu, yuk.”


Anak kecil berbinar menatap ayahnya. Tangannya menunjuk ke mangkok sambil tertawa.


Dengan hati-hati, Kala membuka tutup selang sonde yang akan mengalirkan makanan lembut untuk Kenzo langsung ke lambungnya.


“Adek harus sehat, kuat. Nanti kita rebut Bunda dari oom jahat.” Hazel, Si Kakak berdiri di samping adiknya.


Kala termangu sambil terus mendorong masuk makanan ke dalam selang dengan menggunakan spuit.


“Ayah sedih?” Kenzo menunjuk air mata yang mengembang di sudut netra ayahnya.


“No! Ini air mata bahagia karena Kenzo sehat.”


Zee menatap ayah dan dua anaknya dengan masygul. Adik bungsu Kalandra sangat mengerti jika kakaknya bertahan hanya untuk Hazel dan Kenzo.


*\~Flash back\~*


Kenzo lahir dengan kelainan darah dan hati. Kondisinya memburuk kalau tidak mendapatkan cangkok hati.


Kala sebagai dokter anak telah mengusahakan donor. Bukan saja di Inggris Raya namun juga dari seluruh dunia. Sampai akhirnya seorang laki-laki menawarkan dengan penuh percaya diri.


“Aku yakin hatiku cocok untuk anakmu. Jika semua berhasil, aku hanya minta kamu menceraikan istrimu. Karena dia milikku.”


Laki-laki itu datang ke kamar perawatan Kenzo yang sudah terbaring lemah. Fatimah menatap ngeri ke wajah Alexander yang terus memandangnya.


“No! Go to hell!” Jawab Kalandra.


“Ini adalah kedua kali aku mendonorkan sebagian dari hatiku. Hanya ada satu orang di dunia ini yang punya kondisi langka sepertiku. So, Dokter Kalandra, Fatimah, pikirkanlah.”


Di saat yang bersamaan, alat monitor jantung yang dipasang di tubuh Kenzo berbunyi keras.


“He’s crashing. Kenzo, bertahan!” Kala gegas menolong anaknya sementara dokter ahli darah masuk.


“Rick, help my son …”

__ADS_1


“Bantu aku mengembalikan kondisi Kenzo. Aku dengar ada donor? Sudah diperiksa?” Rick bertanya kepada Kalandra.


“Forget it.”


“Mas, aku setuju. Selamatkan Kenzo.” Fatimah menangis melihat anaknya yang mulai membiru.


“Sayang, aku akan selamatkan Kenzo. Kamu keluar dulu.”


“Jangan, Mas Kala. Jika ini saat terakhir, ijinkan aku menemani Kenzo.”


Alex berdiri di sudut ruangan. Entah kenapa ia ikut merasakan kesedihan Fatimah yang berurai air mata.


Kala mengangguk, lalu kembali memasukkan obat-obat melalui infus.


“Siapkan alat kejut.”


Fatimah berusaha menguatkan diri. Alat kejut mungkin akan menyelamatkan anaknya, tapi kesakitan luar biasa harus lebih dulu dirasakan Kenzo.


Para perawat telah menyiapkan alat kejut, ketika denyut jantung Kenzo kembali berdenyut.


“Alhamdulillaah …” Fatimah menciumi anaknya yang masih terpejam. Tubuhnya dingin, napasnya dibantu dengan alat besar bernama ventilator.


“Mas, aku bersedia.”


“Fatimah …”


“Jika memang hati Alexander dapat menyelamatkan Kenzo, laksanakanlah. Kenzo harus hidup.”


Alexander mendekati dokter ahli darah bernama Richard, lalu berkata. “Saya siap diperiksa.”


Operasi cangkok berjalan sukses. Kondisi Kenzo membaik. Hingga akhirnya bocah kecil itu diijinkan pulang.


Thoriq, Qiara, dan seluruh anak-anaknya telah berusaha agar Fatimah tidak berpisah dari Kala. Menyewa banyak pengacara ternama bahkan menawarkan bisnis dan kekayaan. Namun Alex tetap pada keinginannya. Perjanjian hitam di atas putih yang telah dilegalisasi mengikat Kala dan Fatimah dengan Alexander Mahendra.


“Fatimah, Mas Kala nggak keberatan harus dituntut dan dipenjara. Asal kamu nggak pergi.”


“Hanya kamu yang bisa merawat dan menjaga Kenzo. Kita sudah mencoba dokter lain. Kondisinya malam memburuk. Kamu telah berkali-kali menyelamatkan anak kita. Aku akan selalu mencintai kamu dan anak-anak. Ijinkan aku pergi demi kehidupan Kenzo.”


Fatimah dan Kala berpelukan lama. Malam itu mereka memadu kasih untuk terakhir kali. Setelah membersihkan diri mereka pindah ke kamar anak-anak lalu berempat tidur di sana.


Ketika fajar menyingsing, Kala dan Fatimah saling menatap dalam diam. Ini adalah kali terakhir mereka akan sholat berjamaah karena Fatimah harus kembali ke Indonesia.


Dicky dan Hanna menjemput Fatimah siang harinya. Fatimah tidak mau pergi jika hanya dengan orang asing.


Fatimah menangis sesunggukan di pundak Hanna. Ia tidak ingin meninggalkan keluarganya untuk menikahi Alexander.


Qiara berkata lirih pada Thoriq, “Mas, apa benar-benar tidak ada jalan lain?”


“Alexander bukan orang sembarangan. Ia telah memaku perjanjian dengan sangat kuat atas Fatimah. Pilihannya adalah Fatimah atau Kenzo yang akan pergi bersama Alexander. Kala dan Fatimah tidak punya pilihan lain saat menyetujui karena nyawa Kenzo sudah di ujung tanduk saat itu.”


Hati Thoriq ikut hancur. Ia tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Tak menyangka takdir membawa Kala untuk merasakan kehilangan cinta.


Kala mendekati Fatimah bersama Hazel dan Kenzo. Walaupun selang makan terpasang di hidungnya, wajah Kenzo terlihat segar berseri. Ia tertawa minta gendong pada Fatimah.


“Sayang …” Fatimah memeluk erat putra bungsunya.


“Kamu sehat selalu. Bunda akan berdoa dan selalu cinta sama Kenzo.”


“Kenzo loves Bunda.” Dengan senyum lebar Kenzo menatap Fatimah. Agaknya Kenzo bisa merasakan kesedihan ibunya namun tidak ingin menangis agar Fatimah tidak semakin sedih.

__ADS_1


“Bunda …” Hazel menarik tangan Bundanya.


Sambil terus menggendong Kenzo, Fatimah duduk di atas lutut, menyamakan tinggi dengan Hazel.


“Bunda jangan lupa sama Hazel. Kita masih boleh ketemu kan?”


Fatimah berusaha menahan tangis.


“Boleh, boleh. Nanti Bunda akan sering video call.”


Hazel kemudian memeluk ibunya, anak laki-laki itu menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya. Diam-diam menangis.


“Hazel, Bunda titip Ayah dan Adek Kenzo. Bunda hanya bisa menjaga kalian lewat doa.”


“Janji, Hazel akan jagain Ayah dan Kenzo.”


Suasana menjadi sangat kelam. Semua yang ada di ruangan menitikkan air mata. Zee mengajak keponakannya ke ruang bermain.


Tibalah Fatimah kini berdiri menghadap Kala, suami yang sebentar lagi akan menceraikannya. Pengacara Alexander telah menyiapkan semua akta cerai. Tak lupa anak buah Alex diam-diam mengirimkan video kondisi saat itu ke tuannya.


Kala menangkup wajah cantik istrinya.


“Aku nggak bisa …”


“Mas, demi Kenzo. Dia harus sama kamu.” Suara Fatimah tercekat. Ia kemudian memeluk Kala seerat mungkin. Kala pun membalas. Keduanya tidak ingin berpisah.


“Aku cinta kamu, Fatimah Ibrahim.”


“Fatimah juga cinta kamu, Mas Kalandra. Janji kamu akan baik-baik. Aku titip Hazel dan Kenzo. Mas, jika sampai di sini jodoh kita, Fatimah rela Mas mencari ganti yang sayang sama Mas dan anak-anak. Fatimah nggak mau hidup kesepian bertahun-tahun.”


“Mas nggak tau apa masih sanggup.”


“Harus! Mas janji harus bahagia.”


Kala mengelus belakang kepala istrinya. Menghirup wangi yang akan dirindukan.”


Pengacara berdehem.


Kala dan Fatimah saling mengurai pelukan. Netra mereka bertatapan masih penuh cinta.


Fatimah mengangguk, berulang kali menghela napas untuk menguatkan diri.


“Bismillaahirrahmanirrahiim. Fatimah binti Ibrahim, saat ini kau kutalak. Lepaslah tanggung jawabku sebagai suamimu.”


Kala mengucap kalimat dengan derai air mata. Fatimah menunduk, menutup wajahnya. Kini ia tak sanggup berdiri. Hanna dan Qiara buru-buru menopang Fatimah karena Kala sudah bukan lagi mahram bagi wanita yang sedang hancur luar dalam.


Tanpa emosi, pengacara menyorongkan akte perceraian kepada Kala dan Fatimah.


“Can’t you just wait?” Thoriq bertanya dengan nada gusar.


“No.”


Setelah Kala dan menandatangani akta perceraian, Fatimah berpamitan pada Hazel, Kenzo, lalu seluruh keluarga Kalandra yang hadir baik langsung atau yang melalui video.


Begitu Fatimah, Hanna, dan Dicky naik ke pesawat jet yang telah disiapkan, Alexander bernapas lega.


“Tiga bulan setelah masa iddah, kamu akan jadi milikku selamanya.”


\~*End of flash back**.*\~

__ADS_1


***


__ADS_2